Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 262 Penyembuhan


__ADS_3

Mata Rengganis tidak bisa berhenti menangis melihat keadaan putranya. Wajah dan tubuh laki-laki itu sudah tidak bisa dikenali, semuanya lebam dan dalam keadaan bengkak berwarna hitam karena gosong. Wisanggeni mengambil nafas, sebelum membalur tubuh putranya dengan ramuan yang dibuatnya sendiri. Chakra Ashanka dipindahkan ke kamar yang khusus untuknya, karena melihat luka-luka di tubuhnya, anak muda itu membutuhkan waktu sedikit lama untuk sembuh.


"Tenanglah Nimas..., tidak akan terjadi apa-apa dengan putra kita, Ashan hanya membutuhkan beberapa waktu untuk beristirahat, dan untuk menenangkan tubuhnya kembali. Hilangkan rasa kekhawatiranmu, jika tidak hubungan batin antara ibunda dan putranya akan tersambung. Nimas tidak ingin membuat Ashan sedih dan ikut merasakan kesedihan yang Nimas rasakan bukan..?" dengan suara serak, Wisanggeni memberi nasehat pada istrinya.


Rengganis mengusap air matanya dengan menggunakan sapu tangan. Tangannya mengusap lembut wajah Chakra Ashanka yang sudah tidak dapat dikenalinya. Isak tangis perempuan muda itu tidak bisa dia tahan, melihat putra satu-satunya tergolek tidak berdaya. Wisanggeni hanya mengambil nafas panjang, sebenarnya diapun juga memiliki perasaan yang sama dengan Rengganis. Hanya saja sebagai laki-laki, Wisanggeni masih bisa untuk menahan perasaannya.


"Akang..., apakah Akang masih ingat ketika sedang bertarung dengan Gerombolan Alap-alap. Ketika itu, jika tidak salah, Akang mengalami luka yang sama dengan putra kita. Apakah Akang masih ingat cara penyembuhan luka-luka di tubuh Akang?" tiba-tiba Rengganis mengingatkan tentang luka dalam yang pernah dialaminya dulu. Wisanggeni terkejut dengan perkataan istrinya itu. Saat dulu, Wisanggeni disembuhkan oleh Maharani, dimana manusia ular itu membelitnya untuk waktu yang sangat lama, dan akhirnya tersadar seperti terlahir kembali. Tetapi tidak mungkin, saat ini laki-laki itu akan mengaku pada Rengganis.


"Bagaimana Akang..., apakah kang Wisanggeni masih mengingatnya?" kembali Rengganis mengejar pertanyaan pada laki-laki itu.


"Nimas bisa menanyakannya pada Nimas Maharani. Perempuan itu yang dahulu telah menyelamatkan Akang, dan memberikan kesembuhan. Manusia ular memiliki bisa yang bisa menyerap rasa panas dalam tubuh akibat serangan, dan juga lendir dalam sisiknya memiliki efek menenangkan. Nimas atau akang yang akan menanyakannya, Akang ikut keputusan Nimas Rengganis." akhirnya Wisanggeni memberi tahu pada Rengganis, siapa yang menyembuhkannya dulu.


"Tok..., tok..., tok..." tiba-tiba dari luar kamar terdengar suara ketukan. Belum sempat Wisanggeni dan Rengganis membuka pintu, sudah muncul Maharani dengan menggendong Parvati ke dalam ruangan.


"Nimas Rengganis, kang Wisanggeni.., maafkan kelancanganku. Baru saja saya mendapatkan kabar berita tentang kejadian yang dialami oleh putra kita Chakra Ashanka. Untuk itu, dengan mengajak Parvati.., saya langsung bergegas menuju kesini." Maharani membuka pembicaraan. Perempuan itu kemudian duduk di samping Chakra Ashanka yang sedang tertidur. Rengganis menatap perempuan itu dengan cemas.

__ADS_1


"Akang..., jika akang mengingatnya, luka-luka di tubuh Chakra Ashanka sama dengan luka yang akang derita dulu. Ketika itu jika tidak salah, Akang baru menyerang markas Gerombolan Alap-alap." Wisanggeni menganggukkan kepala mendengar perkataan Maharani.


"Jika diperbolehkan, saya akan membantu memulihkan kondisi luka-luka di tubuh Ashan dengan metode penyembuhan manusia ular. Sama dengan saat kami menyembuhkan kang Wisang seperti waktu itu." Maharani melanjutkan lagi perkataannya.


"Lakukan Nimas Maharani.., apapun syaratnya aku sanggup untuk memenuhinya." Rengganis langsung memotong perkataan Maharani.


Maharani tersenyum, tiba-tiba perempuan itu melepaskan Parvati dari gendongannya, kemudian membaringkan bayi itu di samping Chakra Ashanka. Melihat pemandangan itu, dahi Wisanggeni berkerenyit..


"Apa yang kamu lakukan Nimas.., apa maksudmu menidurkan Parvati disamping Ashan..?" Wisanggeni langsung berbicara dengan nada sedikit keras. Rengganis juga berpikir hal yang sama


"Tenanglah Nimas Rengganis.., Kang Wisanggeni. Parvati merupakan putri keturunan dari manusia ular. Dalam tubuhnya juga terdapat garis keturunan, dan diapun memiliki efek menenangkan dan menyembuhkan luka-luka. Jika Nimas dan Akang percaya padaku, Maharani akan meninggalkan Parvati untuk menemani Chakra Ashanka beberapa saat disini." dengan tegas, Maharani memberi penjelasan dengan apa yang dilakukannya.


***********


Di pendhopo

__ADS_1


Rengganis mendatangi Wisanggeni yang duduk sendiri di pendhopo, sambil memegang cemeti Amarasuli. Perempuan itu melihat, sepertinya suaminya sedang memikirkan sesuatu. Perlahan, perempuan itu duduk di samping Wisanggeni. Dia ingin mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh suaminya itu.


"Kang Wisang..., apa yang saat ini sedang Akang pikirkan..?? Dan cemeti siapakah ini?" Rengganis bertanya pada Wisanggeni. Tangan perempuan itu ikut memegang cemeti di tangannya, dan tangannya merasa bergetar, yang menandakan jika terdapat sebuah kekuatan yang terperangkap di dalam cemeti tersebut.


"AKu memikirkan senjata ini Nimas. Mungkinkan senjata ini yang menyebabkan putra kita menjadi terluka. Tetapi baru saja aku periksa, dalam cemeti ini masih ada aura gelap yang sudah dilumpuhkan kekuatannya." Wisanggeni mulai menceritakan tentang cemeti yang ada di tangannya.


"Apakah kang Wisang berpikir untuk membuang cemeti ini, ataukah sebaliknya, akan mencari cara membersihkan cemeti ini dan menyerahkan pada putra kita, agar bisa digunakan sebagai senjatanya?" tiba-tiba Rengganis ikut berpikir. Wisanggeni tersenyum, kembali tangannya mengusap cemeti itu dari pangkal sampai ujung cemeti.


"Aku akan mencoba untuk memurnikannya terlebih dahulu, agar aura gelap dalam cemeti ini bisa pergi sepenuhnya. Setelahnya  Ashan atau salah satu dari anak-anak muda itu bisa berlatih untuk menggunakannya. Cemeti ini berasal dari masa lalu, jaman kuno, yang dimiliki oleh tokoh dari dunia gelap yang hidup pada saat itu. Aku juga tidak tahu, bagaimana Ashan bisa menemukannya, dan pulang dalam keadaan terluka parah." ucap Wisanggeni pelan.


"Kali ini Singa Ulung betul-betul menjadi penyelamat putra kita Akang. karena keteguhan dan kesetiannya pada keluarga kita, binatang itu sampai terluka parah membawa putra kita dan ketiga temannya pulang ke perguruan ini. Apakah binatang itu akan bisa pulih juga akang..?" tiba-tiba Rengganis mengingat pada Singa Ulung. Terbang bermalam-malam tanpa istirahat sedikitpun , dan juga efek dari serangan Kandar, menjadikan binatang itu saat ini juga sedang dalam keadaan terluka.


"Jangan khawatir Nimas.., aku sudah memberinya beberapa pil yang aku simpan. Tidak lama lagi binatang itu akan segera pulih, demikian juga dengan ketiga teman dari putra kita." Wisanggeni menanggapi perkataan istrinya.


"Kemudian untuk selanjutnya, sesuai dengan keinginan putra kita, Sayogyo, Prastowo, dan Tarjono harus segera kita arahkan dan kita latih. Setelah ketiga anak muda itu sembuh, kita akan menempatkan mereka pada perguruan di bagian dalam, dan kita akan mengawasinya secara langsung." lanjut Wisanggeni.

__ADS_1


"Baik Akang..., Nimas akan patuh pada apa yang Akang perintahkan." ucap Rengganis lirih. Saat ini yang terbaik untuk mereka lakukan adalah, berusaha menyenangkan hati putranya yang masih terbaring.


************


__ADS_2