Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 87 Eyang Sepuh


__ADS_3

Laki-laki tua yang dipanggil sesepuh oleh Wisanggeni, meminta anak muda itu untuk lebih mendekat padanya. Dengan diikuti Rengganis di belakangnya, Wisanggeni menuruti perintah sesepuh itu.


"Mendekatlah.., kenalkan siapa dirimu, serta tujuanmu memasuki wilayahku!" laki-laki tua itu meminta Wisanggeni untuk memperkenalkan dirinya.


"Terima kasih sesepuh, nama saya adalah Wisanggeni, dan ini adalah kekasih saya yang bernama Rengganis. Maksud kedatangan kami kesini, untuk menghaturkan bakti dan sungkem pada leluhur kamI. Tetapi ternyata nasib dan jodoh malah membawaku kesini langsung untuk bertemu dengan sesepuh." Wisanggeni mulai mengenalkan dirinya dan Rengganis.


"Leluhur..., apa yang kamu maksud? Ceritakan yang jelas padaku!" perintah laki-laki tua itu.


Wisanggeni kemudian menceritakan riwayat  siapa dirinya, dia yang berasal dari Klan Bhirawa dan putra dari Ki Mahesa ikut dia ceritakan. Begitu juga dengan siapa Rengganis, darimana dia berasal.


"Ha.., ha..., ha..., aku merasa senang mendengar ceritamu wahai anak muda. Sudah terlalu lama aku kesepian dan terkurung disini sendirian. Aku ingin segera terbang tinggi ke nirwana melintasi langit. Tetapi ada ganjalan yang masih aku rasakan, sehingga sukmaku belum bisa diterima langit." laki-laki tua itu tertawa terbahak-bahak setelah mendengar cerita Wisanggeni.


Wisanggeni berpandangan mata pada Rengganis, mereka bingung dengan sikap laki-laki tua yang ada di hadapannya itu.


"Maksud sesepuh?" tanya Wisanggeni.


"Bukti apa yang kamu tunjukkan padaku, untuk membuktikan bahwa kamu memanglah garis keturunanku?" tiba-tiba laki-laki itu berubah menjadi serius. Dia menatap mata Wisanggeni dengan penuh penyelidikan.


Mendengar kalimat laki-laki tua itu, Wisanggeni segera mengambil pisau belati peninggalan ibundanya. Selain itu, dia juga mengambil plakat nama Klan Bhirawa yang berbentuk kuningan kemudian menyerahkan kedua barang tersebut pada laki-laki di depannya itu.


Laki-laki tua itu langsung terhenyak saat menerima dua barang itu dari tangan Wisanggeni, matanya terlihat berkaca-kaca saat mengamati kedua benda tersebut. Tanpa diduga, laki-laki tua itu berjalan maju, dan tanpa memberikan peringatan apapun, tiba-tiba dia memeluk erat Wisanggeni.

__ADS_1


"Ho.., ho.., ho.., akhirnya ada juga garis keturunanku yang bisa lepas dari kebodohan masa lalu. Cucuku..., panggil aku Eyang Sepuh, aku adalah leluhur dari Klan Bhirawa yang bernama kakek Widjanarko." sambil memeluk erat tubuh Wisanggeni, laki-laki tua itu memberi tahu jati dirinya.


Wisanggeni terkejut, dia cepat-cepat mengangkat mukanya dan melihat laki-laki tua itu dengan seksama. Terlihat sedikit kemiripan yang dimiliki laki-laki tua itu dengan ayahndanya.


"Eyang Sepuh..., benarkah ini leluhur Wisang?" dengan terbata-bata, Wisanggeni memastikan garis keturunannya itu.


"Benar cucuku.., aku ucapkan selamat. Aku berharap, kamu bisa menjadi penerus dari bangkitnya Klan Bhirawa di masa depan. Sebagai leluhurmu, aku sudah siap untuk terbang ke nirwana, jika aku sudah menemukan pewaris yang tepat untuk semua keahlianku." dengan muka cerah, Ki Widjanarko bercerita pada Wisanggeni.


Wisanggeni dan Widjanarko kembali berpelukan erat, tetapi karena Wisanggeni ingat jika dia membawa Rengganis di sisinya, maka laki-laki muda itu melepaskan pelukannya.


"Eyang sepuh.., kenalkan ini calon pendamping Wisang di masa depan. Apakah eyang sepuh merestui hubungan kamu?" tanya Wisanggeni sambil menggandeng tangan Rengganis.


"Ternyata kamu persis sepertiku anak muda.., kamu pintar untuk memilih pendamping hidup. Saat ini juga aku restui hubungan kalian, dan sebagai walimu, aku ikatkan kalian saat ini sebagai pasangan suami istri. Sampaikan pada keluargamu Rengganis, sebut namaku jika keluargamu menolak cucuku." laki-laki tua itu menautkan tangan Rengganis ke tangan cucu keturunannya. Dengan tersipu malu, Rengganis menatap mata Wisanggeni.


Wisanggeni berendam di dalam kolam panas yang ada di halaman dalam rumah yang ditempati Eyang Sepuh. Untuk mengurangi rasa kekhawatiran akan keadaan yang dialami suaminya itu, Rengganis memilih menenangkan diri dengan bermeditasi di halaman pondok.


"Aaawww... sakit.." seru Wisanggeni dari dalam kolam. Dia merasakan ribuan jarum menancap di sekujur daging di tubuhnya. Laki-laki itu hanya bisa menjerit.


Wisanggeni mengambil nafas dalam, dia berusaha untuk menerima tusukan jarum-jarum itu. Tiga hari berlalu, Wisanggeni tetap menghabiskan waktunya di dalam kolam. Pada hari ketiga, tampak Ki Widjanarko berdiri di pinggir kolam.


"Akhiri semedimu anak muda! Naiklah ke atas sekarang!" Wisanggeni perlahan membuka matanya, setelah menyesuaikan diri dengan sekitarnya, laki-laki muda itu kemudian perlahan naik ke atas kolam.

__ADS_1


Ki Widjanarko berjalan meninggalkan Wisanggeni,  dan laki-laki muda itu mengikuti di belakangnya. Di sebuah gazebo kecil, eyang sepuh menghentikan langkahnya. Laki-laki tua itu membalikkan badannya.


"Nimas Rengganis.., kemarilah!" Ki Widjanarko memanggil Rengganis yang tengah bersemedi. Gadis putri Ki Sasmita itu kemudian mengakhiri semedinya, dia kemudian melangkah menuju gazebo tempat Ki Widjanarko dan Wisanggeni duduk bersila.


Setelah mereka berdua menempatkan diri dan fokus menatap eyang sepuh, tiba-tiba Ki Widjanarko menggerakkan tangannya ke atas.


"Pejamkan mata kalian.., aku akan memberikan kekuatanku pada cucuku Wisanggeni. Dan kamu.., Nimas Rengganis, sebagai pendamping dari cucuku.., kamu juga harus menerima senjata yang akan melengkapi sempurnanya ilmu kanuragan dari cucuku." Ki Widjanarko menyampaikan wejangan pada Wisanggeni dan Rengganis.


Kedua anak muda itu melakukan apa yang diperintahkan oleh Eyang Sepuh, keduanya memejamkan mata. Kedua telapak tangan Ki Widjanarko ditempatkan di atas kedua kepala itu, dan tiba-tiba muncul sinar terang berwarna ungu muda memasuki kepala Wisanggeni dan Rengganis.


"Aaaawww.." Wisanggeni dan Rengganis menjerit kesakitan untuk beberapa waktu. Mereka merasakan tubuh mereka seperti disayat-sayat dengan menggunakan pisau yang tajam.


"Nikmatilah waktu kalian.., aku akan menyempurnakan sukmaku." ucap Ki Widjanarko sambil tersenyum. Laki-laki tua itu kemudian duduk bersemedi sambil tersenyum memandang kedua orang di hadapannya itu, tetapi lama kelamaan tubuh tua itu perlahan menghilang tidak terlihat.


"Panas.., gerah.." sepeninggalan Ki Widjanarko, kedua orang itu merasa kepanasan. Keringat sebesar bulir-bulir jagung tampak muncul di tubuh mereka. Keadaan itu berlangsung untuk beberapa saat, tetapi tiba-tiba situasi berubah. Dari rasa panas yang mereka derita, rasa dingin menusuk kulit tiba-tiba menghampiri kedua manusia itu. Keduanya hanya mampu menggemertakkan giginya menahan rasa dingin yang semakin mencekam.


"Duarrr.., bang.." tiba-tiba terdengar suara ledakan yang sangat kencang. Kedua orang itu kemudian membuka matanya, mereka yang tadi merasa berada di  sebuah taman yang indah, saat ini mereka terkejut. Mereka berada di samping kuburan Ki Widjanarko dengan dahi menyentuh batu nisan. Tetapi keduanya merasa tubuh mereka menjadi ringan.


"Akang.., apakah akang merasa aneh? Sepertinya eyang sepuh merestui kita Akang, dan semua ilmunya sudah diwariskan kepadamu." perlahan Rengganis berbicara dengan Wisanggeni.


"Sepertinya begitu Nimas.., ayo kita segera kembali keluar makam ini." Wisanggeni mengajak Rengganis untuk segera keluar dari pemakaman.

__ADS_1


*************


__ADS_2