Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 360 Kemenangan


__ADS_3

Begitu Chakra Ashanka menyanggupi dan menyetujui hasil yang dijelaskan pengawal, orang-orang segera mundur ke belakang. Terlihat Sekar ratih merasa cemas, dan Rengganis tersenyum melihat reaksi yang ditunjukkan gadis itu. Rengganis memegang bahu kanan Sekar ratih, kemudian menepuknya pelan. Gadis kecil itu menoleh ke wajah ibunda Chakra Ashanka..


"Jangan terlalu mengkhawatirkan Ashan putraku Ratih.., lihatlhah! Putraku pasti akan memenangkan pertarunga itu, yakinlah." sambil tersenyum, Rengganis mencoba menenangkan perasaan teman dekat putranya itu.


"Iya Bibi.., Ratih terlalu cemas." gadis itu tersenyum pucat, kemudian Sekar ratih dan Rengganis kembali mengarahkan pandangannya ke tengah kalangan.


Terlihat di tengah kalangan, pembawaan tenang Chakra Ashanka yang hanya tersenyum melihat penunggang kuda yang sudah bersiaga. Sama sekali tidak terlihat, jika anak muda itu melakukan sebuah penyiapan pertahanan. Di depan Chakra Ashanka, penunggang kuda seperti sedang mengatur pernafasannya, kemudian mengangkat kedua tangannya ke atas, gumpalan energi tampak jelas terlihat dengan mata telanjang.


"Terimalah seranganku anak muda... Ajian Rontok Batu... hyaaa.. blaammm..." sebuah serangan cepat, meluncur ke arah anak muda itu. Nafas para penonton tertahan, karena mereka merasa melihat puluhan batu besar seperti berurutan menyerang anak muda itu.


Melihat serangan yang mengarah kepadanya, anak muda itu malah tersenyum. Chakra Ashanka bergeser ke kanan dua langkah, dan tangan kanannya dengan berani menangkap serangan dari penunggang kuda tersebut. Begitu serangan itu bertabrakan dengan tangannya, puluhan batu itu terlihat luruh dan hancur menjadi seperti debu. Melihat serangannya dengan mudah dihancurkan oleh anak muda itu, penunggang kuda itu memerah mukanya menahan marah.


"Hmm.. cukup ahli juga kamu ternyata anak muda. Baiklah.. jika serangan pertamaku tadi, aku hanya menggunakan separo kekuatan dan tenagaku, untuk kali ini aku tidak akan menahannya. Kita akan lihat, sampai seberapa lama kamu masih bisa bertahan." penunggang kuda itu berbicara dengan nada tinggi.


Di depannya, masih dengan ekspresi tersenyum, anak muda itu menganggukkan kepala tanda menyetujui ucapan dari penunggang kuda yang mengajaknya bertarung itu.

__ADS_1


Penunggang kuda itu kembali dalam posisinya, gerakan yang dilakukannya kali ini lebih terlihat kasar. Setelah memejamkan mata dan mengangkat kedua tangannya, gumpalan energi yang semula tadi hanya terlihat seperti gumpalan batu, kali ini gumpalan batu itu terlihat merah membara seperti api. Tanpa memberi waktu untuk memperingatkan Chakra Ashanka, penunggang kuda itu langsung melompat ke depan, lebih mendekat pada anak muda itu.


"Ajian Rontok Batu berselimut Api... keluarlah... Bluarr...., blaammm..." tanpa memberi aba-aba, sebuah bola api yang sangat besar dengan cepat keluar dari tangan penunggang kuda. Orang-orang yang berada di belakang Chakra Ashanka berlarian menyingkir untuk menjauh. Mereka tidak mau kena salah sasaran dari serangan yang terlihat mengerikan itu. Di pinggir jalan, Rengganis hanya tersenyum dan sedikitpun tidak merasa khawatir akan keselamatan putranya. Tetapi jauh berbeda dengan yang terjadi pada Sekar ratih. Dengan wajah pucat, gadis kecil itu menutup wajah dengan menggunakan kedua tangannya,


Tiba-tiba Chakra Ashanka mengangkat kedua tangannya ke atas, dan tiba-tiba muncul energi seperti air muncul dari kedua tangan yang dilipat ke atas itu. Tidak terlihat jika anak muda itu mengeluarkan tenaga, kedua tangannya dengan santai menghentikan serangan bola api berwarna merah yang meluncur kepadanya. Tanpa jeda, penunggang kuda mengirimkan serangan kepada anak muda itu berkali-kali. Bahkan lebih dari tiga kali kesepakatan yang sudah terjadi.


Tetapi orang-orang semakin menghentikan nafas mereka, karena melihat tangan Chakra Ashanka berubah membeku seperti salju, dan ketika batu api itu berada di genggaman tangan anak muda itu, dengan cepat batu itu berubah menjadi hitam dan hancur menjadi debu kembali, Penunggang kuda dengan ekspresi kemarahan memundurkan badannya ke belakang, darah muntah dari mulutnya. Beberapa saat para pengawal terdiam, tetapi orang-orang yang melihat bertepuk tangan dan bersorak sorai.


"Giliranmu anak muda.., aku akui begitu kuatnya pertahananmu. Nyaris tak terlihat, sekarang aku ingin melihat apakah kekuatanmu juga sama dengan pertahananmu.." dengan senyum malu, penunggang kuda berbicara pada anak muda itu.


"Jueglarrrr..." begitu serangan anak muda itu diluncurkan, tubuh penunggang kuda terpental jauh ke atas. Tampak lingkaran berlubang di tanah tempat penunggang kuda itu berdiri. Tetapi keanehan yang terjadi, sedikitpun serangan dan guncangan itu tidak mengenai para penonton.


Tubuh penunggang kuda yang melayang ke atas, itu tiba-tiba terjatuh ke bawah di dalam tanah berlubang itu. Penunggang kuda langsung pingsan di dalamnya. Semua pengawal terdiam, dan menatap anak muda itu dengan ketakutan. Setelah diam beberapa saat, dan menyadari kemenangan ada di tangan anak muda itu, para penonton bersorak sorai memberi dukungan pada Chakra Ashanka. Tidak mau mengirimkan serangan kedua dan ketiga, perlahan anak muda itu berjalan menghampiri Rengganis dan Sekar ratih.


"Ratih.., serahkan bungkusan belanjaan itu kembali padaku.." melihat Sekar ratih yang masih tidak percaya dengan penglihatannya, anak muda itu mengajak gadis itu bicara. Tanpa sadar, Ratih langsung berlari memberi pelukan erat pada anak muda itu. Chakra Ashanka membalas pelukan yang diberikan gadis itu, di bawah penglihatan ibundanya yang tersenyum melihat kejadian itu.

__ADS_1


"Ratih.. lepaskan pelukanmu, aku jadi tidak bisa bernafas." dengan maksud menggoda gadis kecil itu, Chakra Ashanka meminta gadis itu melepaskan pelukannya.


"Maaf kang Ashan.., Ratih tidak sadar melakukannya." Sekar ratih akhirnya tersadar, dengan pipi bersemburat merah, gadis itu melepaskan pelukannya.


"Ha.., ha.., ha.. tidak masalah Ratih. Aku juga senang kok mendapatkan pelukan darimu.." ucap Chakra Ashanka menggoda gadis itu, dan Sekar ratih kembali menutup wajah dengan kedua tangannya. Rengganis hanya geleng-geleng kepala melihat keakraban dua anak muda itu.


"Sudah.., sudah jangan bercanda saja. Kita harus segera mencari oleh-oleh yang lain.." merasa waktu mereka sudah banyak terbuang, Rengganis akhirnya mengajak mereka kembali melanjutkan kegiatan untuk berbelanja.


"Baik ibunda.." sahut Chakra Ashanka.


Ketiga orang itu, kemudian meninggalkan tempat itu. Tetapi baru saja mereka berjalan beberapa langkah, tiba-tiba..


"Tunggu.., aku ingin berbicara denganmu.." terdengar suara perempuan muda, meminta mereka bertiga untuk berhenti. Tetapi merasa tidak mengenal suara itu, Chakra Ashanka tetap mengajak kedua perempuan itu untuk melanjutkan langkah mereka.


"Apakah kalian bertiga tidak memiliki telinga, sehingga mengabaikan panggilanku?" terdengar suara dengan nada yang tidak mengenakkan di belakang mereka.

__ADS_1


**********


__ADS_2