
Di puncak gunung
Wisanggeni terus berjuang dan bertahan menghadapi godaan yang semakin hari semakin keras menyerangnya. Tidak jarang dalam posisi tapa Brata laki-laki itu harus mengeluarkan aura kebatinan dan kekuatan untuk menguatkan pertahanan, dan mengusir godaan terus mengganggunya. Seperti dalam posisi malam ini, tiba-tiba..
"Blarrr...., jeglarr..." suara langit seperti terbelah sedikit membuat Wisanggeni terkejut, bahkan dalam posisinya laki-laki itu seperti kehilangan pegangan dan keseimbangan. Tetapi untungnya, aura kebatinan terus melandaskan kekuatannya. Setelah menghirup nafas panjang, dan mengembalikan posisi duduk seperti semula, Wisanggeni kembali memasuki tapa Brata.
Singa Ulung kembali memundurkan diri setelah melihat laki-laki yang dijaganya mampu mengembalikan lagi posisi dan masih duduk melanjutkan tapa Bratanya. Dengan penjagaan binatang itu, tidak ada binatang buas yang ada di hutan itu berani untuk mengganggu laki-laki itu.
Beberapa saat berlalu, tiba-tiba terlihat dari atas langit sebuah cahaya panjang berwarna perak, meluncur ke bawah dengan kecepatan penuh. Binatang itu memicingkan matanya, tetapi melihat ke arah cahaya itu, Singa Ulung tidak dapat melakukan apa-apa.
"Srettt,.., jleb," tiba-tiba cahaya perak itu jatuh menembus tanah. Sejenak alam semesta terdiam seakan menyambut kedatangan cahaya tersebut. Pohon-pohon berhenti bergerak, bahkan angin untuk beberapa saat berhenti berhembus. Aliran sungai semuanya berhenti seakan menyambut kedatangan cahaya berwarna perak tersebut.
"Ssssh... ssshhh..." tiba-tiba cahaya perak yang menembus bumi berubah menjadi seekor naga berwarna perak. Dengan cepat binatang itu melata mendekati Wisanggeni yang sedang melakukan tapa Brata. Singa Ulung hanya memandang dengan terpaku penampakan di depannya itu, mendadak binatang itu kehilangan keberaniannya. Sedikitpun Singa Ulung merasa jika kakinya tidak mampu untuk digerakkan mendekati Wisanggeni. Hanya dengan tatapan prihatin, binatang itu menyaksikan naga perak tersebut meluncur cepat menuju ke arah Wisanggeni.
"Brak.." reruntuhan tanah dan batu-batu kecil di tempat yang dilewati naga perak terdengar dengan jelas.
"Ssshh..., ssssh... Roar.." kilatan api berwarna jingga keluar dari mulut naga perak tersebut.
__ADS_1
Seekor naga yang terlihat liar itu terus menghampiri tubuh Wisanggeni yang masih duduk terpaku dalam tapa Bratanya. Di depan laki-laki itu, naga menghentikannya gerakan sebentar. Mata naga yang berwarna merah itu mengamati laki-laki yang masih duduk terpekur di depannya.
"Ssssh..., ssshhh..." binatang itu terus mendesis, dan perlahan naga perak itu mulai melata di tubuh laki-laki itu. Perlahan tubuh naga tersebut membelit tubuh laki-laki muda itu, dan tidak sedikitpun Wisanggeni merasa terganggu dengan kehadiran naga perak tersebut. Lama kelamaan naga itu semakin mengencangkan belitannya, dan rasa sesak serta panas menyengat mulai dirasakan oleh Wisanggeni.
Laki-laki itu terus berusaha bertahan, aura batinnya mulai keluar membanjiri pori-porinya. Tabir warna ungu muda perlahan mulai terlihat di kulit Wisanggeni, sedangkan warna perak yang kontras terlihat berpadu indah dengan warna ungu muda tersebut.
"Pufftt..., hupps..." tatkala belitan semakin menyiksa tubuh laki-laki itu, terlihat anggota badan Wisanggeni terlihat mulai bereaksi. Bagi orang awam yang mendekati tubuh Wisanggeni saat ini, mereka yang tidak memiliki aura kebatinan yang tinggi akan dapat terpental jauh karena aura serangan yang muncul dari tubuh laki-laki itu.
Kejadian itu muncul dalam beberapa saat, dan naga tersebut seakan tidak mau kalah. Sambil menyemburkan uap panas berwarna jingga dari mulutnya, lidah naga yang bercabang tiga itu terus menjulur keluar. Tetapi keanehan yang terjadi, lidah itu tidak mampu menjilat tubuh manusia yang sedang dibelitnya. Terlihat Wisanggeni terus mengeluarkan dan meningkatkan aura kebatinan. Dari ekspresi wajahnya yang sudah banjir oleh keringat sebesar jagung, menunjukkan betapa besarnya upaya yang dikerahkan oleh laki-laki itu.
"Uufft..., blarrr..." di saat tubuh Wisanggeni terkulai lemas, tiba-tiba cahaya emas keunguan berpendar dan mengalir keluar dari tubuh laki-laki itu. Mata naga perak itu terbelalak kaget, namun belum sempat binatang itu menyadarinya, tiba-tiba tubuh besarnya sedikit demi sedikit mulai mengempis dan akhirnya terserap masuk ke kulit Wisanggeni.
Perlahan -lahan Wisanggeni merasa tubuhnya lemas, dan tidak lama kemudian laki-laki itu terjatuh pingsan.
*******
Dari kejauhan, Singa Ulung berlari cepat saat melihat tubuh Wisanggeni terkulai lemas. Sebelum mendekati tubuh laki-laki itu, Singa Ulung menghentikan larinya sebentar, dan setelah melihat hanya tersisa sisik perak berkilat, perlahan binatang itu mendekat ke tubuh Wisanggeni.
__ADS_1
"Auuuummmmm...." Auman panjang keluar dari mulut binatang itu. Bulu-bulu di kepalanya digesek-gesekkan ke tubuh laki-laki yang masih tergolek pingsan itu.
Tidak lama kemudian, Wisanggeni perlahan membuka matanya. Rasa lembut bulu-bulu Singa Ulung menyapu kulitnya. Sesaat, laki-laki itu kehilangan ingatannya. Tetapi tiba-tiba Wisanggeni merasa tersentak, laki-laki itu kembali teringat saat-saat terakhir dia menjalani tapa Brata.
"Apakah hari ini sudah hari ke empat puluh Ulung..?" dengan menoleh pada binatang itu, Wisanggeni mengelus bulu-bulu di kepalanya. Singa Ulung menggerak-gerakkan kepalanya.
Ketika mata laki-laki itu mengamati apa yang ada di depannya, dahinya sedikit berkerut. Tetapi laki-laki itu segera menyadarinya. Perlahan tangan kanannya masuk ke dalam kepis dan mengeluarkan sebuah porselin kecil. Tidak menunggu lama, tangan Wisanggeni mengangkat sisik naga berwarna perak. Sebuah cairan berwarna perak berpadu dengan warna emas dan ungu terlihat menetes dari sisik tersebut. Dengan sigap, Wisanggeni menempatkan tetesan itu ke porselin yang sudah dia persiapkan.
"Akhirnya aku berhasil membuat persiapan untuk keturunanku Ulung.." dengan perasaan senang, Wisanggeni segera memasukkan esensi itu ke dalam kepisnya.
"Tapi aku masih harus bekerja keras untuk mengolah esensi ini menjadi sebuah ramuan herbal. Tapi aku akan menunda sementara keinginan ini dulu, karena aku masih harus memulihkan staminaku." ucap laki-laki itu.
Perlahan dengan berpegang pada tubuh Singa Ulung, Wisanggeni mencoba untuk berdiri. Tangannya mengambil pil untuk mengembalikan energi, dan setelah menemukannya laki-laki itu langsung memasukkan pil tersebut ke dalam mulutnya. Rasa hangat terasa mengalir di rongga dadanya, dan tidak lama kemudian laki-laki itu merasakan tenaganya sudah mulai pulih.
"Ulung.., aku masih terlalu lemah untuk melakukan perjalanan. Antarkan aku ke pinggir mata air, aku akan membersihkan tubuhku dulu." perlahan Wisanggeni meminta Singa Ulung untuk mengantarkan ke pinggir mata air. Binatang itu langsung merendahkan tubuhnya di dekat Wisanggeni, dan tidak lama kemudian binatang itu sudah jauh terbang di atas pepohonan.
*******
__ADS_1