
Wisanggeni menatap wajahnya di mata air, bibirnya mengeluarkan senyuman melihat bulu-bulu yang menutup di rahang dan dagunya, Perlahan laki-laki itu mengeluarkan pisau belatinya, kemudian dengan hati-hati laki-laki itu mencukur habis bulu-bulu yang menutupi rahangnya, dan menyisakan sedikit di dagunya. Beberapa saat Wisanggeni menghabiskan waktu untuk membersihkan dagunya itu, dan setelah memastikan rambut dan bulu sudah bersih dari rahang dan dagunya, laki-laki itu langsung menceburkan tubuhnya ke mata air.
Selama empat puluh hari tidak merasakan kesegaran berendam di dalam air, Wisanggeni merasakan kesegaran saat air dingin dan segar itu bersentuhan dengan kulitnya. Laki-laki itu menyelam masuk ke dalam, dan seperti biasanya beberapa ekor ikan sudah dia lemparkan ke pinggir mata air. Menangkap ikan secara langsung dari kedalaman air, kemudian membersihkan dan memasaknya menjadi hiburan tersendiri bagi laki-laki itu. Apalagi hanya berada di tengah hutan sendiri yang hanya ditemani Singa Ulung,
"Akhirnya tubuhku sudah bersih kembali.." ucap Wisanggeni sambil merentangkan kedua tangannya ke kanan dan ke kiri. Kulit laki-laki itu memang terlihat lebih gelap berwarna kecoklatan, sebagai dampak dari bertapa brata di tempat terbuka selama empat puluh hari. Tetapi karena pada dasarnya kulit laki-laki itu berwarna putih bersih, dalam beberapa hari biasanya warna kulitnya akan kembali seperti semula.
"Tap.." Wisanggeni dengan sekali lompatan, laki-laki itu sudah naik ke pinggir mata air. Setelah melakukan tapa brata selama empat puluh hari, Wisanggeni menyadari jika kecepatan dan kekuatan tubuhnya menjadi bertambah. Otot-otot lengannya bertambah besar dan padat.
Tidak membuang waktu, dengan segera laki-laki itu membuat perapian, dengan menggunakan kayu yang dibawakan oleh Singa Ulung menggunakan mulutnya. Dengan gesit, setelah membersihkan sisik ikan dan kotoran yang ada di dalam perutnya, ikan itu kemudian dia panggang di atas bara api. Aroma harum ikan panggang menyebar ke dalam hutan, dan beberapa binatang yang tertarik datang ke tempat itu akhirnya membalikkan badan. Binatang itu dengan cepat menarik dirinya, karena melihat Singa Ulung yang dengan gagah berada di tempat itu.
Tiba-tiba mata tajam Wisanggeni menangkap pergerakan beberapa orang yang berlari cepat menuju ke tempat ini. Dengan sigap, laki-laki itu mematikan api dan membawa ikan bakar dengan melompat ke atas pohon. Dia sedang tidak ingin membuat keributan, sehingga pilihan untuk menghindar menjadi hal yang dia ambil. Melihat Wisanggeni melompat bersembunyi di atas dahan pohon, SInga Ulung segera terbang ke atas, dan duduk di dahan yang ada di samping Wisanggeni duduk.
"Sstt.." Wisanggeni mengangkat jari telunjuknya. laki-laki itu memberi isyarat pada binatang itu untuk tidak menimbulkan suara.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, apa yang diperkirakan Wisanggeni menjadi hal yang nyata. Tiga laki-laki muda berlari dan berada di pinggir mata air.
"Pangeran.., apa yang sudah Pangeran katakan benar adanya. Lihatlah perapian ini.., bara api ini sudah padam, tetapi masih dapat kita rasakan panas yang tertinggal disini. Hal ini menandakan jika orang yang semula berada disini belum pergi terlalu jauh." Andhika berbicara pada Pangeran Abhiseka. Mereka mengedarkan pandangan ke seluruh tempat, tetapi tidak melihat ada hal-hal yang mencurigakan.
"Ya.., aku juga menyadarinya. Bisa jadi, mereka belum jauh keluar dari tempat ini. Mereka mungkin sedang menyembunyikan dirinya agar tidak ditemukan oleh kita." Pangeran Abhiseka menjawab perkataan Andhika.
Dari atas pohon, Wisanggeni tersenyum melihat kemunculan tiba-tiba laki-laki muda yang ada di bawah. Wisanggeni yakin, jika keberadaan Pangeran Abhiseka ke hutan ini, pasti untuk datang mencari keberadaanya. Tetapi Wisanggeni tidak mau segera menunjukkan dirinya, laki-laki itu malah menyandarkan tubuhnya di batang pohon sambil menikmati ikan bakar.
*********
Melalui kekuatan aura batinnya, Wisanggeni menggunakan telepati untuk memanggil ular berukuran sedang yang ada di sekitar mereka. Tidak lama kemudian, seekor ular pohon datang dan mendesis mendatangi laki-laki itu.
"Ssshh.., sshh.." Wisanggeni mengusap perlahan kepala ular itu. Kemudian menggunakan kemampuannya untuk berbicara dengan ular, Wisanggeni meminta ular itu untuk menakut-nakuti Pangeran Abhiseka dan kedua pengawalnya yang sedang bersantai di bawah sana.
__ADS_1
Ular itu kemudian bergerak melata mendatangi tempat berteduh yang digunakan untuk beristirahat Pangeran Abhiseka. Melihat kedatangan tiga ekor ular dengan ukuran badan yang cukup besar, Jatmiko berteriak-teriak ketakutan. Laki-laki itu langsung berlari mendatangi Andhika yang sedang duduk bersantai.
"Pangeran.., Pangeran... berlindunglah. Ada tiga ekor ular yang menuju kemari." Jatmiko berteriak memperingatkan Pangeran Abhiseka. Mendengar teriakan kaget Jatmiko, Andhika langsung melompat dan menghunus pedangnya. Di luar dugaan, bukannya panik mempersiapkan senjata untuk menghalau ketiga ekor ular itu, Pangeran Abhiseka malah bangkit dari posisi tidurnya, kemudian tersenyum menghampiri kedua pengawalnya itu.
"Apa yang akan kalian lakukan? Apa kalian berpikir bisa mengalahkan ketiga ekor ular itu hanya menggunakan pedang yang kalian miliki?" Pangeran Abhiseka tidak menyerang pada ular itu, malah memberi teguran pada kedua pengawalnya.
"Maksud Pangeran, ketiga ular itu kebal terhadap senjata kita?" dengan pandangan bingung, Andhika bertanya pada Pangeran Abhiseka. Laki-laki itu khawatir dengan datangnya tiga binatang melata itu ke tempat mereka berada. Tetapi keanehan terjadi, ketiga ular itu tidak sedikitpun memberi serangan pada mereka bertiga, melainkan hanya menatap ke mata mereka yang berada di situ.
"Kalian tidak perlu khawatir dengan ketiga ekor ular itu. Mereka pasti tidak akan mengganggu kita, karena mereka hanya suruhan. Lihatlah.., apakah mata ketiga binatang itu terlihat ganas dan menunjukkan sikap menyerang!" dengan santai, Pangeran Abhiseka menanggapi kedua pengawalnya yang panik itu. Andhika menatap Jatmiko dengan kebingungan. Tetapi ketika mereka menatap mata ular-ular tersebut, memang mata ketiga binatang itu terlihat bersahabat, sedikitpun tidak ada tanda-tanda akan menyerang mereka.
"Ular Sanca yang baik..., katakan pada rajamu. Kami berada disini untuk mencari dan akan membawanya kembali ke perbukitan Gunung Jambu. Jika kalian mau menyerang kami, kami akan berpasrah diri.." tidak diduga, Pangeran Abhiseka malah menundukkan badannya, laki-laki itu mengajak bicara ketiga ular itu.
Seperti yang barusan dikatakan Pangeran Abhiseka, ketiga ular itu malah kembali merayap pergi meninggalkan mereka. Andhika dan Jatmiko semakin penasaran dan kebingungan.
__ADS_1
*************