Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 145 Bertemu Abhiseka


__ADS_3

Tiba saatnya rombongan terpisah saat sudah sampai di pertigaan. Tidak membutuhkan waktu lama, Wisanggeni dan teman-teman sudah menyeberangi danau. Sentono bersama dengan anak-anak muda Trah Jagadklana akan segera kembali membangun Akademi, sedangkan Wisanggeni bersama Rengganis dan Maharani akan kembali ke perbukitan Gunung Jambu. Gayatri dan Niluh yang akan beranjang ke Klan Bhirawa, akan mengikuti Wisanggeni dulu, baru bersama-sama akan menuju Klan Bhirawa. Mereka berpelukan dan menyampaikan salam perpisahan.


"Kang Wisang..., Maharani akan bersama dengan Gayatri dan Niluh akan berada di atas punggung Singa Resti. Nimas Rengganis  dan Chakra Ashanka bisa bersama Akang dan SInga Ulung." Maharani membuat sebuah pengaturan. Gadis muda ini merasa cukup tahu diri dengan posisinya dalam hubungannya dengan Wisanggeni.


"Baik.., ayo kita segera berangkat. Kalian naiklah dulu!" Wisanggeni memerintahkan semua segera naik ke punggung SInga Resti. Setelah ketiga gadis muda itu sudah berada di punggung Singa Resti, perlahan Wisanggeni mengusap kepala dan leher binatang itu.


"Resti.., kita akan menuju Gunung Jambu. Kita bisa beristirahat nanti di desa yang pernah kita singgahi dulu, karena tidak mungkin kita berhari-hari akan terus menempuh perjalanan." Wisanggeni menyampaikan perkataan pada SInga Resti. Binatang itu menganggukkan kepala, kemudian perlahan meninggalkan Singa Ulung.


"Ayo Nimas.., kita segera naik ke punggung Singa Ulung.., kita akan berangkat untuk mengejar Singa Resti." sambil meraih tangan Rengganis.., Wisanggeni segera mengajak istrinya melompat ke punggung Singa Ulung. Mereka berdua segera mengejar ketertinggalan dengan Singa Resti.


*************


Sementara itu di perbukitan Gunung Jambu..


Ki Mahesa sedang berbincang dengan Lindhuaji dan Wijanarko. Setelah sekian lama mereka menunggu kedatangan Wisanggeni, tetapi laki-laki putra bungsu Ki Mahesa tidak terdengar kabar beritanya, mereka akan meninggalkan perbukitan tersebut.


"Iya ayahnda..., Trah Gumilang sudah lama Janar tinggalkan. Besok pagi.., Janar akan segera membawa Kinara untuk kembali ke Trah tersebut." Wijanarko menyampaikan keinginannya untuk segera kembali ke Trah Gumilang. Laki-laki itu menatap ke mata Kinara.

__ADS_1


"Bagaimana Nimas Kinar..., apakah Nimas  setuju dengan keputusan yang Akang ambil?" dengan suara pelan, Wijanarko bertanya pada istrinya. Gadis muda yang dipanggil namanya itu tersenyum, dan dengan tatapan redup menatap mata suaminya.


"Kemanapun yang menjadi tujuan Akang.., Kinara akan mengikutinya.." ucap Kinara lirih. Ki Mahesa tersenyum mendengar ucapan yang disampaikan Kinara. Laki-laki tua itu teringat dengan putra bungsunya, tetapi mengingat bagaimana putranya yang sudah berhasil mengantarkan mereka kembali ke alam ini, laki-laki tua itu merasa lega.


"Bagaimana ayahnda.., apakah ayah teringat dengan rayi Wisanggeni?" melihat perubahan ekspresi ayahndanya, Wijanarko bertanya pada Ki Mahesa. Laki-laki tua itu menghela nafas.


"Pasti Janar.., bagaimanapun keadaan Wisanggeni, ayahnda merasa belum cukup waktu menemaninya sampai beranjak besar. Saat anak itu membutuhkan bantuan dari ayahnda.., anak itu malah meninggalkan padhepokan sendiri. Ketika sudah memiliki kekuatan, ayahnda ditawan oleh gerombolan Alap-alap. Ayah pasti berbohong.., jika ayahnda bicara tidak merindukan anak itu." Ki Mahesa berbicara pelan, tatapan matanya jauh memandang keluar.


"Ayahnda tidak perlu khawatir dengan rayi Wisang. Aji yakin ayah.., jika rayi Wisang sudah menyelesaikan urusan di Jagadklana, tidak butuh waktu lama, Aji yakin anak muda itu akan kembali ke Klan Bhirawa. Kita hanya menunggu rayi Wisang disana ayah..." Lindhuaji menanggapi, laki-laki muda itu mencoba menenangkan Ki Mahesa.


"Ayah pasti akan menunggu kedatangan adik kalian kembali. Waktu sudah semakin malam.., kita harus segera istirahat. Besok pagi kita akan segera berpamitan dengan Ki Cokro Negoro untuk kembali ke tempat kita maisng-masing.


************


"Akang.., ayo segera turun. Jangan hanya melihati wajah Ashan saja dari tadi.." suara Rengganis mengagetkan laki-laki itu. Dengan sedikit terkejut laki-laki itu tersenyum, kemudian melompat dari punggung Singa Ulung.


"Kita akan menginap dimana Wisang..?" Gayatri bertanya langsung pada Wisanggeni. Gadis muda itu berjalan mendekati Wisanggeni, kemudian mengulurkan tangannya untuk meraih Chakra Ashanka.

__ADS_1


"Aaaaaa.." Rengganis tersenyum, melihat lucunya Chakra Ashanka menolak ajakan Gayatri untuk menggendongnya. Tetapi begitu perempuan muda itu mengulurkan tangannya, dengan cepat putranya berpindah ke dalam gendongannya.


"Kita akan menginap di penginapan itu Gayatri. Sudah dua kali aku dan Nimas Rengganis menyewa kamar di situ. Ayo kita segera memesan kamar..!" Wisanggeni segera memimpin rombongan, mereka segera memasuki penginapan. Terlihat ada beberapa orang yang sedang mengantri untuk mendapatkan kamar, dan seperti yang sudah dikatakan Wisanggeni, pelayan penginapan masih mengenalinya.


"Ki Sanak.. kemarilah. Karena sudah beberapa kali menginap disini, dan Ki Sanak dulu sudah memberikan pertolongan, kami akan melayani Ki Sanak dan rombongan terlebih dahulu." pelayan penginapan langsung menghampiri Wisanggeni. Dengan ramah karena mengingat pertolongan yang pernah dilakukan laki-laki muda itu, pelayan penginapan berkata akan mendahulukannya.


"Terima kasih Ki Sanak.., tapi layani dulu mereka!! Mereka sudah antri lebih lama dari kami, aku tidak mau membuat keributan disini." tidak enak melihat panjangnya antrian, Wisanggeni menolak tawaran pelayan penginapan. Akhirnya pelayan penginapan kembali melayani tamu-tamu yang sudah datang terlebih dahulu.


Wisanggeni mengajak rombongannya untuk menunggu antrian sambil duduk di kursi yang sudah tersedia. Baru beberapa saat mereka duduk,...


"Ternyata dunia ini sempit.. Aku masih bisa diberi kesempatan untuk bertemu kembali dari rayi pemilik Klan Gumilang." terdengar suara berwibawa mengagetkan Wisanggeni. Laki-laki muda itu menoleh ke sumber suara,...


"Pangeran.., maafkan kami yang tidak mengenali keberadaan pangeran disini." dengan cepat Wisanggeni menghaturkan sungkem, saat melihat Pangeran Abhiseka berdiri di dekatnya dengan dikawal dua orang kepercayaannya.


"Ssstt.., lindungi identitasku. Perlakukan aku seperti kamu memperlakukan teman-temanmu." Abhiseka berjalan mendekat pada Wisanggeni kemudian membisikkan sesuatu. Menyadari situasi dimana mereka berada saat ini, Wisanggeni segera menangkupkan kedua telapak tangannya di depan untuk menghaturkan maaf.


"He.., he.., he.., tidak masalah Wisanggeni. Kali ini kamu datang bersama dengan empat gadis muda yang cantik-cantik. Dan mereka berbeda dengan gadis muda yang pernah kamu ajak mampir ke istana." tiba-tiba Abhiseka mengingatkan Wisanggeni tentang keberadaannya bersama dengan Larasati di istana Abhiseka di waktu yang dulu.

__ADS_1


"Yang ini Nimas Rengganis, dan yang menggendong putra saya itu Nimas Maharani. Mereka berdua istri saya Pangeran.. Sedangkan dua gadis muda itu adalah nimas Gayatri dan nimas Miluh, mereka berdua adalah saudara saya di Klan Bhirawa." dengan sedikit malu, Wisanggeni mengenalkan keempat perempuan yang sedang bersamanya.


**************


__ADS_2