
Wisanggeni tercengang mendengar perkataan yang diutarakan oleh Lindhu Aji kakangmasnya. Laki-laki itu menatap wajah kakang keduanya itu dengan pandangan tidak percaya. Merasa mendapatkan tatapan itu, Lindhu Aji tersenyum kemudian menganggukkan kepala.
"Jangan salah sangka dengan usulku Dhimas. Apakah Dhimas sendiri sudah menyelidiki sendiri ke negara tersebut, ada latar belakang apa sampai Raden Bhadra dibawa pergi dari kerajaan itu?? Selidiki dulu Dhimas, baru kita akan bisa menetapkan sebuah keputusan. Apakah akan tetap menampung dan melindungi Raden Bhadra, ataukah mengembalikan Pangeran tersebut kembali ke kerajaan Logandheng." Wisanggeni tersentak mendengar masukan yang diberikan Lindhu Aji. Selama kembali di perguruan ini, laki-laki ini memang lebih banyak berada di dalam perguruan, untuk mengurusi dan membereskan kekacauan yang terjadi.
"Atau..., kamu bisa menanyakan kepada Nimas Maharani, jika perempuan itu sudah bisa untuk diajak berkomunikasi. Menurut ceritamu tadi, Nimas terluka karena melakukan pertarungan di halaman istana kerajaan Logandheng, dan untungnya kamu tepat waktu untuk menyelamatkannya." Lindhu Aji melanjutkan perkataannya.,
Wisanggeni terdiam sebentar, dan setelah beberapa saat akhirnya laki-laki itu menganggukkan kepala.
"Benar apa yang kakangmas katakan. AKu akan menunggu kedatangan mbakyu Larasati kembali keluar dari senthong Nimas Maharani. Jika istriku bisa untuk aku ajak bicara, maka aku akan menanyakannya. Tetapi jika tidak bisa, aku terpaksa akan pergi sendiri ke kerajaan Logandheng, dan mencari tahu sendiri akar permasalahan yang menyebabkan hal itu terjadi." akhirnya Wisanggeni menyetujui usulan yang diucapkan oleh kakak keduanya.
Kedua orang itu terdiam, Lindhu Aji kemudian mengambil cangkir berisi air panas yang mulai hangat, kemudian menyeruput minuman itu beberapa kali. Wisanggeni melamun menatap ke hamparan tanah yang ada di tempatnya duduk saat ini. Beberapa murid terlihat sedang membersihkan halaman, dan memang belum semua murid, perempuan dan anak-anak kembali ke padhepokan itu. Sebagian masih ada yang berada di pengungsian, dan sebagian diperbantukan di tapal batas wilayah perguruan Gunung Jambu.
Tiba-tiba pintu senthong tempat beristirahat Maharani terbuka dari dalam, terlihat Nimas Rengganis dan Larasati berjalan keluar dari dalam untuk menuju keluar ruangan. Wisanggeni bergeser tempat duduknya, dan Rengganis kemudian duduk di samping suaminya. Sedangkan Larasati duduk di samping Lindhu aji.
"Minumlah dulu beberapa teguk minuman hangat ini Nimas,., dan beberapa potong makanan makanlah terlebih dahulu. Kamu masih terlalu capai setelah menempuh perjalanan jauh." melihat semburat wajah pucat pada Larasati, Lindhu aji menawarkan minuman pada istrinya.
Perempuan itu menerima cangkir, kemudian meminumnya beberapa teguk, dan mengembalikan lagi cangkir di atas meja. Tetapi dengan alasan sudah makan beberapa potong di dalam senthong, Larasati menolak untuk menikmati makanan itu lagi.
"Bagaimana keadaan Nimas Maharani.. mbakyu?" tanya Wisanggeni dengan suara lirih.
__ADS_1
Larasati terdiam beberapa saat, kemudian..
"Bukannya aku mendahului takdir Dhimas.. Tetapi hasil pemeriksaanku masih sama dengan yang sudah aku ucapkan tadi. Aku bisa menggunakan Ajian Tulup Bumi untuk menarik racun tersebut, tetapi akan berdampak fatal pada Nimas Maharani." kembali Larasati terdiam,
"Maksudnya?" tanya Wisanggeni penasaran. Rengganis dan Lindhu AJi juga merasa penasaran dengan perkataan Larasati.
"Sepertinya takdir Nimas Maharani untuk menjadi manusia tidak akan lama lagi. Namun.., jika kamu menghendakinya, Nimas Maharani akan bisa mempertahankan hidupnya dengan berubah wujud kembali menjadi seekor ular. Hal ini memang telah tertulis dalam kodrat manusia suku ular. Kita tidak akan dapat mencegahnya. Atau seumur hidup, kita akan melihat keadaan Nimas Maharani dalam keadaan seperti ini." Larasati mengucapkan kata demi kata dengan lirih.
Semua yang berada di tempat itu merasa tersentak, mereka tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Larasati. Mata Wisanggeni terpaku diam, melihat ke depan dengan pandangan kosong.
"Aaaaawww..., panasss..." tiba-tiba terdengar teriakan dari senthong Maharani. Wisanggeni langsung melompat masuk ke dalam kamar, diikuti oleh semua orang yang ada disitu,
***********
Di pendhopo, Wisanggeni mengumpulkan kedua putranya dengan Rengganis, dan juga ditemani oleh Lindhu Aji, Tidak disangka, ternyata Chakra Ashanka juga mengajak Sekar Ratih dan Bhadra Arsyanendra turut serta di pendhopo tersebut. Tatapan Wisanggeni tampak gelap, dan merasa kebingungan. Rengganis dengan penuh perhatian mengusap punggung suaminya.
"Parvati.., bagaimana kabarmu hari ini putriku?" Wisanggeni mengangkat tangannya memanggil Parvati. Gadis kecil itu melangkahkan kaki mendekat pada ayahndanya, kemudian duduk di pangkuam laki-laki itu.
"Parvati dalam keadaan baik ayahnda..., begitu juga harapan Parvati untuk keluarga kita." gadis kecil itu menanggapi perkataan ayahndanya dengan lugas.
__ADS_1
"Hmmm..., apakah Parvati sudah mengetahui keadaan ibunda Maharani yang sebenarnya?" dengan suara pelan hampir tidak terdengar, Wisanggeni bertanya pada gadis kecil itu.
Gadis kecil itu mengangkat wajahnya ke atas, tangan kecilnya terangkat ke atas. Tidak diduga, tangan kecil itu mengusap air mata yang berada di sudut mata Wisanggeni. Semua yang berada di dalam ruangan itu terdiam dalam keharuan.
"Ayahnda.. jika malam ini ayahnda dan ibunda Rengganis, juga paman Aji kesini ingin menceritakan tentang keadaan ibunda Maharani. Parvati sudah mengetahuinya, tidak perlu semua terlalu khawatir dengan perasaan Parvati. Ibunda Maharani sudah menceritakan tentang kehidupannya, dan bagaimana cara memperpanjang kehidupannya kembali." dengan suara nyaring, Parvati menceritakan apa yang disampaikan Maharani kepadanya,
"Apakah ibunda tidak salah mendengar sayang..?" Rengganis terkejut.
Gadis kecil itu menggelengkan kepala, kemudian tersenyum. Semua yang berada di tempat itu terkejut dengan sikap yang ditunjukkan oleh putri Maharani itu.
"Ayahnda.., ibunda Rengganis... ada cara untuk memperpanjang usia ibunda. Tetapi hal itu bukan berarti tidak akan ada akibatnya. Jika kita memutuskan ibunda Maharani memperpanjang usianya, maka selamanya ibunda tidak akan bisa mengenali kita. Tetapi kita masih akan bisa melihat wujudnya. Dan Parvati memilih pilihan itu ayahnda.., masih ada ibunda Rengganis jika Parvati membutuhkan pelukan dan kasih sayang." ucap Parvati sambil menundukkan wajahnya.
Melihat hal itu, Rengganis segera mengambil Parvati dari pangkuan suaminya, kemudian memeluknya erat. Wisanggeni menatap pada Lindhu Aji, dan laki-laki itu menganggukkan kepalanya.
"Kesedihan ini terjadi, disebabkan karena kedatanganku di perguruan ini. Paman.., bibi... hal apa yang dapat aku lakukan, untuk dapat menebus dosa-dosaku ini." tiba-tiba terdengar suara Bhadra Arsyanendra mengisi kesunyian itu.
"Jangan terlalu banyak berpikir Raden Bhadra.., semua ini terjadi karena sudah ketentuan dari Hyang Widhi. Semua sudah digariskan.., hanya bagaimana cara kita untuk melalui semuanya." Chakra Ashanka menenangkan Bhadra Arsyanendra.
"Benar yang dikatakan keponakanku bocah kecil. Satu persatu kita akan udari simpul yang menjadi penyebab dari semua permasalahan ini." Lindhu aji ikut menambahkan,
__ADS_1
*************