
Menggunakan tenaga dalam, Wisanggeni segera membuat api di mulut gua dengan memanfaatkan kayu-kayu kering yang banyak berada di sekitar gua. Matanya memberi isyarat pada binatang melata yang banyak terdapat di sekitar hutan tersebut. Tidak berapa lama, asap tebal memasuki gua dan beberapa orang yang ada di dalam terbatuk-batuk.
"Pandi.., apa yang kamu lakukan diluar gua..?? Tidakkah pikiranmu kamu gunakan.., asap dari api yang kamu buat masuk ke dalam gua?" terdengar teriakan dengan nada tinggi dari dalam gua. Orang-orang itu menyangka jika dua orang mereka yang ditugaskan untukm berjaga-jaga sedang membuat api di luar.
"Uhuk..., uhukk.., uhuk..., keparat kalian.." suara batuk kembali terdengar dari beberapa orang, Wisanggeni terus menggunakan tangannya untuk mendorong asap dan membelokkan angin agar memasuki gua.
"Pangeran..., Gayatri.., Niluh.., bersiaplah. Aku yakin, tidak lama lagi orang-orang itu akan berlarian keluar dari dalam gua." ucap Wisanggeni memperingatkan mereka. Baru saja Wisanggeni selesai berbicara, terdengar beberapa orang berlarian keluar dari dalam gua..
"Uhuk..., uhuk.. awas kamu Pandi. Aku akan cincang tubuhmu..." orang-orang yang sudah berada di luar gua, mencari kedua penjaga mereka. Tetapi mereka tidak dapat menemukan keberadaan orang-orangnya, dan melihat api dengan asap yang seperti sengaja masuk ke dalam gua.
"Kurang ajar..., sepertinya ada orang yang sengaja ingin berurusan dengan kita rupanya. Keluarlah kalian.., jangan hanya berani main belakang kepada kami!" teriak laki-laki paruh baya yang tadi berhubungan intim dengan selir kerajaan. Dua orang perempuan muda yang sepertinya dayang-dayang mengawal selir kerajaan keluar dari dalam gua. Dengan pakaian yang masih berantakan...., selir kerajaan itu ikut berlari keluar. Karena tebalnya asap yang masuk ke dalam gua, menjadikan dada mereka menjadi sesak.
"Ha..., ha..., ha..., sepertinya tikus-tikus yang biasa tinggal di parit tidak terbiasa dengan asap-asap ini." tertawa terbahak-bahak, Wisanggeni bersedekap dan mengejek orang-orang itu.
__ADS_1
"Siapa kamu anak muda..., berani-beraninya kamu mencari urusan dengan kami?? Apakah kamu tidak tahu.., dengan siapa kamu berbicara??" seorang laki-laki dengan kasar bertanya pada Wisanggeni. Tangan laki-laki itu terlihat sedang menghunus pedang, dan dengan mata merah tatapannya terpaku pada Wisanggeni.
"Namaku terlalu bagus untuk diketahui oleh pecundang-pecundang seperti kalian semua. Tidak memiliki rasa syukur dan berterima kasih, tetapi malah berkumpul untuk membicarakan sebuah tindakan makar." Wisanggeni kembali berbicara dengan nada tinggi. Mendengar perkataan Wisanggeni, orang-orang itu menjadi tersulut emosinya. Sekitar lima orang langsung mengelilingi dimana Wisanggeni berdiri.
"Heh..., tampang kalian mencerminkan perilaku kalian. Hanya berani untuk main keroyokan.." Wisanggeni berbicara dengan nada sinis dan mengejek, sudut matanya melirik pada kelima orang-orang yang berdiri untuk mengeroyoknya. Tetapi laki-laki itu tidak mau membuang tenaganya untuk menghadapi orang-orang itu. Tiba-tiba Wisanggeni mengangkat tangan kanannya...
"Ssshhh..., ssshhh..., sssshhh..." tiba-tiba suara desisan ular menuju ke tempat mereka berada. Wisanggeni hanya tersenyum, dan memberi isyarat pada orang-orang yang bersamanya untuk tenang tidak membuat sebuah reaksi.
"Aaaww.., aaaw..., aawww..." kelima orang yang mengelilingi Wisanggeni tiba-tiba mengeluarkan teriakan histeris kesakitan. Puluhan ular tidak ada yang mencegah, langsung memberi serangan pada orang-orang itu. Selain mematuk, ular-ular itu juga membelit betis orang-orang tersebut. Orang-orang yang berada disitu menahan nafas melihat kelima orang itu terkulai tak berdaya menghadapi serangan ular-ular.
*********
"Putraku Pangeran Abhiseka.., ibunda tidak menyangka, kamu dan orang-orangmu bisa menemukan keberadaan ibunda. Sudah berhari-hari, ibunda dan orang-orang ini tersesat tidak tahu jalan untuk keluar dari sini." selir kerajaan mencoba mengambil hati Pangeran, tetapi..
__ADS_1
"Enyahkan tangan kotormu dari kulitku wanita murahan. Aku menyesal sudah pernah khilaf memanggilmu dengan sebutan ibunda. Gayatri..., ikat perempuan ini, aku sendiri yang akan melemparkan perempuan ini ke depan ayahnda!" Pangeran Abhiseka berteriak meminta Gayatri untuk mengikat selir kerajaan. Laki-laki muda itu merasa jijik melihat perempuan paruh baya itu yang akan berusaha untuk menyentuh lengannya.
Mendengar perintah Pangeran Abhiseka itu, sebenarnya Gayatri dan Niluh bisa menolaknya. Mereka sebenarnya tidak memiliki hubungan kedekatan dengan Pangeran itu, karena mereka berasal dari wilayah yang berbeda. Tetapi melihat situasi saat ini, kedua gadis itu dengan bersenang hati langsung melompat dan menangkap selir kerajaaan.
"Pangeran.., hentikan semuanya!! Ini hanyalah kesalah pahaman semata. Jangan berani menangkap orang tua ini, kamu bisa kuwalat Pangeran." selir kerajaan berteriak meminta Pangeran menghentikan tindakannya. Gayatri dan Niluh langsung memegangi kedua tangan perempuan paruh baya itu. Selir kerajaan menatap Gayatri dan Niluh bergantian dengan tatapan bengis, tetapi kedua gadis itu tetap menyeret selir kerajaan itu.
"Jangan berani-berani kalian menangkapku.., apakah kamu tidak tahu siapa aku??? Baginda raja akan memberi kalian hukuman berat, jika kalian bertindak kurang ajar padaku." merasa tidak mempan merayu putra permaisuri, selir kerajaan mengancam Gayatri dan Niluh. Selir ini memang memiliki kedudukan khusus di hadapan baginda raja, semua keinginannya akan selalu dipenuhi tanpa syarat oleh ayahnda Pangeran Abhiseka.
"Ha.., ha..., ha... perempuan sundal saja berani mengancam kami. Aku tidak tahu siapa kamu, Yang kami tahu.., saat ini kami berhadapan dengan perempuan yang tidak tahu malu." bukannya ketakutan mendengar ancaman dari selir raja, Gayatri dan Niluh malah tertawa terbahak-bahak.
"Jangan pedulikan ocehan perempuan itu Gayatri.., Aku sendiri yang menyeret dan membawanya ke hadapan ayahnda. Kita lihat apakah ayahnda akan masih mau menerima perempuan yang telah membohonginya. Di belakang ayahnda, bahkan tidak bisa menjaga harga dirinya.., perempuan ini telah mengantarkan tubuhnya pada laki-laki lain." mendengar perkataan Pangeran Abhiseka, wajah selir kerajaan menjadi pucat pasi. Perempuan itu sama sekali tidak mengira, jika putra dari permaisuri melihatnya memadu kasih dengan punggawa kerajaan.
"Pangeran..., dengarkan dulu penjelasan ibunda Pangeran.. Semua yang kamu lihat tidak seperti apa yang terjadi sebenarnya...," selir kerajaan berteriak dengan bercucuran air mata. Tetapi Pangeran Abhiseka malah berjalan meninggalkannya.
__ADS_1
"Gayatri.., gunakan ini! Tutup mulut perempuan laknat itu.., memalukan martabat sesama perempuan saja." Niluh melemparkan seutas kain. Dengan cepat Gayatri mengambil kain tersebut, dan dengan paksa, gadis itu mengikatkan kain tersebut ke mulut selir kerajaan. Dengan mata melolot menahan marah, selir kerajaan tidak bisa berbuat apa-apa.
************