
Pagi hari Sekar Ratih mengetuk kamar Chakra Ashanka untuk menanyakan keberadaan Ayodya Putri. Kamar yang ditempati oleh gadis muda itu sudah kosong, dan ketika Sekar Ratih menanyakan pada pelayan penginapan, ternyata sudah sejak dini hari kamar itu sudah ditinggalkan. Merasa tidak dipamiti, dan juga mengkhawatirkan keadaan gadis muda itu, Sekar Ratih akan memberi tahukan hal itu pada Chakra Ashanka.
"Ada apa Nimas Ratih..?" Chakra Ashanka membuka pintu kamar, dan ketika melihat Sekar Ratih ada di depannya, laki-laki muda itu langsung mengajukan pertanyaan.
"Kakang.. Nimas Putri sudah tidak ada di kamarnya. Kata pelayan penginapan, sudah sejak dini hari, Nimas Putri meninggalakan penginapan. Apakah kakang sudah mengetahui sebelumnya, tentang kepergian Nimas Putri..?" dengan tatapan dan nada khawatir, Sekar Ratih melihat ke arah Chakra Ashanka.
"Masuklah dulu ke dalam kamar Nimas.. hari masih pagi. Pembicaraan kita di depan pintu seperti ini, akan bisa membangunkan para pengunjung penginapan yang lain. Masuklah dulu.." anak muda itu segera membuka pintu kamar dengan lebar, dan bergeser ke samping untuk memberikan jalan agar Sekar Ratih bisa masuk ke dalamnya.
Gadis muda itu segera mengikuti Chakra Ashanka untuk masuk ke dalam kamar. Anak muda itu meminta Sekar Ratih untuk duduk di kursi kayu yang ada di dalam kamar.
"Nimas Putri sudah memberi tahu kakang akan kepergiannya Nimas.. Hanya saja, kakang tidak berpikir jika akan secepat ini kepergiannya. Waktu kemarin memberi tahu pada kakang, Nimas Putri juga tidak mau berpamitan sendiri dengan ayahnda dan ibunda, dan meminta kakang untuk memintakan pamit pada beliau berdua," Chakra Ashanka menjelaskan apa yang terjadi.
"Hmmm, semudah itukah kakang membiarkan Nimas Putri pergi, dan tidak sedikitpun berusaha untuk mencari tahu alasan kepergiannya. Kakang kejam, tidak memahami perasaan seorang gadis.." Chakra Ashanka terkejut dengan reaksi yang ditunjukkan oleh Sekar Ratih. Gadis muda itu tiba-tiba malah marah tanpa sebab, dan anak muda itu hanya mengerutkan dahi menunggu sampai Sekar Ratih selesai bicara.
__ADS_1
"Apakah ada yang sedang mengganggu pikiranmu Nimas Putri.. kenapa tiba-tiba tanpa sebab Nimas marah-marah sama kakang. Sepertinya kakang tidak melakukan kesalahan apapun. Tidak ada hak yang kakang miliki untuk menahan Nimas Putri untuk kembali pada keluarganya Nimas.. Apakah hal ini yang menjadi sebab Nimas Ratih marah kepadaku.." Chakra Ashanka memandang ke mata gadis muda itu. Sekar Ratih tersentak, gadis muda itu baru tersadar tentang sikapnya barusan.
"Bukan itu maksud Nimas kakang.. karena Nimas tahu bagaimana perasaan Nimas Putri, Dan meskipun gadis itu tidak menceritakan pada Nimas Ratih, tapi sedikit banyak Nimas tahu alasan kepergian Nimas Putri kakang. Harusnya kakang menahannya, jika perlu kakang bisa memenuhi apa yang diinginkan oleh gadis itu. Nimas Ratih bersedia untuk berbagi kakang.., Nimas tidak akan egois hanya memikirkan urusan Nimas sendiri." tiba-tiba Sekar ratih terlihat sedih, gadis itu menundukkan wajahnya ke bawah.
Chakra Ashanka menjadi lebih kebingungan mengetahui reaksi besar yang ditunjukkan oleh calon istrinya. Anak muda itu tidak dapat memahami apa yang terlintas dalam pikiran gadis muda itu. Setelah mengambil nafas panjang, Chakra Ashanka memegang dagu Sekar Ratih, kemudian mengangkat wajah gadis itu ke atas. Ke empat mata itu saling berpandangan.
"Nimas perjelas kata-katamu.. kakang tidak bisa memahami semuanya.." dengan terus menatap mata gadis muda itu. Chakra Ashanka meminta Sekar Ratih untuk memperjelas kalimatnya.
"Untuk itu kang, sebenarnya Nimas mau menyampaikan pada kakang, untuk juga menerima rasa dari Nimas Putri, namun gadis itu sudah terlanjur pergi." lanjut Sekar Ratih.
Chakra Ashanka terkejut mendengar kata-kata yang terucap dari bibir Sekar Ratih. Anak muda itu memundurkan punggungnya ke belakang. Tampak garis rahang anak muda itu terlihat keras, seperti sedang menahan rasa marah. Beberapa saat kemudian, terlihat Chakra Ashanka mengambil nafas panjang kemudian kembali menatap gadis di depannya itu.
"Bisakah Nimas Ratih berusaha untuk memahami perasaan kakang. Dari tadi, perkataan Nimas Ratih, sangat terdengar sangat egois, dan sedikitpun tidak berpikir bagaimana perasaan kakang. Aku hanya memilihmu Nimas.., jangan coba-coba kamu tawarkan perempuan lain dalam hidupku. Hanya itu saja yang perlu Nimas ingat dan pahami.." dengan nada tegas, Chakra Ashanka menanggapi perkataan gadis muda yang ada di depannya itu.
__ADS_1
Sekar Ratih merasa kehabisan kata-kata, gadis muda itu tanpa bicara menatap mata laki-laki yang sudah dipilihnya itu. Namun Chakra Ashanka malah mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Sebenarnya Sekar ratih, dalam hati kecilnya juga tidak akan rela berbagi perempuan dengan siapapun. Namun.. mengingat banyak kekurangan yang merasa dimilikinya, Sekar Ratih berpikir jika Ayodya Putri akan dapat menutup semua kekurangannya itu.
"Maafkan Nimas Ratih kang..., tidak ada maksud sedikitpun untuk menyinggung atau menyakiti perasaan kakang. Hanya Nimas ingin, kang Ashan mendapatkan semuanya. Banyak kekurangan yang ada dalam diri Nimas, dan itu selalu Nimas sadari kang.." ucap Sekar Ratih lirih, Gadis muda itu kembali menundukkan kepalanya ke bawah,
"Dengarkan kata-kataku Nimas.. Kakang tidak ingin terjadi lagi di masa depan, Nimas Ratih merasa rendah diri ataupun merendahkan diri untuk seseorang. Aku tidak mencari kesempurnaan Nimas.. aku mencari orang yang bisa menutup kekuranganku, bisa melayaniku. Untuk itu Nimas.. sebagai seorang laki-laki, kakang akan merasa memiliki harga. Selain itupun, aku juga mampu untuk menutup kekurangannya.." ucap Chakra Ashanka dengan nada tegas.
Laki-laki muda itu meraih tangan Sekar Ratih, kemudian mengangkat dan memberikan ciuman di punggung tangannya. Setelah itu, dengan satu tangannya Chakra Ashanka kembali memegang dagu gadis muda itu, kemudian kembali menegakkan wajah itu sejajar dengannya. Tampak semburat warna merah pada pipi gadis muda itu, dan anak muda itu menatap sepasang mata cantik di depannya itu sambil tersenyum.
"Sekali lagi kang Ashan.. maafkan Nimas. Karena Nimas merasa banyak memiliki kekurangan, yang dikhawatirkan tidak akan membuat kakang puas. Belajar dari kehidupan ayahnda Wisanggeni dengan kedua istri, yaitu bibi Rengganis dan bibi Maharani.. tampaknya mereka bisa hidup rukun dan adem ayem. Akhirnya Nimas berpikir, kenapa tidak ikut mencoba seperti kehidupan mereka." ucap lirih Sekar Ratih.
"Sudah.. jangan bicara lagi Nimas, jika hanya akan membuat hatiku sakit.." sahut Chakar Ashanka dengan cepat. Laki-laki itu kemudian memegang pundak gadis muda itu, kemudian mendekatkan ke arah dirinya. Tanpa minta ijin, Chakra Ashanka memeluk erat tubuh Sekar Ratih.
*****
__ADS_1