Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 95 Penggabungan Kekuatan


__ADS_3

Wisanggeni berdiri di halaman mengamati para murid-murid perguruan berlatih. Terlihat Maharani ikut melatih murid perempuan yang ada di halaman sebelah kanan. Mata Wisanggeni melihat ada tamu datang dihantarkan oleh penjaga, tetapi laki-laki itu tetap fokus mengamati latihan para murid.


"Kang Wisang.., diminta Guru untuk datang ke ruang tengah..!" tiba-tiba salah satu murid meminta Wisanggeni untuk menemui Guru.


"Terima kasih, aku akan langsung menuju kesana." setelah meminta Maharani untuk menggantikan pengawasan pada murid-murid yang berlatih, Wisanggeni langsung masuk ke ruang tengah untuk menemui Cokro Negoro.


"Murid datang menghadap Guru.." Wisanggeni mengucapkan pemberitahuan. Tiga orang yang duduk disitu menoleh dan tersenyum pada laki-laki muda itu.


"Duduklah dulu Wisang.., ada yang akan Guru bicarakan padamu." Cokro Negoro menepuk kursi, memberi tanda agar muridnya duduk disitu, Wisanggeni mengikuti perintah Gurunya, dia langsung menempati kursi yang sudah disiapkan untuknya.


"Kenalkan Singolodra.., anak laki-laki ini adalah muridku. Aku menerimanya, setelah lama aku ditinggalkan oleh Badar." Cokro Negoro berbicara pelan, dan mulai mengenalkan Wisanggeni.


"Ijin menyapa Sesepuh, perkenalkan saya Wisanggeni, murid dari Guru Cokro Negoro." Wisanggeni menangkupkan dua telapak tangan di depan dadanya, mengucapkan salam pada Singolodra.


Singolodra tersenyum, kemudian meletakkan telapak tangannya diatas kepala Wisanggeni.


"Tindak tandukmu sangat sopan anak muda.., kamu akan menjadi penerus para sesepuh untuk mewujudkan kedamaian di bumi ini. Panggil aku paman..., aku dan Gurumu Cokro Negoro merupakan kakak adik satu perguruan, dan juga sebagai pemilik perguruan ini. Tetapi gurumu terlalu lama meninggalkan perguruan ini, hingga aku harus mengelola perguruan ini sendirian." Singalodra menyampaikan penerimaan perkenalan Wisanggeni.


Cokro Negoro tersenyum mendengarkan perkataan adik seperguruannya itu.

__ADS_1


"Oh ya Wisang..., beberapa perguruan milik teman-teman kami, sudah memutuskan untuk bersama-sama menggabungkan kekuatan. Kita akan menumpas Gerombolan Alap-alap, karena akhir-akhir ini keberadaan mereka sudah sangat meresahkan masyarakat di wilayah ini. Hubungi Klan yang ada di wilayah tengah, dan Barat, undang mereka untuk bergabung dengan kita." Cokro Negoro memberikan sebuah perintah.


"Sendiko Guru.., murid akan menghubungi Klan Bhirawa punya murid sendiri, Klan Gumilang punya kangmas Wijanarko, Trah Jagadklana, dan masih ada dua trah lagi yang akan murid ajak untuk bergabung. Satu trah punya keluarga dari Nimas Niken Kinanthi, dan satunya punya paman dari Nimas Niken Kinanthi." mendengar muridnya menyebut nama seorang gadis, Cokro Negoro dan Singolodra saling berpandangan mata, dan keduanya tersenyum dan mengangguk.


"Muridku Wisanggeni..., wajah tampanmu sesuai dengan raga yang membungkus seluruh badanmu sangatlah pantas untuk dikagumi dan disukai banyak perempuan. Apalagi kamu datang ke perguruan ini juga membawa seorang gadis dari suku Ular.., kira-kira apakah tidak akan lebih bermanfaat bagimu untuk segera menikahi salah satu dari mereka?? Kamu bisa memperpanjang dan menambah generasi penerus di masa mendatang muridku." dengan suara pelan, Cokro Negoro memberi nasehat pada laki-laki muda itu.


Wisanggeni tersenyum dan mengangkat wajahnya, secara bergantian dengan tidak ada maksud untuk menantang, Wisanggeni menatap Guru dan paman Gurunya secara bergantian.


"Ampuni WIsang Guru.., Paman..., murid ini yang tidak memiliki sopan santun. Sebenarnya murid ini sudah memiliki seorang istri Guru.., dialah yang selalu murid ini inginkan sejak kami masih kecil." Wisanggeni akhirnya memberi tahu secara resmi pada mereka.


Cokro Negoro terkejut, dia memandang mata Wisanggeni tanpa berkedip.


"Iya Guru.., istri murid ini berasal dari keturunan trah Jagadklana yang bernama Nimas Rengganis, gadis itu putri dari Ki Sasmita." lanjut Wisanggeni.


Wisanggeni menunduk malu, kemudian mengangkat kepala dan memandang kedua saudara seperguruan itu.


"Murid mohon ijin Guru.., jika diperbolehkan saat ini juga, murid bermaksud untuk mengundang istri dan saudara murid untuk bergabung di padhepokan ini." Wisanggeni memberanikan diri ingin mengundang Rengganis dan keluarganya.


Cokro Negoro berdiri kemudian meletakkan tangannya di pundak Wisanggeni, diikuti Singolodra.

__ADS_1


"Muridku.., di masa depan perguruan ini adalah milikmu. Undang semua orang yang ingin kamu undang.., sekalian kita mulai menyatukan kekuatan mulai sekarang. Lakukan.., tidak perlu kamu pergi menjemput mereka, gunakan merpati di belakang untuk mengantarkan pesan pada mereka." setelah selesai berbicara, Cokro Negoro dan Singolodra berjalan meninggalkan Wisanggeni sendiri.


**************


Lindhuaji mengundang Rengganis untuk duduk di pendhopo, dengan setia Larasati mendampingi suaminya itu. Di tangan Lindhuaji terlihat sedang memegang gulungan daun lontar.


"Nimas Rengganis siap menerima perintah kakang Aji.., tugaskan pada Nimas tidak perlu untuk merasa sungkan atau tidak enak." ucap Rengganis, yang memang sudah berniat untuk mencari dimana keberadaan suaminya.


Lindhuaji tersenyum, kemudian laki-laki itu membuka gulungan daun lontar yang ada di tangannya.


"Mana berani kakanmu ini untuk memerintahmu Nimas.., kakang hanya ingin menyampaikan surat yang dikirim adikku Dimas Wisanggeni." dengan tersenyum, Lindhuaji menyampaikan surat dari adiknya itu.


"Iyakah Kakang.., jika Nimas boleh tahu, kira-kira apa surasa yang ada dalam suratmu tersebut." tanya Rengganis dengan tidak sabar. Larasati ikut tersenyum, dia juga ingin mendengar kabar berita baik dari laki-laki muda yang pernah dia harapkan untuk menjadi pendampingnya itu, yang akhirnya takdir menjadikannya sebagai adik iparnya.


"Kamu sepertinya sudah tidak sabar mendengar kabar baik dari suamimu Nimas. Wisanggeni mengundangmu, juga kakak dan orang-orang dari Klan Bhirawa yang memiliki kemampuan tanding untuk bergabung di perbukitan Gunung Jambu. Dimas merencanakan akan mengumpulkan orang-orang dari berbagai perguruan lain untuk bergabung membentuk satu kelompok, kita akan menghancurkan Gerombolan Alap-alap yang sudah terlalu meresahkan." ucap Lindhuaji sambil menyerahkan gulungan daun lontar pada Rengganis.


Rengganis menerima gulungan tersebut, kemudian gadis itu membaca dan memahami setiap perkataan dengan seksama. Sebuah senyuman tersungging di bibirnya, kemudian gadis itu meletakkan gulungan daun lontar itu diatas meja.


"Kakang..., saat ini juga, Nimas akan mengirimkan pemberi tahuan pada Trah Jagadklana. Ayahnda dan orang-orang Jagadklana akan lebih percaya, jika Nimas sendiri yang meminta bantuan pada mereka. Selain itu, Nimas akan segera bersiap-siap untuk berangkat menyusul Akang Wisanggeni di perbukitan Gunung Jambu." Rengganis kemudian bangkit dari duduknya, dan meninggalkan Lindhuaji dan Larasati yang memandanginya pergi.

__ADS_1


"Ternyata Rengganis betul-betul menyayangi adikku Wisanggeni.., gadis itu terlihat tidak sabar ingin segera menemuinya." ucap Lindhuaji pelan.


*******************


__ADS_2