Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 158 Pertahanan Dasar


__ADS_3

Tertatih-tatih Chakra Ashanka ingin mendatangi ayam jago yang dimasukkan dalam kurungan oleh pemiliknya. Wisanggeni mengawal putranya dengan mendampingi anak laki-laki itu berjalan di belakangnya. Tiba-tiba tanpa diduga, ada seorang gadis muda yang mendatangi Chakra Ashanka kemudian menggendong anaknya itu.


"Akhirnya bunda bisa menemukanmu putraku..., bunda sangat rindu padamu." gadis muda itu menciumi muka Chakra Ashanka, dan tangan kecil anak laki-laki itu memukul wajah gadis muda itu. Wisanggeni akan mengambil kembali putranya, tetapi dia penasaran apa yang akan dilakukan gadis muda itu pada putranya.


"Kamu sudah mulai nakal ya sama bunda.., putra bunda yang menggemaskan." gadis muda itu terlihat menahan rasa jengkel pada anak laki-laki itu yang terus memukuli wajahnya. Merasa tidak ada orang yang meneriaki atau melarangnya membawa anak laki-laki itu, gadis muda itu terlihat bergegas membawa Chakra Ashanka menyelinap dari situ.


"..Pas..., pas..." terlihat Chakra Ashanka melakukan penolakan. Anak laki-laki itu terlihat memukul dengan keras wajah gadis muda itu, sambil berteriak minta dilepaskan. Tetapi teriakan Chakra Ashanka tidak dihiraukan oleh gadis muda itu, dengan segera gadis muda itu berlari sambil menggendong anak laki-laki itu. Wisanggeni terus berjalan dengan cepat mengikuti mereka.


Di depan terlihat sebuah kereta kuda yang berhenti di pinggir jalan dekat hutan. Terlihat juga dua laki-laki yang langsung berjalan menghampiri gadis muda itu. Tangan laki-laki paruh baya itu.., segera mengambil Chakra Ashanka dari tangan gadis muda itu kemudian menggendongnya.


"Plak..." tanpa diduga, kembali Chakra Ashankan memukul muka laki-laki paruh baya itu.


"Kurang ajar kamu anak kecil... Berani-beraninya kamu memukul wajahku.." teriak laki-laki paruh baya itu, dan bukannya menangis ketakutan, Chakra Ashanka malah memandang wajah laki-laki itu dengan berani. Bahkan tangannya kembali memukul-mukul muka laki-laki itu. Saat tangan laki-laki paruh baya itu terangkat untuk memukul Chakra Ashanka.., tiba-tiba sebuah tenaga dalam seperti menyambar tangan laki-laki itu.


"Aduh..., kurang ajar.. Siapa yang berani bermain-main denganku..?" laki-laki paruh baya itu mengumpat dengan suara keras, dan gadis muda itu kembali mengambil alih Chakra Ashanka. Dengan mata berkilat marah, laki-laki itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Wisanggeni berjalan santai menghampiri laki-laki itu, dan di depannya laki-laki putra Ki Mahesa itu tersenyum mencibir laki-laki paruh baya itu.

__ADS_1


"Yah.., yah.." Chakra Ashanka memanggil-manggil ayahndanya, dan Wisanggeni tersenyum sambil menganggukkan kepala pada putranya.


Melihat interaksi antara anak kecil dan laki-laki muda di depannya itu, membuat laki-laki yang menggendong Chakra Ashanka kebingungan. Laki-laki itu langsung melihat ke arah gadis muda yang membawa anak kecil itu, tetapi gadis muda itu menggelengkan kepala mengisyaratkan jika dia tidak tahu.


"Serahkan anakku ...!" dengan sopan, Wisanggeni meminta laki-laki paruh baya itu untuk menyerahkan putranya kembali.


"Ha.., ha..., ha... dalam mimpimu. Tidak ada dalam kamusku..., umpan yang sudah aku pegang bisa lepas dariku." laki-laki paruh baya itu tertawa terbahak-bahak tidak mau melepaskan Chakra Ashanka. Dia malah lebih mengeratkan lagi gendongannya. Untungnya putra Wisanggeni dan Rengganis itu sudah terbiasa berhadapan dengan orang asing, sehingga anak laki-laki itu tidak ketakutan melihat laki-laki itu.


"Aku ulangi sekali lagi Ki Sanak.., berikan anakku kembali padaku. Kamu berurusan dengan orang yang salah.." dengan tatapan mengejek, Wisanggeni tersenyum sinis. Matanya mulai menyipit..., terlihat Chakra Ashanka sudah tidak sabar berada dalam gendongan laki-laki itu. Tatapan anak laki-laki itu melihat ke belakang Wisanggeni. Tetapi.., belum sampai Wisanggeni melakukan tindakan apapun.. tiba-tiba terdengar suara teriakan dari laki-laki itu.


**************


Melihat suaminya dan Chakra Ashanka meninggalkan untuk waktu yang cukup lama, Rengganis memberi tahu Maharani untuk mencari mereka. Karena menunggu tempat duduk dan belum membereskan tagihan pembayaran, Maharani tetap berada di tempat itu. Rengganis berjalan ke arah orang menyabung ayam, tetapi tidak melihat keberadaan suami dan putranya.


"Serahkan putraku..!" tiba-tiba Rengganis mendengar suara Wisanggeni. Perempuan itu menoleh ke sumber suara, dan hatinya tiba-tiba marah saat melihat putranya berada di dalam gendongan laki-laki yang tidak mereka kenal. Rengganis mengambil nafas dalam.., kemudian perlahan dia berjalan mendekati suaminya.

__ADS_1


Mata Rengganis menatap mata putranya, dan perempuan itu tersenyum saat melihat Chakra Ashanka menyadari kedatangannya. Dengan mengangkat satu tangannya ke atas, Rengganis membuat simbol untuk ditangkap putranya. Sudah sejak lahir, Rengganis sudah melatih dasar-dasar untuk membela diri tanpa sepengetahuan suaminya. Melihat kode yang ditunjukkan ibundanya, dengan cepat Chakra Ashanka menangkapnya. Dengan sekuat tenaga, anak kecil itu menggigit lengan atas laki-laki yang menggendongnya itu. Jika gigitan itu dilakukan oleh anak kecil kebanyakan, mungkin tidak akan menimbulkan reaksi kesakitan. Tetapi dasar tenaga dalam yang dimiliki Chakra Ashanka..., langsung menghancurkan tulang lengan laki-laki paruh baya itu.


"Aaaawww..." ketika laki-laki paruh baya itu berteriak kesakitan, dengan lincah Chakra Ashanka langsung melompat turun dari gendongan orang tersebut. Dengan tertatih-tatih.., tiba-tiba secepat kilat anak laki-laki itu bisa berlari cepat menghampiri ibundanya yang berdiri di belakang Wisanggeni.


"Nimas..., Nimas ternyata sudah berada disini." teriak Wisanggeni kaget, melihat kedatangan Rengganis yang luput dari perhatiannya. Laki-laki itu terlihat malu karena merasa tidak dapat menjaga putranya dengan baik. Selain itu dia juga kaget, dalam usia sekecil itu putranya sudah memiliki ilmu pembelaan diri yang bisa melumpuhkan laki-laki dewasa.


"Bagus sekali putra ibunda..., kamu sudah menunjukkan pada bunda bagaimana kamu bisa menjaga diri dengan baik." Rengganis langsung berjongkok memeluk Chakra Ashanka.., kemudian menggendong anak kecil itu dan melangkah menghampiri laki-laki paruh baya yang sedang kesakitan itu.


"Berani sekali kamu berurusan dengan putra kesayanganku Ki Sanak. belum apa-apa kamu sudah menuai apa yang kamu tabur. Sekarang rasakan pembalasan dari seorang ibunda,...Penghancur tulang... " Rengganis mengirimkan serangan pada laki-laki yang masih merasa kesakitan karena gigitan yang dilakukan Chakra Ashanka itu.


"Krek..., krek..., krek..." tulang laki-laki paruh baya itu langsung berbunyi, tanpa terasa kesakitan sedikitpun. Tiba-tiba tubuh laki-laki itu jatuh tergeletak di tanah.


"Paman...." gadis muda yang tadi membawa pergi Chakra Ashanka berteriak, sepertinya dia meratapi nasib laki-laki tua itu. Melihat kondisi pamannya yang terpuruk tanpa tenaga sedikitpun di tanah, karena tulang-tulangnya terasa remuk, gadis itu menangis meraung-raung.


"Kalian kejam.., sembuhkan kembali pamanku..!" gadis muda itu tiba-tiba berdiri dan meneriaki Wisanggeni dan Rengganis. Tetapi jangankan menjawab, pasangan suami istri malah tersenyum sinis dan berjalan meninggalkannya.

__ADS_1


**************


__ADS_2