
Seusai jamuan makan malam berlangsungnya, Ki Mahesa memanggil Wisanggeni dan Widjanarko ke dalam kamar tempat istirahat laki-laki itu. Ada sesuatu yang akan disampaikan kepada putra sulung dan putra bungsunya, sehingga hanya mereka berdua yang diminta untuk mendatangi kamarnya malam itu. Tanpa berpikir panjang, sebagai bentuk penghormatan kepada orang tuanya, Wisanggeni dan Widjanarko bergegas mendatangi tempat istirahat ayahndanya.
"Salam ayahnda.., Wisanggeni datang untuk menghadap." datang lebih dulu ke kamar Ki Mahesa, Wisanggeni mengucap salam. Laki-laki tua itu tersenyum, kemudian duduk di pinggir ranjang.
"Duduklah dulu putraku Wisanggeni! Kita akan menunggu kakakmu Widjanarko datang ke tempat ini, ada hal penting yang ingin aku sampaikan kepada kalian berdua." Ki Mahesa menjawab ucapan salam yang disampaikan Wisanggeni,
Laki-laki muda itu tersenyum, dan menganggukkan kepala. Beberapa saat mereka menunggu kedatangan Widjanarko, dan tidak lama kemudian terdengar suara ketukan di pintu kamar. Tanpa menjawab, Wisanggeni berdiri dan membuka pintu dari dalam., Terlihat Widjanarko sudah berdiri sendirian di luar, tanpa mengajak Ahimsa dan Kinara,
"Duduklah kalian berdua di dekatku!" ucap Ki Mahesa pelan. Laki-laki tua itu mengeluarkan sebuah bungkusan dari kepis yang tergantung di pinggangnya. Setelah beberapa saat mengamati bungkusan itu, kemudian Ki Mahesa membuka bungkusan dan mengeluarkan tiga buah buku kuno.,
"Janar..., Wisang..., seharusnya ada Lindhu Aji disini. Tetapi aku bisa menyampaikan pesan untuknya melalui kalian." ucap Ki Mahesa pelas, kedua netranya menatap ke mata Widjanarko dan Wisanggeni. Kedua putra laki-laki itu terdiam, menunggu ayahndanya selesai bicara.
"Usia ayah sudah tua..., sudah saatnya ayah harus menep.., dalam artian tidak lagi menginginkan duniawi. Ayahnda akan menyampaikan niat ayahnda kepada kalian berdua. Terimalah kitab ini.., satu persatu untuk kalian." Ki Mahesa menyerahkan kedua kitab kuno, masing-masing satu kepada Widjanarko dan Wisanggeni.
Widjanarko dan Wisanggeni saling berpandangan, keduanya bingung dengan apa yang dilakukan oleh ayahndanya. Tetapi kemudian, untuk mendengarkan perkataan Ki Mahesa mereka saling menerima satu persatu kitab kuno yang diberikan oleh Ki Mahesa.
"Bagus..., masuk tidaknya energi yang aku wariskan kepada kalian berdua, bahkan bertiga dengan Lindhu Aji..., tergantung dengan upaya kalian untuk mewujudkannya. Ayahnda akan menjalani semedi.., dimana waktunya ayahnda sendiri tidak akan tahu kapan akan berakhir. Jikapun Hyang Widhi akan mengambil sukma ayahnda dan membawanya ke nirwanapun, ayahnda sudah mempersiapkan diri." mendengar perkataan Ki Mahesa, kedua laki-laki itu terkejut. Keduanya terdiam beberapa saat, kemudian..
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya maksud dari ayahnda..?? Apakah ayahnda tidak ingin mendampingi putra dan cucu-cucu ayah?" Widjanarko akhirnya memberanikan diri bertanya pada Ki Mahesa.
"Kalian jangan salah memaknai niat baik ayahnda. Sudah menjadi kodrat manusia putraku, kita terlahir dengan membawa semua beban, memperbanyak keturunan. Pada saat bagi seseorang merasa cukup mendapatkan kecukupan duniawi, maka dia harus menghentikan semua keinginannya itu. Kali ini, sudah saatnya ayah harus memenuhi siklus itu putraku.." Ki Mahesa tersenyum dan menjelaskan kepada Wisanggeni dan Widjanarko.
"Tetapi ayah..., kita masih merasa belum cukup untuk didampingi ayahnda dalam mengasuh putra-putra kami. Tidak bisakah ayahnda menunda niat mulia ini." Wisanggeni turut berbicara untuk menahan Ki Mahesa untuk tidak meninggalkannya.
"Pahamilah kata demi kata yang sudah ayahnda sampaikan pada kalian. Tujuan ayah mengundang kalian malam ini, untuk memberi tahukan atau berpamitan kepada kalian. Jika sampai waktunya, ayahnda kembali, berarti masih ada waktu bagi ayahnda untuk mendampingi keturunanku, namun jika tidak.. kalian harus mendoakan dan merasa ikhlas merelakan kepergian ku." Widjanarko dan Wisanggeni terdiam, mereka menundukkan kepala sebagai penghormatan atas perkataan ayahndanya. Berbagai perasaan bergejolak di dalam hati mereka. Meskipun mereka sering tidak tinggal bersama dengan ayahndanya, tetapi mendengar ayahndanya memiliki niat untuk mengasingkan diri dan bersemedi, perasaan mereka tidak mengijinkan.
***********
Seperti yang sudah disampaikan pada kedua putranya, pada tengah malam Ki Mahesa bersiap untuk meninggalkan perbukitan Gunung Jambu. Seekor kuda sudah disiapkan oleh laki-laki itu untuk menuju ke tempat yang akan digunakan untuk semedi. Kuda itu sudah cukup lama dipelihara oleh Ki Mahesa, dan hanya digunakan jika memiliki sesuatu yang penting.
"Cukup sampai disini, Janar.., Wisang.. kalian mengantarkanku. Aku tidak ingin akan semakin berat untuk meninggalkan kalian, jika kalian masih terus mengikutiku dari belakang." di pinggir sebuah tebing, Ki Mahesa menghentikan langkahnya.
"Tapi ayahnda..." ucap Wisanggeni tercekat.
"Ingat kembali ucapan yang pernah ayahnda sampaikan pada kalian berdua. Kembalilah.., jaga anak dan istri kalian dengan baik! Terutama kamu Wisang, perlakukan Rengganis dan Maharani dengan adil, apapun yang melatar belakangi bersatunya ikatan kalian." kembali terdengar Ki Mahesa menyamping petuahnya.
__ADS_1
"Baik ayah..., putra bungsu ini akan selalu mengingatkan pesan yang disampaikan ayahnda." jawab Wisanggeni menanggalkan perkataan Ki Mahesa.
Terlihat sebagai anak sulung dari tiga bersaudara, Widjanarko lebih tenang. Laki-laki itu bisa menguasai gejolak dalam hatinya, sejak tadi laki-laki itu hanya menatap bagaimana Ki Mahesa memberikan petuah kepada rayinya.
"Dan kamu Widjanarko... rawat Trah Bhirawa, banyak orang bergantung hidup dengan kebesaran trah kita itu. Jangan kecewakan ayahnda..!" Ki Mahasiswa beralih meninggalkan pesan untuk Widjanarko.
"Baik ayahnda, titah yang disampaikan ayahnda akan kami jalankan." ucap Widjanarko datar dengan rasa sesak yang terasa menghimpit dadanya.
Ketiga kaki laki-laki itu terdiam, kemudian setelah beberapa saat, Ki Mahesa membalikkan badan kemudian memeluk kedua putranya dengan erat. Keadaan itu berulang untuk beberapa waktu, kemudian Ki Mahesa menghentikan pelukannya. Tanpa bicara lagi, laki-laki tua itu menghentakkan kaki dan menggunakan kuda melesat pergi menuruni tebing yang ada di depan mereka.
Rasa sesak, dan mata kedua laki-laki muda putra Ki Mahesa terasa panas, dan Tanpa sadar kelopak mata mereka sudah basah oleh air mata yang menetes.
"Sudahlah Rayi..., kita harus segera kembali ke perguruan bagian dalam. Masih banyak yang perlu kita rembug, untuk kelangsungan Trah Bhirawa. Kita harus menjalankan pesan yang dikirim oleh ayahnda." tiba-tiba suara Widjanarko membuyarkan lamunan Wisanggeni.
"Baik kang Janar.." ucap Wisanggeni lirih menanggapi ajakan Kakandanya. Kakak beradik itu saling berpandangan.
Widjanarko tersenyum kemudian menghentakkan kaki dan pergi meninggalkannya Wisanggeni sendiri di tempat itu. Anak laki-laki itu kembali melihat ke arah tempat Ki Mahesa melarikan diri, dan sudah tidak terlihat apapun di depannya. Setelah mengambil nafas dalam, akhirnya Wisanggeni segera menyusul Widjanarko kembali masuk ke dalam perguruan.
__ADS_1
*******