Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 428 Sebegitu Percayanya


__ADS_3

Pemilik penginapan bernama Bardi tercengang, dan tampak bingung menyikapi permohonan maaf dari orang yang selama ini menekannya. Takut menentukan sikap, Bardi melihat ke wajah Rengganis. Perempuan itu tersenyum dan memberikan sebuah isyarat, jika keputusan ada di tangan pemilik penginapan itu sendiri. Kembali Bardi mengalihkan tatapannya pada pemilik penginapan itu..


"Apakah kamu tidak mau memaafkanku Bardi. Aku akui, aku sudah melakukan banyak kesalahan pada kalian semua, aku telah menindas dan menakut-nakuti kalian. Tetapi kali ini aku berbicara dari hatiku yang paling dalam, aku mohon maaf atas kesalahanku selama ini. Itupun jika kamu mau memaafkanku.." pemilik penginapan itu menundukkan kepalanya, kembali menghiba memohon maaf pada Bardi.


Bardi kembali terdiam, merasa tidak mendapatkan jawaban dari Rengganis, laki-laki tua itu melihat ke arah anak buah pemilik penginapan itu. Tidak disangka, anak buah pemilik penginapan itu malah menundukkan kepala ke bawah. Mereka merasa malu, karena selama ini sudah mau menjadi orang suruhan orang-orang yang selalu berbuat kesalahan pada warga masyarakat yang lain. Hanya karena imbalan keping koin, mereka sanggup melakukan penindasan atas perintah pemilik penginapan.


"Pikirkan sendiri keputusanmu paman.. memaafkan ataupun tidak memaafkan adalah pilihan yang harus kamu tentukan sendiri. Tetapi menurutku.. lebih baik kita memutus dendam, dan memberi maaf kepada orang yang sudah menyakiti kita. Apalagi orang itu sudah meminta maaf kepada kita.." merasa kasihan dengan pemilik penginapan itu, akhirnya Rengganis memutuskan untuk turut berbicara.


"Baiklah Ki Sanak.. kita kembali seperti dulu. Kita harus saling menjaga, dan saling menghormati, serta tidak akan saling mengganggu usaha kita. Urusanku adalah urusanku sendiri, jangan pernah campur tangan di dalamnya, apalagi ikut campur tangan memberi tekanan. Aku memaafkanmu Ki Sanak.. jika kamu menyetujui apa yang aku ucapkan." dengan suara lirih, akhirnya Bardi menyetujui untuk memberikan maaf pada pemilik penginapan yang pernah menyakitinya itu.


"Kamu memang orang baik.., maafkan aku.." dengan tangan yang masih terasa kesakitan, pemilik penginapan mendekat, kemudian memberikan pelukan pada Bardi.


Orang-orang yang menjadi anak buah pemilik penginapan, mereka juga melakukan hal yang sama. Dari belakang, Rengganis yang sudah bergabung dengan suami dan putrinya tampak tersenyum menyaksikan perdamaian di depan mata mereka. Setelah beberapa saat mereka saling meluapkan perasaan mereka, akhirnya mereka membubarkan diri mereka.


"Terima kasih Nak mas.. ternyata kedatangan kalian di kota kecil ini, telah membantu kami melepaskan permasalahan ketakutan kami selama ini. Sudah hampir puluhan warsa, kami selalu mendapatkan penindasan dari pemilik penginapan itu, akhirnya saat ini menjadi awal bagi kami untuk meraih kebebasan untuk berusaha. Terima kasih, jasa baik kalian tidak akan pernah dapat kami lupakan.." Bardi pemilik penginapan, mendekat pada Wisanggeni dan keluarganya. Wajah laki-laki tua itu terlihat cerah, dan mengucapkan terima kasih pada mereka sekeluarga.


"Jangan terlalu banyak berpikir paman, sebagai sesama makhluk hidup kita memang harus saling menolong. Tidak hanya kepada sesama manusia, bahkan kepada binatang, tumbuh-tumbuhan kita juga harus selalu berwelas asih. Kami masih akan tinggal beberapa hari lagi di kota ini, karena kami harus mencari keberadaan padhepokan salah satu teman kami. Ki bawono.. nama pemiliknya, siapa tahu paman pernah mengenal atau paling tidak pernah mendengarnya." Wisanggeni menanggapi pemilik penginapan itu.

__ADS_1


"Ki Bawono.. tentu saja orang-orang disini mengenalnya Nak Mas.. Orang itu memang agak keras, tetapi di jaman dulu, Ki Bawono sering memberi pertolongan pada  warga masyarakat disini. Hanya saja, beberapa warsa terakhir sudah jarang terlihat keluar. Sepertinya laki-laki tua itu sedang melakukan semedi.. untuk memaknai kehidupan ini." ternyata pemilik penginapan mengetahui tentang Ki Bawono.


"Jika kami boleh tahu.., bisakah paman memberikan kami ancar-ancar untuk menuju ke padhepokan tersebut. Kebetulan kami ada janji dengan laki-laki tua itu, dan kami harus mampir ke padhepokannya." Wisanggeni meminta penjelasan ancar-ancar tempat pedhepokan berada.


*******


Akhirnya dengan berpegang pada ancar-ancar keberadaan padhepokan terakhir, Wisanggeni dengan Rengganis dan Parvati bergegas menuju ke tempat yang ditunjukkan Ki Bardi. Mereka sengaja hanya berjalan kaki menuju ke tempat Ki Bawono, hal itu sengaja mereka lakukan untuk melihat langsung bagaimana kehidupan orang-orang yang tinggal di pinggiran kota kerajaan.


"Apakah kamu ada masalah Nimas Parvati.. kita hanya berjalan kaki menuju ke padhepokan Ki Bawono..?" melihat putrinya Parvati terdiam, Wisanggeni bertanya pada gadis tersebut.


"Tidak apa-apa ayahnda.. Parvati hanya merasa sedih melihat keadaan pemukiman warga masyarakat yang tinggal di tempat ini. Tampak jelas terlihat ketidak seimbangan antara warga yang kaya dengan yang miskin. Parvati tidak tega ayah, sangat jauh dengan warga di sekitar perguruan Gunung Jambu." Wisanggeni tersenyum mendengar keluhan putrinya.


"Tugas warga yang mampu dari harta benda atau dari Kanuragan maupun kemampuan dari sisi yang lain,. bisa membantu warga yang memiliki kekurangan. Jika itu terjadi, kesetaraan akan dapat terlihat." lanjut Wisanggeni.


Rengganis tersenyum mendengar percakapan antara suaminya Wisanggeni dengan putrinya Parvati. Jelas terlihat keakraban dan keterpaduan antara keduanya. Seorang ayah merupakan kekasih atau cinta pertama dari seorang anak perempuan, terlihat jelas pada mereka.


"Hmmm.. ternyata jika sudah berbincang berdua, ibunda dianggap orang lain ya. Seperti pengganggu saja dalam percakapan kalian." hanya bermaksud menggoda keduanya, Rengganis menyela percakapan mereka.

__ADS_1


Wisanggeni dan Parvati menoleh ke arah Rengganis. Tidak diduga, Parvati langsung mendatangi perempuan itu kemudian memeluk dan memberi ciuman di pipi ibundanya.


"Ibunda sejak tadi memilih bertarung, bahkan sedikitpun tidak meminta bantuan ayahnda Wisanggeni." Parvati menanggapi sikap yang ditunjukkan ibundanya.


"Putri ibunda cemburu rupanya, terus membalas bunda dengan mendekati ayahnda. Apakah begitu putriku..?" sambil tersenyum, Rengganis melanjutkan godaannya.


"Aaakkh bunda begitu..." Parvati semakin erat memeluk Rengganis.


Wisanggeni tersenyum, dan memahami jika perkataan Rengganis tidak benar-benar bersumber dari hatinya yang paling dalam. Laki-laki itu berjalan mendekat kemudian merangkul kedua perempuan itu dari belakang.


"Bahagianya ayahnda hari ini, ternyata kedua perempuan cantik ini, masing-masing tidak mau kehilangan perhatian dariku." ucap Wisanggeni sambil tersenyum.


"Benarkah... sebegitu percayanya suamiku ini.." Rengganis menanggapi.


"Iya benar bunda.. tapi memang apa yang diucapkan ayahnda ada benarnya juga. Kita memang sedang membicarakan perhatian ayahnda kepada kami.." merasa tidak betah, Parvati tergoda menyampaikan apa yang mereka bicarakan.


Rengganis hanya tersenyum mendengarnya, dan meletakkan sisi kepalanya dengan menyandarkan di bahu laki-laki itu.

__ADS_1


*******


__ADS_2