Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 77 Ksatria


__ADS_3

Laksito menendang Kunthi yang sudah gagal menggoda Wisanggeni. Sejak dia tahu jika ternyata laki-laki yang pernah berseteru dengannya itu memiliki kedekatan dengan gadis yang dia incar, dia langsung menyusun strategi. Untungnya ayah Laksito memiliki tanggung jawab mengurus wisma untuk penginapan para tamu Trah Jagadklana. Dia kemudian memerintahkan Kunthi untuk merayu dan menggoda Wisanggeni, agar diketahui oleh Rengganis, dengan harapan Rengganis akan memutuskan hubungan dengannya.


"Bukkk.." kaki kanan Laksito mendarat di pinggang Kunthi.


"Ampuni saya Den.., anak muda itu benar-benar cinta mati dengan Nimas Ayu Rengganis. Dia sedikitpun tidak tergoda denganku Den.., bahkan aku sudah berusaha untuk merayunya." Kunthi memohon ampun pada Laksito.


"Plak..." sebuah tamparan mendarat di pipi perempuan itu. Kunthi memiliki wajah standar, tidak cantik, tetapi juga tidak jelek. Tetapi gadis itu memiliki tubuh yang sintal, dengan mudah akan dapat menggiurkan laki-laki hidung belang. Ditunjang dengan kulit putih bersihnya, dan pakaian yang sedikit mengekspos area terlarangnya, tubuh Kunthi menjadi lebih menarik.


"Kamu terlalu lambat, harusnya kamu buka bajumu langsung di hadapan laki-laki itu. Aku yakin, dia akan langsung menubrukmu." seru Laksito.


"Laki-laki muda itu tidak seperti yang Aden bayangkan. Dia memiliki pertahanan yang tangguh akan keinginan purbanya, dia tidak mudah tergoda." lagi-lagi Kunthi berusaha membela diri.


"Sreeeeeet." tiba-tiba tangan Laksito menarik atasan yang dikenakan gadis itu. Dengan sekali sentak, hanya tinggal pakaian dalam yang dikenakannya saat itu. Anak buah Laksito yang masih berdiri melihat itu, tampak berbinar matanya melihat kemolekan tubuh Kunthi. Kulit putih bersih tanpa bopeng sedikitpun tersaji di depan mata mereka, hanya kain kecil sebagai penutup dua bukit kenyal di tubuh bagian depannya yang tampak terlihat oleh mereka. Kain itu terlihat lebih menarik karena menyangga dua bukit kembar yang tampak ranum menunggu untuk dijamah.


Muka Kunthi merah padam melihat tatapan penuh naf***su beberapa laki-laki yang ada di ruangan itu. Secara reflek, dia langsung bersedekap menempatkan kedua tangannya menutup dua bukit yang ada di depan tubuhnya.


"Keluar kalian semua..!" teriak Laksito mengusir tiga anak buahnya dari ruangan.


"Baik Den..!" ketiga orang itu segera bergegas keluar.

__ADS_1


Setelah pintu depan tertutup, dengan nafas kasar, Laksito berjalan menghampiri Kunthi.


"Layani dan puaskan aku! Kamu yang bergerak, jika kamu tidak bisa memuaskanku, akan aku lempar tubuhmu ke telaga." teriak Laksito menekan Kunthi.


Kunthi langsung maju bergerak menghampiri Laksito, jari-jari rampingnya dia gunakan untuk melepaskan baju yang dikenakan laki-laki itu.


********


Wisanggeni garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal berusaha untuk mengambil hati Rengganis. Tanpa dia tahu apa yang menjadi kesalahannya, gadis di depannya itu merajuk,  dan mendiamkannya dari tadi. Dia mengambil cangkir yang tadi dibawa Kunthi, kemudian menuangkan air minum dari pocinya. Untuk menyegarkan hatinya, laki-laki itu segera meminum air itu.


"Nimas..., apakah Nimas tidak akan mengajak aku untuk jalan-jalan mengitari tempat ini? Ataukah sekedar mengajakku bersua dengan kedua orang tua Nimas Rengganis?" dengan lirih, Wisanggeni berusaha menetralisir perasaan Rengganis.


Wisanggeni tersenyum kecut, karena bingung menghadapi gadis yang sedang merajuk, dia kemudian meninggalkan Rengganis. Dia berjalan masuk ke dalam kamar, kemudian membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tidak berapa lama, mata itu sudah terpejam. Melihat laki-laki yang sedang didiamkannya saat ini tidur dengan pulas, Rengganis menjadi semakin marah. Tetapi dia merasa percuma marah dengan laki-laki itu, toh kesalahan bukan terletak padanya. Pelan-pelan Rengganis kembali berjalan mendekati Wisanggeni. Tetapi kembali bibirnya cemberut saat dia tahu jika Wisanggeni sudah tertidur pulas.


"Betul-betul tidak punya hati.." gerutu Rengganis.


Gadis itu kemudian ikut naik di atas tempat tidur. Tangannya yang ramping memeluk pinggang Wisanggeni, dan tidak berapa lama, diapun ikut tertidur pulas.


***************

__ADS_1


"Aku tidak melarang hubungan di antara kalian berdua, tetapi hendaknya kalian bisa memisahkan mana yang boleh dilakukan, mana yang tidak boleh dilakukan." Ki Sasmito menceramahi Wisanggeni dan Rengganis.


Saat mendapat laporan dari anak buahnya, jika Rengganis mendatangi Wisanggeni di wismanya yang sepi, Ki Sasmito kemudian menyusulnya. Sebenarnya ada hal penting yang hendak dia sampaikan pada putra bungsu Ki Mahesa, tetapi alangkah terkejutnya saat dari jendela kamar, Ki Sasmito melihat putrinya sedang tidur pulas sambil memeluk pinggang Wisanggeni.


Wisanggeni terdiam mendengarkan perkataan laki-laki tua seusia  ayahndanya itu. Meskipun dia tidak melakukan apa-apa terhadap Rengganis, tetapi orang tua manapun pasti akan berteriak marah jika mengetahui putrinya berada dalam satu tempat tidur dengan laki-laki yang belum ada pengesahan hubungan mereka. Dia juga tidak mengetahui saat Rengganis sudah menyusulnya tidur.


"Maafkan atas kelancangan saya Paman Sasmito.., saya tidak bermaksud untuk mencoreng wajah paman. Semua saya lakukan dengan Nimas Rengganis, karena saya memang ingin menjadikan Nimas sebagai pendamping hidup saya." dengan jiwa ksatria, Wisanggeni mengakui kekeliruannya. Rengganis sangat bangga dengan laki-laki yang saat ini duduk di sampingnya, laki-laki itu dengan tegar mengakui kesalahannya. Meskipun Rengganis yang memulainya, sedikitpun Wisanggeni tidak melibatkannya untuk membela diri.


"Sejauh mana hubungan kalian?" kata Ki Sasmito tiba-tiba dengan nada keras. Rengganis kaget dengan reaksi ayahndanya.


"Apakah ayahnda berpikir, jika Nimas dan Kang Wisang melakukan perbuatan yang tidak-tidak? Nimas mohon, ayahnda jangan berpikir terlalu jauh dengan hubungan kami. Jika memang ayahnda berpikir bahwa hubungan kami ini merupakan kesalahan, Rengganis mau menerima hukuman, bahkan kami berdua dinikahkan sekarangpun Rengganis bersedia." Ki Sasmito dan Wisanggeni kaget mendengar pengakuan dari Rengganis. Laki-laki muda itu tersenyum mendengar keterus terangan gadis pujaannya itu.


"Jaga bicaramu Rengganis! Kamu tahu apa tentang pernikahan. Usia kalian baru belasan tahun, sudah berbicara tentang pernikahan." Ki Sasmito berbicara dengan nada tinggi.


"Jangan marah pada Nimas Rengganis paman.., marah pada Wisang saja! Meskipun usia kami belum matang, tapi kami siap untuk mempertanggung jawabkan hubungan kami." Wisanggeni berusaha melindungi Rengganis. Ki Sasmito kaget dengan keberanian yang ditunjukkan laki-laki muda. Sebagai trah yang memiliki kasta lebih tinggi dari Bhirawa, memang akan banyak kendala yang menghalangi mereka berdua, terutama dari para sesepuh di Jagadklana. Tetapi sebagai orang tua yang peduli dengan kebahagiaan putrinya, mengabulkan keinginannya adalah kewajibannya.


"Wisanggeni.., aku tunggu keberanianmu untuk mengikuti pertandingan adu kanuragan pada acara perayaan tahunan di Jagadklana. Jika kamu mampu menunjukkan kemampuanmu di hadapan para sesepuh Jagadklana, maka aku akan merestui hubunganmu dengan putriku." ucap Ki Sasmito sambil membalikkan badannya.


"Dengan senang hati Paman.., Wisang akan ikut pada adu kanuragan tersebut." Wisanggeni memandang Rengganis, dia menganggukkan kepala untuk meyakinkan gadis itu.

__ADS_1


***************


__ADS_2