
Setelah meminta para murid yang terluka untuk segera diobati, Chakra Ashanka menutup gerbang masuk dan pagar tapal batas, dengan menggunakan aura dan tenaga dalamnya. Anak muda itu merasa menyesal, melihat banyaknya kerusakan yang ditimbulkan akibat pertarungan tersebut, dan banyaknya pihak yang terluka.
"Den bagus anom..., di luar gerbang ada beberapa orang dari pasukan kerajaan Logandheng yang ditinggalkan oleh kelompoknya. Akan kita apakan mereka den bagus Anom..?" beberapa murid membawa kabar yang mereka dapatkan ketika mereka berjaga-jaga.
Chakra Ashanka terdiam, terlihat anak muda itu berpikir sejenak. Terlihat sepertinya anak muda itu membutuhkan waktu untuk berpikir.
"Bagaimanapun keadaan mereka, sebenarnya mereka tidak melakukan kesalahan. Raja Logandheng, dan semua perangkat kerajaan yang sudah melakukan kesalahan tersebut. Akan sangat mengenaskan, jika aku membiarkan orang-orang itu berada di luar pagar batas perguruan Gunung Jambu." dengan menghela nafas panjang, Chakra Ashanka berpikir sendiri,
"Bawa mereka masuk ke tlatah perguruan. Tempatkan mereka dalam ruangan tersendiri, jangan campur dengan orang-orang kita. Obati dan beri makanan pada mereka, dan kuburkan para pasukan yang sudah terlihat meninggal dunia. Aku tidak akan berada di tempat ini untuk waktu yang lama, karena aku harus segera kembali ke perguruan bagian dalam, untuk bertemu dengan ibunda." anak muda itu menyampaikan perintah pada para murid yang ada disitu.
"Baik.., kami akan segera melaksanakannya Den Bagus Anom.." beberapa murid memberi hormat, kemudian melangkah pergi meninggalkan Chakra Ashanka sendiri,
"Inilah kejamnya peperangan, selalu yang lemah dan tidak bersalah, selalu yang akan menjadi korban. Apa yang mendasari kerajaan Logandheng melakukan penyerangan ke perguruan Gunung Jambu, aku akan mencari tahu kabar ini. Jika hal ini tidak segera diselesaikan, aku khawatir semua akan berdampak panjang." anak muda itu berbicara sendiri. Tampak pikirannya berkelana kemana-mana, matanya dengan pandangan prihatin melihat orang-orang yang merintih kesakitan.
Merasa belum sedikitpun beristirahat dari menempuh perjalanan jauh, Chakra Ashanka bermaksud untuk menyusul keberadaan ibundanya Rengganis, dan juga Sekar Ratih. Anak muda itu berjalan ke belakang, untuk kemudian menaiki bukit menuju ke pondhok perguruan yang ada di bagian dalam.
**********
__ADS_1
Di pendhopo
Karena hari sudah malam, Rengganis memutuskan untuk tinggal dan menetap di pondhok dalam perguruan. Belum ada keinginan untuk kembali datang menuju ke tempat pengungsian yang ada di balik bukit. Dalam keremangan lampu senthir, Rengganis duduk menemani Sekar Ratih yang terlihat lelah. Gadis kecil itu tertidur di lincak bambu yang ada di pendhopi tersebut.
"Apa alasan yang dimiliki Ashan putraku, sampai membawa gadis kecil ini kesini..?" Rengganis kembali berpikir, ketika tatapan matanya tertumbuk dengan mata Sekar Ratih yang sudah terpejam. Melihat gadis kecil itu tampak kelelahan, muncul rasa iba di hati perempuan itu. Ingatan Rengganis berkelebat membayangkan Parvati yang berada di sisi gadis kecil itu.
"Sepertinya usia gadis kecil ini, tidak berbeda jauh dengan Parvati.. mungkin hanya berselisih beberapa warsa saja. Apakah hal ini yang menjadi tujuan dari Chakra Ashanka, dengan membawanya kesini. Anak itu ingin mencarikan teman untuk adik perempuannya Parvati..?" kembali Rengganis menduga-duga.
Tiba-tiba terdengar langkah kaki berjalan mendekat pada Rengganis. Masih merasa dalam situasi pertarungan dengan kerajaan Logandheng, membuat Rengganis menjadi bersiap-siap. Perempuan muda itu segera berdiri dan bersiap menuju ke arah pintu masuk.
"Kamu akhirnya pulang putraku.." ucap lirih Rengganis dengan suara serak menahan rasa haru.
"Iya ibunda.. ijin putra ini datang kembali. Maafkan atas keterlambatan kedatangan Ashan ibunda, sehingga perguruan menjadi porak poranda seperti ini." jari tangan Chakra Ashanka mengusap genangan mata di sudut mata Rengganis.
Perempuan itu kemudian mengajak putra laki-lakinya untuk duduk di samping lincak yang digunakan Sekar ratih beristirahat. Keempat tangan ibunda dan putra laki-lakinya itu saling bertaut, seakan enggan untuk melepaskannya.
"Dimana ayahndamu Ashan, kenapa kalian berdua tidak datang bersamaan. Malah seorang gadis kecil yang bersama denganmu datang ke perguruan ini..?" dengan senyum menyelidik, Rengganis bertanya pada putranya itu.
__ADS_1
"Mohon maaf setinggi-tingginya bunda. Ayahnda dan Chakra Ashanka telah terpisah. Saat Ashan mencoba untuk berlatih dengan mendapatkan warisan, ayahnda sengaja meninggalkan Ashan sendiri. Dalam perjalanan kembali, di tengah jalan, Ashan bertemu dengan Sekar Ratih, yang akhirnya memutuskan untuk membawa gadis kecil ini kemari Bunda.." Chakra Ashanka kemudian melanjutkan ceritanya, dari awal anak muda itu mendapatkan warisan, dan kembali untuk menuju ke perguruan Gunung Jambu.
Rengganis tersenyum, dan penuh keharuan mendengarkan cerita yang disampaikan Chakra Ashanka kepadanya. Beberapa kali, Rengganis memeluk tubuh anak muda itu.
"Sangat panjang perjalanan yang sudah kamu lakukan putraku. Terus bagaimana ceritanya, kamu bisa sampai tepat waktu di perguruan ini, dan membantu ibunda melawan Senopati Wiroyudho?" mengingat kedatangan putranya, bertepatan ketika Rengganis melawan putra patih Wirosobo, Rengganis bertanya kembali pada putranya itu.
"Semua terjadi karena ketidak sengajaan bunda.. Dalam perjalanan beristirahat di kedai makan, banyak orang bercerita tentang serangan pasukan kerajaan Logandheng ke perguruan Gunung Jambu. Bahkan ada pula yang mengatakan jika bunda Maharani, saat ini datang ke kerajaan Logandheng, dan membuat kericuhan di halaman kerajaan. Tetapi karena pikiran Ashan, menuju ke ibunda Rengganis yang sendirian berjaga di perguruan, akhirnya dengan mengendarai Singa Ulung, Ashan menuju ke perguruan bunda." akhirnya anak muda itu juga menceritakan perjalanan, hingga dapat sampai dengan tepat waktu di perguruan ini.
Kembali Rengganis memeluk tubuh Chakra Ashanka, sambil menepuk-nepuk punggung anak muda itu. Beberapa saat ibunda dan putranya itu melepaskan kerinduan. Beberapa saat kemudian, Rengganis melepaskan pelukannya pada anak muda itu.
"Ashan putraku.., bagaimanapun ibunda Maharani juga ibundamu. Aku perintahkan dirimu untuk menyelamatkan ibunda Parvati, aku sangat mengkhawatirkan keselamatannya di kerajaan Logandheng. Apalagi tanpa membawa satupun murid bersamanya." tidak diduga, seperti mengabaikan kesehatan Chakra Ashanka, Rengganis meminta anak muda itu untuk menyelamatkan Maharani.
"Jangan khawatirkan hal itu ibunda. Setelah Ashan melihat, Sekar Ratih bisa beristirahat dengan tenang, Ashan akan mohon pamit pada ibunda. Secepatnya Ashan akan mencari ibunda Maharani, dan membawanya pulang kembali ke perguruan ini." anak muda itu langsung menyanggupi perintah yang diberikan Rengganis.
"Baiklah putraku, jangan khawatirkan gadis kecil ini. Aku akan menganggap Ratih sama seperti putriku sendiri, gadis kecil ini bisa menjadi teman untuk Parvati. Besok pagi, aku akan membawanya ke tempat pengungsian, dan akan aku pertemukan gadis ini dengan adikmu Parvati." Rengganis meyakinkan putranya.
************
__ADS_1