Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 363 Gadis Cerewet


__ADS_3

Merasa jika emosi putranya agak tidak terkendali, dengan bijak Rengganis mengajak anak muda itu dan Sekar ratih untuk segera kembali ke penginapan. Perempuan itu tersenyum melihat bagaimana anak muda saat ini, kurang begitu memperhatikan tingkat emosiny. Mereka tidak merasa malu sedikitpun untuk memamerkannya di depan khalayak ramai. Tanpa bicara, Chakra Ashanka dan Sekar ratih segera mengikuti ajakan Rengganis, keduanya segera berjalan menyusul Rengganis yang sudah mengarahkan langkahnya menuju penginapan. Tatapan keheranan dan rasa penasaran orang-orang di sekitar mereka, tidak sedikitpun mereka perhatikan.


"Ashan.. jika ibunda boleh mengingatkanmu. Kendalikan emosimu, jangan mudah terpancing hanya oleh kejadian-kejadian kecil yang tidak ada kaitannya dengan kita putraku. Sepertinya tadi ibunda melihatmu, jika sikap dan perilaku gadis muda itu telah memecah perasaanmu." sambil berjalan, Rengganis berbicara pelan pada putranya.


Chakra Ashanka tersenyum masam, kemudian menoleh sekilas pada Sekar Ratih yang berjalan di sampingnya.


"Apakah kamu juga merasa seperti itu Ratih, apakah yang diucapkan ibunda kamu juga bisa menangkapnya?" merasa kurang yakin dengan apa yang dikatakan ibundanya, anak muda itu bertanya pada gadis kecil yang sellau bersamanya itu.


"Hmm.. iya kang, apa yang diucapkan Bibi Rengganis benar adanya. Kakang tertarik dengan gadis muda itu, meskipun sedikit kasar dan tidak mengenal aturan, tapi gadis itu sangat cantik. Kulitnya putih bersih, dan pakaian yang dikenakannyapun juga terlihat sangat mewah dan mahal." dengan senyum getir, Sekar Ratih memuji gadis muda yang sejak tadi memancing emosi anak muda itu,


"He.., he.., he.. kamu masih kecil, bisa saja menilai orang demikian Ratih. Sudahlah ayo kita segera kembali ke penginapan. Tidak penting kita membicarakan gadis muda itu. Sudah sombong, congkak, tidak mau mengalah.. sepertinya sifat buruk yang selama ini tidak boleh kita lakukan, berkumpul menjadi satu, dan dimiliki oleh perempuan tadi." tanpa sadar, mendengar perkataan Sekar Ratih, emosi Chakra Ashanka menjadi stabil. Anak muda itu sudah bisa kembali tertawa kecil.


"Bukan hanya Ratih putraku.., ibunda juga melihat, kamupun sudah mulai bisa menilai orang lain. Hmm.., sepertinya putra ibunda sudah mulai menjelang dewasa ini. Bisa-bisa tidak lama lagi, ibunda sudah akan memiliki menantu ini, dan menimang cucu.." dari depan, Rengganis menyahut pembicaraan kedua anak muda itu.


Mendengar perkataan Rengganis, Sekar Ratih tersenyum, hanya saja dalam senyuman itu terlihat ada kegetiran tampak di dalamnya.

__ADS_1


"Bunda selalu bisa untuk mengalihkan pembicaraan." sahut Chakra Ashanka sambil tersenyum.


Ketiga orang itu dengan santai melangkahkan kaki di pinggir jalan, sama sekali tidak terlihat jika mereka baru saja diganggu oleh gadis muda tadi. Beban atau tanggungan hidup juga seperti tidak mereka rasakan, dengan ayunan langkah kaki.., mereka meneruskan perjalanan dan akhirnya mereka sampai di penginapan.


"Apa rencanamu Ashan.., ibunda akan menata oleh-oleh yang sudah kita bawa di dalam kamar?" sebelum masuk ke dalam kamar, Rengganis bertanya pada putra laki-lakinya.


"Belum ada rencana ibunda.. yah mungkin, Ashan akan berbaring sebentar mengistirahatkan kaki. Sekaligus melatih pernafasan untuk meningkatkan energi." anak muda itu menanggapi pertanyaan ibundanya.


"Baiklah.., jika kamu ingin keluar untuk berjalan-jalan lagi, pergilah. Jika perlu, ajak Sekar Ratih untuk menemanimu, agar gadis ini juga tahu jika dunia itu luas. Tetapi ibunda akan istirahat saja, sudah bukan saatnya lagi untuk berperilaku seperti anak muda jaman sekarang." sebelum membuka pintu kamar, Rengganis berpesan pada Chakra Ashanka.


************


Merasa diabaikan oleh Chakra Ashanka, gadis muda berpenampilan mewah itu merasa marah. Para pengawal yang tidak tahu apa-apa harus menanggung akibat dari luapan emosi gadis muda itu. Setelah membuat kekacauan di kedai makan, para pengawal segera melakukan pembayaran atas menu yang dibuang oleh gadis itu. Saat ini mereka mengikuti gadis muda itu yang tidak mau lagi duduk di dalam kereta kudanya, tidak tahu kemana arah yang akan mereka datangi.


"Den Ayu.., kita sudah beberapa saat menyusuri jalan ini. Sebenarnya tujuan kita akan kemana Den Ayu..?" salah satu penunggang kuda yang saat ini sedang menuntun kudanya, memberanikan diri untuk bertanya pada gadis muda itu.

__ADS_1


"Untuk apa urusanmu bertanya-tanya padaku. Atau akan aku adukan kepada ayahnda, jika kalian semua sudah berani melawanku, tidak mau memberikan pelayanan kepadaku lagi." mendengar ancaman yang diucapkan oleh gadis muda itu, para pengawal terlihat ketakutan. Karena meskipun gadis muda itu sering berkata-kata kasar, tetapi sebenarnya baik hati. Tanpa diminta, gadis muda itu sering memberikan keping uang di luar gaji para pengawal.


"Tidak Den Ayu.., anggap saja jika pertanyaan tadi tidak ada. Kemanapun tempat yang akan Den Ayu datangi saat ini, kami akan tetap memberikan pengawalan pada Den Ayu.." dengan cepat, penunggang kuda membatalkan pertanyaannya.


Tanpa menjawab, gadis muda itu berjalan cepat meninggalkan enam prang pengawal yang bersamanya. Dari belakang kusir mengendalikan kereta yang dikemudikannya, agar tidak mendahului langkah gadis muda itu. Beberapa saat berjalan, gadis muda itu merasa kebingungan,


"Cari tahu kemana anak muda beserta dua perempuan tadi berada. Kalian harus dapat menemukannya segera, aku masih ada urusan dengan anak muda itu." tiba-tiba gadis muda itu berteriak agar para pengawal itu menemukan anak muda yang sempat bersitegang dengannya tadi.


Tidak tahu apa sebabnya, melihat sikap dingin yang ditunjukkan anak muda itu kepadanya, muncul rasa ingin tahu dan semakin ingin mengenalnya. Selama ini, hampir setiap pemuda yang bertemu dengannya, mereka akan menunjukkan sikap untuk mencari perhatiannya. Bahkan terkadang tanpa diminta, banyak anak muda yang mengirimkan bingkisan kepadanya. Tetapi apa yang dia lihat pada anak muda itu, jauh sekali dari harapannya. Jangankan tertarik, melirik kepadanya saja, sejak tadi tidak dilakukannya.


"Baik Den Ayu.., tapi melihat mereka tadi, sepertinya mereka hanya pendatang di kota ini Den Ayu. Jika begitu, mungkin kita bisa mulai mencarinya di beberapa penginapan yang ada di kota ini." salah satu pengawal menanggapi perintah yang diberikan oleh gadis muda itu.


"Kenapa kamu malah terlalu banyak bicara. Lakukan tugasmu, cari tahu di penginapan-penginapan sepanjang jalan ini. Cari tahu, dan temukan informasi secepatnya.' kembali gadis muda itu berteriak.


Tidak mau membantah lagi, ke empat pengawal segera menyebar memisahkan diri dari mereka. Tinggallah dua orang pengawal, dan satu orang kusir yang masih berjaga menunggui gadis muda itu. Tanpa diketahui oleh gadis muda itu dan para pengawalnya, di sebuah sudut bangunan, seorang laki-laki sedang mengawasi gadis muda itu sambil tersenyum sinis. Sepertinya laki-laki itu memiliki rencana jahat terhadap gadis itu, dan perlahan laki-laki itu berjalan menuju ke arah gadis itu berdiri sambil melihati pengawalnya dari kejauhan.

__ADS_1


*******


__ADS_2