
Maharani terdiam mendengar perkataan yang diucapkan Rengganis. Meskipun terdengar perempuan muda itu tidak menyalahkan apa yang sudah dilakukannya, tetapi Maharani menjadi merasa bersalah. Dengan bertarung dengan orang-orang dari kerajaan Logandeng, sama saja jika keberadaan perguruan Gunung Jambu melanggar kesepakatan yang sudah dipahami bersama puluhan tahun lamanya. Tetapi sudah tidak ada yang dapat dilakukan lagi, karena semua sudah terjadi.
"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya Nimas..?" dengan rasa malu, Maharani bertanya pada Rengganis. Bagaimanapun, Rengganis merupakan istri pertama dari Wisanggeni. Sehingga apapun yang akan dilakukan olehnya dalam perguruan ini, harus sepengetahuan dan seijin dari Rengganis.
"Kita berikan perlindungan kepada orang-orang itu. Jika wilayah tapal batas masih menjadi tempat yang menakutkan untuk mereka, kita bisa melakukan evakuasi mereka ke wilayah dalam perguruan. Persediaan pangan perguruan kita masih tersisa banyak, untuk memberikan pada mereka bantuan pangan sementara." dengan tegas, Renggani menanggapi pertanyaan yang diucapkan Maharani. Ibunda Parvati itu tersenyum, ternyata kekhawatirannya pada Rengganis tidak terbukti.
"Baiklah Nimas..., titip putriku. Aku akan mengarahkan orang-orang itu, dan menambahkan orang-orang kita untuk berjaga-jaga di tapal batas. Aku khawatir orang-orang dari kerajaan Logandeng akan dikirimkan ke perguruan kita, karena mereka bisa menuntut balas pada kita." setelah berpamitan, Maharani segera kembali meninggalkan Rengganis dan Parvati. Perempuan itu berjalan masuk ke dalam untuk memberi arahan pada para penjaga, dan juga kepada para pengungsi.
"Kita harus kembali ke perguruan bagian dalam Parvati.., tempat ini belum cocok untuk anak seusiamu." sambil memandang wajah cantik Parvati, Rengganis mengajak anak kecil itu untuk kembali ke dalam padhepokan.
Anak kecil itu menganggukkan kepala, dan dengan sekali lompatan, Rengganis sudah pergi meninggalkan tempat itu dengan menggendong Parvati.
********
__ADS_1
Pada malam hari, setelah Parvati tidur, Rengganis mengumpulkan beberapa orang pilihan yang ada di perguruan untuk diajak berembug secara bersama. Melanggar kesepakatan yang sudah dilakukan Maharani, diyakini Rengganis akan menimbulkan masalah yang cukup pelik. Untuk itu, Rengganis ingin mempersiapkan semuanya agar menjadi lebih terkendali, dengan membicarakan masalah itu dengan orang-orang yang dianggapnya penting di perguruan. Sedangkan Maharani memutuskan untuk berjaga-jaga dan menginap di tapal batas, untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk yang akan menimpa perguruan mereka.
"Begitulah paman..., aku khawatir apa yang sudah dilakukan oleh Nimas Maharani akan menimbulkan kekacauan sesudahnya. Untuk itu aku meminta kalian semua berkumpul di tempat ini, agar mempersiapkan diri jika pertarungan dengan orang-orang kerajaan Logandeng akan terjadi." Rengganis segera menyampaikan masalah yang ada di wilayah tapal batas perguruan.
"Sebenarnya kami juga sudah mendengarnya Den Ayu, karena dengan cepat berita ini tersebar masuk ke dalam perguruan bagian dalam. Sesuai dengan arahan yang diberikan Nimas Rengganis, saya akan segera memberi tahu dan menyiapkan orang-orang pilihan kita untuk berjaga. Beberapa telik sandi juga sudah berjaga dan bersiap di luar perguruan sejak tadi Den Ayu.." laki-laki yang lebih tua itu, menanggapi perkataan Rengganis.
"Terima kasih paman atas kesiap siagaan kalian semua. Kita tidak bisa secara sepihak menyalahkan Nimas Maharani. Aku memahami perasaannya, dan bahkan jika aku sendiri yang berada di tapal batas itu, akupun juga akan melakukan hal yang sama. Untuk itu, segera persiapkan segalanya, termasuk siapkan tempat persembunyian kita untuk perempuan dan anak-anak. Kita harus bersiap dan berjaga untuk kemungkinan terburuk sekalipun." ucap Rengganis dengan nada tegas.
"Baik Den Ayu.., kami akan segera laksanakan titah Den Ayu. Ijin paman untuk kembali, dan mempersiapkan semuanya." laki-laki itu segera undur diri dengan diikuti oleh orang-orang lain di belakangnya.
"Ijin menghadap Den Ayu.., ada sasmita apa yang akan Den Ayu berikan pada kami.." dengan ditemani dua rekannya, mbok Emban menghadap Rengganis,
"Begini mbok, aku yakin mbok emban dan semua sudah mendengar berita ini. Berita tentang ancaman akan adanya serangan balasan pada perguruan kita. Untuk itulah aku memanggilmu kesini Mbok.." Rengganis mengambil nafas, kemudian berkata pada perempuan paruh baya itu.
__ADS_1
"Iya Den Ayu.., kami sudah mendengar beritanya. Kami siap untuk menuruti perintah yang diberikan oleh Den Ayu Rengganis." mbok Emban langsung menyampaikan kesiapannya untuk menerima semua tugas yang akan diberikan kepadanya.
"Terima kasih Mbok.., aku akan menitipkan Parvati sementara kepada Mbok Emban. Jaga anak itu dengan baik, dan jika terjadi apa-apa dengan perguruan ini, segera selamatkan mereka. Ajak anak itu mengungsi bersama dengan yang lainnya di ruangan bawah tanah yang ada di bawah bukit sebelah selatan." Mbok Emban dan kedua rekannya menatap perempuan muda itu dengan tatapan heran. Mereka mengagumi Rengganis, yang memperlakukan putri Maharani seperti putrinya sendiri. Tidak jarang ditemukan sikap seorang istri tua pada putra atau putri dari istri muda suaminya sedemikian baiknya.
"Jangan banyak bertanya Mbok. Malam ini juga, aku akan menyusul Nimas Maharani di tapal batas. Aku tidak bisa hanya berdiam diri menunggu kabar darinya. Kita mendapatkan amanah dari kang Wisanggeni untuk mempertahankan perguruan ini bersama-sama. Aku tidak akan membiarkan Nimas Maharani memikul beban ini sendirian." melihat rasa ingin tahu dari ketiga perempuan di depannya itu, dengan nada tegas, Rengganis memberi pengertian pada ketiganya,
"Baiklah Den Ayu..., kami bertiga akan menjaga Den Ayu Parvati. Jika peringatan terdengar, kami akan segera membawa anak itu beserta anak-anak yang lain ke tempat persembunyian. Mohon ijin kami akan bersiap." melihat tekad dan ketegasan Rengganis, akhirnya ketiga perempuan itu menyanggupi permintaan yang diberikan Rengganis. Ketiganya segera pergi meninggalkan Rengganis sendiri.
Dari pendhopo perempuan muda ini menuju ke kamar tempat Parvati beristirahat. Dengan penuh rasa haru, Rengganis mengusap kepala dan kening gadis kecil itu perlahan. Setelah melihatnya beberapa saat, Rengganis menundukkan wajahnya untuk memberikan kecupan pada kening gadis kecil itu.
"Ibunda akan meninggalkanmu untuk sementara putriku. Jaga dirimu.., bunda berjanji pasti akan kembali untuk menemuimu." bisik Rengganis lirih. Perlahan setelah mengungkapkan perasaan pada anak kecil itu, Rengganis segera keluar dari dalam bilik kamar Parvati.
Tanpa bicara, Rengganis masuk ke dalam kamar tempatnya beristirahat dan juga kamar khusus Wisanggeni. Perempuan itu mengamankan beberapa barang ke tempat rahasia perguruan, berjaga-jaga jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkannya. Setelah memastikan semua barang tersimpan dengan baik, Rengganis kembali keluar dari dalam padhepokan. Perempuan muda itu mengeluarkan selendang pusaka dari ibunda Wisanggeni, dan dengan sekali hentak menggunakannya untuk meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
********