Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 50 Tahapan Pengobatan


__ADS_3

Niken Kinanthi terkejut melihat datangnya laki-laki muda yang dengan sopan mengangguk padanya. Di belakangnya, seorang perempuan cantik mendampinginya sambil membopong seekor kucing warna putih. Niken berpikir jika dia mengenali laki-laki dan perempuan itu, tetapi dia sendiri kurang begitu yakin dengan apa yang ada di depannya.


"Mungkinkah dia? Tapi, kenapa badannya jadi tegap dan gagah. Tinggi badannya juga bertambah, apa ini orang yang lain?" Niken Kinanthi bertanya pada dirinya sendiri.


Tapi lamunannya langsung buyar saat terdengar suara dari ayahandanya.


"Selamat datang di pondok kami, apakah ada yang bisa kami bantu Ki sanak?" dengan ramah Ki Brahmono menyapa kedua tamunya itu.


"Terima kasih paman." jawab Wisanggeni singkat. Dia kemudian memegang tangan Rengganis, kemudian mengajaknya duduk.


"Kenalkan, ini putri saya Niken Kinanthi. Beri salam nak pada kedua tamu kita!" Ki Brahmono meminta Niken Kinanthi memberi salam pada mereka berdua.


"Selamat datang di padhepokan kami, kenalkan saya putri Ki Brahmono, nama saya Niken." dengan tergagap, Niken Kinanthi memberi ucapan selamat datang pada kedua tamu mereka.


"Terima kasih Nimas!" Wisanggeni membalas salam Niken Kinanthi, sedangkan Rengganis hanya melihat perempuan itu. Dia masih ingat bagaimana arogannya Niken beserta rombongan datang ke Klan Bhirawa untuk memutuskan pertunangan. Meskipun hal itu merupakan kabar baik baginya, tetapi melihat harga diri Klan Bhirawa diinjak-injak oleh gadis itu, muncul rasa sakit pada dirinya.


"Jika kami boleh tahu, kira-kira ada hal apa yang membuat Ki sanak berdua datang mengunjungi kami di padhepokan ini?" Ki Brahmono bertanya mengenai maksud kedatangan Wisanggeni dan Rengganis.


Tanpa bicara, Wisanggeni menyerahkan selebaran yang dia dapatkan pada Ki Brahmono. Laki-laki tua itu melihatnya sebentar, dan akhirnya tersenyum pahit.


"Maafkan orang-orang kami Ki Sanak. Karena kegundahan mereka melihat pemimpin Klannya tidak berdaya seperti ini, akhirnya membuat orang-orang di Klan ini membuat pengumuman keluar. Jika boleh tahu, Ki sanak ini darimana?"


Rengganis mencolek Wisanggeni agar laki-laki itu diam.


"Kenalkan nama saya Rengganis dari Trah atau Klan Jagadklana Paman. Dan ini teman saya dan juga calon pendamping saya Wisanggeni. Kami hanya ingin melihat kondisi dari paman Brahmana, siapa tahu Kang Wisang bisa membantu memberikan masukan untuk meringankan apa yang saat ini paman derita." Rengganis menjawab pertanyaan Ki Brahmono, dia sengaja menyembunyikan identitas Wisanggeni.

__ADS_1


"Jagadklana..? Apakah saya tidak salah mendengar, ada perbuatan baik apa yang saya lakukan, sehingga Klan sebesar Jagadklana bisa mengirimkan orangnya kemari." dengan gugup, Ki Brahmono menanggapi perkataan Rengganis.


Niken Kinanthi lebih terlihat gugup, dia betul-betul merasa menyesal dengan keputusan tanpa pertimbangan matang yang sudah dia ambil beberapa waktu lalu. Sedari tadi dia hanya menundukkan kepala, dia merasa malu dengan kedua tamunya itu.


"Paman Brahmono terlalu merendah, kebetulan kami disini beritikad sendiri, bukan dikirim oleh Klan kami." Rengganis menanggapi.


"Jika dibolehkan, mungkin Kang Wisang bisa memeriksa kondisi paman?" lanjutnya lagi. Perempuan itu berpikir, semakin cepat berada disini akan lebih baik untuk mereka. Dia khawatir, jika Wisanggeni dan Niken Kinanthi akan berpeluang untuk merajut kembali hubungan mereka yang sudah terputus.


Wisanggeni seakan memahami apa yang ada di pikiran Rengganis, sedari tadi dia terdiam mendengarkan komunikasi yang terjadi antara Ki Brahmono dan Rengganis. Dia diuntungkan, Ki Brahmono tidak mengenalinya, meskipun dia tahu jika Niken Kinanthi sudah tahu siapa dia.


*********


Wisanggeni fokus memegang pergelangan tangan Ki Brahmono, sambil mengerenyitkan dahinya. Kemudian tangannya dipindahkan ke bawah lehernya. Setelah beberapa saat, Wisanggeni kembali pada posisi duduknya. Setelah ijin melakukan meditasi sebentar, dia kembali masuk ke kamar Ki Brahmono.


"Mohon maaf paman, apakah paman pernah memiliki alergi?" Wisanggeni bertanya pada Ki Brahmono.


Wisanggeni terdiam beberapa saat, kemudian dengan lirih.


"Untuk perawatan yang harus dilakukan, menurut saya tidak bisa sekejap langsung bisa tertangani paman. Ada tiga tahapan yang harus dijalani."


"Tahapan yang pertama selama 7 hari harus berendam dengan campuran bubuk ginseng, putik Wijaya Kusuma, jahe parut dan akar Bahar. Lanjutkan sampai 40 hari." lanjut Wisanggeni.


Niken Kinanthi melihat ke arah laki-laki muda itu.


"Dari suaranya, laki-laki ini memang Wisanggeni dari Klan Bhirawa. Dari tadi dia masih menutupi identitasnya, sehingga ayah tahunya dia dari Klan Jagadklana." Niken Kinanthi tenggelam dalam pikirannya sendiri.

__ADS_1


"Untuk tahapan kedua, setelah tujuh hari berendam, paman harus mengkonsumsi pil pelancaran darah dan sekaligus membangunkan tulang-tulang yang terkunci. Pil itu dibuat dari bahan utama ramuan hati banteng level kekuatan 5, rumput laut bersalju, dicampur dengan aneka macam empu." Wisanggeni menambahkan penjelasan tentang pengobatan yang harus dijalani Ki Brahmono.


Ketua Klan Suroloyo itu tampak takjub dengan kepiawaian anak muda itu, dalam menyampaikan ilmu pengobatan herbal. Tiba-tiba Ki Brahmono mengerenyitkan dahinya, dia mengingat seseorang melihat gaya bicara anak muda itu. Gaya bicara Wisanggeni persis dengan gaya bicara Ki Mahesa Ketua Klan Bhirawa. Tetapi laki-laki tua itu hanya memendam perasaannya itu.


"Sedangkan untuk tahapan terakhir, setelah masa 40 hari pengobatan, Ki Brahmono harus berendam pada mata air Jalatunda untuk menghilangkan sukerta yang ikut menghambat keinginan paman untuk dapat berjalan kembali." Wisanggeni mengakhiri penjelasannya.


Niken Kinanthi terkesima dengan penampilan laki-laki muda itu, gaya bicara yang disampaikan sangat membiusnya. Terdengar Ki Brahmono menghela nafas panjang.


"Untuk bahan-bahan itu, kita akan dapat mendapatkannya melalui aula obat herbal. Tetapi untuk membuatnya, kira-kira siapa yang bisa?" tanya Ki Brahmono.


"Jika Ketua Klan tidak meragukan, kang Wisang bisa membuatnya. Tapi itu semua tergantung dengan keyakinan dari Ketua sendiri untuk menjalani pengobatan tersebut. Dan jika masih ragu, bisa disampaikan sekarang juga. Karena masih ada agenda penting yang harus segera kami selesaikan." Rengganis mengambil alih pembicaraan.


Melihat keterus terangan perempuan itu, Ki Brahmono tersenyum.


"Tentu saja kami percaya Nimas Rengganis, sekarang kalian istirahat saja dulu. Aku yakin kalian lelah karena perjalanan jauh. Niken, siapkan tempat untuk mereka berdua istirahat!" Ki Brahmono memerintahkan Niken Kinanthi untuk menyiapkan tempat untuk beristirahat mereka.


"Bisma..., utus orang untuk memesan bahan-bahan yang disebutkan oleh tamu kita ke aula Obat herbal. Semakin cepat semakin baik." setelah menyampaikan pesan pada Niken Kinanthi, Ki Brahmono juga mengutus Bisma.


"Baik Ki Brahmono, segera kami siapkan!" Bisma langsung pamit undur diri.


"Mari Kang Wisang, Nimas Rengganis .., saya antarkan ke tempat istirahat dulu!" Niken mengajak Wisanggeni dan Rengganis untuk segera menuju kamar.


"Kami istirahat dulu paman." Wisanggeni berpamitan pada Ki Brahmono.


Kedua orang itu segera mengikuti langkah Niken menuju tempat peristirahatan mereka.

__ADS_1


**********


__ADS_2