Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 190 Mengabaikan Posisi


__ADS_3

Berbekal informasi dan petunjuk menuju lokasi yang ditunjukkan Sumpeno dan Santosa, Pangeran Abhiseka tidak mau menunggu lama. Setelah menyelesaikan urusan makan, dan berbincang dengan kedua orang itu, Pangeran Abhiseka langsung mengajak kedua pengawalnya untuk segera masuk ke dalam hutan. Tidak mau menghabiskan waktu untuk mengurus hal-hal kecil, ketiga orang itu langsung menghabisi nyawa yang menghalangi jalan mereka.


"Andhika..., rentangkan tali ke depan. Kita harus memastikan agar jalan yang kita ambil saat ini tidak melenceng seperti petunjuk yang diberikan kedua orang tadi." Pangeran Abhiseka memerintahkan Andhika untuk membuat kecocokan petunjuk menggunakan bantuan tali.


"Baik Pangeran.., akan segera saya lakukan." Jatmiko segera bergerak ke depan Andhika, kedua orang itu segera mengulurkan tali ke depan. Setelah merasa tali di tangan kedua orang itu lurus, Pangeran Abhiseka segera meletakkan batu kecil di atasnya. Tidak menunggu waktu lama, baru itu meluncur turun lurus ke bawah.


"Tar.." sebuah getaran muncul di atas tali yang sudah terentang itu. Melihat gerakan itu, Pangeran Abhiseka tersenyum. Sepertinya laki-laki ini sudah menemukannya arah yang tepat.


"Segera gulung kembali tali itu! Kita akan berjalan lurus ke depan. Nanti akan terlihat sebuah bukit di depan kita. Semoga bisa menjadi rejeki dan jodoh kita, Wisanggeni secepatnya bisa kita temukan." ucap Pangeran Abhiseka. Kedua orang itu segera menuruti apa yang diperintahkan oleh Pangeran Abhiseka, dengan cepat mereka menggulingkan tali itu dan kembali menyimpannya ke dalam kepis.


"Apakah hari ini kita akan terus berjalan Pangeran, tidak beristirahat sedikitpun?" Jatmiko yang sudah mulai kelelahan, bertanya pada pangeran. Andhika melirik Jatmiko sambil menutup mulutnya. Laki-laki itu tertawa tetapi tidak mengeluarkan suara.


"Kenapa kamu harus bicara sambil berputar-putar Jatmiko? Kenapa tidak langsung menyampaikan padaku, jika kali ini kamu ingin segera beristirahat." tanpa bermaksud untuk marah, Pangeran Abhiseka menjawab pertanyaan Jatmiko.


"He.. he.. he. , ampun Pangeran. Jujur kaki saya sudah tidak kuat lagi, dari kemarin kita belum meluruskan punggung kita." dengan muka merah menahan malu, Jatmiko menanggapi pertanyaan dari Pangeran.


"Tidak perlu malu.., tenaga dan kekuatan seperti ini saja, berjanji untuk menjadi pengawalku. Kita jalan dulu beberapa waktu ke depan, sekalian mencari tempat untuk beristirahat. Tidak di tempat ini, akan banyak binatang buas yang mengintai kita." bermaksud menggoda Jatmiko, Pangeran Abhiseka berbicara dengan nada tegas.


"Baik Pangeran.." jawab Jatmiko sambil tersenyum malu. Untuk menghilangkan rasa malu temannya itu, Andhika meletakkan tangan di punggung Jatmiko.


"Katakan padaku.., kira-kira kamu masih memiliki tenaga tidak untuk berjalan ke depan? Jika sudah tidak kuat, aku tidak keberatan jika harus memapahmu." Andhika menggoda Jatmiko.

__ADS_1


"Dukk.." Jatmiko menanggapi perkataan Andhika dengan mendorong laki-laki itu ke samping.


"Ha..., ha.., ha.. tidak perlu malu padaku Jat.." teriak Andhika sambil mengejar Pangeran Abhiseka yang sudah berjalan lebih dulu di depan.


Pangeran Abhiseka berhenti, dan melihat kedua pengawalnya yang sedang bersenda gurau sambil berjalan itu. Melihat keduanya menikmati perjalanan dengan hati gembira, Pangeran turut merasakan kebahagiaan itu. Sebenarnya Pangeran Abhiseka tidak pernah memilih pengawal untuk pergi bersamanya. Tetapi banyak prajurit kerajaan yang mendaftarkan diri untuk mengikuti Pangeran melakukan petualangan. Hanya karena Andhika dan Jatmiko, sudah menjadi teman laki-laki itu sejak masih berusia kecil, akhirnya kedua pengawal itu yang selalu bersama dengan Pangeran Abhiseka.


*******


Di dekat sungai


Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya ketiga orang itu sampai di dekat sungai. Melihat Jatmiko yang sudah tampak kesusahan untuk mengangkat kaki, akhirnya Pangeran Abhiseka mengalah. Laki-laki itu mengangkat tangan ke atas, memberi isyarat pada kedua pengawalnya untuk berhenti.


"Untuk apa sikap kalian seperti itu? Ambil binatang itu, kuliti dan bakar dagingnya!" ternyata Pangeran Abhiseka melihat kelinci yang berlari di sekitar tempat itu. Tidak mau membuang kesempatan, laki-laki itu langsung mengirimkan serangan untuk memangsa binatang itu.


Andhika bergerak cepat, laki-laki itu melompat ke depan. Tidak lama kemudian, laki-laki itu sudah kembali membawa dua ekor kelinci di kedua tangannya. Pangeran Abhiseka melihatnya sambil duduk dan bersandar pada sebuah batu. Sambil tersenyum, laki-laki itu mengamati cara kedua pengawalnya itu bekerja.


Dengan cepat, Jatmiko membersihkan sampah daun-daun, kemudian membuat sebuah tempat untuk berteduh dan berlindung. Kedua pengawal itu bekerja dengan sangat cepat, bahkan Pangeran Abhiseka yang berhasil memejamkan mata tidak melihat cara kerja keduanya.


Beberapa saat, bau harum aroma daging bakar menyeruak masuk ke indera penciuman Pangeran Abhiseka. Laki-laki itu membuka matanya, kemudian melihat daging yang sudah siap dinikmati sedang disiapkan oleh Andhika. Saat mengarahkan pandangannya ke arah lain, Pangeran Abhiseka tersenyum. Ternyata tempat berteduh sudah disiapkan dengan cepat oleh Jatmiko.


"Sudah siap semuanya?" Pangeran Abhiseka berdiri dan melangkahi kaki mendatangi kedua pengawalnya itu. Kedua orang itu kaget, tidak mengira jika Pangeran sudah terbangun.

__ADS_1


"Sudah Pangeran.., silakan Pangeran duduk dulu. Saya akan menyiapkan dulu tempat untuk Pangeran melakukan kembul bujono." Andhika langsung berdiri.


"Mau kemana kamu..? Duduklah kalian berdua disini dekatku. Kita akan menikmati daging bakar ini secara bersama-sama. Tidak perlu banyak-banyak menggunakan alat, cukup daun pisang ini. Ayo segera kita nikmati!" dengan satu tangan menahan Andhika yang akan berdiri, Pangeran Abhiseka langsung Duduk bergabung dengan mereka.


Andhika mengangkat wajahnya ke atas, tetapi melihat Pangeran Abhiseka menganggukkan kepala. Akhirnya Andhika memberanikan diri duduk di samping Pangeran.


Ketiga laki-laki muda itu akhirnya menikmati daging panggang dan minuman panas jahe serai dengan campuran gula Jawa. Dengan posisi di tengah hutan, mereka mengabaikan hubungan antara Pangeran sebagai junjungan, dan pengawal sebagai abdi dalem. Tanpa merasa ragu, Pangeran menaruh potongan daging ke tempat Andhika dan Jatmiko. Setelah mereka saling berpandangan, tanpa ragu-ragu lagi, kedua pengawal itu langsung menikmati makanan.


Setelah menyelesaikan makan, Pangeran dan kedua pengawalnya berbaring di tempat berteduh yang sudah disiapkan oleh Jatmiko. Mereka meluruskan punggung setelah berhari-hari menempuh perjalanan jauh. Mereka juga tidak tahu ada hal apa yang akan mereka jumpai di depan.


Baru beberapa saat mereka beristirahat, tiba-tiba terdengar suara ledakan dari puncak gunung.


"Jeglarr.." suara ledakan itu terdengar sangat kencang dan menggema ke seluruh hutan.


"Suara apa itu Andhika..., apakah gunung di depan sana itu masih mengeluarkan magma dan lahar?" dengan penuh tanda tanya, Pangeran Abhiseka bertanya pada Andhika.


"Sepertinya tidak Pangeran Abhiseka.., apakah kita akan kesana untuk melihatnya?" Andhika menanggapi pertanyaan Pangeran.


"Masih ada waktu, sambil kita menunggu reaksi lanjutan. Apakah suara itu suara gunung meletus atau fenomena lain." Pangeran Abhiseka meminta untuk menunggu.


********

__ADS_1


__ADS_2