Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 298 Perempuan Sundal


__ADS_3

Benar yang sudah diperkirakannya, baru saja Maharani akan beranjak memasuki tempat untuk berisitirahat, seorang murid perguruan tergopoh-gopoh datang menemuinya. Melihat kekhawatiran yang tampat di wajah murid itu, Maharani sudah dapat menebak apa yang sudah terjadi di depan. Perempuan muda itu tetap bersikap tenang, tidak mau menimbulkan gejolak atau kepanikan yang bertambah parah.


"Ada apa anak muda.., apakah ada yang akan kamu beri tahukan kepadaku?' Maharani tanpa basa basi langsung bertanya pada anak laki-laki yang wajahnya masih terlihat pucat itu.


"Maaf Den Ayu,..., iijn melapor. Di depan tapal batas, ada beberapa orang dari kerajaan Logandheng yang ingin bertemu dengan Den Ayu. Saya tidak berani membiarkan mereka untuk masuk ke wilayah perguruan, untungnya mereka masih mau menerima dan saat ini mereka menunggu di luar wilayah tapal batas." dengan tergugup, anak muda itu memberikan apa yang ditemuinya di depan.


"Baiklah..., ayo kita segera menuju ke tapal batas. Kamu aku perintahkan untuk memberi informasi ini pada penanggung jawab perguruan bagian luar, agar mereka mempersiapkan diri dari semua kemungkinan yang dapat terjadi. Aku akan menuju ke tapal batas sedniri." dengan cepat, Maharani membagi tugas pada anak laki-laki itu.


"Siap Den Ayu.., saya akan segera menuju ke barak tempat istirahat penanggung jawab di tempat ini." anak muda itu segera membalikkan badan, dan meninggalkan Maharani sendiri.


Sepeninggalan anak muda itu, Maharani mengambil nafas kemudian tersenyum kecut.


"Apa yang aku pikirkan ternyata segera terjadi. Nimas Rengganis.., aku titip putriku Parvati. Jika terjadi apa-apa dengan diriku, rawat dan anggap ParvatiĀ  sebagai putrimu sendiri. Aku akan bertanggung jawab dengan apa yang sudah aku lakukan untuk perguruan ini." setelah bergumam sebentar, Maharani segera melompat meninggalkan tempat tersebut.


******


Di tapal batas..

__ADS_1


Beberapa penjaga yang bertugas di tapal batas, terlihat mengalami ketegangan. Selama mereka berada di perguruan ini untuk menuntut ilmu, belum pernah mereka dihadapkan dengan orang-orang dari pemerintah kerajaan. Karena sudah ada kesepakatan dan kesepemahaman, dimana perguruan dianggap sebagai tempat yang tidak terhubung dengan pihak kerajaan manapun. Dan di antara mereka juga tidak ada hal yang akan saling mengganggu. Tetapi kali ini, niat baik untuk membantu warga masyarakat yang tertindas, menjadikan saat ini mereka harus berhadapan langsung dengan orang-orang dari pihak kerajaan yang bersengketa.


"Masih berapa lama lagi temanmu memanggil perempuan yang bernama Maharani?? Sepertinya perempuan itu yang saat ini sedang mengambil alih Wisanggeni untuk mengawasi perguruan Gunung Jambu." terdengar ucapan keras dari orang-orang yang ada di luar tapal batas.


"Seharusnya tidak akan lama lagi, Den Ayu Maharani sudah akan datang untuk bertemu dengan Ki Sanak. Apalagi hari sudah malam, aku yakin murid tadi harus membangunkan Den ayu dari istirahat malamnya." penjaga menjawab pertanyaan orang tersebut dengan hati-hati. Tatapan tajam dari orang-orang itu seperti menghujam langsung ke arah jantungnya. .


Laki-laki yang bertanya itu tidak berkomentar, tetapi malah membalikkan badan ke arah teman-temannya berkumpul. Kemudian..


"Bagaimana ini..., apakah kita akan tetap menunggu kedatangan perempuan itu?? Ataukah kita akan langsung memberi peringatan kepadanya, dengan menghancurkan tapal batas ini." orang tersebut bertanya pada temannya yang lain.


"Mereka sudah lebih dulu melanggar kesepakatan kita, maka tidak ada salahnya jika kita langsung memberi peringatan kepada mereka. Kita akan tunjukkan kekuatan kita, dimana mereka agar tidak berpikir, ketika raja wafat, kerajaan hanya diisi oleh orang-orang yang tidak berdaya." salah satu laki-laki menanggapi perkataan dari orang tersebut.


Petugas dari perguruan Gunung Jambu yang sedang berjaga, terlihat terkejut melihat orang-orang yang menghendaki ingin bertemu dengan Maharani, saat ini sudah berkelompok mendatangi pos penjagaan. Lima orang penjaga langsung berlari ke depan dengan maksud untuk mencegah, orang-orang itu merangsek masuk ke dalam wilayah mereka.


"Hentikan Ki Sanak..., Den Ayu Maharani sedang dalam perjalanan menuju kemari! Jangan bertindak gegabah, jika tidak kalian nanti akan menyesal." salah satu penjaga mencoba mengajak bicara orang-orang itu.


"Ha..., ha..., ha... menyesal?? Apakah kalian pikir kami itu orang bodoh, aku tahu jika Wisanggeni dan putranya Chakra Ashanka tidak ada di perguruan ini. Mereka sedang menjalankan sebuah tugas penting untuk Klan mereka Bhirawa. Perguruan kalian saat ini hanya dipimpin oleh perempuan-perempuan sundal yang tidak tahu apa-apa.., serang...." sambil tertawa terbahak-bahak, laki-laki itu memerintahkan penyerangan pada petugas jaga itu.

__ADS_1


Tanpa menjawab, belasan orang itu segera merangsek ke depan dengan mengacungkan senjata di tangan mereka. Petugas segera bersiap, dan salah satu dari mereka memberikan isyarat agar teman-teman mereka bersiap untuk mengirimkan bantuan kepada mereka.


Tetapi tiba-tiba dari arah belakang, sebuah hembusan angin kencang terlihat datang dan menyapu belasan orang-orang yang akan merangsek masuk ke dalam wilayah tapal batas.


"Srettt.........." suara angin yang menderu langsung merobohkan belasan orang itu ambruk ke tanah.


"Kurang ajar.., siapa yang sudah berani bertindak curang kepada kami. Keluarlah..., hadapi aku..!" pemimpin dari belasan orang itu terlihat marah, laki-laki itu berteriak memanggil orang yang sudah mengeluarkan serangan kepada mereka,


"Siuuuuwww..." tiba-tiba sekelebat bayangan berbaju hijau, dengan membawa selendang yang sedang berkibar, turun di hadapan mereka. Seorang perempuan cantik dan anggun berdiri tepat di depan tapal batas yang membatasi wilayah perguruan dengan wilayah negara Logandheng, Wilayah yang dahulunya sepi tidak tersentuh oleh pemerintah kerajaan karena adanya perjanjian, saat ini tiba-tiba menjadi ramai dengan kedatangan orang-orang yang mengaku dari kerajaan.


"Siapa kamu...?" melihat kecantikan Rengganis, orang-orang itu menjadi terkejut. Mereka memang belum pernah melihat sendiri bagaimana penampakan dari istri Wisanggeni itu. Mereka hanya mendengar cerita dari orang-orang tentang kecantikan perempuan itu. Kali ini mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri,


"Huh..., akulah salah satu perempuan dari perguruan Gunung Jambu yang sudah kamu sebut sebagai perempuan sundal." dengan tenang dan senyuman sinis menghiasi bibirnya, Rengganis menjawab pertanyaan dari orang-orang itu.


Orang-orang itu terkejut, mereka segera kembali berdiri dan saling berpandangan. Ketua kelompok yang membawa mereka kemudian melangkahkan kaki ke depan, mendekat ke arah perempuan muda itu.


"Hmm..., tidak aku kira ternyata ada kecantikan seindah ini hanya tersimpan di perbukitan Gunung Jambu. Ikutlah denganku.., aku akan membawamu ke kota kerajaan, dan aku akan menganggap tidak ada permasalahan lagi antara kerajaan Logandheng dengan perguruan ini." dengan pandangan mesum, laki-laki itu berbicara pada Rengganis dengan tatapan penuh minat.

__ADS_1


************


__ADS_2