
Maharani dan Rengganis duduk terdiam menatap kegelapan malam, mereka sengaja tidak kembali menuju padhepokan. Apalagi mereka sudah mendapatkan laporan dari para murid jika padhepokan sudah dikosongkan. Hanya tinggal beberapa murid perempuan yang berjaga di tempat tersebut, sehingga Rengganis dan Maharani berpikir sama saja dimanapun dia berada saat ini.
"Apakah kamu memiliki ide untuk bagaimana ke depannya Nimas Rengganis..?" melihat bagaimana pasukan kerajaan, terus berusaha masuk ke perguruan, menjadikan Maharani terlihat khawatir. Perempuan itu lagi-lagi merasa karena tindakannya yang tidak begitu mempertimbangkan keadaan, akhirnya harus terjadi hal seperti itu. Apalagi saat ini, kondisinya juga tidak jauh lebih baik. Dengan luka-luka yang dialaminya saat ini, menimbulkan masalah untuknya, bagaimana dia harus membantu Rengganis melawan mereka.
"Aku juga belum menemukan jalan keluar Nimas.. Tidak ada disini kang Wisanggeni dan putraku Chakra Ashanka, menjadikan aku ragu-ragu untuk mengambil keputusan. Aku hanya merasa bersalah dengan para murid disini, karena jika kita salah perhitungan, mereka akan bisa menjadi korban pasukan kerajaan." Rengganis menanggapi perkataan Maharani dengan lembut,
"Maafkan aku Nimas Rengganis, aku betul-betul menyesal atas keputusan jangka pendekku. Tidak berpikir panjang, aku langsung menghajar orang-orang dari kerajaan tersebut." kembali Maharani menyampaikan perkataannya.
"Hentikan ucapanmu Nimas..., telingaku sudah gatal mendengar perkataan yang selalu kamu ulang-ulang. Apakah semuanya akan kembali menjadi seperti semula, jika kamu selalu mengulang apa yang pernah terjadi.." dengan suara sedikit tinggi, kembali Rengganis menegur Maharani.
Maharani terdiam, perempuan itu tersenyum masam. Tetapi memang benar apa yang dikatakan oleh Rengganis, semuanya sudah terjadi. Ibarat nasi sudah menjadi bubur, tidak akan mudah untuk berubah kembali menjadi nasi. Mereka kemudian berpikir untuk menangani bagaimana jika timbul masalah lagi di depannya. Beberapa saat kemudian,..
"Nimas.., bagaimana jika kita melakukan penyelidikan ke kerajaan Logandheng diam-diam? Kita akan mencari tahu, siapa yang menjadi pemimpin kerajaan ataupun jika belum ada, kandidat terbesar yang akan menjadi rasa siapa. KIta bisa melakukan rembugan dengan raja tersebut, untuk menghentikan pertikaian ini." tiba-tiba terdengar usulan dari Rengganis. Maharani menoleh ke arah perempuan itu, dan keduanya saling berpandangan beberapa waktu.
__ADS_1
"Sepertinya usulmu bisa dipertimbangkan Nimas... Kita memang tidak bisa hanya berdiam sendiri dengan masalah yang sedang kita hadapi ini. Aku merasa khawatir jika sampai kang Wisang datang kembali ke perguruan, masalah ini malah bertambah berlarut-larut. Atau bahkan perguruan sudah menjadi bubar, kita memang harus segera melakukan sesuatu. Dan usulan yang baru saja kamu utarakan barusam merupakan jalan satu-satunya untuk kita." akhirnya Maharani menyetujui usulan itu.
"Jika begitu..., kapan kita akan melakukan rencana ini Nimas..? Sepertinya cukup aku saja yang akan pergi ke kerajaan Logandheng, Kamu bisa mengatur rencana lain dengan murid-murid perguruan, dan juga melakukan pengecekan ke tempat persembunyian Parvati. Anak itu sangat membutuhkanmu Nimas Maharani." Maharani terkejut mendengar ucapan Rengganis. Dalam hati, dia tidak menyetujui usulan terakhir yang diucapkan oleh ibunda Chakra Ashanka itu. Perempuan itu menjadi orang nomor satu di perguruan ketika Wisanggeni tidak sedang berada di tempat.
"Kamu terlalu memikirkan orang lain Nimas Rengganis. Tetapi kamu sendiri tidak pernah berpikir untuk dirimu sendiri dan bahkan untuk keluargamu. Malam ini kita harus segera istirahat dulu, baru besok pagi kita akan berpikir kembali. Tidak baik kita tidur terlalu malam, apalagi kondisi kita berdua dalam keadaan lelah." Maharani memotong perkataan Rengganis, dan kemudian mengajak mereka untuk beristirahat.
**********
Perlahan Maharani menyibakkan selimut yang menutup di atas tubuhnya. Hari sudah menjelang dini hari, dan merupakan waktu yang dipikirkannya sejak tadi. Perempuan itu menengok ke arah dipan yang ada di sebelah kirinya, dan terlihat Rengganis masih tertidur lelap dalam istirahatnya.
Setelah beberapa saat membereskan perlengkapannya, perempuan itu segera menuju ke arah pintu. Sebelum membuka pintu, tatapan kembali dilayangkan Maharani ke arah Rengganis.
"Nimas.., aku titip Parvati Nimas... Kemungkinan besar kali ini kepergianku yang terakhir kali, aku seperti sudah mendapatkan sebuah firasat buruk." sambil menatap Rengganis, Maharani berbicara sangat pelan. Setelah menghela nafas, perempuan itu segera membuka pintu dan akhirnya berjalan keluar dari kamar.
__ADS_1
Dengan mengendap-endap menghindari papasan dengan murid perguruan yang sedang berjaga, Maharani melangkah menuju ke tapal batas. Perempuan itu mengusap kembali luka yang masih basah di atas punggungnya, terasa nyeri kembali menyergapnya.
"Tolong bekerja samalah denganku.., aku akan menyelesaikan urusan ini. Aku tidak ingin, ada kekacauan besar di perguruan ini karena ulahku. Aku sudah terlalu sering merepotkan Nimas Rengganis, kali ini akulah yang akan mengakhirinya." sambil menahan rasa perih, Maharani berbicara dengan luka di punggungnya, seolah-olah berpikir jika luka itu bisa berbicara dengannya.
"Joko..., siapa yang berjaga di gerbang masuk tapal batas saat ini. Aku tidak bisa meninggalkan tempat ini sekarang, teman-temanku masih banyak yang terluka karena pertarungan tadi." tiba-tiba terdengar percakapan dari depan Maharani. Perempuan itu dengan cepat berusaha menyembunyikan dirinya.
"Kamu tidak perlu khawatir Sasongko.., masih ada enam orang teman kita yang menunggui disana. Mereka sepertinya datang dari perguruan bagian dalam, karena baru kali ini aku melihatnya. Kamu lanjutkan saja untuk berjaga-jaga di tempat ini." orang itu menjawab pertanyaan temannya.
Maharani memanfaatkan fokus orang yang sedang berbicara itu. Dengan segera, Maharani memanfaatkan kesempatan murid-murid yang sedang berbincang tersebut. Perempuan itu segera menyelinap, dan akhirnya bisa berada sedikit jauh dari kedua orang tersebut.
Di belakang tapal batas, Maharani tersenyum melihat bagaimana para murid yang sedang bertugas untuk menjaga tempat tersebut. Mereka betul-betul bertindak seperti penjaga bayaran, yang dengan fokus menatap ke arah luar gerbang untuk menuju keluar wilayah perguruan.
"Aku tidak akan bisa terlepas pengamatan dari mereka, jika aku tetap berdandan seperti ini. Aku akan merubah wujudku menjadi seekor ular, dan setelah sampai di luar baru kembali berubah menjadi seorang Maharani." melihat ketatnya penjagaan, Maharani kembali berpikir.
__ADS_1
Perempuan itu kemudian mengangkat satu kakinya ke atas, kemudian telapak kaki diletakkan di samping betis sebelah kiri. Kedua tangannya di angkat ke atas, dan menangkupkannya di atas kepalanya. Tidak lama kemudian, perlahan tubuh Maharani berubah menjadi seekor naga berwarna hitam. Dengan warna tersebut, menjadi kamuflase baginya untuk pergi meninggalkan tapal batas.
************