Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 82 Lamaran


__ADS_3

Muka Ki Sasmito tampak merah menahan marah saat melihat keberanian Wisanggeni memeluk putrinya Rengganis di depan matanya. Sedikitpun laki-laki muda itu tidak memiliki rasa takut, meskipun saat ini mereka sedang duduk bertiga di teras griya. Demikian juga Rengganis, jika tadi di dalam dia berusaha menjauhkan diri dari Wisanggeni, saat ini di hadapan ayahndanya, gadis itu mengalungkan tangan di leher Wisanggeni.


"Apa maksud tindakan kalian berdua ini, apakah sengaja ingin menantang ayahnda Rengganis, Wisanggeni?" dengan marah, Ki Sasmito bertanya pada pasangan itu. Mukanya sudah menghitam karena emosi yang ditahannya.


"Bukan itu maksud kami Paman. Saat ini juga, saya Wisanggeni putra ketiga dari Ki Mahesa secara resmi melamar Nimas Rengganis putri dari Ki Sasmito untuk saya jadikan sebagai pendamping hidup saya." dengan tegas dan berani, Wisanggeni terang-terangan melamar Rengganis di hadapan laki-laki tua itu.


"Begitukah cara generasi muda saat ini untuk mengajak menikah seorang gadis?? Sedikitpun kamu tidak memberi muka padaku sebagai ayahnda dari putriku sendiri, tahukah kamu bagaimana posisiku dalam Trah Jagadklana?" Ki Sasmito terkejut dengan keterus terangan laki-laki muda itu, yang dengan lantang melamar putrinya.


"Maafkan Wisang Paman..., jika paman menyetujui lamaran saya untuk Nimas Rengganis, saya akan mengirim pesan pada Kang Wijanarko dan Kang Lindhuaji serta ayahnda untuk menyiapkan maharnya. Untuk saat ini, hanya barang tinggalan dari Ibunda yang saya gunakan sebagai mahar lamaran saya." tangan Wisanggeni masuk ke dalam kepis penyimpanan, kemudian mengeluarkan selendang warisan dari Ibundanya. Lipatan selendang itu dia serahkan pada gadis yang saat ini duduk di sampingnya.


Rengganis terharu melihat selendang itu, tangannya langsung mengambil selendang dari tangan Wisanggeni kemudian mencium wangi harumnya. Ki Sasmito terhenyak melihat selendang itu, dia tidak menyangka jika pusaka Selendang Sutra berada di tangan anak laki-laki itu.


"Ayahnda.., Nimas menerima lamaran Kang Wisang ayah. Nimas juga tidak memerlukan mahar berupa kemewahan seperti harta benda berupa emas, perak, maupun permata. Selendang ini sudah Rengganis terima dan setujui sebagai maharnya, Rengganis sudah tidak menginginkan apapun." tanpa menunggu Ki Sasmito menanggapi mahar yang ditunjukkan Wisanggeni, Rengganis langsung menerima lamaran itu.


Ki Sasmito mengambil nafas dalam untuk menenangkan hatinya, dia tidak dapat menerima tingkah laku kedua anak muda yang ada di depannya. Tetapi dalam hatinya, laki-laki tua itu mengacungi jempol atas keberanian anak laki-laki itu dalam menghadapinya.


"Cukup Rengganis..., tutup mulutmu! Saat ini juga.., pulanglah, ada yang akan ayahnda sampaikan pada Wisanggeni!" dengan suara tinggi, Ki Sasmito meminta Rengganis untuk pulang ke rumah terlebih dulu.


"Nimas... menurutlah pada ayahnda. Pulanglah dulu.., besok kita masih bisa bertemu lagi." dengan suara lirih, Wisanggeni meminta gadis itu untuk menuruti perintah ayahndanya. Rengganis melihat pada Wisanggeni, dan laki-laki muda itu tersenyum sambil menganggukkan kepala.


"Kamu tidak perlu takut atau khawatir padaku Nimas. Yakinlah pada Akang, ayahnda tidak akan memperlakukan apa-apa padaku." melihat keyakinan Wisanggeni, akhirnya Rengganis berdiri kemudian melompat melalui jendela, kemudian hilang di kegelapan malam.

__ADS_1


Sesaat kedua laki-laki itu terdiam, meskipun mereka duduk berhadapan. Ki Sasmito mengatur nafasnya kembali, malam ini dia merasa kaget melihat putrinya berani untuk melawannya, karena laki-laki muda yang saat ini ada di depannya.


****************


Setelah kepulangan Ki Sasmita dari kamarnya, malam itu juga Wisanggeni segera bersiap. Setelah mendapatkan pemberitahuan tentang makam leluhurnya, anak muda itu tidak dapat menahan rasa keingin tahuannya. Dia langsung menyiapkan diri, dan malam ini juga dia berniat untuk pergi ke pemakaman yang ada bukit ujung utara wilayah Klan Jagadklana.


"Singa Ulung..., aku membangunkan kamu malam ini. Temani aku untuk berbakti membersihkan kuburan leluhur dari Klan Bhirawa kawan!" Wisanggeni mengusap kepala kucing putih, dan seketika Singa Ulung membuka matanya.


Wisanggeni dan Singa Ulung kemudian berdiri dan segera keluar dari griya. Di halaman depan griya, dengan cepat Wisanggeni menepuk tiga kali kaki kanan atas Singa Ulung, dan binatang itu segera membesar, kedua sayap muncul di sisi kiri dan kanan tubuhnya.


"Happ..." sekali lompat, Wisanggeni sudah berada di atas punggung Singa Ulung. Kemudian setelah mengusap kepala binatang itu, perlahan Singa Ulung langsung terbang ke atas.


"Kita turun di depan bangunan tua itu Ulung... Aku yakin, bangunan itu merupakan bangunan kuno yang dimaksud oleh paman Sasmita." Wisanggeni segera mengajak Singa Ulung untuk turun, dan binatang itu langsung mengikuti perintah dari laki-laki muda itu.


Setelah sampai di bawah, hanya terlihat lampu senthir kecil yang terpasang di depan regol atau pintu masuk ke lokasi pemakaman. Hawa dingin beraroma mistis serasa tertiup ke arah Wisanggeni, dan bulu kuduk laki-laki itu tiba-tiba berdiri.


"Srettt.., plethak..." tiba-tiba seberkas sinar putih melayang cepat dan terjatuh di dalam areal pemakaman.


Wisanggeni memegang erat sayap Singa Ulung, dia berhenti untuk menenangkan hatinya sebentar.


"Ulung.., jangan tinggalkan aku ya, tetaplah di dekatku! Aku tidak tahu, kenapa tiba-tiba bulu kudukku berdiri," bisik Wisanggeni pada binatang itu. Dia sengaja tidak meminta singa ulung untuk merubah dirinya menjadi seekor kucing, karena besarnya tubuh Singa Ulung dapat menemaninya untuk masuk ke dalam pemakaman.

__ADS_1


Setelah hatinya mulai tenang, Wisanggeni melangkah ke depan dengan tetap berpegangan pada Singa Ulung.


"Kresek.., klak.." terdengar suara ranting terinjak dari arah belakang.


"Siapa itu.., keluarlah!" dengan agak gemetar, Wisanggeni berteriak.


"Akang.., Rengganis ikut. Jangan tinggalkan Rengganis sendiri!" Wisanggeni bernafas lega, saat dari kegelapan muncul Rengganis di hadapannya. Tampak Ki Narendra berada di belakang gadis itu menemaninya.


"Nimas.., Paman.., kenapa kalian berdua bisa berada di tempat ini?" tanya Wisanggeni kaget.


"Saya hanya mengantarkan Nimas Rengganis saja nak. Hati-hatilah di dalam.., paman akan berdoa untuk keberhasilan kalian bertemu dengan leluhur kalian di dalam. Paman harus segera kembali, agar Ki Sasmita tidak curiga." Ki Narendra langsung berpamitan.


Rengganis langsung memeluk Wisanggeni setelah Ki Narendra meninggalkan mereka. Dari atas pohon, Ki Narendra yang sebenarnya tidak pergi jauh, hanya mengamati mereka geleng-geleng kepala melihat keduanya.


"Nimas.., ayo kita segera keĀ  regol itu, tetaplah bersama dengan Akang!" Wisanggeni segera mengajak Rengganis berjalan menuju regol.


Mereka terhenyak memandang pintu regol yang tertutup rapat, dan tidak tampak sedikitpun ada tempat untuk memasukkan kunci agar mereka bisa masuk.


"Sebentar Kang.., mungkin ada sandi yang harus kita pecahkan agar regol ini bisa terbuka."


***************

__ADS_1


__ADS_2