Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 148 Desa Terluar


__ADS_3

Wisanggeni mengangkat tangannya, secara perlahan laki-laki muda itu mengusap punggung Pangeran Abhiseka. Dia memahami apa yang dirasakan oleh putra dari raja wilayah tengah itu, karena mendengar sendiri keluhan dan melihat bagaimana bagian kecil dari kerajaannya tidak merasakan kesejahteraan sedikitpun.


"Dimana tempat penyelenggaraan pemimpin desa ini..., apakah Ki Sanak bisa mengantarkan kami kesana?" Wisanggeni menanyakan keberadaan pemimpin desa ini. Tetapi laki-laki muda itu menggelengkan kepala, dia merasa ketakutan akan keselamatan jika para punggawa desa mengetahui dia berbicara dengan orang asing.


"Ki Sanak.., aku berjanji. Tidak lama lagi, desa ini akan berubah menjadi desa yang makmur dan sejahtera. Percayalah padaku.., dan kami tidak akan meminta secara gratis tentang informasi ini. Kami akan membayar mahal.." memahami kekhawatiran laki-laki muda tersebut, Wisanggeni menjamin keamanan dan menggunakan insentif untuk mendapatkan informasi. Mendengar perkataan Wisanggeni, Pangeran Abhiseka memberi isyarat pada pengawalnya, dan tidak lama pengawal itu mengeluarkan bungkusan kain yang berisi coin emas.


Pangeran Abhiseka mengeluarkan sepuluh buah coin emas, kemudian memberikan coin tersebut pada laki-laki muda itu. Tetapi diluar dugaan mereka, laki-laki muda itu menggelengkan kepala. Dia tidak mau menerima pemberian dari Pangeran Abhiseka. Wisanggeni memegang bahu laki-laki muda itu menggunakan tangan kanannya.


"Kenapa kamu tidak mau menerima coin emas ini Ki Sanak?? Apakah kamu tidak tahu, siapa laki-laki muda yang sudah memberimu coin emas?" dengan suara pelan Wisanggeni bertanya pada anak muda itu.


"Tidak ada gunanya aku memiliki coin emas itu.., jika aku memilikinya, keluargaku malah akan mendapatkan masalah dari pemimpin desa. Mereka akan merampas coin emas itu, dan akupun juga tidak bisa membelanjakannya di desa ini." mendengar penjelasan laki-laki muda ini, Wisanggeni dan Pangeran Abhiseka menganggukkan kepala.


"Ternyata Pangeran tidak dikenali oleh warga masyarakat disini.., berarti pangeran harus lebih mendekatkan diri ke mereka." Wisanggeni memberi sindiran pada Pangeran Abhiseka secara langsung. Mendengar ucapan itu, anak muda itu tampak kebingungan. Sedangkan pangeran Abhiseka hanya tersenyum mendengar kata-kata yang dikeluarkan Wisanggeni.


Tiba-tiba pengawal yang menemani Pangeran Abhiseka keluar dari kerajaan, datang tergesa-gesa menghampiri mereka.


"Pangeran.., ada beberapa orang yang terlihat sengaja memancing kerusuhan disana. Sepertinya mereka sudah mengetahui kedatangan kita ke desa ini..," pengawal itu berbisik-bisik pada Pangeran Abhiseka.


"Kita akan memberi mereka pelajaran, agar mereka tahu dan sadar diri sedang berada di kerajaan mana mereka berada." ucap pangeran Abhiseka.

__ADS_1


"Baik Pangeran.., kami tidak akan segan-segan untuk menghajar mereka. Mereka memang harus disadarkan atas perlakuan kasar dan mengintimidasi pada warga desa." pengawal itu segera meninggalkan Pangeran Abhiseka. Laki-laki muda warga desa tersebut, memandang tidak percaya dengan pembicaraan yang baru saja dia dengar. Tanpa diminta, laki-laki muda itu langsung berlutut di kaki Pangeran Abhiseka.


"Ampuni saya Pangeran.., ampuni saya yang tidak bisa mengenali putra dari raja kami sendiri. Ampuni saya, anggap saja semua yang saya katakan tadi adalah kebohongan yang saya buat-buat." dengan menghiba laki-laki muda itu meminta ampun pada Pangeran Abhiseka.


Pangeran Abhiseka kemudian menundukkan badannya, tangannya menyentuh kedua bahu laki-laki muda itu dan mendirikannya. Laki-laki muda itu saat ini berada di depan Pangeran Abhiseka, dia menunduk tidak berani menatap wajah orang yang ada di depannya.


**********


Gayatri dan Niluh membantu para pengawal menghadapi orang-orang yang dikirim oleh punggawa desa. Upeti pada pemimpin mereka merupakan tujuan utama dari orang-orang itu mendatangi rombongan Pangeran Abhiseka. Meskipun mereka tidak mengenakan pakaian mewah, tetapi melihat perbedaan mereka yang terlalu jauh dengan warga desa, menjadikan mereka menjadi pusat perhatian.


"Apa maksud kedatangan kalian kesini?" dengan nada judes, Niluh bertanya pada orang-orang kiriman dari punggawa desa.


"Begitu ya.., apa yang bisa kamu tawarkan padaku selain omongan besarmu itu. Dari pakaian yang kamu kenakan saja, tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan pakaian para pengawal disini." dengan nada sarkasme, kembali perkataan Niluh menghina orang-orang dari punggawa desa itu. Niluh mengangkat tangannya, gadis muda itu memperingatkan para pengawal Pangeran Abhiseka untuk mundur, dan tidak mencampuri urusannya.


"Berbisa sekali ternyata mulutmu gadis muda, ayo.. teman-teman kita beri pelajaran untuk memperingatkan gadis muda itu, Dia perlu berpikir.., jika ada larangan untuk tidak berbicara sembarangan pada kita." orang yang berbicara itu mengajak orang-orangnya untuk membuat perhitungan dengan Niluh.


"Hiyatt...." orang-orang dari desa itu menghunus pedang dan bersamaan maju ke arah Niluh.


"Hanya seperti itu rupanya nyali kalian.., melawan satu orang gadis saja, kalian beraninya main keroyokan." mata Niluh menyipit, kedua tangannya dengan cepat membentuk segel.

__ADS_1


"Kekuatan Segoro Geni... keluarlah.." gumpalan api berwarna jingga, tiba-tiba muncul di tangan Niluh. Tanpa memilih siapa lawannya, dengan cepat Niluh mengirimkan serangan tangannya ke orang-orang yang dikirimkan punggawa desa tersebut.


"Blam..., blammm..." kobaran api dari tangan Niluh tiba-tiba mengejar orang-orang yang sombong itu.


"Aaaaw..., panas..., panas.." orang-orang dari desa yang semula menerjang maju memberikan serangan pada Niluh, mereka kocar-kacir menyelamatkan diri menghindari serangan api itu. Tetapi kemanapun mereka menyelamatkan diri, kobaran api yang dikirim Niluh seperti memiliki mata, yang mengejar kemanapun mereka bersembunyi. Melihat beberapa dari mereka sudah menderita luka bakar, gadis muda itu tersenyum..


"Ufft..., hush..." Niluh mengambil nadas dalam, dengan cepat gadis muda itu menghentikan serangannya. Orang-orang yang semula bertingkah sombong dan arogan di depan mereka, saat ini mereka kesakitan berusaha meniup luka bakar di tubuh mereka. Sebagian kecil dari mereka melarikan diri dari tempat itu.


"Nimas.., apakah kita akan mengejar mereka Nimas..?" pengawal Abhiseka bertanya pada Niluh. Gadis muda itu tersenyum, dan menggelengkan kepalanya. Mereka berjalan kembali meninggalkan mereka yang kesakitan.


***********


"Anak muda.., jika kami boleh tahu, siapa namamu?" dengan suara pelan Abhiseka bertanya pada laki-laki muda yang menolak pemberian coin emas tadi. Laki-laki muda itu menengadahkan wajahnya, dia memberanikan diri menatap wajah Pangeran.


"Nama saya Sarno Pangeran." ucapnya lirih menjawab pertanyaan Abhiseka.


"Baiklah.., sekarang antarkan kami menuju balai desa. Kami ingin bertemu dengan pemimpin desa ini secara langsung. Ambillah coin emas ini, gunakan untuk mencukupi kebutuhan keluargamu." ucapan tegas Pangeran Abhiseka seeprti memberi perintah pada laki-laki muda itu, dengan cepat dia menerima coin emas tersebut dan menganggukkan kepala.


**************

__ADS_1


__ADS_2