Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 340 Melupakan Semua


__ADS_3

Setelah kepergian Wisanggeni dan Parvati, Rengganis dengan dibantu putranya Chakra Ashanka segera membersihkan puing-puing bekas peperangan. Para murid luar maupun dalam, saling bahu membahu bekerja dengan giat, untuk menghilangkan pemandangan menyeramkan dari akibat perang tersebut. Bhadra Arsyanendra dan Sekar Ratihpun turut keluar menyingsingkan lengan baju, bergabung dengan keluarga perguruan Gunung Jambu.


"Semuanya sudah bersih kembali ibunda.., kita tinggal membangun kembali beberapa tempat yang sudah roboh, dan tidak bisa diselamatkan." Chakra Ashanka berbicara pada Rengganis. Kali ini mereka sedang menatap hasil kerja mereka bersama dengan warga perguruan.


"Iya putraku.., biarlah para murid beristirahat dulu beberapa saat. Mungkin minggu depan, kita bisa melakukan gotong royong lagi untuk membangun beberapa fasilitas yang sudah roboh." Rengganis menanggapi perkataan putranya.


Tiba-tiba kedua orang itu mendengar suara ricuh dari arah belakang mereka. Rengganis dan Chakra Ashanka bertatapan mata, saling mencari tahu apa yang sudah terjadi. Namun, Chakra Ashanka hanya mengangkat kedua bahunya ke atas, dan memang laki-laki muda itu tidak mengetahuinya, bahkan secuil kabar atau informasipun juga tidak mereka dengar.


"Kita akan melihatnya bersama ibunda.., semoga bukan lagi keributan. Ashan sudah bosan melakukan pertarungan, karena tidak ada manfaat yang akan kita peroleh dari pertarungan ini." Chakra Ashanka mengajak ibundanya bersama-sama melihat ke belakang. Tanpa bicara lagi, kedua orang itu membalikkan badan menoleh ke belakang, dan terlihat Bhadra Arsyanendra membawa warga masyarakat kerajaan Logandheng yang tinggal di perbatasan, dan selama ini telah mengungsi di perguruan mereka, berjalan beriringan,


Rengganis memegang bahu putra laki-lakinya itu, membiarkan agar Bhadra Arsyanendra dan warga masyarakat itu berbicara sendiri tentang apa yang mereka kehendaki. Ternyata, tepat sesuai dugaan Rengganis, tidak berapa lama Bhadra Arsyanendra berjalan menghampiri mereka.


"Bibi Rengganis..., kang Ashan... kedatangan kami saat ini, mungkin mengejutkan kalian berdua. Tetapi kami harus segera melakukannya, kami tidak mungkin akan berada di tlatah perguruan Gunung Jambu secara terus menerus. Kita juga butuh untuk membangun desa kami kembali, melanjutkan hidup kami untuk mendapatkan nafkah pencaharian. Karena tidak mungkin, jika selamanya keberadaan kami hanya menumpang dan mengandalkan belas kasihan dari perguruan ini." Bhadra Arsyanendra mengawali pembicaraan. Semua diluar dugaan, ternyata bocah kecil itu memiliki kemampuan berbicara dengan pihak yang lebih tua dengan sangat mengagumkan,


"Banyak ucapan terima kasih yang sampai malu untuk kami haturkan kepada Bibi, dan kepada semua keluarga perguruan. Dimana, meskipun kita berasal dari dua tempat yang berbeda, tetapi kami melihat sendiri bagaimana upaya Bibi dan murid perguruan ini dalam mengamankan kami, memberikan pelrindungan kepada kami. Hal itu yang tidak akan dapat kami lupakan, bahkan seumur hidup kami." bocah kecil itu melanjutkan perkataanya.

__ADS_1


Tiba-tiba dari belakang, sepasang laki-laki dan perempuan berjalan mendekati Bhadra Arsyanendra, kemudian berhenti mengapit bocah laki-laki itu.


"Ampuni kami berdua Den Ayu.., kamilah yang menjadi ujung pangkal dari persengketaan antara perguruan Gunung Jambu dengan kerajaan Logandheng. Kami berdua sudah tidak tahu lagi, kemana lagi kami akan bersembunyi dan menyelamatkan penerus kerajaan Logandheng, hanya perguruan ini satu-satunya. Kami siap untuk mempertanggung jawabkan kembali perbuatan kami Den Ayu.." laki-laki separuh baya itu membuat pengakuan pada Rengganis.


Rengganis yang sudah mengetahui hal itu sebelumnya, hanya terdiam tidak memberikan reaksi apapun. Semuanya sudah terjadi, hanya ke depan bagaimana upaya mereka untuk menyelamatkan perguruan itu. Agar mereka bisa menghentikan sengketa berkepanjangan dengan pihak kerajaan.


"Lupakan semua paman..., sebagai manusia kita memang harus saling tolong menolong. Semua yang sudah terjadi, tidak akan dapat kita balikkan kembali. Bagaimana rencana kalian semua setelah ini?" dengan senyuman, Rengganis melupakan kejadian buruk yang telah menghantui perguruan mereka dalam terakhir ini.


"Kami akan kembali ke desa kami, untuk membangunnya kembali. Sedangkan kami berdua, akan menemani junjungan kami Raden Bhadra Arsyanendra, untuk bertemu dengan raja Logandheng saat ini. Rupanya pengalaman ini, membuat Raden kami menjadi lebih dewasa, dan lebih mampu untuk berpikir ke depan." pengawal perempuan Bhadra Arsyanendra menambahkan.


"Iya.., putraku akan bersama dengan kalian untuk bertemu dengan raja Logandheng. Terlalu berbahaya hanya dengan membiarkan kalian berdua pergi bersama, putraku akan memberikan pengawalan." kata-kata yang diucapkan Rengganis memperkuat perkataan Chakra Ashanka.


***********


Di Kepatihan Kerajaan Logandheng

__ADS_1


Anggoro dan ibundanya menerima kabar gugurnya Patih Wirosobo dengan perasaan sedih. Tetapi mengingat bagaimana kekejaman yang ditunjukkan oleh ayahndanya untuk mencapai apa yang menjadi ambisinya, akhirnya Anggoro memakluminya. Putra bungsu Patih Wirosobo itu memang sejak kecil, kurang memiliki hubungan dekat dengan ayahndanya.


"Bagaimana rencana ibunda.., bahkan kita tidak dapat membawa jasad romo Wirosobo untuk pulang ke rumah. Berdasar penuturan para prajurit, kasad ayahnda sudah hancur menjadi serpihan abu ibunda.. Tidak ada sedikitpun yang bisa dibawa pulang oleh para prajurit." ucap Anggoro bertanya pada ibundanya.


Perempuan itu terdiam, isak tangis masih terlihat jelas di wajahnya yang masih sembab. Belum lama perempuan itu kehilangan putra sulung mereka Senopati Wiroyudho, saat ini harus kehilangan suaminya Patih Wirosobo. Tetapi itulah kejamnya perang, yang hanya meninggalkan akibat yang buruk, daripada akibat yang baik. Untungnya dia masih memiliki Anggoro dan kakak perempuannya, sehingga masih ada dua tempat bagi perempuan itu untuk bersandar.


"Ibunda menerimanya putraku, agar roh romo serta kakangmasmu tenang di alamnya sana. dari awal, ibunda tidak menyetujui ketika ayahndamu menukarkan hidupnya di puncak gunung Kawi bersama dengan Gurunya. Tetapi keinginan untuk menundukkan orang lain dengan racun mematikan yang dibanggakannya, lebih besar menguasainya. Hal ini juga menjadi kesalahan ibunda, yang tidak bisa mengekang keinginan romomu." perempuan itu menanggapi perkataan putranya.


"Sudahlan ibunda, hal buruk tidak ada manfaatnya untuk kita ingat-ingat lagi. Jika ibunda tidak memiliki rencana lagi, ada baiknya kita segera sowan pada Sinuhun raja Logandheng. Kita harus menceritakan semua yang kita ketahui, dan kita minta ijin untuk meninggalkan Kepatihan, kita kembali ke desa saja ibunda. Kita akan memulai sebuah hidup baru disana." untuk melupakan kesedihan dan kenangan tentang keluarganya, Anggoro mengusulkan hal itu pada ibundanya.


Beberapa saat perempuan itu kembali terdiam, dan sepertinya bisa memahami apa yang diinginkan oleh Anggoro. Hingga kemudian...


"baiklah putraku. Bersiaplah.., malam ini juga kita akan sowan pada Sinuhun. Kita akan tinggalkan semuanya, kita buang semuanya. Kita akan kembali ke desa tempat dimana ibunda dan romomu pertama kali disatukan oleh eyang kalian." akhirnya perempuan itu menyetujui usulan yang disampaikan oleh Anggoro.


**********

__ADS_1


__ADS_2