Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 429 Bakat Keturunan


__ADS_3

Di atas sebuah tebing batu, Wisanggeni memerintahkan agar istri dan putrinya berhenti. Laki-laki itu menatap ke arah banyaknya pepohonan yang tumbuh di lembah yang ada di bawah tebing itu. Sepertinya Wisanggeni sedang mempertimbangkan bagaimana mereka akan turun ke bawah.


"Ada apa kakang... apakah ada yang bisa Nimas bantu?" melihat padangan suaminya, Rengganis bertanya dengan suara yang pelan.


"Aku sedang berpikir Nimas.. apakah akan menggunakan Singa Ulung untuk turun ke bawah, ataukah akan merambat pada pinggiran tebing." sahut Wisanggeni tanpa memandang wajah istrinya. Pandangan matanya seperti menembus pada rerimbunan pohon-pohon di bawah lembah.


"Sepertinya akan terlihat terlalu mencolok kakang, jika kita turun dengan membawa Singa Ulung. Bagaimana kalau kita mencoba merayap turun, sekalian memberi pengalaman pada putri kita." Rengganis yang ingin melatih halang rintang pada Parvati, meminta mereka merayap turun.


Wisanggeni berpikir sejenak, dan beberapa saat kemudian..


"Parvati.. apakah kamu siap putriku, melalui seperti apa yang dikatakan ibundamu," laki-laki itu menoleh ke arah Parvati.


"Parvati sangat senang ayahnda, benar apa yang diucapkan ibunda.. Parvati memang harus lebih banyak mencari pengalaman dan meningkatkan ilmu Kanuragan.." tidak disangka, gadis cantik itu menganggukkan kepala dengan mantap. Rengganis tersenyum melihatnya.


"Baiklah... jika semua sudah menyetujuinya. Mari kita segera turun ke bawah, mumpung hari masih terlihat terang. Aku yakin paman Badri pemilik penginapan itu tidak akan berbohong pada kita. Ancar-ancar yang diberikan sangat jelas penunjuk arahnya." setelah mendengar dan melihat sendiri kemauan Parvati, akhirnya Wisanggeni segera mengajak mereka untuk menuruni tebing curam di depannya.


"Parvati.. bunda duluan yang turun ke bawah, atau Parvati?" dengan lembut, Rengganis bertanya pada Parvati.


"Ibunda di tengah saja, selama ini ayahnda dan ibunda yang selalu berada di kanan kiri Parvati. Kali ini, biarlah Parvati mencobanya sendiri. Ibunda dan ayahanda di belakang Parvati." dengan tegas, Parvati membuat pengaturan.


Wisanggeni tersenyum mendengar semangat dari gadis cantik itu, kemudian memberi isyarat pada istrinya agar memberikan kesempatan untuk putri mereka.

__ADS_1


Perlahan dengan hati-hati, Wisanggeni melemparkan sebuah tali yang diambilnya dari sulur beringin ke bawah. Kemudian laki-laki itu mengikat pada sebuah batu besar yang ada di atas tebing, dan melakukan uji coba sebentar.


"Parvati.. turunlah! Ikuti sulur beringin ini, usahakan jangan sampai melenceng jauh. Sulur ini sebagai penunjuk arah untuk kita." Wisanggeni menjelaskan pada gadis itu.


"Baik ayahnda.. ibunda.., Parvati akan segera turun." gadis itu segera menyahuti perkataan ayahndanya.


Perlahan Parvati mulai mencari pegangan untuk kedua tangannya, kemudian mulai menurunkan kakinya. Gadis itu merayap turun mengikuti arah sulur beringin. Rengganis dan Wisanggeni tersenyum, kemudian mengikuti putrinya ke bawah.


Semakin turun ke bawah, tebing batu yang menonjol untuk pegangan tangan semakin tidak ada. Parvati terdiam sejenak, gadis itu mengamati Medan tebing yang ada di bawahnya.


"Hmmm... masih terlalu jauh jika aku langsung melompat turun ke bawah. Tetapi melihat batuan hitam yang terlihat licin itu, akan sangat sulit untuk melewatinya." Parvati berpikir sendiri.


Lama waktu dihabiskan oleh gadis itu untuk berpikir. Karena tidak ada kata menyerah atau meminta pertolongan dari putrinya, pasangan suami istri itu hanya tersenyum dan saling berpandangan. Mereka ingin menguji sampai dimana tekad yang dimiliki oleh Parvati.


"Sepertinya aku bisa menggunakan binatang melata itu untuk membantu kita turun ke bawah." Parvati kembali berpikir.


Tiba-tiba gadis itu memejamkan mata dan rupanya ular di bawah langsung menyambut pesan yang disampaikan Parvati. Gadis itu kaget dengan kecepatan daya tangkap binatang yang ada di bawah. Dengan cepat Parvati mengajak binatang itu bicara untuk membantunya turun ke bawah.


"Ssshhh . ssshhh... baik Ndoro putri.. segera saya akan memanggil teman-teman untuk datang kesini. Harap Ndhoro putri bersabar.." ular besar dibawah mengangkat kepalanya ke atas, dan matanya bertatapan dengan mata Parvati.


"Baik.. aku akan sabar menunggumu untuk datang membantuku disini." dengan bahasa isyarat, gadis itu menjawabnya.

__ADS_1


Wisanggeni yang juga memiliki kemampuan mengetahui dan dapat berbicara dengan ular, hanya tersenyum mengetahui apa yang dilakukan putrinya. Rengganis hanya diam, perempuan itu melihat putrinya dari belakang sambil tersenyum.


Tidak lama kemudian, tanpa peringatan dan pemberi tahuan, tiba-tiba Parvati melompat turun. Rengganis terkejut, secara reflek perempuan itu menarik selendang dari dalam kepis di pinggangnya. Namun ketika, Rengganis mengangkat tangan dan akan mengelebatkan selendang itu ke arah Parvati,. dari belakang Wisanggeni menahannya.


"Kakang.. jangan tahan selendang ini. Lihatlah ke bawah, putri kita Parvati membutuhkan bantuan kita.." Rengganis melihat ke bawah. Perempuan itu menyangka jika putrinya dalam keadaan putus asa, sehingga nekat terjun ke bawah tanpa meminta bantuan kepada mereka.


"Jangan khawatir, bagaimanapun dengan rencanamu untuk melatih gadis itu. Gadis itu sedang membuat siasat, lihatlah sebentar lagi " sahut Wisanggeni.


Belum sampai selesai, Wisanggeni menjelaskan.. terlihat beberapa ekor ular besar saling menjalin badan mereka, kemudian membentuk sebuah landasan. Tanpa kendala, tubuh Rengganis jatuh di atas badan ular-ular itu, dan dengan cepat ular meletakkan tubuh gadis itu di atas tanah di bawah tebing.


"Ayahnda..., ibunda.. melompat lah.. Ular-ular ini akan membantu ayah dan bunda turun ke bawah." dari bawah, Parvati berteriak meminta kedua orang tuanya untuk melompat. Namun Rengganis dan Wisanggeni menggelengkan kepala mereka.


Tidak diduga, Rengganis mengelebatkan selendangnya, kemudian perempuan itu berjalan di atas selendang itu seperti layaknya berjalan di atas tanah. Dari belakang, Wisanggeni mengikuti langkah Rengganis tanpa kesulitan.


"Luar biasa.. ternyata aku terlalu rendah mengukur kekuatan ayahnda dan ibunda .." sambil ternganga, Parvati berbicara sendiri. Gadis itu tampak kagum melihat kecepatan jalan kaki di atas selendang,. Ayahnda dan ibundanya.


Tidak menunggu lama, kedua orang tua Parvati dan Chakra Ashanka melompat ke dekat Parvati secara bersama-sama. Gadis itu tersenyum dan terpukau dengan kelincahan kedua orang tuanya.


"Jadi karena Parvati.. ayah dan bunda harus turun bersusah payah turun ke lembah ini ya? Seharusnya dengan selendang ibunda, ayah dan bunda bisa turun dari tadi. Tapi karena kebodohan Parvati, kita beriringan menuruni tebing batu yang licin ini." Parvati terlihat malu dan memeluk tubuh kedua orang tuanya.


"Sudah.. sudah.. putri ibunda juga sangat cerdas dan luar biasa. Tujuan kita masih belum bisa kita temukan. Kita harus segera melanjutkan perjalanan kita." sahut Rengganis.

__ADS_1


Tidak mau membuang waktu, akhirnya ketiga orang itu segera melanjutkan perjalanan.


******


__ADS_2