
Chakra Ashanka meminta kedua binatang yang datang bersamanya untuk turun di kota yang berada di pinggiran kerajaan Logandheng. Tidak tahu kenapa, perasaan anak muda itu memintanya untuk turun di kota tersebut. Kota itu adalah tempat terakhir kali Wisanggeni dan Rengganis beristirahat, sebelum mereka menyusuri tebing untuk mencari padhepokan Ki Bawono.
"Apakah kamu yakin kakang.. jika kita memutuskan untuk turun ke kota kecil ini.." melihat orang-orang yang berada di kota itu, Bhadra Arsyanendra sedikit meragukannya.
"Kita coba dulu untuk masuk ke dalam Rayi. Siapa tahu kita akan mendapatkan petunjuk tentang keberadaan kedua orang tuaku saat ini." Chakra Ashanka, meminta semua yang datang bersamanya, untuk mengikuti keinginannya terlebih dulu.
"Baiklah.. itu ada penginapan kakang. Terlihat besar dan bersih.." Bhadra Arsyanendra menunjuk penginapan yang ada di sisi kanan jalan tempat mereka berada saat ini.
Chakra Ashanka tersenyum dan tidak memberikan jawaban. Anak muda itu malah mengalihkan pandangannya pada sebuah penginapan yang lebih kecil, yang berada di ujung jalan. Bhadra Arsyanendra mengerutkan dahinya melihat arah pandangan anak muda itu, tetapi laki-laki itu tidak menyela apa yang dipikirkan oleh Chakra Ashanka.
"Kita datangi penginapan yang ada di ujung jalan saja.." ucap Chakra Ashanka, Anak muda itu mulai melangkahkan kaki menuju ke penginapan yang jauh lebih sederhana, dibandingkan dengan penginapan yang dipilih oleh Bhadra Arsyanendra.
"Apakah kang Ashan tidak salah menentukan penginapan kakang.. Bukankah pilihan Raden Bhadra lebih layak untuk kita menginap, apalagi melihat posisi Raden Bhadra dan juga posisi jabatan kakang di kerajaan Logandheng." Ayodya Putri juga bingung melihat pilihan itu.
Chakra Ashanka tidak menjawab keberatan yang diutarakan oleh Ayodya Putri. Laki-laki muda itu hanya tersenyum, dan tetap melangkahkan kakinya menuju penginapan yang sudah ditunjuknya. Tidak ada pilihan lain, ketiga orang itu tetap mengikuti langkah Chakra Ashanka, dan tidak keluar lagi protes dari mulut mereka.
"Raden Bhadra... Nimas Putri.. Aku yakin kalian berdua kurang setuju dengan pilihan kang Ashan. Tetapi yang bisa mengenali kebiasaan yang dilakukan Paman Wisanggeni dan juga Bibi Rengganis, hanya orang-orang yang bertul-betul mengenal mereka dengan baik. Menurutku.. dengan adanya dua penginapan dalam jarak yang tidak begitu jauh, paman dan bibi tidak akan memilih penginapan yang lebih bagus. Pastilah penginapan yang dipilih kang Ashan yang akan menjadi pilihan mereka juga.." tidak mau membuat kedua orang itu penasaran, sambil tetap berjalan, Sekar Ratih menjelaskan pada Bhadra Arsyanendra dan Ayodya Putri.
__ADS_1
Ayodya Putri terdiam, gadis itu berpikir ternyata apa yang diketahuinya tentang keluarga laki-laki yang juga disenanginya, hanya sekuku hitam saja. Sedangkan Bahdra Arsyanendra tersenyum setelah mendengarkan penjelasan Sekar Ratih. Ke empat anak muda itu kemudian bergegas menuju ke penginapan yang berada di ujung jalan.
"Silaka mampir di penginapan kami Ki Sanak. Lebih bagus, dan juga lebih lengkap fasilitasnya dibandingkan dengan penginapan di ujung jalan.." tiba-tiba terlihat ada seseorang yang mendatangi mereka, dan menawarkan penginapan.
"Maaf paman..., kali ini kita tidak mencari penginapan yang memiliki fasilitas yang lebih lengkap dan bagus, Tetapi kami akan mendatangi penginapan, dimana di dalamnya ada kenangan yang pernah tertinggal disana." dengan halus dan sopan, Chakra Ashanka menolak tawaran laki-laki itu.
"Begitukah Ki Sanak.. ya sudah itu sudah merupakan pilihan terbaik kalian.. Saya hanya sekedar membantu menawarkan.." ternyata setelah keributan dengan Wisanggeni dan Rengganis, pemilik penginapan sudah mengarahkan semua karyawannya untuk bersaing secara sehat. Hal itu terbukti dengan tidak adanya paksaan bagi para pengunjung, yang melintas di depan penginapan mereka.
Chakra Ashanka dan ketiga temannya tersenyum, dan menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada mereka, sebagai isyarat permohonan maaf.
**********
"Mari silakan masuk Ki Sanak.. Apakah ada yang bisa kami bantu.." dengan ramah, pelayan menyambut ke empat anak muda itu.
Dengan cekatan, pelayan itu menyilakan Chakra Ashanka dan rombongan untuk duduk di atas kursi tamu. Setelah mereka duduk, pelayan itu segera menyajikan minuman hangat dan kudapan ala kadarnya untuk menjamu ke empat orang itu. Ke empat anak muda itu, yang memang merasa haus segera menikmati jamuan itu tanpa ada syak wasangka sedikitpun. Beberapa saat kemudian..
"Anak muda... melihat wajah Ki Sanak sepertinya kami tidak begitu asing dengan wajah dan perawakan dari Ki Sanak." tiba-tiba tidak disangka pemilik penginapan datang dan bertanya pada Chakra Ashanka.
__ADS_1
Chakra Ashanka mengangkat wajahnya, dan tatapan matanya beradu pandang dengan laki-laki tua pemilik penginapan, yang saat ini sedang menatapnya. Muncul firasat dalam benak anak muda itu, mungkinkah laki-laki tua itu mengenali wajahnya yang mirip dengan wajah ayahndanya Wisanggeni.
"Mohon maaf, saya tidak bisa mengerti dengan yang paman ucapkan.." Chakra Ashanka berpura-pura bingung dengan ucapan pemilik penginapan.
"Heh.. begini anak muda. Beberapa saat yang lalu, ada sepasang suami istri dengan seorang putrinya yang singgah di penginapan kami." jantung Chakra Ashanka dan Bhadra Arsyanendra langsung berdetak mendengar penjelasan dari laki-laki tua itu. Mereka dengan penuh perhatian mendengar penjelasan dari laki-laki itu.
"Berkat bantuan pasangan suami istri itu, akhirnya penginapan saya bisa menerima pengunjung lagi. Padahal sudah berwarsa-warsa kami tidak bisa menerima tamu.." pemilik penginapan melanjutkan penjelasannya.
Kedua anak muda itu manggut-manggut mendengarkan cerita dari pemilik penginapan itu, sedangkan Ayodya Putri dan Sekar Ratih hanya melihat mereka dan ikut mencuri dengar,
"Paman.. jika kami tidak salah tebak, pasangan suami istri yang paman ceritakan tadi adalah ayahnda Wisanggeni dan ibunda Rengganis. Sedangkan putrinya bernama Parvati, gadis muda itu adalah adik saya paman.. kenalkan nama saya Chakra Ashanka, dan ini teman saya Bhadra Arsyanendra. Kedua gadis itu adalah Ayodya Putri dan Sekar Ratih.." setelah laki-laki tua itu selesai menyampaikan ceritanya, Chakra Ashanka memberikan tanggapan.
Mata laki-laki tua pemilik penginapan itu tampak berbinar, tampak kebahagiaan tersirat dalam pandangan matanya. Laki-laki itu tidak menyangka, jika hanya dalam waktu singkat, akan dapat bertemu lagi dengan keluarga penolongnya.
"Tetapi untuk saat ini, kedua prang tua dan juga adikmu sedang menuju ke padhepokan Ki Bawono. Bukan jalan yang mudah untuk dapat mencapai padhepokan itu, karena memang Ki Bawono dan orang-orangnya lebih suka menyendiri." Chakra Ashanka tersenyum mendengar cerita yang ingin dicari dan diketahuinya itu.
"Ceritakan pada kami paman... arah untuk menuju ke padhepokan Ki Bawono. Kami juga memiliki maksud untuk mengunjunginya.." Chakra Ashanka langsung memotong perkataan laki-laki tua itu.
__ADS_1
********