Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 21 Maharani


__ADS_3

Burung gagak warna hitam berseliweran di angkasa, saat Wisanggeni dan kelompoknya melewati padang rumput yang luas. Semula hanya satu dua yang terbang, tetapi lama kelamaan burung itu bertambah banyak.


"Ayo kita segera mencari tempat bersembunyi.., munculnya ratusan gagak adalah pertanda Alap-alap pencabut nyawa sudah mencari mangsa." teriak Manggala sambil berlari dan mengingatkan teman-temannya.


"Ayo.., di depan ada sekumpulan pohon, kita bisa sementara bersembunyi disana." teriak Suko sambil berlari mengikuti Manggala.


Sentono dengan tertatih-tatih mencoba mengikuti teman-temannya, tetapi dia masih tertinggal. Wisanggeni berada di belakang sendiri mengawal semuanya dari belakang.


"Kookkkk....," terdengar suara burung gagak hampir menyambar Sentono.


"Tiarap Sentono.., tundukkan badanmu." seru Wisanggeni dengan nada tinggi. Dia segera melempar pisau belati ke arah burung itu.


"Buk.." suara bangkai burung gagak terjatuh di tanah, terkena lemparan pisau Wisanggeni. Sentono tampak pucat, karena sedikit saja dia akan terkena sambaran burung gagak tersebut.


Niluh dan Gayatri berlari mencoba menyelamatkan diri tanpa sempat melihat kanan kiri, di belakangnya kelompok Suko mengikuti dari belakang. Akhirnya mereka dengan cepat bisa sampai di rerimbunan pohon yang besar.


"Semua cepat masuk ke rerimbunan..., burung-burung itu bisa berjam-jam terbang diatas sana untuk mengawasi siapa yang bisa dijadikan mangsa." Manggala kembali mengingatkan teman-temannya.


Sesampainya di balik rerimbunan pohon, ternyata banyak orang yang sudah bersembunyi disana. Wisanggeni dan lainnya menggenggam kedua tangan mereka dan meletakkan di depan dada, untuk memberi salam pada mereka.


"Masuklah lebih ke dalam Kisanak.., terlalu berbahaya jika kamu dan kelompokmu berada di pinggir rerimbunan." seorang bapak-bapak separuh baya mengingatkan mereka.


Sejenak Wisanggeni teringat akan ayahndanya, tetapi dengan cepat dia membuang pikiran itu. Dia kemudian mengajak rombongannya untuk lebih masuk ke dalam.


Niluh dan Gayatri menyandarkan kepalanya pada bebatuan besar yang banyak terdapat disitu.


"Itu tadi burung gagak apaan Suko.., kenapa semua orang bersembunyi tidak menyerang dan membunuh burung-burung itu?" Wisanggeni bertanya pada Suko.


"Itu bukan burung gagak biasa Wisang. Kamu tadi sudah membunuh satu burung gagak tersebut. Aku khawatir, Alap-alap akan mencarimu. Aku hanya menyarankan, sembunyikan kekuatanmu untuk sementara." Manggala membantu Suko menjelaskan.

__ADS_1


Tiba-tiba bapak-bapak separuh baya melempar sebuah bungkusan kertas pada Wisanggeni.


"Ini bungkusan apa sesepuh?" tanya Wisanggeni dengan sopan.


"Balurkan ke seluruh tubuhmu, itu akan membantumu untuk menyembunyikan bau dan kekuatanmu. Kita memang harus bertindak, dan juga harus memilih harus dibunuh atau membunuh." laki-laki paruh baya itu dengan ramah menjelaskan manfaat dari bungkusan itu.


"Terimakasih sesepuh, anda ternyata orang baik." Wisanggeni kembali menaruh dua genggaman tangan di depan dadanya.


Dia kemudian membuka bungkusan itu, dan melihat serbuk putih seperti bedak. Kemudian dia mengambil dengan telapak tangan, dan mengusapkan ke seluruh bagian tubuhnya. Setelah dia selesai, dia membagikan sisanya pada teman-temannya yang lain.


"Kalian pada mau kemana, dan kenapa harus melewati padang rumput ini?" laki-laki paruh baya itu bertanya.


"Kami akan menuju Ke Akademi sesepuh. Kita ini bermaksud untuk melakukan latihan peningkatan kekuatan di pilar kekuatan yang ada di akademi tersebut. Nama saya Wisanggeni, ini Sentono, Suko, Manggala, Cokro, Wiyono, dan Broto sesepuh. Sedangkan yang dua perempuan itu Niluh dan Gayatri." Wisanggeni mengenalkan dirinya beserta teman-temannya.


"Panggil saya Ki Bahar Kisanak. Saya biasa lewat sini sebulan dua kali, karena harus mengantarkan bahan makanan ke pos penjagaan pertama untuk masuk Akademi."


***************


"Aaauwww... tolong." terdengar suara jeritan orang seperti kesakitan.


Wisanggeni langsung membuka matanya, dan dia melihat sekelilingnya. Teman-temannya sedang dalam keadaan tidur semua.


"Tenanglah Kisanak..., pelan-pelan ikuti saya! Itu pasti perbuatan siluman ular yang suka mengganggu perjalanan anak manusia yang bersembunyi disini." tiba-tiba Ki Bahar mengajak Wisanggeni untuk mencari sumber suara.


Wisanggeni mengikuti Ki Bahar berjalan menembus semak-semak, dan kemudian berdiri di atas sebuah batu.


"Keluarlah Maharani..., jangan ganggu mereka!! Mereka hanya sekelompok manusia yang ingin menyelamatkan diri untuk melalui tempat ini." seru Ki Bahar tiba-tiba.


"Hi..hi..hi..., kamu lagi, kamu lagi Bahar. Kenapa kamu selalu mengganggu kesenanganku, aku hanya ingin mengajaknya bermain. Jangan ganggu aku!" terlihat seorang perempuan cantik sedang memegang seorang laki-laki yang tampak kesakitan.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak mencari kesenangan pada Alap-alap yang selalu mengganggu perjalanan kami. Tolong lepaskan orang itu, ingatlah bahwa orang itu ada yang menunggunya di rumah. Ada orang tuanya, istrinya atau bahkan anak-anaknya." Ki Bahar mencoba menyadarkan Maharani.


"Ssssshh..." tiba-tiba Wisanggeni mendengar suara desis ular tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dia langsung mengambil sikap siaga, tetapi suara desisan ular terdengar semakin banyak di sekitarnya.


"Ciattt.., cetar.." tiba-tiba Ki Bahar melemparkan serangan ke ular-ular yang sudah banyak di sekeliling mereka.


"Ssssshh...sssshhh.." tetapi serangan itu tidak berarti apa-apa bagi mereka. Ular-ular malah semakin banyak berkumpul di sekitar mereka.


Maharani melemparkan tongkat ke arah Ki Bahar, dan karena konsentrasi laki-laki paruh baya itu terpecah, tongkat itu langsung telak memukul dadanya.


"Ki Bahar..." seru Wisanggeni memanggil laki-laki yang sudah menolongnya itu.


"Tolong..,, tolong..." di belakang mereka, Wisanggeni mendengar jeritan minta tolong.


"Selamatkan mereka Wisang.., tinggalkan aku disini." dengan terbata-bata Ki Bahar meminta Wisanggeni untuk menyelamatkan yang lain.


Wisanggeni melihat ke arah Maharani yang tersenyum sinis, dan ratusan ular yang ada di depannya. Tetapi laki-laki muda itu merasa heran, sedikitpun dia tidak memiliki rasa takut pada ular-ular itu.


"Maharani..., bebaskan orang-orang itu. Jangan paksa aku untuk menghabisi bala tentaramu!" teriak Wisanggeni mencoba mengajak berdamai dengan wanita ular itu.


Dia tidak mungkin meninggalkan Ki Bahar disini sendiri dengan Maharani, tetapi dia juga tidak bisa membiarkan banyak orang yang tidak bersalah menjadi korban keganasan ular-ular tersebut.


"Hi..hi..hi..., kamu anak kecil, berani memerintahku? Sancaka serang anak muda itu!" Maharani memanggil anak buahnya.


Cahaya kemerahan melesat ke arah laki-laki muda itu, dan tiba-tiba dia mengangkat telapak tangannya untuk menangkis serangan itu. Cahaya ungu berbentuk kepala ular tiba-tiba muncul dalam telapak tangannya. Dan yang membuat Wisanggeni terkejut, Maharani yang semula arogan untuk menyerangnya tiba-tiba jatuh terduduk dan bersimpuh di depannya.


Semua ular yang menyerang orang-orang yang bersembunyi di rerimbunan, berkumpul dan dengan penuh takzim memberikan penghormatan pada Wisanggeni. Ki Bahar melihat laki-laki muda di depannya, dan tampak takjub melihat kepala ular berwarna ungu muncul di telapak tangannya.


"Mustika Nabau..." ucap Ki Bahar lirih.

__ADS_1


***********


__ADS_2