
Tiba-tiba seorang laki-laki dengan mengenakan penutup muka melakukan lompatan secepat kilat ke tempat tersebut. Dia menyambar badan Tumbak Seto pemimpin kelompok Alap-alap pada cabang Baturetno, dan membawanya pergi dari lokasi pertempuran.
Di sisi lain, api besar dan sangat panas membakar kulit Wisanggeni, bahkan wajah sama kulitnya tidak dapat dikenali. Kepala Wisanggeni sudah berubah hampir menjadi seperti tengkorak, dan laki-laki muda itu dalam keadaan tidak sadar karena dia mengalami pingsan. Dia terlihat memejamkan matanya. Tidak menunggu waktu lama, kulitnya sudah melepuh karena panas yang tinggi, dan bau daging bakar menyeruak di sekitar itu.
"Akang.., kita harus segera meninggalkan tempat ini! Lihatlah semua bangunan sudah terbakar habis, aku khawatir sebentar lagi tempat ini akan meledak." terdengar teriakan Atmojo memperingatkan Sudiro.
"Tapi bagaimana dengan keadaan Wisanggeni, apakah kita akan meninggalkannya di tempat ini Dimas?" Sudiro menjawab Atmojo, matanya tanpa berkedip melihat api besar yang melahap tubuh Wisanggeni. Dia tidak berani untuk mendekat apalagi membawa putra bungsu dari Klan Bhirowo itu untuk menyelamatkan diri.
"Sepertinya kita tidak mungkin bisa untuk menyelamatkannya Kakang, lihatlah api yang sudah membuatnya menjadi daging bakar. Jika kita tidak segera meninggalkan tempat ini, aku khawatir Kakang, kitalah yang akan menjadi korban untuk selanjutnya." seru Atmojo semakin cemas.
"Brakk." atap bangunan di depan mereka berdua berdiri ambruk ke tanah. Asap hitam langsung membubung tinggi.
"Pletak..., Prang.." secepat kilat, Atmojo menarik tangan Sudiro dan langsung membawanya berlari meninggalkan tempat itu.
Tidak menunggu waktu lama, bangunan yang semula menjadi markas besar Alap-alap ambruk dan rata dengan tanah. Asap hitam terlihat terbawa angin menjauh dari tempat itu. Sudiro dan Atmojo sudah jauh berlari meninggalkan tempat tersebut, air mata menetes di kelopak mata Sudiro. Dia tidak menyangka, mereka akan menjadi seorang laki-laki pengecut yang tidak mampu membawa Wisanggeni untuk pergi dari tempat itu.
*************
Satu persatu orang-orang yang masih selamat, meninggalkan markas untuk menyelamatkan dirinya. Markas Alap-alap di puncak Gunung Baturetno menjadi sepi setelah ditinggalkan penghuninya. Asap hitam masih terlihat membubung tinggi dan terbawa angin di tempat itu. Di bekas arena pertempuran antara Tumbak Seto dengan Wisanggeni masih menyisakan api yang terlihat merah membara. Api itu membakar habis tubuh putra bungsu Ki Mahesa.
Setelah tempat itu benar-benar sepi, tiba-tiba dari api yang membakar Wisanggeni muncul sinar ungu tua yang menembus keluar dari api merah. Setelah beberapa saat sinar ungu tua itu bersinar, tanah yang ada di dekat lokasi pertempuran tiba-tiba membelah.
__ADS_1
"Sssh..., ssssh..., sssshh.." terdengar suara desis ular yang sangat kencang memenuhi wilayah itu.
Tidak lama kemudian keluarlah seekor naga besar dengan kepala seorang wanita cantik dengan tampilan memikat. Maharani ratu ular muncul di tempat itu, secepat kilat naga besar itu bergegas menembus kobaran api. Kemudian naga itu membelit tubuh Wisanggeni yang sudah berubah menjadi arang membara, kemudian membawanya pergi dengan memasuki tanah kembali. Setelah Maharani pergi membawa Wisanggeni, tanah kembali menutup dengan sendirinya. Wilayah itu kembali sepi, tidak ada manusia satupun.
***************
Di tempat lain,
Setelah menurunkan Ki Mahesa beserta Niken Kinanthi dan Rengganis di padhepokan milik paman Niken Kinanthi, Singa Ulung terlihat gelisah. Dia berjalan meninggalkan mereka, dan binatang itu menyendiri. Matanya tampak redup, binatang itu tampak seperti kehilangan seseorang.
"Singa Ulung.., apakah kamu merindukan juraganmu?" tiba-tiba Rengganis datang mengikuti binatang itu. Perempuan muda itu mengelus kepala Singa Ulung, binatang dan sahabat dari kekasihnya Wisanggeni.
Singa Ulung terlihat mengibas-ibaskan ekornya, dan kepalanya di gesek-gesekkan ke arah Rengganis. Binatang itu sudah memiliki kedekatan dan rasa aman berada di sekitar kekasih Tuannya itu.
"Apa yang kamu bicarakan dengan binatang itu Nimas Rengganis?" tiba-tiba terdengar suara Niken Kinanthi mengagetkan perasaan Rengganis. Perlahan, perempuan muda itu membalikkan badannya, dan Niken berjalan lebih mendekat padanya.
"Apakah kamu mengkhawatirkan Kang Wisang Nimas?" tanya Niken Kinanthi kembali. Rengganis menatap Niken Kinanthi, dia menganggukkan kepalanya. Niken Kinanthi meraih Rengganis, kemudian memeluknya.
"Kamu perempuan yang sangat beruntung Nimas Rengganis. Kamu berhasil mengisi hati Kang Wisang, tidak seperti aku yang demikian mudahnya tergiur oleh penglihatan manis dan indah. Akhirnya hanya kesepian dan kebekuan hati yang aku dapatkan," Niken Kinanthi mengutarakan isi hatinya pada Rengganis. Gadis itu juga meneteskan air matanya, dia membayangkan kearoganan di masa lalu yang sudah dia lakukan. Hanya karena kebodohan dan obsesinya, dia dengan arogan sudah memutuskan tali pertunangan secara sepihak. Dan apesnya, tanpa ada pembicaraan apapun, Wisanggeni mengabulkan keinginannya.
"Aku khawatir terjadi apa-apa dengan Kang Wisang.., Niken. Aku tidak dapat berbuat apa-apa di dunia jika tidak ada Kang Wisang di sisiku," ucap Rengganis lirih.
__ADS_1
"Sabarlah dulu Nimas.., kita tunggu Kang Diro dan Kang Atmojo sampai di padhepokan ini dulu. Mereka nanti kita mintai keterangan." sahut Niken Kinanthi menenangkan Rengganis. Meskipun kedua perempuan itu merupakan saingan, karena mereka mencintai seorang laki-laki yang sama, namun dalam keadaan seperti ini mereka pantas untuk rukun.
Dari kejauhan paman Niken Kinanthi, melihat dua perempuan muda yang menangis sambil berpelukan. Tetapi laki-laki tua itu membiarkan mereka, dia berjalan pergi meninggalkan tempat itu.
**************
Tidak lama, berita tentang porak porandanya markas Alap-alap di Gunung Baturetno sudah tersebar kemana-mana. Tidak terkecuali ke tempat tinggal Lindhuaji dan Widjarnarko. Kedua kakak kandung Wisanggeni itu terlihat terpukul dan bersedih. Mereka merasa tidak dapat menjaga adiknya itu, dan bahkan berpikir harusnya tugas untuk menyelamatkan Ki Mahesa merupakan tanggung jawabnya.
"Bang.."
"Prang.."
"Brak.."
Terdengar di halaman belakang suara orang sedang menghancurkan sesuatu dengan mengerahkan kekuatannya. Terlihat Larasati yang tampak marah campur sedih, sedang melampiaskan kekesalannya. Berita tentang hilangnya Wisanggeni di Gunung Baturetno telah menorehkan rasa sakit di hati perempuan muda itu.
"Apa yang kamu lakukan Nimas Larasati?" tanya Lindhuaji dengan suara pelan, membuat perempuan muda itu menghentikan serangannya. Dengan mata berlinang, dia menatap pada Lindhuaji kakak kedua dari Wisanggeni.
Lindhuaji berjalan mendekat ke arah perempuan muda itu, kemudian tanpa diduga dia menarik tangan Larasati kemudian membenamkan kepalanya ke dadanya. Sambil terisak-isak Larasati menangis di dada Lindhuaji.
"Akupun merasakan hal yang sama Nimas.., tapi aku masih berharap. Adikku Wisanggeni masih hidup, dia hanya lagi butuh waktu untuk mengembalikan dirinya." bisik Lindhuaji di telinga Larasati.
__ADS_1
"Iya Kang Aji.., Laras hanya kecewa. Kenapa pada saat penting, aku tidak ikut bersama dengannya Kakang."
****************