
Melalui pengawalan yang diberikan Kapak Berdarah, Wisanggeni dan Rengganis tidak memiliki hambatan apapun untuk mendatangi kuburan Ki Widjanarko. Dengan tatapan kejamnya, Kapak berdarah bisa menyingkirkan roh-roh disitu untuk menjauh dari mereka. Di depan sebuah cungkup yang tampak megah, Kapak Berdarah berhenti kemudian membalikkan badannya.
"Anak muda.., aku tidak dapat menemanimu untuk masuk ke dalam. Masuklah berdua dengan pasanganmu.., aku akan kembali melakukan penjagaan pemakaman ini di areal depan." Kapak Berdarah dengan pandangan bersahabat meminta undur diri.
"Sudah sangat besar bantuanmu Ki Sanak.., hanya ucapan terima kasih yang bisa kami haturkan untukmu." Wisanggeni mengangkat kedua telapak tangannya dan mengepalkan di depan dadanya, sebagai bentuk ucapan terima kasih atas bantuan Kapak Berdarah.
Kapak Berdarah mengangkat tangannya, kemudian berjalan meninggalkan mereka berdua. Wisanggeni menoleh pada Rengganis, untuk mengajak kekasihnya itu masuk ke dalam cungkup.
"Temani aku Nimas..., aku akan mengenalkanmu pada leluhurku!" kata Wisanggeni sambil tersenyum.
"Tapi.., apakah leluhur Kang Wisang akan bisa menerimaku? Kita belum terikat hubungan resmi Akang." Rengganis merasa ragu-ragu menerima ajakan itu. Wisanggeni langsung menarik perempuan itu, kemudian membawanya dalam pelukan.
"Ikatan apa yang kamu maksudkan Nimas..? Apakah kamu belum merasa yakin dengan sikapku. Ikatan pengesahan hanya merupakan pengakuan resmi di mata masyarakat, bagiku saat ini, kamu sudah menjadi pendampingku untuk selamanya." ucap Wisanggeni mantap, sambil mengelus rambut Rengganis dari belakang kepalanya.
Rengganis meletakkan wajahnya di dada laki-laki muda itu, perlahan laki-laki itu mengangkat wajah Rengganis kemudian menatapnya. Sebuah ciuman lembut diberikan Wisanggeni di bibir Rengganis, setelah beberapa saat kemudian laki-laki itu melepaskannya. Ibu jarinya digunakan untuk mengusap bibir Rengganis yang sedikit membengkak.
Kedua orang itu kemudian mulai menaiki tangga batu kecil untuk memasuki areal dalam cungkup. Melihat torehan tinta emas tertulis di salah satu kuburan disitu, rasa sesak haru melingkupi dada Wisanggeni. Laki-laki itu langsung terduduk bersimpuh di depan makam, dan meletakkan dahinya di nisan leluhur Klan Bhirawa itu. Rengganis yang ada disana, mengikuti apa yang dilakukan oleh Wisanggeni.
"Klang...., grusakkk.., blang." terdengar suara kencang dan bergemuruh. Tidak lama sebuah guncangan hebat melanda cungkup itu. Dengan sigap, Wisanggeni meraih dan memeluk Rengganis di dadanya. Mereka berdua merasa jatuh di kedalaman, dan sesaat kedua orang itu kehilangan kesadaran.
**************
__ADS_1
Wisanggeni perlahan membuka matanya karena sinar matahari yang menembus matanya yang terpejam. Sesaat laki-laki muda itu merasa bingung, tetapi dia melihat Rengganis yang juga masih tertidur di dalam pelukannya.
"Ada dimanakan aku dan Rengganis??" laki-laki muda itu mencoba mengingat-ingat apa yang sudah dilakukannya sebelum berada di tempat ini.
"Bukannya aku merasa terakhir kali, aku dan Rengganis berada di dalam cungkup kuburan kakek leluhur Ki Widjanarko. Kenapa sekarang, aku dan Rengganis malah tidur di tempat ini. Tempat apakah ini?" Wisanggeni bergumam sendiri.
"Ehmmm.., aahh.." tiba-tiba Wisanggeni merasakan gerakan bangun dari perempuan yang berada di pelukannya. Mata Rengganis pperlahan mengerjap, dan tatapannya bertemu dengan tatapan Wisanggeni yang ada di depannya.
"Kamu sudah bangun Nimas.." tanya laki-laki muda itu dengan lirih.
Rengganis tersenyum, tapi gadis itu segera melepaskan pelukannya pada Wisanggeni. Seperti pada saat pertama kali Wisanggeni terbangun, perempuan itu juga mengalami kebingungan.
"Ada dimana kita sekarang Akang?? Bukannya...," jari tangan Wisanggeni menutup bibir Rengganis, mencegahnya untuk terlalu banyak bicara. Dengan tatapan penuh pertanyaan, Rengganis meminta penjelasan.
Wisanggeni kemudian mengajak Rengganis berdiri, keduanya kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling. Mereka berdua sedang berada di sebuah taman bunga, tampak kolam ikan dengan pancuran air bergemericik, dengan beberapa ekor ikan yang berenang di dalamnya. Mereka berdua saat ini berdiri di depan sebuah gazebo..
"Bagaimana jika kita menuju ke pondok itu Akang? Semoga ada orang lain disitu, sehingga kita bisa menanyakan pada mereka dimana keberadaan kita sekarang." Rengganis menunjuk sebuah pondok kayu yang berada tidak jauh dari situ.
Kedua manusia itu akhirnya berjalan sambil bergandengan tangan dengan penuh kewaspadaan, mereka mulai mendekati pondok yang ada di akhir kebun bunga itu.
"Permisi.., apakah ada orang di dalam?" perlahan Rengganis meminta ijin untuk memasuki pondok itu. Karena tidak ada jawaban, Wisanggeni menarik Rengganis untuk mengajaknya masuk.
__ADS_1
Setelah masuk ke dalam, yang ternyata pondok kayu itu seperti sebuah gerbang, di dalam pondok kayu ternyata masih ada sebuah taman yang indah. Mereka terus menyusuri ruangan demi ruangan, tetapi tetap tidak menemukan siapapun di dalam.
"Akang..., coba lihatlah di atas sana! Seperti ada sebuah buku kitab yang ada di atas meja." mata Rengganis tiba-tiba menangkap penampakan sebuah kitab kuno. Dengan sikap waspada, Wisanggeni menghampiri kitab kuno tersebut, dan ternyata kitab itu kosong tidak terdapat tulisan apa-apa. Pada halaman terakhir, dahi Wisanggeni berkerut, dia menemukan sebuah bungkusan kecil. Perlahan laki-laki muda itu mengambil bungkusan tersebut, kemudian mengamatinya.
"Tulisan apa ini?" gumam Wisanggeni ingin tahu.
Rengganis menghampiri laki-laki itu.
"Kita buka saja Akang..., agar kita segera mengetahui apa makna yang ada di dalamnya!" Wisanggeni menuruti ajakan Rengganis, perlahan tangannya dengan sedikit bergetar membuka bungkusan yang ternyata berisi daun lontar.
"MAJULAH KE DEPAN TUJUH KALI. HENTAKKAN KAKI TIGA KALI SAMBIL MEMEJAMKAN MATA!" sebuah perintah tertulis dengan menggunakan huruf kapital. Wisanggeni dan Rengganis langsung bertatapan, kemudian Rengganis tersenyum.
"Bagaimana jika kita ikuti perintah ini Akang, Rengganis yakin ada maksud di dalamnya?" Rengganis bertanya pada Wisanggeni.
"Baiklah Nimas.., ayo kita ikuti. Pegang tangan Akang, jangan berada jauh-jauh dariku!" Wisanggeni dan Rengganis kemudian mengikuti perintah yang ada pada tulisan di daun lontar tersebut. Mereka maju ke depan tujuh kali, kemudian sambil memejamkan mata mereka menghentak kaki sebanyak tiga kali.
Sejenak pikiran mereka terasa melayang, mereka merasakan sebuah angin sejuk menghembus ke arah mereka.
"Bukalah matamu Ki Sanak!! Aku ingin tahu.., siapa yang sudah berani memasuki istanaku ini." terdengar suara tegas berwibawa dari seorang laki-laki tua.
Wisanggeni dan Rengganis mengikuti ucapan itu, perlahan keduanya membuka matanya. Tiba-tiba mata mereka berbinar, mereka melihat sebuah istana megah seperti istana kerajaan. Duduk di singgasana seorang laki-laki tua dengan pandangan dan wajah yang bersinar. Aura keteduhan muncul di wajah laki-laki tua itu..
__ADS_1
"Ampuni kami sesepuh.., tanpa ada ijin kami berdua bisa tersasar di tempat ini!" Wisanggeni dengan sopan meminta maaf pada laki-laki tua tersebut.
******************