Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 168 Olahraga Sore


__ADS_3

Aura kemarahan dengan cepat menguasai laki-laki itu, matanya merah dengan tajam menghunus ke Maharani. Tetapi perempuan muda itu, sedikitpun tidak merasa takut apalagi gentar. Dengan berani Maharani menatap balik pada dua orang kakak beradik yang sudah berani menindasnya. Dari dalam penginapan, hanya orang melihat pertarungan itu dengan bersorak-sorai. Wisanggeni mengukur kekuatan istrinya masih mampu untuk menghalau kedua orang itu, sehingga laki-laki itu hanya menonton dari pinggiran penginapan.


"Perempuan ******..., kamu belum tahu siapa nama keluargaku. Tunggulah kamu akan dirajam oleh orang-orang dari Tlatah Kulon." sambil memainkan pisau di tangannya, laki-laki itu berbicara dengan Maharani.


"Heh.., tutup mulut kotormu itu. Kelakuan kalian tidak mencerminkan sikap terpelajar dari sebuah keluarga terpandang. Apa kamu pikir.., aku akan mundur teratur hanya mendengar omong kosong mu itu?" sambil mencibir, Maharani menanggapi perkataan menyebalkan dari orang-orang angkuh itu.


"Mari kita lakukan serangan secara bersama-sama kakang. Kita beri pelajaran pada gadis sombong ini. Bluarr..." sebuah bola api tiba-tiba dilemparkan oleh perempuan itu.


Maharani tersenyum, dia hanya menganggap kedua cecunguk itu menjual kata di depannya.


"Clap..." pisau yang dipegang laki-lakinya itu tanpa diduga menyerempet baju di lengan kanan Maharani. Setitik kain ikut robek karenanya. Tatapan kemarahan seketika mewarnai wajah manusia keturunan ular itu.


"Ternyata kalian memang tidak bisa hanya dianggap main-main." Maharani berseru dengan geram.


Gadis itu melompat dengan sangat gesit, bahkan mata memandang tidak bisa melihat gerakan itu.


"Aaaaakh... awwwww.." gadis itu berteriak kesakitan.., sabetan ekor ular seperti meremukkan tulang-tulangnya. Seketika gadis itu terjatuh ke tanah.


"Kurang Ajar... kekuatan Paser bumi..." melihat adiknya berteriak kesakitan, laki-laki itu mengirimkan kekuatan pada Maharani.


Pusaran angin berisi tanah tampak berputar-putar di halaman. Orang-orang langsung berlari ketakutan menyembunyikan diri. Pohon-pohon yang terkena pusaran angin bertumbangan. Dari pinggir penginapan, tanpa diketahui orang, Wisanggeni menggunakan aura tenaga dalamnya membuat sebuah tirai perlindungan. Tidak mau merugikan pemilik penginapan, laki-laki itu melindungi pengunjung dari ganasnya serangan dari halaman.


"Apakah kamu berpikir aku akan lari hanya dengan pertunjukan mainan anak kecil itu?" dengan nada sinis, Maharani berkata pada kedua saudara itu. Bibirnya sekali lagi membentuk senyuman sinis.

__ADS_1


Orang-orang terkejut ketika melihat Maharani langsung melompat, tubuhnya menyerupai seekor ular naga yang membelit pusaran tanah itu. Tanpa ampun, belitan cepat tubuh Maharani menghancurkan pertahanan pusaran angin dan tanah. Sedikit demi sedikit pusaran itu buyar, dan setelah beberapa saat, laki-laki itu jatuh ke tanah dengan tubuh lemas. Darah mengalir dari sudut bibirnya.


"Ul... ular..., kamu siluman ular.." dengan wajah pucat dan tidak bisa dikenali, laki-laki itu menunjuk Maharani sambil bicara menceracau. Adik perempuan laki-laki itu dengan kondisi yang tidak jauh beda, berjalan dengan tengkurap mendatangi kakak laki-lakinya yang terluka parah.


"Hentikan seranganmu Nimas..., kamu sudah cukup memberinya pelajaran. Mundurlah... kita harus segera istirahat." menggunakan telepati, Wisanggeni meredakan kemarahan Maharani.


Mendengar perkataan Wisanggeni, perlahan hari Maharani kembali menjadi tenang. Raut wajah kemerahan perlahan memudar, dan gadis itu dengan cepat menyesuaikan diri menjadi seorang perempuan muda yang menarik. Dengan penampilannya yang menarik mata laki-laki untuk melihatnya, Maharani bergegas meninggalkan dua orang yang terluka parah itu. Senyuman dan tepuk tangan menyambut kedatangan gadis itu.


*******


Malam hari tampak keramaian di tempat makan yang ada di samping penginapan itu. Mereka membicarakan pertarungan yang terjadi sore tadi antara Maharani dengan dua orang, yang akhirnya dimenangkan oleh Maharani. Seorang laki-laki bermata tajam, mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat makan. Meskipun terlihat dia hanya diam tidak melakukan apapun, tetapi telinganya menyerap dengan baik pembicaraan yang ada di sekitarnya.


"Tetapi anehnya, gadis muda yang sangat cantik itu berubah seperti seekor naga. Matanya merah menyala, tetapi sedikitpun gadis itu tidak terluka." seseorang yang menyaksikan pertarungan tadi sore bercerita pada temannya yang lain.


"Tidak juga, tetapi gadis itu cepat sekali membelit dan mengitari tubuh kedua orang itu. Bahkan tubuhnya menari seperti seekor naga atau ular mengejar mangsanya." lanjut orang itu.


Obrolan orang-orang itu seketika terhenti, ketika melihat orang yang mereka bicarakan sedang bergayut intim di pundak seorang laki-laki yang juga terlihat tampan dengan tubuh yang tegap. Suasana tenang tiba-tiba melingkupi tempat itu. Laki-laki yang sejak tadi hanya diam itu, melihat ke arah dua orang yang menjadi obrolan pembicaraan.


"Nimas.., kita duduk di pojok sana saja. Tempat itu masih kosong.." Wisanggeni mengajak bicara pada Maharani.


"Baik Akang.., Nimas ikut saja tempat yang sudah Akang pilih." Maharani mengiyakan usulan suaminya. Keduanya segera menuju tempat kosong di pojok ruangan. Seorang pelayan tergesa-gesa mengikuti kedua orang itu, karena kebetulan tadi sore dia juga melihat pertarungan yang dilakukan oleh Maharani dan dua orang yang apes itu.


"Duduklah dulu Nimas.." Wisanggeni menarik kursi untuk digunakan sebagai tempat duduk Maharani. Perempuan itu segera duduk di kursi yang sudah disiapkan oleh suaminya. Setelah melihat istrinya duduk, Wisanggeni segera menarik kursi untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


"Den Bagus.., den ayu... menu apa yang harus kami sediakan untuk kalian berdua?" dengan penuh kesopanan, pelayan tempat makan itu bertanya pada mereka.


"Siapkan dulu camilan dan wedang panas dan hangat untuk kami Ki Sanak. Untuk makanannya, Ki sanak bisa menyajikan makanan andalan di warung makan ini." tidak tahu makanan apa yang mereka jual, Wisanggeni menjawab pertanyaan pelayan itu.


"Baiklah.. mohon Den bagus dan den ayu untuk menunggu. Saya permisi dulu." setelah membungkukkan badannya, pelayan itu segera meninggalkan Wisanggeni dan Maharani.


Wisanggeni mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, tiba-tiba laki-laki itu merasakan fluktuasi tenaga dalam yang ditekan dari arah tempat duduk laki-laki misterius itu. Tatapan mata Wisanggeni difokuskan pada laki-laki yang duduk sendiri dulu itu.


"Sepertinya ada orang yang ingin mencari masalah di ruangan ini." bisik pelan Wisanggeni pada Maharani.


"Iya Akang..., akupun merasakan kekuatan itu." Maharani juga merasakannya.


"Jangan ambil tindakan apapun, sepertinya kekuatannya lumayan tinggi. Jika sampai laki-laki itu mengirimkan serangan ke kita. Akang yang akan melayaninya, Nimas kembali ke penginapan saja." karena mengkhawatirkan keadaan Maharani, Wisanggeni memintanya untuk tidak mengambil tindakan apapun.


"Baik Akang..."


Tidak lama menunggu, pesanan mereka sudah diantarkan oleh pelayan ke meja mereka. Sambil tersenyum mereka melihat pelayan itu meletakkan pesanan mereka.


"Silakan dinikmati Den Bagus, den ayu! Jika masih ada yang ingin ditambahkan, dengan senang hati saya akan melayaninya." pelayan mempersilakan kedua orang itu untuk segera menikmati makanannya.


"Baik." ucap Wisanggeni cepat.


********

__ADS_1


__ADS_2