
Selesai menikmati makanan, Narada pamit untuk memberi makan pada kuda, yang membawa mereka ke tempat ini. Terlihat di depan kereta kuda, dua orang dengan penampilan yang mencurigakan sedang mengamati kereta tersebut, dan mengintip ke dalam kereta untuk mengetahui isi barang-barang di dalamnya. Melihat orang-orang tersebut, Narada mendatangi keduanya dan menepuk punggung laki-laki tersebut.
"Ada apa ki Sanak.. apakah ada yang menarik dengan kereta kuda kami...?" dengan suara pelan, Narada menegur kedua orang itu.
"Hiyat... pang..., pang..." merasa kaget, dengan tak terduga kedua orang itu reflek mengirimkan serangan pada Narada. Untungnya Narada sedang berada dalam posisi siaga, dengan cepat laki-laki itu melompat ke samping menjauh dari Narada. Dengan tatapan tajam, mata kedua orang itu melihat ke arah Narada dengan tatapan menghunus.
"Saya bertanya baik-baik, kenapa Ki Sanak malah mengirim serangan kepada saya. Apakah ada yang keliru dari sikap saya?" dengan pura-pura polos, Narada bertanya pada kedua orang itu dengan sopan.
"Ha..., ha..., ha..., dasar bocah ingusan. Jatmiko..., hari ini kita mendapat mangsa yang empuk. Kita bisa merampas barang-barang yang ada di dalam kereta, aku yakin tidak akan ada orang yang berani untuk mengganggu kemerdekaan kita. Ha..., ha..., ha..." dengan tertawa terbahak, satu dari dua orang tersebut mengajak bicara temannya yang satu. Narada tersenyum menanggapi mereka, tangan kanannya sudah dalam posisi menggenggam, untuk menahan serangan jika kedua orang itu akan kembali mengirimkan serangan kepadanya.
Benar seperti dugaan Narada, kedua orang itu langsung berpencar menghadang Narada yang masih bersikap tenang. Dari kejauhan, di kedai makan, Ki Mahesa memberi kode pada Widjanarko dan Kinara untuk tidak ikut campur dengan urusan Narada. Laki-laki tua itu yakin, jika Narada akan mampu menghadapi kedua orang itu dengan berani. Meskipun hanya pengemudi kereta kuda, di Trah bhirawa setiap orang dibekali dengan ilmu kanuragan, untuk berjaga-jaga terhadap kemungkinan adanya bahaya seperti itu.
"Eyang..., apakah tidak ada yang akan membantu paman Narada.., kasihan paman sedang diganggu oleh dua orang itu?" dengan polosnya, Ahimsa menanyakan hal itu pada kakeknya.
"Tidak cucuku.., paman Narada akan mudah mengatasi dua orang itu. Mereka hanya seperti sebuah bambu yang kosong, yang jika dipukul akan nyaring bunyinya. Akan berbeda jika orang itu memiliki kanuragan yang tinggi, dia akan menundukkan jati dirinya seperti buliran padi di sawah." sambil tersenyum, Ki Mahesa menjelaskan pada cucunya itu. Ahimsa menganggukkan kepala tanda memahami apa yang dikatakan oleh kakeknya.
__ADS_1
Kinara dan Widjanarko saling berpandangan mendengar bagaimana Ki Mahesa memberi pelajaran pada putra mereka. Di dekat kereta kuda, Narada menatap dua laki-laki itu dengan berani. Mata kedua orang itu merah menyala, menunjukkan kemarahan pada dirinya.
"Blamm..., blammm..." dengan mudah Narada menangkis serangan yang dikirimkan oleh dua orang itu hanya menggunakan tangan kosong. Tanpa disadari oleh dua orang itu, kaki kanan Narada menyepak sebuah batu kecil ke atas, dan dengan menyipitkan matanya mengisi batuan kecil itu dengan kekuatan energinya, kemudian..
"Blasss..., aawww....." tidak diduga, tiba-tiba kedua orang pengganggu itu berteriak kesakitan. Keduanya langsung berlari meninggalkan tempat itu. Tepuk tangan bergemuruh di tempat itu, memberi selamat pada Narada yang berhasil dengan mudah mengusir kedua pengganggu itu.
**********
Dalam perjalanan kembali..
"Eyang.., ternyata sangat menyenangkan pemandangan di skeitar sini kakek. Lihat eyang..., gunung yang ada di depan kita itu..?" tangan kecil Ahimsa menunjuk ke arah gunung yang berdiri tegak di depan mereka. Ki Mahesa tersenyum, kemudian laki-laki itu menjawab perkataan Ahimsa.
"Di balik gunung itu padhepokan paman Wisanggeni berada Himsa. Setelah beberapa malam perjalanan, kamu akan bisa bertemu dengan adikmu Chakra Ashanka yang saat ini sedang terbaring sakit." ucap Ki Mahesa lirih.
"Sakit...??? Kata ibunda juga demikian eyang..., ibunda mengatakan jika saudara sepupu Ahimsa sedang menderita sakit, dan membutuhkan waktu untuk beristirahat memulihkan kembali tenaganya." ucap Ahimsa dengan polosnya. Ki Mahesa tersenyum, laki-laki itu mencoba menenangkan hatinya yang sedang bergemuruh. Ki Mahesa berharap, keadaan yang saat ini dihadapi oleh cucunya sama seperti yang telah dikatakan oleh Kinara, jika cucunya sedang menjalani semedi pati, untuk melahirkan kekuatan baru dari dalam dirinya.
__ADS_1
"Kenapa eyang jadi melamun..., apakah ada yang salah dengan pertanyaan Ahimsa Eyang..?" tiba-tiba Ki Mahesa dikejutkan dengan suara Ahimsa. Laki-laki itu kemudian kembali menyesuaikan dirinya, dan tersenyum sambil melihat ke arah cucunya Ahimsa.
"Eyang kakung tidak melamun Ahimsa.., Eyang sepertinya terpukau dengan panorama alam yang ada di depan kita. Coba.., jika kita hanya bertahan di kota Laksa, apakah kita akan dapat menemukan panorama seindah ini." menyadari kekikukan Ki Mahesa, dengan cepat Narada mengalihkan pembicaraan untuk memberi kesempatan pada Ki Mahesa untuk menguasai dirinya kembali.
"Iya paman Narada..., Ahimsa bersyukur bisa mengikuti perjalanan ini bersama dengan eyang, ayahnda dan ibunda serta paman Narada. JIka hanya berada di kota Laksa, mustahil Ahimasa mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan pemandangan alam seindah ini.":dengan gaya dan logat polosnya, Ahimsa menanggapi perkataan Narada. Laki-laki itu tersenyum, dan kembali mengarahkan tatapan matanya ke depan jalan yang mereka lalui.
"Paman..., lihatkan di sisi selatan. Di depan gunung itu terlihat ada pelangi yang indah.." tiba-tiba teriakan Ahimsa kembali mengagetkan Narada,. Ki Mahesa tersenyum melihatnya..
"Iya Ahimsa... itu menandakan jika meskipun terlihat panas, tetapi di depan pelangi itu terjadi hujan. Makanya terbentuk sebuah pemandangan yang indah di sebelah sana." kembali Narada menjelaskan pada Ahimsa, dan terlihat anak itu menganggukkan kepala memahami apa yang dijelaskan oleh Narada.
Terlalu lama mereka dalam perjalanan darat, tiba-tiba langit mulai gelap yang menandakan jika malam akan segera tiba. Narada melihat ke arah Ki Mahesa, karena dari tadi dia belum menemukan sebuah penginapan, sehingga belum bisa menghentikan kereta kudanya.
"Ki.., malam sudah akan turun. Akankah kita tetap melanjutkan perjalanan, atau kita akan beristirahat di tepi hutan ini?" dengan tatapan khawatir, Narada bertanya pada Ki Mahesa.
"Teruslah berjalan mengendalikan kereta kuda Narada. Jika kita capai, maka kita hentikan kereta kuda, dan kita istirahat di atas kereta kuda. Tetapi jika masih kuat, kita akan lanjutkan perjalanan kita." menyadari kesulitan Narada, Ki Mahesa meminta laki-laki itu tetap melanjutkan perjalanan ke depan.
__ADS_1
***********