Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 130 Serangan Awal


__ADS_3

Mengetahui jika Sentono dan Gayatri masih berada di perguruan itu, Wisanggeni dan Rengganis memutuskan untuk istirahat sebentar di pondok yang ada di dalam Akademi. Sesekali mereka melihat, murid-murid senior yang sudah bergabung dengan anak-anak muda dari Trah Jagadklana berseliweran di sekitar situ. Wisanggeni melarang Rengganis untuk berhadapan mereka, melihat bayi yang dikandung istrinya akan segera dilahirkan.


Ditemani laki-laki yang tadi bertemu dengan mereka, yang memiliki nama Condro.. Wisanggeni diajak ke sebuah tempat yang mirip dengan reruntuhan. Setelah mereka masuk ke dalam, ternyata tempat itu merupakan tempat aktivitas dan persembunyian para murid yang berseberangan dengan murid dari Trah Jagadklana. Mereka mau kembali ke tempat daerah asal, mereka tidak memiliki cukup muka untuk bertemu kembali dengan sanak saudara mereka.


"Condro.., siapa yang kamu bawa itu?? Sangat berbahaya untuk keberadaan kita, jika orang-orang itu sampai tahu kalau kita bersembunyi disini." terdengar seseorang menegur Condro.


Condro segera mendatangi mereka, kemudian mereka terlibat pembicaraan serius. Kemudian..


"Masuklah Wisanggeni.., ada yang ingin kami perlihatkan padamu." Condro mengajak Wisanggeni lebih masuk ke dalam, orang yang tadi memberi teguran ikut bersama dengan mereka.


"Swosshh..., blaam.." terdengar sebuah serangan di tempat yang akan didatangi Wisanggeni dan mereka. Wisanggeni memandang Condro, dan laki-laki itu hanya tersenyum. Mereka terus berjalan, dan ketika sampai di sebuah tanah kosong..


Beberapa orang terlihat sedang berlatih, dan ada beberapa orang yang menunggu dan mengawasi mereka.


"Sentono.." dengan suara pelan, Wisanggeni memanggil saudaranya dari Klan Mahesa. Laki-laki itu terlihat lebih kurus, tetapi tampak kulitnya menjadi lebih kuat. Sentono memandang ke arah Wisanggeni, kemudian..


"Wisang.., benarkah itu kamu?" Sentono langsung melompat menghampiri Wisanggeni. Kedua orang itu akhirnya berpelukan, dan orang-orang yang berada disitu melihat interaksi mereka dengan penuh tanda tanya.


Sentono kemudian mengajak Wisanggeni untuk masuk ke dalam. Mereka duduk di atas kursi tua yang ada di tempat itu.


"Beginilah keadaan kami sekarang Wisang.., seperti kamu lihat. Beberapa waktu setelah perginya dirimu tanpa ada kabar dari Akademi ini, datanglah orang-orang dari Trah Jagadklana. Bukankah Jagadklana adalah Trah dimana Nimas Rengganis berasal Wisang?" Sentono mengajukan pertanyaan pada Wisanggeni.


"Iya Sentono.., tetapi keadaan memang sudah berubah. Perginya Ki Sasmita dengan mengajak orang-orang pilihan bergabung untuk menumpas Gerombolan Alap-alap, ternyata sudah disalahgunakan oleh Laksito. Anak laki-laki putra Wakil Ketua Trah, yang pernah menginginkan Nimas Rengganis untuk menjadi istrinya. Rupanya kekecewaannya tidak dapat mendapatkan Nimas Rengganis, menjadikannya kehilangan akal." dengan tersenyum pahit, Wisanggeni menceritakan tentang Laksito.

__ADS_1


Sentono terdiam, terlihat pikirannya seperti menerawang jauh. Setelah beberapa saat...


"Aku mendengar berita itu Wisang, sebenarnya aku dulu menginginkan untuk bergabung menumpas gerombolan Alap-alap itu. Tetapi keadaan di Akademi, tidak memungkinkan aku untuk pergi meninggalkannya. Kamu juga tahu Wisang, Klan Mahesa kita juga sudah bubar. Beberapa waktu aku baru mendengar jika ada Klan Mahesa baru di kota Laksa." Sentono tersenyum getir.


"Iya Sentono.., Klan Mahesa akulah yang mengumpulkan orang-orang itu. Mereka mengadu nasib dengan menjadi gelandangan di kota Laksa,  dan untungnya aku menemukan mereka. Akhirnya mereka aku kumpulkan, dan mendirikan Klan tersebut di kota Laksa. Karena aku ada urusan, Klan itu dibesarkan oleh Kang Lindhuaji." Wisanggeni menceritakan kebangkitan Klan Mahesa. Kedua orang itu saling bercerita tentang keadaan masing-masing, sampai Wisanggeni melupakan istrinya Rengganis yang menunggunya di pondok.


*************


Condro membawa Rengganis, memasuki reruntuhan bangunan tempat murid-murid bersembunyi dan hidup disitu. Mata perempuan berbadan dua itu bersinar, saat matanya melihat Wisanggeni sedang berbicara serius dengan Sentono. Segera Rengganis berjalan meninggalkan Condro, dan mendatangi Wisanggeni dan Sentono. Melihat kedatangan Rengganis dalam keadaan hamil, Sentono merasa tidak percaya.


"Nimas Rengganis.., benarkah ini kamu?" tanya Sentono tampak kebingungan, matanya beralih melihat ke arah Wisanggeni.


Wisanggeni tersenyum kemudian berdiri, dan memegang pundak Rengganis, kemudian mengajak perempuan itu duduk.


"Turut berbahagia dengan kehamilan Nimas Rengganis. Tinggallah dengan kami disini dulu Wisang.., kami membutuhkan dukunganmu untuk mengambil kembali Pilar Kekuatan. Kami tidak akan dapat pulang kembali ke asal kami masing-masing, tanpa adanya ilmu yang berhasil kami dapatkan." Sentono meminta Wisanggeni dan Rengganis untuk bergabung dengan mereka disini. Merasa malu dengan sikap orang-orang dari trah Jagadklana, Rengganis menyetujui dan akan membantu untuk mengambil kembali Pilar Kekuatan.


***************


Wisanggeni dan Sentono mengendap-endap berjalan menuju Pilar Kekuatan. Mereka ingin mengintip aktivitas apa yang ada di dalam menara tersebut. Banyak orang terlihat sedang berbincang-bincang dan mengatur jadwal berlatih.


"Apakah kita hanya akan berada disini mengintip kegiatan mereka, atau kita akan mendatangi mereka Wisang?" Sentono bertanya pada Wisanggeni.


"Rugi waktu kita jika kita hanya bersembunyi dan melihat mereka Sentono. Ayo ikuti aku!" setelah berbicara, Wisanggeni langsung berjalan, menghampiri orang-orang yang mengatur penjadwalan.

__ADS_1


"Mau kemana kalian..., mau kabur dari jadwal berlatih kalian hari ini?" baru saja mereka berdua berjalan, tampak petuga syang sedang berjaga bertanya pada Wisanggeni dan Sentono. Kedua laki-laki dari Klan Mahesa itu berpandangan, kemudian saling tersenyum. Mereka bergegas menuju ke tempat masuk.


"Ditanya tidak menjawab, malah cengengas-cengenges berdua. Dukk.., sttt.." petugas itu mengirimkan tendangan kaki ke arah Sentono, tetapi dengan cepat tangan Wisanggeni menangkisnya dan mendorong petugas tersebut.


"Brukk.." petugas itu jatuh ke belakang, badannya langsung menghempas lantai.


"Kurang ajar.., berani-beraninya kalian malah membuat keributan disini. Terimalah ini... bang..., bang..." petugas yang lain mengirimkan serangan ke arah Wisanggeni.


"Hanya begini kekuatan kalian, swoosh...." sambil tersenyum mengejek, Wisanggeni mengibaskan tangannya. Serangan petugas itu langsung menghilang.


Beberapa orang langsung mengepung Wisanggeni dan Sentono. Tidak mau berlama-lama berurusan dengan mereka, Wisanggeni menggunakan kekuatan Pasupati untuk menyingkirkan mereka.


"Duarr.., duarr.., duarrr.." enam orang yang mengepung mereka tiba-tiba tubuhnya melompat ke atas. Belum sampai, tubuh keenam orang itu menyentuh tanah, tanpa berpikir panjang sudah dihantam lagi oleh kekuatan Wisanggeni.


"Kekuatan Pasupati..., jleguarrr." di depan petugas yang berjaga di pilar kekuatan, keenam orang itu tubuhnya hancur dengan darah yang langsung kering, terkena dan terbakar oleh serangan kekuatan Wisanggeni.


Dengan tersenyum sinis, Wisanggeni kembali mendatangi petugas yang tampak gemetar ketakutan. Kedua kakinya bergerak-gerak menahan rasa ngeri melihat Wisanggeni.


"Si..siapa kalian.., dan ada urusan apa bertemu dengan kami?" dengan suara gugup, pertugas itu kembali bertanya pada Wisanggeni.


"Sampaikan pada pemimpinmu, tunggu aku disini nanti sore. Tidak ada manfaatnya aku berurusan dengan kroco-kroco seperti kalian. Aku adalah murid dari perguruan ini, yang karena alasan tertentu harus pergi meninggalkan Akademi ini." suara keras Wisanggeni, terdengar seperti sebuah pisau yang mengancam mereka.


**************

__ADS_1


__ADS_2