
Di Tapal Batas
Para murid yang berjaga di pos penjagaan, berlarian masuk ke dalam perguruan untuk meminta pertolongan. Hampir satu bulan perguruan Gunung Jambu ini kembali tenang, ternyata tidak diduga malam ini kembali dilanda kericuhan. Tidak diduga, ternyata pasukan kerajaan Logandheng kembali berlari memberikan serangan pada perguruan Gunung Jambu. Bahkan kali ini, pasukan dipimpin sendiri oleh Patih Wirosobo.
"Ashan.., amankan dan selamatkan para murid. Ayahnda akan mencegat sendiri pasukan itu, dan akan menangkap siapa yang bertanggung jawab dalam penyerangan ini." sambil berteriak. Wisanggeni membuat pengaturan pada putra laki-lakinya.
"Baik ayahnda.., Ashan akan melaksanakan apa yang ayahnda perintahkan. Ijin untuk undur diri dulu.." setelah berpamitan pada Wisanggeni, Chakra Ashanka kemudian melompat meninggalkan ayahndanya.
Melihat tempat pengungsian warga masyarakat yang mendadak heboh, Chakra Ashanka langsung melompat ke tengah-tengah orang-orang tersebut,
"Tenang.., tenang.., kendalikan diri Ki Sanak. Jangan terlalu panik, yang akan mengungsi ke bagian belakang, berbarislah dengan rapi dan sejajar untuk memudahkan para murid untuk membawa kalian. Untuk bagian depan sudah ditangani oleh ayahnda Wisanggeni yang juga menjadi Guru dari perguruan Gunung Jambu. Kalian tidak perlu terlalu panik." Chakra Ashanka menghentikan orang-orang yang berlari, dan mencoba mengendalikan kekacauan tersebut.
"Ada orang-orang dari kerajaan yang menyerang kami anak muda.., kami ketakutan dan tidak bisa melakukan apa-apa. Kami ingin berlari untuk menyelamatkan diri kami.." salah satu dari mereka dengan panik menanggapi perkataan Chakra Ashanka.
"Baskara.., Sumpono..., arahkan orang-orang yang berlarian di sebelah sana, Kumpulkan jadi satu, agar mudah untuk kita membawanya menyelamatkan diri.." Chakra Ashanka berteriak memerintahkan pada dua murid perguruan untuk membantu mengarahkan para pengungsi.
"Baik Den bagus Ashan.." kedua murid itu segera berlari untuk mengarahkan orang-orang yang berlarian tidak tentu arah.
"Blam.., blam.." tangan Chakra Ashanka mengeluarkan serangan untuk menangkal serangan tersembunyi yang diarahkan pada para pengungsi itu.
__ADS_1
"Clap.." dengan sekali lompat, anak muda itu melompati banyak warga masyarakat yang berlari mencari kesempatan untuk melarikan diri,
"Hentikan perbuatan burukmu itu Ki Sanak, tidakkah kamu bisa melihat siapa yang kalian serang itu!" Chakra Ashanka berdiri tegak menghadapi orang yang mengirimkan serangan tadi. Tangan kananya terlihat berwarna kemerahan, dan beberapa pasukan memundurkan badannya. Tatapan anak muda itu memindai ke sekelilingnya, dan terlihat sekitar sepuluh orang dari kerajaan Logandheng yang terlihat membuat kekacauan di tempat pengungsian warga masyarakat.
"Minggirlah anak muda.., bukan menjadi urusanmu untuk memberikan perlindungan pada orang-orang itu. Mereka bukan orang yang berasal dari wilayahmu,. tetapi mereka adalah orang-orang dari kerajaan Logandheng. Jangan berani untuk berurusan dengan kami." salah satu orang dari pasukan kerajaan berbicara pada Chakra Ashanka.
Chakra Ashanka terdiam, anak muda itu menatap orang yang berbicara padanya dengan pandangan tajam.
"Di dalam perguruan Gunung Jambu, kita tidak akan berbicara tentang wilayah, Berbagai orang dari pelosok, datang dan bergabung dengan perguruan ini. Begitu mereka masuk ke dalam wilayah ini, maka mereka sudah menjadi bagian dari kami. Kewajiban bagi orang-orang yang ada disini untuk saling menjaga," dengan senyum penuh arti, Chakra Ashanka memberi tanggapan pada orang itu.
"Jika begitu.., jangan salahkan kami jika menyelesaikan masalah ini dengan kekerasan. Kami sudah mengajak bicara pada kalian dengan baik-baik, tetapi ternyata kamu tidak bisa untuk diajak bicara." dengan tatapan sengit, orang itu memberi peringatan pada Chakra Ashanka. Putra Wisanggeni itu hanya tersenyum menanggapi ocehan laki-laki tersebut.
Begitu tangan itu menyibak ke depan, kekuatan yang sangat besar menyapu sepuluh orang itu mundur ke belakang. Bahkan beberapa di antaranya terjungkal mundur ke belakang. Tidak menghentikan gerakannya, Chakra Ashanka malah maju mendatangi mereka.
"Bagaimana.., apakah akan kita lanjutkan pertarungan ini?? Aku masih bersikap baik pada kalian, tidak langsung bertindak menghabisi kalian semua. Kami masih melakukan konfirmasi pada kalian semua." terdengar perkataan Chakra Ashanka memberi peringatan pada orang-orang itu.
Orang-orang itu saling berpandangan, dan tanpa menjawab perkataan anak muda itu, mereka langsung berlari meninggalkan tempat pertarungan,
************
__ADS_1
Wisanggeni menatap wajah Patih Wirosobo yang terlihat marah menatapnya. Senyum sinis diberikan Wisanggeni pada laki-laki itu, karena memang Wisanggeni belum pernah bertemu langsung dengan laki-laki itu. Saat bertarung dengan Maharani, laki-laki muda itu belum sempat melihat dengan jelas wajahnya, karena kondisi Maharani saat itu sangat mengkhawatirkan,
"Siapa kamu..., beraninya datang dan menatap tajam kepadaku..?" dengan pongahnya Patih Wirosobo bertanya pada Wisanggeni.
"Apakah tidak ada kekeliruan, bukannya aku yang seharusnya bertanya kepadamu? Kamu datang dengan membawa banyak pasukan di perguruanku, membuat para murid perguruan ini ketakutan. Sekarang.., dengan sombongnya kamu bertanya seperti itu kepadaku." dengan suara pelan, Wisanggeni balik bertanya pada laki-laki itu.
"Melihat wajahmu, aku teringat dengan kematian putraku Wiroyudho. Prajurit.. apakah laki-laki ini yang sudah membuat putraku mati berkalang tanah?" dengan marah, Patih Wirosobo bertanya pada para prajuritnya. Para prajurit saling berpandangan, tetapi tidak satupun dari mereka yang mengenali laki-laki muda itu.
"Sepertinya bukan Kanjeng Patih.., yang terakhir bertanding dengan Senopati Wiroyudha, masih anak muda. Bukan orang itu sepertinya." salah satu prajurit berbicara dengan jelas.
"Ha.., ha.., ha.. aku tidak peduli lagi. Siapapun yang berada di perguruan ini memang harus mati, karena salah satu dari kalian, mengakibatkan putra sulungku mati berkalang tanah. Tidak perlu banyak bicara.., ayo hadapilah aku!" Patih Wirosobo berbicara dengan nada keras, dan Wisanggeni hanya tersenyum menanggapinya.
Laki-laki itu menatap orang tua yang kehilangan anaknya itu dengan tatapan meremehkan, dan saat ini apalagi suasana hati Wisanggeni sedang tidak baik. Larasati dan kakangnya Lindhu Aji sedang berusaha untuk menyelamatkan Maharani, tetapi dia dan putra laki-lakinya harus berada disini untuk menghadang orang yang membuat kacau perguruan,
"Bluarr... jleb.." sebuah tombak yang sudah dilumuri racun terarah dan menancap di tanah depan Wisanggeni. Indera penciuman laki-laki itu langsung mengendus racun yang ada di ujung tombak tersebut.
"Bau racun ini, sama dengan racun yang berada di tubuh Nimas Maharani. Apakah laki-laki ini yang sudah menyerang istriku dengan menggunakan racun yang mematikan?" Wisanggeni membatin sendiri. Tatapan mata laki-laki itu menjadi sengit dan mengandung rasa dendam. Matanya memindai dari ujung kaki ke ujung rambut laki-laki yang dengan perawakan sombong berdiri di depannya.
***********
__ADS_1