Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 377 Perasaan


__ADS_3

Di padhepokan perguruan Gunung Jambu


Bhadra Arsyanendra merasa kesepian tidak memiliki teman sebaya di peguruan itu. Bocah laki-laki itu selalu mengurung diri dalam senthong, begitu selesai menjalani latihan ilmu kanuragan. Para pengawal yang selalu membersamainya kebingungan melihat perilaku bocah itu. Tetapi mereka tidak memiliki keberanian untuk bertanya kepada majikannya itu. Tetapi karena hal itu sudah berlangsung untuk waktu yang cukup lama, akhirnya pengasuh pangeran sejak kecil memberanikan diri untuk mengetuk senthong tempat beristirahat bocah laki-laki itu.


"Tok.. tok.. tok.." sebanyak tiga kali, dengan hati-hati pengasuh mengetuk pintu senthong Bhadra Arsyanendra.


"Siapa di luar, aku sedang tidak ingin bertemu dengan siapapun." dari dalam kamar, bocah laki-laki itu memberikan jawaban. Pengasuh perempuan dan laki-laki yang ada di depan pintu saling berpandangan. Mereka merasa ragu untuk menemui bocah itu, karena mendengar kata-kata penolakannya.


"Mungkin Raden Bhadra tidak menyangka, jika kita berdua yang mengetuk pintu senthongnya mbok. Bagaimana kalau kamu ulangi sekali, dan kita katakan langsung jika kita ingin bertemu dengan Raden Bhadra. Kita bisa sampaikan jika ada hal penting yang akan kita sampaikan kepadanya." pengasuh laki-laki itu mempengaruhi istrinya untuk kembali melakukan panggilan.


"Baiklah pakne.. aku akan memberi tahu pada Raden Bhadra, jika kitalah yang berada di depan pintu senthongnya." akhirnya perempuan itu mengiyakan perkataan suaminya.


"Tok.. tok.. tok.., Raden.., Raden Bhadra, Ini kami Raden.., simbok dan paman. Ada sesuatu yang ingin kami berdua tanyakan kepada Raden. Bisakah kami berdua diijinkan untuk masuk ke dalam Raden..?" perempuan itu kembali mengulang panggilan. Sesaat suasana menjadi diam dan hening, belum ada jawaban dari dalam senthong. Namun, setelah beberapa saat, akhirnya..

__ADS_1


"Baik mbok.., paman. Masuklah, jika ada hal yang ingin kalian berdua tanyakan kepadaku." Bhadra Arsyanendra memberikan jawaban, dan mengijinkan kedua pengasuhnya itu untuk masuk ke dalam. Pengasuh laki-laki mendorong pintu yang memang tidak dikunci itu ke dalam, dan terlihat Raden Bhadra sedang terduduk di pinggiran dipan kayu yang ada di dalam senthongnya.


"Duduklah.." ucap bocah itu mempersilakan kedua pengasuhnya untuk duduk.


Melihat tidak ada kursi lain di dalam senthong itu, kedua orang itu akhirnya duduk melantai dengan bersila di atas lantai yang sudah digelari dengan tikar mendong. Pasangan suami istri saling berpandangan, mereka merasa ragu untuk menyampaikan pertanyaan pada bocah laki-laki itu.


"Ada apa mbok, paman.. Apa ada sasmita yang perlu kalian sampaikan kepadaku, jika jawaban kalian adalah iya, kiranya ada sasmita apa yang perlu untuk mendapatkan keputusanku." melihat kedua orang pengasuhnya yang tidak segera berbicara, Raden Bhadra Arsyanendra akhirnya bertanya pada mereka.


"Ampuni kami Raden.. ampuni atas kelancangan kami berdua. Tetapi untuk mengetahui rasa penasaran kami berdua, kami terpaksa untuk mendengarkan sendiri dari raden Bhadra." pengasuh perempuan memulai untuk berbicara, dan Raden Bhadra mendengarkannya dengan penuh perhatian,


Raden Bhadra Arsyanendra tersenyum kecut, dan mengalihkan pandangannya. Tiba-tiba bocah laki-laki itu melamun, seakan tidak memperhatikan jika di depannya ada kedua pengasuh yang menunggu jawaban keluar dari mulutnya. Kedua orang yang duduk di lantai itu, kembaliĀ  saling berpandangan.


"Simbok.., paman.. jujur aku rindu dengan Bibi Rengganis, dengan kakang Ashan, paman Wisanggeni dan Nimas Parvati. Akhir-akhir ini pikiranku terutama pada gadis kecil itu semakin menguat untuk bisa secepatnya bertemu dengannya simbok, paman.. Apakah ada yang salah dengan apa yang aku rasakan ini simbok.., paman?" dengan suara lirih, tidak diduga Bhadra Arsyanendra memberikan jawaban yang cukup membuat terkejut pasangan suami istri itu.

__ADS_1


Beberapa saat, pasangan suami istri itu tidak mampu untuk berbicara. Mereka merasa takut dan khawatir jika mereka salah ucap. Dalam usianya yang sudah belasan tahun, memang tidak akan bisa dihindari rasa ketertarikan dengan lawan jenis, Tetapi mereka sama sekali tidak menyangka, jika gadis yang disimpan perasaannya adalah putri dari pemilik padhepokan ini. Parvati putri dari Wisanggeni dan Maharani,


"Bagaimana paman.., simbok. Apakah keliru apa yang kurasakan saat ini? Jika keliru, aku akan mencoba untuk melupakan rasa ini simbok, paman.. tetapi sepertinya sangat sakit dalam ulu hati ini." dengan lirih, kembali Bhadra Arsyanendra mengulangi pernyataannya.


Laki-laki dan perempuan yang duduk bersila di lantai itu menghela nafas perlahan, kemudian dengan hati-hati mencoba menanggapi perkataan yang diucapkan oleh bocah laki-laki yang sudah mereka asuh sejak terlahir ke dunia itu.


"Tidak ada yang salah dengan apa yang Raden Bhadra rasakan saat ini. Sungguh itu semua merupakan hal yang wajar Raden.., sangat wajar antara laki-laki dan seorang perempuan untuk memiliki rasa ketertarikan satu sama lain. Hanya saja.., untuk Nimas Parvati, apakah tidak terlalu kecil raden. Selain itu, mungkin akan sedikit terasa sulit, mengingat posisi yang dimiliki Nimas Parvati saat ini." pengasuh laki-laki akhirnya memberikan tanggapan atas perkataan Bhadra Arsyanendra.


Bhadra Arsyanendra tersenyum dengan mengangkat satu sudut bibirnya ke atas. Sebelumnya bocah laki-laki itu sudah memikirkan bahwa tidak akan mudah untuk mendapatkan perasaan gadis kecil putri perguruan Gunung Jambu itu. Tetapi sangat sulit untuk menepis rasa yang sudah mulai tumbuh itu..


"Raden Bhadra... simbok punya usulan Raden. Bagaimana jika untuk sementara kita kembali dulu ke kerajaan Logandheng Raden.. Di kerajaan, Raden bisa kembali memikirkan tentang perkataan dan keinginan Raden Bhadra. Apakah rasa yang dimiliki Raden Bhadra saat ini, hanya muncul karena keseringan Raden Bhadra dengan putri perguruan ini. Namun.. ketika Raden berada jauh kembali ke kerajaan, maka rasa itu akan pupus dengan sendirinya." dengan hati-hati takut menyinggung perasaan junjungannya itu, simbok ikut memberikan tanggapan.


"Tidak simbok.., paman.. tekadku sudah bulat. Sesuai janjiku dengan Bibi Rengganis dan kakang Ashan, aku akan menjaga perguruan ini sampai mereka semua kembali ke perguruan. Aku tidak mau dikatakan ingkar janji, dan sekalian aku ingin kembali bertemu dengan Nimas Parvati simbok.." dengan tegas, Bhadra Arsyanendra menolak keinginan kedua pengasuhnya itu.

__ADS_1


Pasangan suami isteri itu terdiam, mereka tidak mampu lagi untuk memberikan tanggapan atas perkataan bocah laki-laki itu. Kembali suasana hening menghinggapi senthong tempat mereka bertiga melakukan pembicaraan.


***********


__ADS_2