
Tiba-tiba ada sebilah bambu kecil seperti tulup melesat dan menancap di samping tempat duduk Wisanggeni. Kawanan monyet dan binatang lain yang ada di sekitar pohon itu, langsung bubar berlarian kesana kemari. Rengganis membelalakkan matanya, namun dengan santai Wisanggeni tidak bereaksi. Laki-laki tanpa melihat, hanya mencabut tulup yang tepat tertancap di samping kepalanya. terlihat ada sebuah gulungan lontar, ikut disertakan dalam bilah bambu kecil itu.
"Ada apa kang.. sepertinya ada orang lain di hutan ini. Apakah mereka bermaksud jahat pada kita kakang.." dengan cemas, Rengganis bertanya pada suaminya,
"Kakang sudah menyadarinya Nimas.. Singkirkan rasa cemasmu, jika memang orang-orang itu memiliki niat jelek kepada kita, maka bilah bambu ini sudah akan menancap tepat di jantung kakang.. Nimas. Orang-orang itu hanya ingin memberikan sapaan pada kita, sebelum nantinya kita akan diterima oleh mereka." Wisanggeni tersenyum, berusaha menenangkan istrinya yang terlihat cemas.
Rengganis menganggukkan kepalanya, perempuan muda itu juga memiliki pemikiran yang sama. Merupakan hal yang mudah bagi suaminya, jika memang berniat untuk menangkap orang-orang itu. Tetapi rupanya, Wisanggeni sengaja membuat orang-orang itu untuk menyapa mereka terlebih dahulu.
"Lalu apa tindakan kita selanjutnya kakang.. apakah kita akan mengabaikan kiriman pesan itu, dan segera menuju ke padhepokan Ki Bawono.. ataukah kakang akan membalas kiriman pesan dari orang-orang itu..?" Rengganis kembali bertanya.
"Sabarlah Nimas... habiskan dulu makanan kita. Setelah selesai makan, kita baru akan melihat isi dari daun lontar yang mereka sertakan. Jangan sampai waktu kita habis untuk mempedulikan sesuatu yang tidak penting Nimas.., bersabarlah.." Wisanggeni terus membuat istrinya memiliki kesabaran.
Kedua orang itu akhirnya melanjutkan menikmati kelapa muda, dan mengupas beberapa buah lainnya. dari tempat yang sedikit jauh, binatang-binatang yang sejak tadi bersama mereka, melihati kedua orang itu makan. tetapi binatang itu sudah tidak berani untuk mendekati mereka lagi. Melesatnya bilah bambu ke arah kedua orang itu, seolah memberi peringatan pada binatang itu untuk menyingkir dari tempat tersebut.
"Nimas sudah kenyang kakang..., apa yang harus kita lakukan terlebih dahulu. Kita pergi menuju gapuro di atas bukit di sebelah sana, atau kakang akan membuka dulu pesan yang tertulis dalam daun lontar tersebut.." Rengganis bertanya rencana mereka selanjutnya.
__ADS_1
"Tentu saja pilihan kedua yang akan kita lakukan Nimas.. tidak ada salahnya kita mengenal orang-orang baru di tlatah ini. Sambil mengisi waktu sebelum kita benar-benar menemukan dimana keberadaan padhepokan Ki Bawono yang sebenarnya.." Wisanggeni tersenyum. Dengan diperhatikan Rengganis, Wisanggeni perlahan membuka gulungan daun lontar tersebut, kemudian mempelajari isinya. Rengganis bergeser lebih mendekat pada suaminya.
"Untuk saudaraku.. bisakah kita saling mengenal, dan saling membantu. Kaumku di hutan membutuhkan uluran tangan dari orang-orang yang peduli dengan keadaan kami.. Terima kasih, Ki Sancoko.." sekilas Wisanggeni memahami isi dari tulisan tersebut. Dahi laki-laki itu seakan berkerut mencoba mengingat nama yang tertulis di dalam daun lontar itu.
"Siapakah Ki Sancoko.. apakah kakang pernah mendengar nama itu sebelumnya..?" rengganis ikut bertanya tentang nama penulis pesan tersebut.
"Kakang juga sedikit lupa Nimas.. mungkin kita bisa mengenalnya sedikit lebih jauh. Siapa tahu, kita dapat menemukan saudara baru dalam perjalanan kita ke wilayah kerajaan Logandheng. Sedikit banyak, kita juga bisa memberikan masukan pada putra kita Chakra Ashanka, agar anak muda itu lebih memperhatikan kondisi rakyatnya." ucap Wisanggeni.
Wisanggeni kemudian mengajak Rengganis melompat ke bawah. Sesampainya di bawah, kedua orang itu mengedarkan pandangan ke sekeliling. AKhirnya dengan tanpa sengaja, mata Wisanggeni beradu pandang dengan seseorang yang sedang menatapnya. Wisanggeni tersenyum dan menganggukkan kepala, sebagai isyarat memberi tanda untuk menjalin perkenalan dengan laki-laki itu.
******
Wisanggeni dan Rengganis berjalan menyusuri semak belukar mengikuti laki-laki yang menampakkan dirinya tadi. Tenryata laki-laki tadi merupakan utusan dari Ki Sancoko, untuk menjemput pasangan suami istri itu menuju ke wilayah persembunyian mereka. Setelah semak belukar, dengan menggunakan rakit sederhana, laki-laki itu membawa pasangan suami istri itu menyusuri sungai besar yang ada disitu.
"Hati-hatilah Ki Sanak.. banyak ular dan naga yang sering mengganggu perjalanan kita. Jangan mengganggu mereka, agar mereka juga tidak balas dendam untuk mengganggu manusia.." laki-laki itu berpesan pada Wisanggeni dan Rengganis tanpa menoleh ke arah dua orang itu.
__ADS_1
Wisanggeni tersenyum tetapi tanpa menjawab. Laki-laki itu malah memejamkan matanya sejenak, menggunakan telepati mengajak berbicara binatang melata yang ada di sungai besar yang saat ini mereka lewati. Tidak lama kemudian.. di depan rakit yang dibawa oleh laki-laki itu, barisan ular tampak membuka jalan untuk rakit itu. Melihat kedatangan banyak ular dan naga secara tiba-tiba, laki-laki itu merasa kaget dan terperanjat.
"Ki Sanak.. jangan membuat gerakan, agar ular-ular itu tidak menyerang ke arah kita. Aku juga tidak tahu, kenapa tiba-tiba barisan ular seakan datang menyambut kedatangan kita di sungai ini.." laki-laki di depan itu memberi peringatan pada Wisanggeni dan Rengganis. Sesaat rakit itu terdiam tidak ada gerakan. Laki-laki itu betul-betul diam, sambil menunggu ular-ular itu kembali meninggalkan mereka.
"Jangan takut.. terus jalankan rakitmu. Ular dan naga-naga ini tidak akan pergi dari sungai ini, sebelum kita melewatinya.." Wisanggeni tersenyum, dan mengarahkan laki-laki itu untuk terus menjalankan rakitnya.
Laki-laki itu tetap tidak mau bergerak, malah menatap Wisanggeni dengan pandangan heran dan sedikit marah. laki-laki itu menyangka jika Wisanggeni telah melanggar perintahnya, dan sengaja membuat mereka dalam kesulitan seperti ini.
"Tenanglah Ki Sanak.. kali ini dengarkan perkataanku. Jika sampai ada satupun ular yang mengganggu perjalanan kita, maka kamu bisa menggunakan kami berdua sebagai umpan untuk makanan ular-ular itu.." Wisanggeni terus membujuk laki-laki itu agar segera pergi dari tempat itu.
Dengan pandangan tidak percaya, laki-laki itu kembali menatap pada Wisanggeni. tetapi WIsanggeni hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. dengan penuh keragu-raguan, laki-laki itu mulai menjalankan rakitnya ke depan. Begitu rakit itu mulai berjalan, ular-ular serta naga itu menundukkan kepala mereka seperti memberikan penghormatan pada mereka. Laki-laki yang membawa rakit itu keheranan, tetapi segera mempercepat mengayuh dan menjalankan rakitnya.
"Ki Sanak.. siapakah sebenarnya kalian berdua ini. Bagaimana bisa, ular-ular maupun naga memberikan penghormatan kepadamu, seakan mengucapkan salam takzim atas pertemuan kalian.." sambil tetap menjalankan rakitnya, laki-laki itu menyampaikan rasa penasarannya.
"Teruslah berjalan Ki Sanak.. agar kita bisa sampai di tujuan sebelum senja datang. Tidak perlu kamu pikirkan apa yang baru saja terjadi. Terkadang ada rahasia-rahasia alam yang hanya berhasil dikuak oleh beberapa orang. Jika sudah saatnya.. kamu juga akan dapat menemukan petunjuknya.." Wisanggeni tidak mau membuka siapakah dirinya yang sebenarnya.
__ADS_1
**********