
Mata Parvati berbinar melihat banyak makanan di depan penjual kedai makanan. Sejak gadis kecil itu dilahirkan, memang baru sekali ini Parvati bepergian jauh dengan ayahndanya. Jadi tidak heran, jika gadis kecil itu keheranan melihat banyak hal baru di depannya. Sebagai ayahndanya, Wisanggeni hanya tersenyum senang mengamati gerak-gerik putrinya itu,.
"Apakah kamu sudah memesan makanan dan minuman untuk kita putriku..?" dengan suara pelan, Wisanggeni bertanya pada Parvati...
"Sudah ayahnda.., tidak lama lagi penjual akan mengantarkan ke meja kita. Parvati sangat senang ayahnda, bisa mendapatkan tambahan pengalaman memilih makanan untuk kita pesan. Semuanya tampak beda, dengan yang biasa kita hadapi di perguruan." Parvati berceletuk ringan.
"Duduklah dulu disini dekat dengan ayahnda..!" Wisanggeni meminta putrinya untuk duduk di dekatnya. Parvati menuruti keinginan laki-laki itu, gadis kecil itu kemudian duduk.
Tidak lama kemudian, makanan dan minuman yang sudah mereka pesan sudah datang ke hadapan mereka. Wisanggeni segera mengajak Parvati untuk menikmatinya, dan gadis kecil itu langsung mengambil piring berisi makanan, kemudian mulai menyantapnya,
"Wisanggeni..., sedang apa kamu disini?" tiba-tiba terdengar suara menegur laki-laki itu. Wisanggeni melihat ke arah suara, terlihat Sudiro sedang melihatnya dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Sudiro..., bagaimana kabarmu.." Wisanggeni berdiri dan menghampiri laki-laki itu. Kedua laki-laki itu berpelukan, kemudian duduk berdampingan di atas kursi.
Parvati menatap kedua orang yang terlihat akrab di depan matanya, dan sepertinya Wisanggeni tersadarkan. Laki-laki itu memegang bahu Parvati.
"Sudiro.. ini putriku. adik dari Chakra Ashanka." Wisanggeni mengenalkan putrinya Parvati pada Sudiro.
Laki-laki dari saudara jauh perguruan Niken Kinanthi itu menoleh ke arah Parvati. Senyuman mengembang di bibirnya, dan Sudiro menggeser tempat duduknya lebih mendekati Parvati.
"Gadis kecil yang sangat cantik rupanya ikut bepergian dengan ayahndanya. Kenalkan gadis cantik, panggil paman dengan sebutan paman Diro. Paman ini berteman dengan ayahndamu Wisanggeni, dan juga ibundamu Rengganis serta Maharani. Ayo ucapkan salam untuk paman." dengan ramah, Sudiro mengajak bicara Parvati.
__ADS_1
"Baik paman.., terima kasih sudah mengenalkan diri pada Parvati. Ijin pihak yang lebih muda memberikan salam untuk paman Diro.." dengan sikap sopan, Parvati mengenalkan dirinya pada laki-laki itu.
Sudiro tersenyum, laki-laki itu mengusap kepala Parvati dengan pelan.
"Ayahnda dan ibundamu memang mendidikmu dengan pola asuh yang tepat Parvati. Tutur bahasamu halus, sikapmu sopan pada pihak yang lebih tua. Paman sangat bersyukur bisa mengenalmu, bagaimana dengan kabar kakandamu Chakra Ashanka..?" Sudiro memberi pujian pada gadis kcil itu. Tidak lupa laki-laki itu juga menanyakan kabar Chakra Ashanka.
"Terima kasih untuk pujiannya paman.. Berkah Hyang Widhi, kakangmas Ashan dalam keadaan sehat. Parvati merasa senang dan berbahagia dilahirkan pada keluarga ayahnda Wisanggeni, dan ibunda Rengganis serta ibunda Maharani. Parvati juga memiliki kakangmas yang baik dan selalu memperhatikan Parvati, dan kita selalu hidup dalam kedamaian di perguruan Gunung Jambu." Parvati menimpali perkataan Sudiro.
Dari samping, Wisanggeni tersenyum memperhatikan perbincangan Sudiro dan Parvati putrinya. Tidak terbersit sedikitpun keinginan untuk memotong pembicaraan itu. Laki-laki itu malah mengambil kembali cangkir, dan menyesap minuman beberapa teguk. Tiba-tiba Parvati dan Sudiro menoleh melihat ke arah Wisanggeni.
"Maaf Wisang.., ternyata putrimu sangat menyenangkan untuk diajak berbincang, sampai aku tanpa sadar melupakanmu.." Sudiro berkelakar.
"Ha.., ha.., ha.. tidak menjadi masalah Sudiro, Putriku ini jarang keluar dari perguruan, jadi saatnya putriku belajar untuk bersosialisasi pada orang luar." Wisanggeni tertawa menimpali perkataan Sudiro.
********
Akhirnya Sudiro menyampaikan maksud dan tujuannya. Ternyata laki-laki itu, karena Maharani yang pernah dia lamar lebih memilih Wisanggeni, sampai saat ini masih betah untuk melajang, Untuk mengisi waktu dan mengurangi rasa kesepiannya, saat ini Sudiro memutuskan untuk melanglang buana.
"Bagaimana rencanamu Sudiro..? Jika aku dan Parvati akan menuju kota Laksa, karena di kota itu Trah Bhirawa saat ini berada. Ada ayahnda dan kedua kakak laki-lakiku berdiam disana. Putriku ingin berkunjung pada beliau semuanya.." Wisanggeni menanyakan tujuan kepergian Sudiro.
"Aku tidak memiliki tujuan pasti Wisanggeni. Keputusanku untuk meninggalkan wilayah barat, dan menuju ke wilayah tengah dan timur hanya untuk mencari kesenangan semata saja. Jika kamu tidak keberatan, apakah kiranya kamu mengijinkan, jika aku mengikuti langkahmu dan Nimas Parvati. Yah.. sekalian aku bisa bertemu dengan paman Mahesa dan kedua kakak laki-lakimu." tidak diduga, Sudiro ingin menyertai langkah Wisanggeni dan Parvati.
__ADS_1
"Benarkah apa yang kamu ucapkan Sudiro..?? Jika jawabanmu adalah benar, tentu saja aku sangat senang. Dan Parvati akan bertambah teman bicara dalam perjalanan." Wisanggeni menyambut baik niat Sudiro.
"Paman Diro akan ikut pergi bersama Parvati dan ayahnda Wisanggeni? Jika benar, Parvati sangat senang sekali paman." Parvati juga ikut menambahkan.
Sudiro tersenyum, dan laki-laki itu tidak menyangka jika ayahnda dan putrinya itu menyambut baik keinginannya. Tanpa menunggu, laki-laki itu menganggukkan kepala, membenarkan apa yang sudah diucapkannya.
"Iya Nimas Parvati.., paman akan bersama dengan kalian. Kebetulan kita juga merupakan satu keluarga yang dipertemukan karena keadaan. Kita bisa saling berkunjung, dan saling menyapa satu dengan lainnya."
"Baiklah jika begitu.., kita harus segera bersiap, Jika kita memaksakan untuk berangkat saat ini juga, saat dini hari kita sudah akan memasuki kota Laksa. Tetapi apakah akan menjadi masalah untukmu Sudiro.." Wisanggeni menanyakan kemungkinan untuk berangkat saat ini juga.
"Tidak masalah Wisanggeni, aku juga sudah cukup lama beristirahat. Aku sudah berada di wilayah ini selama tujuh hari, jadi tidak ada alasan bagiku untuk terus bermalas-malasan di tempat ini." Sudiro menyambut baik ajakan Wisanggeni,
Laki-laki itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dan melihat keberadaan Singa Ulung yang sedang beristirahat di bawah sebuah pohon besar. Melihat keberadaan binatang itu, laki-laki itu teringat bagaimana jasa baik Singa Ulung pada masa penumpasan Tumbak Seto dan gerombolan Alap-alap. Kali ini, dia bisa bertemu lagi dengan binatang itu.
"Apa yang membuatmu melihat binatang piaraanku Sudiro.., apakah kamu melupakan Singa Ulung..?" Wisanggeni bertanya sambil tersenyum pada Sudiro.
"Tidak Wisang.., aku malah merasa terobati rasa kangenku pada Singa Ulung. Aku ingat bagaimana kehebatan binatang itu, tatkala bersama-sama kita menumpas Gerombolan Alap-alap. Ternyata kali ini, aku bisa melihat binatang itu kembali." dengan mata berbinar, Sudiro mengutarakan kesenangannya bertemu Singa Ulung.
"Jangan khawatir saudaraku..., kali ini kita akan menaiki binatang itu.Singa Ulung akan membawa kita bertiga, melintasi langit untuk mengantarkan ke kota Laksa." sambil tersenyum, Wisanggeni menanggapi perkataan Sudiro.
"Benarkah Wisang.., aku sangat senang dan bahagia mendengarnya." sahut Sudiro, dan Wisanggeni langsung mengajak mereka menuju ke arah SInga Ulung.
__ADS_1
***********