Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 432 Minta Waktu


__ADS_3

Beberapa saat empat anak muda itu menghabiskan minuman dan kudapan di pendhopo Kraton Kilen. Jika ada orang yang melihat keakraban mereka, tidak akan ada yang berpikir jika di tempat itu ada seorang raja dan Patih kerajaan. Untungnya, Bhadra Arsyanendra selalu berpesan pada para pengawalnya untuk tidak mengijinkan siapapun masuk ke dalam, ketika mereka sedang ada di Kraton Kilen tersebut. Sehingga apa yang terjadi dan ada di kraton tersebut, tidak ada yang membocorkan pada khalayak luas.


"Bhadra.. aku ingin mohon ijin kepadamu.. Dalam beberapa hari, setiap bulannya, aku mohon untuk diberikan ijin melakukan perjalanan keluar. Aku ingin melepaskan kepenatanku, dengan menghirup kebebasan di alam luas. Hanya itu yang akan menjadi semangatku.." tiba-tiba, tanpa diduga Chakra Ashanka meminta ijin pada raja kerajaan Logandheng.


Bhadra Arsyanendra menoleh ke arah anak muda, dan terlihat keseriusan kata-katanya, yang dapat dilihat dari roman muka anak muda tersebut. Sekar Ratih dan Ayodya Putri juga demikian, meskipun kedua gadis itu terlihat seperti kaget mendengar keterus terangan anak muda itu, namun dalam hati mereka merasa senang.


"Maksud kang Ashan.. apakah kang Ashan akan pergi meninggalkan kerajaan ini. Dan apakah aku bisa memegang janji kang Ashan untuk kembali, tidak meninggalkanku sendiri di kerajaan ini." mendengar perkataan putra Wisanggeni dan Rengganis itu, Bhadra Arsyanendra meminta penjelasan. Tanpa berkedip, raja kerajaan Logandheng terus menatap dan memperhatikan Chakra Ashanka.


Tidak diduga, Chakra Ashanka tersenyum sinis, anak muda merasa kecewa dengan perkataan yang baru saja diucap Bhadra Arsyanendra. Tetapi, untuk menahan rasa kecewa dan jengkelnya, Chakra Ashanka memilih diam tidak memberi tanggapan. Untungnya Sekar Ratih segera tanggap, tinggal dan hidup lama bersama dengan laki-laki itu, gadis itu memahami apa yang sedang dirasakan oleh anak muda itu.


"Raden Bhadra.. tidak bisakah Raden membetulkan kata-kata yang sudah diucapkan oleh Raden barusan. Huh... dalam sejarah.. tidak ada keturunan dari Ki Mahesa, paman Wisanggeni dan Bibi Rengganis yang akan ingkar janji Raden. Apa yang sudah diucapkan atau keluar dari mulutnya, akan menjadi pegangan selama hidupnya. Kecuali dalam keadaan tertentu, dengan sendirinya kata-kata itu bubar. Seperti saat ini." Sekar Ratih dengan nada judes, mengucap perkataan yang melakukan pembelaan pada Chakra Ashanka.


Bhadra Arsyanendra tersentak, anak muda itu kaget, dia tidak menyangka jika perkataannya ternyata sudah menyakiti hati Chakra Ashanka. Dengan segera, anak muda itu bermaksud untuk menjelaskan maksud dari kata-katanya.


"Bukan begitu maksudku Nimas Ratih..., kakangmas Ashan.. Kata-kata itu keluar, karena ada ketakutan yang muncul dalam hatiku. Ketakutan jika aku ditinggal sendiri di kerajaan ini.., karena dengan adanya Kang Ashan di sampingku, mendampingiku.. muncul semangat untuk mengembangkan kerajaan Logandheng. Jangan salah sangka kakang, dan jika kata-kataku mengecewakan kakang, aku Bhadra Arsyanendra secara jantan memohon maaf pada kakang.." Bhadra Arsyanendra menjelaskan maksud perkataannya.

__ADS_1


Chakra Ashanka menatap Bhadra Arsyanendra, kemudian tersenyum melihat anak muda itu. Darah mudanya merasa tersentak mendengar kata-kata dari raja kerajaan Logandheng itu, namun setelah mendengar sendiri penjelasan dari anak muda itu, akhirnya Chakra Ashanka menenangkan perasaannya.


"Bhadra.. dirimu memang masih muda, sama denganku. Hati-hatilah dengan lisanmu untuk ke depannya. Karena tanpa sengaja, kita akan terpeleset dengan lisan kita, jika kita tidak hati-hati untuk mengendalikannya." Chakra Ashanka berucap pelan.


"Baik kakang... temanilah aku. Di kerajaan ini, aku membutuhkan bantuan kakang." Bhadra Arsyanendra mengakuo kesalahannya.


"Dan yang perlu kamu ingat Bhadra... aku tidak akan mencabut kata-kataku, sebelum aku membatalkannya sendiri." lanjut Chakra Ashanka.


Sejenak keheningan melanda tempat itu. dan hari mulai merambat malam. Tiba-tiba Sekar Ratih berdiri.., dan semua yang duduk di tempat itu memperhatikannya.


"Mau kemana Nimas Ratih..?" Ayodya Putri menanyakan maksud gadis itu.


*********


Di depan kamar tempat Chakra Ashanka beristirahat, Sekar Ratih datang mengunjunginya. Anak muda itu tidak terkejut dengan kedatangan gadis itu, karena mereka memasng sudah terbiasa bersama-sama sejak kecil. Namun kedatangan gadis itu kali ini, tidak mengajak Ayodya Putri untuk bersama dengannya.

__ADS_1


"Ada apa Nimas Ratih.. apakah sudah sedemikian kangennya padaku, sehingga baru tadi sore kita bertemu, malam ini sudah datang mengunjungiku.." sambil mengulum senyum, Chakra Ashanka menyapa gadis itu.


"Kakang ini selalu saja tidak berhenti menggodaku. Kedatangan Nimas kesini, untuk membahas sikap kakang tadi sore di depan Raden Bhadra. AKu memahami tentang sikap kakang, namun sebenarnya aku sendiri juga ingin meminta ijin pada kakang.." sambil duduk di samping anak muda itu, Sekar Ratih berbicara lirih.


Chakra Ashanka terkejut mendengar pernyataan dari gadis itu. Anak muda itu saat ini menjadi pihak yang terkejut mendengar kata-kata yang diucapkan Sekar Ratih.


"Jelaskan dengan gamblang Nimas Ratih, apa maksud dari kata-katamu. Jangan membuatku bingung, sibuk menerka apa yang kamu maksudkan." Chakra Ashanka meminta penjelasan dari gadis itu.


"Jujur kang..., Nimas merasa tidak banyak memiliki kegiatan di kerajaan Logandheng ini. Semua serba diberikan pelayanan, dan jarang bisa melakukan kegiatan sendiri.. Nimas bosan kang... Nimas ingin kembali ke peguruan Gunung Jambu, bisa bersama Parvati, dan juga dengan paman serta Bibi Rengganis.." akhirnya Sekar Ratih mengatakan apa yang diinginkannya saat ini.


"Aku harap kamu berhenti untuk bicara hal itu lagi Nimas.. Atau aku akan mengacaukan kerajaan ini, kemanapun kamu pergi aku akan megikutimu.. Untuk itu Nimas... tinggallah selalu di sisiku, dan jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku." tiba-tiba Chakra Ashanka berbicara dengan nada sedikit tinggi. Sekar Ratih merasa terkejut, tidak menyangka akan mendapatkan reaksi seperti ini.


"Kamu dengar sendiri bukan.., tadi Bhadra sudah mengatakan persetujuannya. Aku akan membawamu kembali ke perguruan Gunung Jambu, ataupun tempat dimanapun yang kamu inginkan. Aku akan selalu mengantarmu.., bersabarlah Nimas.. Jika kerajaan ini sudah jauh lebih baik, aku akan meminta ijin pada Bahdra Arsyanendra untuk pergi dari kerajaan ini." lanjut anak muda itu.


Sekar Ratih tidak mampu lagi mengeluarkan kata-kata. Gadis itu merasa terkejut dengan reaksi yang ditunjukkan Chakra Ashanka. Bahkan ketika anak muda itu berdiri, dan tiba-tiba memeluknya erat, gadis itu tidak mampu memberikan reaksi. Di depan kamar anak muda itu, dua anak muda berlainan jenis sedang berpelukan erat.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari, dari arah pintu masuk tempat peristirahatan Chakra Ashanka, seorang gadis nampak tergugu dan terus menatap mereka dengan perasaan iri. Tidak ada kata-kata yang mampu keluar dari bibir gadis itu, bahkan kakinyapun juga tidak dapat diajak bekerja sama. Seakan kakinya tidak mampu digerakkan untuk meninggalkan tempat tersebut.


**********


__ADS_2