
Parvati bingung dengan apa yang terjadi saat ini. Gadis muda ini betul-betul tidak mengira, jika Bhadra Arsyanendra akan merendahkan dirinya mengunjungi kamarnya di tengah malam. Apalagi jika sampai ada yang mengetahuinya, maka nama besar yang disandangnya sebagai seorang raja dapat hancur berantakan. Gadis ini juga tidak tahu, apa sebenarnya yang menjadi tujuan dari anak muda ini.
"Baiklah.. Nimas akan memanggilmu Kang Bhadra, namun hanya untuk kali ini saja. Selebihnya Nimas tidak berani untuk bertindak kurang ajar jika melakukannya." akhirnya Parvati bersedia untuk memanggil anak muda di depannya itu dengan panggilan kangmas. Padahal ketika mereka berada di perguruan Gunung Jambu, Parvati terbiasa memanggil anak muda itu langsung menyebut namanya tanpa embel-embel. Tetapi untuk kali ini dan seterusnya, melihat status anak muda ini, tidak mungkin akan menggunakan panggilan saat mereka masih kecil.
"Terima kasih Nimas.. itulah yang aku inginkan. AKu tidak ingin, kedudukanku di kerajaan ini memberi batasan kita untuk berhubungan, aku akan merasa sangat kesepian, tidak akan ada yang mau berteman denganku lagi." wajah Bhadra Arsyanendra terlihat cerah, setelah gadis muda di depannya itu menyanggupi untuk merubah sebutannya.
Beberapa saat kedua anak muda itu terdiam di dalam kamar, tidak ada yang memulai pembicaraan. Parvati sendiri juga bingung dengan makna kunjungan Bhadra Arsyanendra malam-malam di dalam kamarnya. Bhadra Arsyanendra sendiri terlihat juga bingung, belum tahu mengutarakan kepentingannya.
"Kangmas..., Nimas.." kedua anak muda itu tersenyum saling memandang, karena terjadi kebetulan mereka saling memanggil secara bersamaan.
"Nimas duluan.. karena Nimas adalah perempuan. Sebagai seorang laki-laki, aku sudah harus membiasakan diri untuk mengalah pada perempuan, karena harus memberikan perlindungan kepadanya." akhirnya Bhadra Arsyanendra meminta Parvati untuk bicara duluan.
__ADS_1
Parvati terpaku sejenak mendengar perkataan anak muda itu, gadis itu merasa aneh dengan sikap dan tingkah laku teman masa kecilnya itu. Selama mereka berteman, tidak pernah anak muda itu menunjukkan perilaku yang membingungkan. Namun baru saja dua hari dikukuhkan menjadi raja, anak muda itu sudah terlihat aneh.
"Bicaralah Nimas... kenapa menjadi diam saja." kembali suara bhadra Arsyanendra terdengar meminta gadis itu untuk bicara.
"Baiklah kang Bhadra.. Hanya malam ini NImas merasa bingung, seharusnya pada saat tengah malam, kakang bisa tidur senyenyak-nyenyaknya, demikian juga denganku. Namun.. kenapa malam begini, kang Bhadra malah berkunjung ke kamarku. Akan menjadi tidak layak, jika sampai ada yang tahu kedatangan kakang malam-malam begini, dan masuk ke kamar saya." dengan suara lirih, Parvati menyindir secara halus.
"Aku melakukannya, karena aku tidak dapat menahan rasaku Nimas.. Tadi paman Wisang dan Bibi Rengganis mengatakan kepadaku, jika mereka akan membawamu pergi dari kerajaan ini besok siang. Paman dan Bibi akan mampir memenuhi janjinya ke padhepokan Ki Bawono. Aku tidak mau Nimas... secepat ini kamu tinggalkan sendiri." tidak diduga, anak muda itu berani meraih tangan Parvati. Gadis itu sudah berusaha untuk menarik tangannya, namun rupanya Bhadra Arsyanendra dengan erat memeganginya.
"Ampun sikapku kakang Bhadra.. aku tiba-tiba merasa khawatir dengan hanya berdua denganmu di dalam kamar seperti ini. Malam ini kang Bhadra terlihat aneh, dari sikap datang berkunjung tengah malam, dan sikap kakang barusan betul-betul menakutkanku. Keluarlah kang Bhadra dari kamar ini, fitnah akan lebih kejam dan akan setajam melebihi tajamnya pisau." Parvati memundurkan tubuhnya ke belakang, bahkan gadis itu mengusir laki-laki itu untuk meninggalkan kamarnya.
Bhadra Arsyanendra terkejut dengan penolakan tegas dari gadis muda di depannya itu. Padahal jika anak muda ini mau, sudah banyak dari sanak saudara, orang-orang dari kerajaan tetangga pernah memintanya untuk meminang putri atau kerabat mereka. Namun hanya gadis itu, Parvati yang sudah menyita perhatian dan ketertarikannya, bukan gadis yang lain, Namun malam ini, gadis itu terlihat ketakutan melihatnya, padahal dirinya tidak memiliki niat buruk sedikitpun.
__ADS_1
"Nimas.. jangan salah paham dengan sikapku barusan Nimas.. Jika aku mau.., Nimas paham bukan bagaimana posisiku di kerajaan ini. Hanya dengan menatap seorang gadis saja, orang akan berbondong-bondong menawarkan putri atau kerabat mereka untukku Nimas. Namun.. aku tidak menginginkannya Nimas. Hanya wajah Nimas Parvati yang selalu datang dan menghiasi dalam angan-anganku, bukan lainnya." Parvati kaget mendengar ucapan anak muda itu. Dari berapa warsa dia berada di alam ini, Parvati baru kali ini mendengar seorang anak muda berbicara seperti itu kepadanya. Bahkan, memikirkanpun juga belum pernah dipikirkannya. Gadis itu merasa bingung dan terdiam, sambil menatap pintu yang masih tertutup itu.
"Sekali lagi maafkan sikapku kakang.. tetapi aku belum dapat memaknai perkataan yang kang Bhadra ucapkan. Dan aku hampir terlupa dengan posisi kang Bhadra saat ini. Kang Bhadra adalah raja kerajaan ini, dan tentunya akan mudah untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya." akhirnya keluar perkataan dari mulut gadis cantik itu. Tanpa berkedip, anak muda itu mengamati bibir gadis itu.
"Namun.. aku bukanlah perempuan yang mudah tersilaukan oleh dunia kakang. Aku adalah putri dari ayahnda Wisanggeni dan ibunda Maharani serta ibunda Rengganis. Apakah kang Bhadra melupakan nama besar mereka? Untuk itu kang Bhadra, sekali lagi Nimas tegaskan. Hari sudah sangat malam, tidak layak untuk seorang anak muda bertandang ke kamar seorang gadis. Hanya satu pesanku kakang.., janganlah dunia menjadi menyilaukanmu.. kembalilah pada jati dirimu yang sejati." kembali Parvati mengusir halus anak muda di depannya itu.
Anak muda itu tersentak mendengar kata-kata pedas, yang meluncur deras dari bibir gadis yang sudah membuat porak poranda hatinya. Kata-katanya memiliki makna yang dalam, yang seakan-akan menotok hati serta jantungnya.
"Sekali lagi aku tegaskan Nimas.. jangan salah paham dengan sikapku malam ini. Apa yang aku lakukan malam ini, bukan diriku sebagai raja dari kerajaan ini. Bahkan jika Nimas tahu, akupun berjalan mengendap-endap untuk datang ke kamar ini. meskipun dengan mudah, aku bisa menggunakan kekuasaanku untuk memaksamu. Namun.. aku tidak menggunakannya Nimas.. untuk memuliakanmu. Kenapa aku mendatangimu malam ini, karena tidak ada waktu lagi Nimas.. Jangan salah paham dengan sikapku malam ini." mata anak muda itu seperti berkaca-kaca.
Melihat keadaan di depannya, muncul rasa iba dalam diri gadis itu. Parvati diam menatap anak muda di depannya itu, dan Bhadra Arsyanendra juga menatapnya seperti ingin menyelam ke dalam perasaan gadis itu. Keduanya saling berpandangan untuk beberapa saat.
__ADS_1
********