
Setelah mendapatkan kepastian tentang porak porandanya padhepokan Klan Bhirowo, dan juga mendapatkan berita jika ayahnda dan 3 tetua ditangkap dan dibawa pergi oleh Alap-alap, Wisanggeni menjadi terpancing emosinya. Tetapi dengan cepat dia mengendalikan dirinya, kemudian setelah mendapatkan rumah kontrakan, Wisanggeni meminta Sastro untuk mengumpulkan orang-orang dari wilayahnya untuk diajak bergabung menjadi satu.
"Saya akan mengundang teman-teman dulu ya Den. Yang mereka belum memiliki tempat tinggal, biar bergabung disini dan mendirikan hunian di tanah ini." Sastro segera meminta ijin untuk mencari teman-temannya.
"Ya.., kita tinggal disini ramai-ramai. Sambil kita tingkatkan ilmu kanuragan kita, dan menyusun strategi untuk merebut kembali kejayaan Klan Bhirowo. Serta yang terpenting bagiku adalah ayahnda dan tiga tetua segera bisa kita bebaskan." ucap Wisanggeni sambil melamun.
Setelah berpamitan, Sastro segera meninggalkan Wisanggeni sendirian. Laki-laki itu kemudian beranjak dari pintu, dan menuju ke arah pembaringan. Perlahan dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dan berpikir bagaimana cara mereka akan membangun kembali Klan Bhirowo.
"Aku harus mendapatkan banyak uang untuk menghidupi orang-orang dari Klan Bhirowo. Atau aku mencoba membuat ramuan herbal saja ya, sepertinya dari warisan yang ditinggalkan Guru ada alat untuk membuat pil. Dan dari kitab yang aku dapatkan dari perut ular, juga ada beberapa catatan resep. Aku akan berlatih dulu menggunakan bahan-bahan herbal yang ada."
Wisanggeni langsung beranjak dari tidurnya, kemudian mengeluarkan bahan-bahan herbal dari kantong penyimpanannya. Hati banteng, otak kura-kura level unggul, ginseng dan beberapa bahan dia racik menjadi satu. Dia akan mencoba meracik obat herbal tingkat dasar. Setelah menyiapkan peralatannya, laki-laki itu segera berkonsentrasi penuh. Menggunakan kekuatan batin yang dia punya, dia mulai menghaluskan semua bahan menjadi satu. Tangannya dengan lincah menari di atas wadah, dan setelah beberapa waktu lewat bau harum aroma obat herbal tercium di hidungnya.
Laki-laki itu tersenyum, merasa bangga dengan percobaan pertamanya. Tapi tiba-tiba..,
"Pyurr." obat herbal yang sudah menari di atas wadah ternyata seperti terkena hentakan, langsung ambyar dan tertiup angin hilang tanpa bekas.
"Ternyata tidak semudah yang aku bayangkan. Aku tidak boleh terburu-buru bersikap jumawa." dengan tersenyum pahit, laki-laki itu mengevaluasi letak kesalahannya. Menggunakan bahan dasar yang masih dia sisakan di wadah, dengan penuh perhatian, konsentrasi dia mencoba lagi untuk membuat obat herbal berbentuk bulatan-bulatan pil.
Bau harum aroma ramuan jamu kembali memenuhi ruangan itu. Keringat yang mengalir hampir di seluruh tubuhnya, sama sekali tidak dia pedulikan. Tenaga dalamnya sudah habis terkuras, tetapi semangat laki-laki muda itu tidak patah sedikitpun. Harapan untuk mendapatkan uang yang banyak, sebagai bekal kehidupan Klan Bhirowo menjadikan dia kembali memfokuskan diri.
Wisanggeni tersenyum, saat tenaga dalamnya sudah tidak bisa dikeluarkan lagi, dia melihat bulatan-bulatan pil mulai berlompatan di dalam wadah pengolahanya. Setelah beberapa saat, dengan menggunakan sisa-sisa tenaga, laki-laki itu segera menyiapkan botol porselin kemudian dengan penuh perhatian memasukkan kembali pil-pil ke dalam botol porselin tersebut.
__ADS_1
Dari percobaannya hari ini, dia mendapatkan 15 butir obat herbal. Laki-laki itu tersenyum puas, sambil mengamati botol porselin yang ada di tangannya.
"Besok aku akan membawanya ke tempat pelelangan obat. Sekaligus aku akan mencari bahan-bahan untuk mencoba membuat obat level kedua."
*****************
Sore hari berikutnya, Wisanggeni dengan menggendong singa putih di tangannya berangkat menuju ke tempat pelelangan dan aula obat-obatan yang ada di kota tersebut. Dia mencoba menajamkan pandangannya, sambil mengawasi orang-orang yang hilir mudik di jalanan tersebut. Tidak berapa lama, Wisanggeni sudah sampai di sebuah bangunan yang menyerupai stupa candi.
"Maaf jika saya mengganggu paman. Aku memiliki beberapa obat-obatan tingkat dasar atau tingkat 1. Kali ini, saya bermaksud untuk menawarkan obat yang saya punya pada pelelangan disini. Apakah Kisanak bisa membantu saya?" tanya Wisanggeni dengan tersenyum ramah.
"Mari ikuti saya!" dengan cepat, pengawal itu langsung mengajak Wisanggeni untuk mengikutinya.
Wisanggeni berjalan di belakang pengawal itu, melewati tangga yang berputar-putar. Setelah sampai di lantai tiga, pengawal itu mengetuk sebuah pintu kamar. Tidak lama kemudian, pintu kamar itu dibuka dari dalam, dan Wisanggeni terkejut melihat seorang wanita cantik dengan pakaian yang sangat seksi berdiri di depannya.
"Nona.., kenalkan dengan pemuda ini. Tadi dia menyampaikan jika dia membawa beberapa pil obat level dasar. Dia bermaksud untuk menawarkan pilnya dalam pelelangan di tempat kita." pengawal itu langsung menyampaikan maksud dan tujuan Wisanggeni.
__ADS_1
Wanita cantik itu mengamati Wisanggeni dari ujung kepala sampai ujung kaki, dia seperti samar-samar pernah melihat wajah yang mirip pemuda itu. Tetapi saat dia mengingatnya, dia sama sekali lupa wajah siapa itu.
"Masuklah ke dalam Kisanak! Dan kamu Arjo.., kembali ke tempatmu semula!" wanita itu meminta Wisanggeni masuk, dan menyuruh pengawal untuk segera meninggalkan kamarnya.
Wisanggeni segera menuruti perintah, jakunnya naik turun melihat pinggul padat dari wanita itu seperti sedang menggodanya. Rok pendek di atas lutut hampir sampai pantat sangat kontras dengan warna putih kulitnya. Ditambah dengan belahan dadanya yang tampak menyembul dan mengintip keluar, betul-betul menguji keimanannya sebagai seorang laki-laki. Dia kemudian mengambil nafas dalam, untuk menghilangkan pikiran-pikiran menggoda yang mulai menguasai hatinya.
"Kenalkan namaku Kinara, kamu bisa memanggilku Kinar. Meskipun usiamu dan usiaku berbeda jauh, kamu tidak boleh menambahkan kata untuk memanggilku. Cukup sebut aku Kinar!" dengan suara nyaringnya, Kinar berpesan pada Wisanggeni.
"Baik.., namaku Wisanggeni. Panggil aku Wisang. Seperti tadi yang disampaikan paman Arjo, saya membawa 15 butir pil herbal tingkat dasar. Dan karena aku membutuhkan banyak uang, maka aku akan menitipkan pil buatanku ini pada lelang malam ini." Wisanggeni segera mengenalkan balik dirinya, dan juga menyampaikan maksud kedatangannya.
"He.., he.., he.., aku suka laki-laki yang berterus terang. Keluarkan barangmu, ijinkan aku untuk melihatnya." sahut Kinar sambil tersenyum.
Wisanggeni segera mengeluarkan botol porselin, kemudian menyerahkannya pada wanita itu. Kinara mengambil botol itu, kemudian membukanya. Aroma herbal menyengat di dalam kamar itu, dan senyum manis perlahan terbut dari bibir Kinara yang sensual.
"Betul-betul pil level dasar yang sangat sempurna. Darimana kamu mendapatkannya?" dengan selidik, wanita itu bertanya pada Wisanggeni. Karena ingin menjalin kerjasama jangka panjang, Wisanggeni tidak berbohong.
"Saya membuatnya sendiri Kinar." jawab Wisanggeni singkat sambil menatap mata Kinara.
__ADS_1
*******************