Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 407 Diragukan


__ADS_3

Di halaman pagelaran


Puluhan orang dengan membawa senjata tajam merangsek, untuk berusaha masuk ke areal pagelaran tempat berlangsungnya upacara pengukuhan. Tampak kemarahan di mata mereka, dan puluhan prajurit serta pengawal turun menghadang langkah mereka. Tidak ada tolerir bagi siapapun yang akan mengganggu keamanan dan ketertiban pelaksanaan upacara tersebut.


"Berhenti.. siapapun tanpa membawa undangan resmi tidak akan diperbolehkan untuk masuk ke dalam istana. Jikapun membawa undangan resmi, maka semua senjata harus diletakkan di gebyok sebelah sana, dan para prajurit akan memeriksa badan kalian." dengan suara tegas, pemimpin pasukan memberikan arahan pada orang-orang itu.


"Terlalu banyak bicara.. aku akan menggagalkan acara pengukuhan hari ini. Tidak ada serat yang mencatat, jika kerajaan ini bisa membawa orang luar untuk menduduki pengadeg sebagai seorang Patih di kerajaan Logandheng. Sama halnya dengan mengecilkan kemampuan orang-orang di Logandheng.." salah satu dari mereka menanggapi teguran peringatan yang disampaikan oleh prajurit.


"Jika jelas niatmu, maka mau tidak mau kalian semua harus oncat secepatnya dari kerajaan. Aku sarankan dengan baik-baik, mundurlah teratur satu persatu. Maka kami tidak akan mempersalahkan tindakan kalian, atau jika kalian tetap membangkang, maka pedang dan anak panah yang akan berbicara untuk merajam kalian semua. Apakah kalian sudah tahu bagaimana kemampuan Patih kerajaan kita yang baru..? Jangan hanya berani berbicara atas dasar katanya atau omongan ngalor ngidul yang tidak jelas jluntrungannya." pemimpin pasukan masih mencoba untuk mengajak mereka bicara. karena mereka juga tidak mau menodai acara pengukuhan dengan pertumpahan darah.


"Kami tidak akan mendengarkanmu. Ayo kita terus masuk ke dalam, abaikan omongan pasukan dan para prajurit yang sudah kehilangan sifat-sifat asli kerajaan Logandheng." salah satu dari mereka, yang terlihat berusia tua, mengajak teman-temannya untuk merangsek masuk.


Mendengar perkataan itu, puluhan pasukan membentuk barikade membentengi pemandangan di pagelaran acara. Orang-orang yang akan mengacau keamanan itu tidak bisa menyibak benteng itu,


"Clap.. clap.. clap.." tiba-tiba puluhan anak panas melesat dan terjatuh di depan orang-orang itu., dengan serentak benteng manusia itu memundurkan langkahnya ke belakang. Gerakan terpadu antara dua kelompok pasukan itu sudah terlatih sejak lama, tanpa terlepas satu orangpun, benteng itu tetap erat menutup pandangan puluhan orang yang menghunuskan senjata itu.

__ADS_1


"Lesatan anak panah tadi merupakan peringatan bagimu. Mundurlah sebelum ratusan panah api menyerangmu sebentar lagi." teriak pemimpin pasukan mencoba menghalau orang-orang itu.


"Ha.. ha.. ha.., apakah kamu pikir kami ini semua anak kecil, yang langsung ketakutan mendengar gertakanmu. Ha.. ha.. ha.. kalian semua salah besar. Tekad kami untuk datang ke pagelaran ini sudah bulat, kami akan menggagalkan pengukuhan anak muda dari wilayah seberang untuk menjadi Patih di kerajaan ini. Menyingkirlah.. atau pedang kami akan segera meminta tumbal darah dari kalian satu persatu." dengan tertawa terbahak-bahak, laki-laki tua yang sepertinya dituakan dalam kelompok itu menanggapi perkataan pemimpin pasukan,


"Maju..." orang tua itu berteriak, dan puluhan orang itu langsung berlari menerjang ke depan dengan pedang terhunus.


Prajurit kerajaan segera berlari menghadang orang-orang itu, tapi tiba-tiba.. angin besar menghadang kedua pasukan yang saling berhadapan menghalangi mereka untuk saling bertarung.


"Wush.. wush,..." suara angin menderu tiba-tiba menutup pandangan mata mereka.


"Clang.., clang.., bruk." belum hilang keterkejutan para prajurit dan musuh, tiba-tiba pedang di tangan barisan musuh yang hendak menyerang, semuanya terjatuh dan terpental ke depan.


"Prok.., prok.., prok.. hidup Den Bagus Chakra Ashanka... hidup.." sorak sorai dan tepuk tengan dari prajurit kerajaan menyibak keterkejutan itu,


Puluhan orang yang akan menyerbu, dan menghentikan pengukuhan Chakra Ashanka menatap anak muda itu dengan pandangan tajam. Seorang diri, bisa menimbulkan angin yang sangat besar dan menjatuhkan persenjataan mereka, sungguh merupakan sebuah kekuatan yang tinggi.

__ADS_1


"Trap.. trap.." tiba-tiba orang tua yang memimpin orang-orang untuk datang ke pagelaran, tiba-tiba melompat dan berdiri di depan anak muda itu. Tatapan tajamnya sangat tajam, seakan menghunus anak muda yang berdiri di depannya, dan melihat laki-laki tua itu sambil tersenyum.


"Ada apa paman.. ijin saya yang muda memperkenalkan diri pada pihak yang lebih tua. Nama saya Chakra Ashanka paman.." dengan sopan, Chakra Ashanka mengenalkan diri dan memberi hormat pada laki-laki tua itu.


Laki-laki tua itu terkejut, tetapi dengan cepat menghilangkan keterkejutannya itu. Masih dengan tatapan tajam, laki-laki tua itu berjalan lebih mendekat ke arah Chakra Ashanka.


"Hmm.. aku hargai kesopananmu anak muda. Kamu juga sudah menunjukkan permainan kanuraganmu di hadapan orang-orangku, dan hampir membuat mereka terpesona akan ilmu kanuraganmu. Tetapi tidak untukku anak muda. Bagiku.. kamu hanya seorang anak kecil yang bermain sandiwara di depan pemain sandiwara itu sendiri." laki-laki tua itu menanggapi sikap dan ucapan Chakra Ashanka.


Tanpa kata sedikitpun, Chakra Ashanka hanya tersenyum menanggapi orang tersebut, Di belakang anak muda itu, terlihat para prajurit demikian geramnya menyaksikan hal itu. Namun, tangan anak muda itu dengan cepat memberi isyarat pada mereka untuk mengendalikan diri mereka.


"Paman.. kita tidak saling kenal sebelumnya. Apa yang paman inginkan dari saya, anak muda ini akan siap untuk mendengarnya." masih dengan senyuman di wajahnya, Chakra Ashanka bicara setelah melihat orang tua itu berhenti berbicara.


"Kembalilah ke tempatmu berasal anak muda.. Jangan pernah berani-berani untuk menyerahkan nyawamu di kerajaan Logandheng. Apalagi aku dengar, kamu akan menduduki jabatan sebagai seorang patih mendampingi Raden Bahdra Arsyanendra." laki-laki tua itu dengan suara keras memerintah Chakra Ashanka.,


"Tutup mulut kotormu laki-laki tua. Tidak ada hormatnya kamu sebagai orang yang dituakan, sudah menyebut junjungan kita Raja Bhadra Arsyanendra dengan sebutan Raden. Hukuman apa yang pantas untuk kamu terima, dengan bersikap kurang ajar seperti itu?" tiba-tiba dari belakang, terlihat tetua kerajaan datang dan berbicara pada laki-laki tua yang tampak menantang di depan Chakra Ashanka itu.

__ADS_1


Semua yang ada di pelataran pagelaran memandang ke arah sesepuh tersebut. Tanpa senyum, laki-laki itu tua itu turun ke pelataran dan berdiri di samping Chakra Ashanka. Laki-laki tua dari pihak lawan, melawan tatapan sesepuh kerajaan dengan berani. Tidak ada dari kedua laki-laki tua itu yang mau untuk mengalah.


*******


__ADS_2