
Setelah mendengarkan bagaimana perkataan dan perasaan Parvati yang sudah rela untuk melepaskan ibundanya, Wisanggeni menemui Larasati dengan ditemani Rengganis dan Lindhu Aji. Untuk keadaan genting kali ini, hanya orang yang betul-betul memahami racun yang akan bisa menangani racun mematikan di tubuh Maharani. Melihatnya hanya bisa tergolek menahan sakit, selama ini Wisanggeni hanya memberikan pil herbal penghilang rasa sakit, tetapi itupun tidak akan bisa digunakan secara terus menerus dalam waktu yang panjang.
"Huh.., apakah semua sudah menjadi keputusanmu Dhimas Wisanggeni...? AKu hanya menawarkan pilihan kepadamu, tetapi untuk eksekusi pilihan semua aku serahkan keputusan pada keluargamu." kembali Larasati mengingatkan keyakinan hati Wisanggeni,
"Jika nanti istrimu itu sudah berubah menjadi seekor ular, ingatannya tentangmu dan putrimu Parvati juga akan perlahan mulai menghilang. Karena itu sudah menjadi kontrak perjanjian yang dijalani oleh manusia dari suku ular, ketika mereka menginginkan berubah wujud menjadi manusia." lanjut Larasati.
"Lakukan mbakyu Larasati.. Aku juga sudah meminta pertimbangan Parvati putriku, karena dalam hal ini, gadis kecil itu yang memiliki hubungan terdekat dengan istriku Maharani. Putriku tidak keberatan, karena sebelumnya gadis kecil itu sudah banyak berbincang dengan ibundanya, Lakukanlah.., akupun sebagai suaminya merelakannya, agar Nimas Maharani tidak mengalami penyiksaan seperti itu," ucap Wisanggeni pelan. Terbayang lagi ketika di masa lalu, bagaimana Maharani berusaha untuk menggoda dan mengejarnya, hatinya tetap tidak pernah bisa bergeming dari Rengganis. Kali ini..., entah dari mana datangnya, laki-laki ini merasa satu sisi dari ruang batinnya ada yang kosong.
"Baiklah jika itu sudah menjadi keputusan keluargamu. Nanti malam, di saat orang-orang sedang terpulas dalam tidur, aku baru akan bisa untuk melakukan sebuah tindakan. Aku membutuhkan ketenangan untuk memisahkan racun itu dari raga Nimas Maharani." akhirnya setelah menghela nafas, Larasati menanggapi perkataan Wisanggeni.
"Tidak perlu kamu kecewa Dhimas Wisanggeni. Semua ini pasti akan ada nilai yang akan dapat kita petik dan kita ambil. Memang membutuhkan hati yang lapang untuk menerima keputusan ini, tetapi menurutku, hal ini memang harus dilakukan. Jika tidak, hanya penderitaan yang akan dialami oleh Nimas Maharani." setelah sejak tadi hanya menjadi seorang pendengar, akhirnya Lindhu Aji turut mengeluarkan suara.
"Iya kakangmas..., rayi masih ingin terus mendapatkan petuah dan juga pendapat dari Kakangmas Lindhu Aji," ucap Wisanggeni pelan. Rengganis mengusap-usap jari tangan laki-laki itu, seakan turut merasakan kesedihan yang dialami oleh suaminya. Rengganis sengaja tidak berpendapat, karena khawatir akan menimbulkan sikap multi tafsir bagi yang melihatnya. Perempuan muda ini hanya berusaha mendampingi suaminya Wisanggeni setiap menetapkan sebuah pilihan,
"Sekarang istirahatlah dulu Nimas Larasati.., nanti malam kamu akan mengeluarkan banyak energi dan aura batinmu. Kamu harus menyiapkannya dengan baik." tiba-tiba Lindhu aji mengingatkan istrinya agar menyiapkan tenaganya untuk acara nanti malam.
"Baik kakangmas.., temani aku!" Lindhu Aji membantu Larasati berdiri, kemudian merangkul pundak istrinya dan berjalan meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
"Apa yang akan kakangmas lakukan untuk saat ini?? Nimas akan masuk ke dalam senthong Nimas Maharani, untuk membersihkan tubuhnya dengan menggunakan air sibin." Rengganis bertanya pada suaminya,
Wisanggeni menengok ke arah Rengganis istrinya itu, perempuan yang selalu tegar mendampinginya selama ini. Tanpa pernah menunjukkan rasa cemburu, rasa kesal, meskipun harus tinggal bersama dengan istri keduanya. bahkan ketika Maharani jatuh sakit, perempuan itu juga dengan senang hati memberikan perawatan bahkan membersihkan perempuan itu.
"Aku akan menemanimu Nimas. Mari kita bersihkan Nimas Maharani bersama-sama.." Wisanggeni berdiri kemudian berjalan di belakang Rengganis.
************
Malam Hari
"Bagaimana Nimas..., apakah keadaan Nimas Maharani baik-baik saja..?" Lindhu Aji bertanya dengan lirih pada istrinya. Laki-laki itu sejak tadi membantu menyiapkan berbagai ramuan untuk proses merendam tubuh Maharani dalam ramuan tersebut.
"Aku baik saja kangmas.., hanya saja aku nanti minta untuk didukung dengan energi yang kakang Aji miliki. Kekuatan Maharani tidak bisa aku anggap main-main, karena jika aku salah perhitungan, salah-salah kekuatan yang dimiliki perempuan ini akan menyerangku balik." ucap Larasati, sambil menyalurkan energinya ke seluruh tubuh Maharani.
"Pasti Nimas.., lakukanlah. Aku akan berada di belakangmu, dan sepertinya ramuan ini sudah larut dan bercampur dengan air untuk berendam Maharani." Lindhu Aji dengan cepat menanggapi perkataan Larasati. Laki-laki itu kembali mengamati perilaku yang ditunjukkan istrinya.
Larasati duduk bersila dan memejamkan matanya sebentar, dan tidak beberapa lama energi intinya keluar dan dipusatkan pada kedua tangannya. Ada selubung kabut menyelimuti kedua telapak tangan perempuan itu, ketika energi membanjir keluar. Tidak mau menyia-nyiakan energi yang membanjir tersebut, tangan Larasati menggerakkan telapak tangannya, kemudian meletakkan di dada Maharani.
__ADS_1
"Hhhh... aaaww... ssssshhh...." Maharani mulai menggeliat kesakitan. dengan mata terpejam, perempuan itu merintih kesakitan. Larasati terus menempelkan tangannya di dada perempuan itu, untuk menghentikan pergerakan racun yang mulai menjalar ke seluruh tubuh.
Hal itu berlaku untuk beberapa saat, keringat sebiji jagung sudah mulai membanjiri kening Larasati, dan lindhu Aji dengan penuh perhatian mengusap keringat itu dengan penuh kasih, Tiba-tiba satu tangan Larasati bergerak, dan dengan gerakan memutar memberi totokan kembali pada leher Maharani. Dengan penuh kecepatan, lindhu Aji menyalurkan energinya ke punggung Larasati.
"Sudah saatnya Kang Aji.., siapkan airnya.." dengan suara tercekat menahan energi yang masih terus mengalir, Larasati meminta suaminya menyiapkan tempat berendam.
Tanpa menunggu pengulangan, Lindhu Aji dengan gesir menyiapkan ember kayu. Kemudian dengan hati-hati, laki-laki itu membantu Larasati mengangkat tubuh Maharani dan memasukkan ke dalam air yang sudah diberi ramuan herbal itu.
"Blusshhh.." suara letupan kecil terdengar ketika dengan perlahan, tubuh Maharani dimasukkan ke dalam ramuan air herbal tersebut.
Mata Maharani membuka sebentar, dengan lemah perempuan itu memberi senyuman pada Larasati, dan sekilas juga melihat pada Lindhu Aji. Pasangan suami istri menganggukkan kepala, kemudian tangan Larasati mengusap wajah Maharani perlahan, dan tubuh perempuan itu lambat laun mulai masuk ke dalam air.
"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya Nimas..?" Lindhu Aji berbisik pada Larasati setelah melihat perempuan itu tertidur dan terendam dalam cairan obat,
"Tunggulah sebentar kakang.., di tengah malam bantu aku untuk menangani gerakan dari nimas Maharani.: ucap Larasati perlahan,
**********
__ADS_1