
Di Tapal Batas Perguruan Gunung Jambu
Maharani tetap berdiri dengan gagah sambil menahan sakit di bagian leher. Matanya dengan tajam memindai lawan-lawan yang ingin mengganggu ketenangan wilayah tapal batas tersebut. Perempuan itu berpikir, dia akan menghentikan sendiri apa yang sudah dia mulai. Karena kekurang cermatan, perempuan itu sudah turut campur untuk alasan kemanusiaan pada warga desa yang bermukim di dekat tapal batas, yang menjadi bagian dari kerajaan Logandheng.
"Siapa yang masih ingin berurusan denganku, aku akan meladeni kalian. Wilayah perguruan Gunung Jambu bukan merupakan wilayah yang dapat kalian injak-injak dan diperlakukan sesuai dengan kemauan kalian. Gunakan tata krama, ketika kalian berkunjung ke satu tempat." dengan nada tinggi, Maharani menatap pada orang-orang kiriman dari pihak kerajaan.
Orang-orang yang masih tergeletak di tanah, berusaha untuk mengangkat tubuhnya agar mereka dapat berdiri. Tetapi serangan yang dikirimkan Maharani sangat melukai tubuh-tubuh mereka. Di bawah tatapan mata tajam Maharani, mereka tidak berani untuk berkutik.
"Aku harus cepat menutup luka di belakang leherku, jika tidak aku khawatir akan menjalar ke seluruh tubuhku." Maharani berpikir sendiri, Tiba-tiba rasa perih dan nyeri menghampiri bagian tubuh yang ada di belakang leher perempuan itu.
Tanpa mempedulikan orang-orang yang masih tergeletak di tanah, Maharani dengan menahan rasa sakit membalikkan badan, dan akan pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Perempuan itu akan pergi meninggalkan tempat ini, sepertinya merupakan saat yang tepat untuk mengirimkan serangan kepadanya." tiba-tiba salah satu dari orang kerajaan berbisik pada temannya yang lain.
"Blam..., blam..." tanpa menanggapi perkataan temannya, salah satu dari mereka mengirimkan serangan ke arah Maharani. Serangan itu tepat mengenai bagian punggung perempuan itu. Kain penutup bagian punggung tersebut tiba-tiba terbakar, dan terlihat luka berada di bagian punggung tersebut,
Maharani yang kurang fokus memperhatikan orang-orang itu, terlambat memberikan respon atas serangan tersebut. Serangan dari salah satu orang kiriman kerajaan Logandheng, telah berhasil tepat mengenai punggungnya. Luka gosong terlihat, tepat di bawah luka di leher perempuan itu. Dengan mata beringas, Maharani membalikkan badan, kemudian mengirimkan serangan balasan secara membabi buta.
__ADS_1
"Sreettt...., jueglarrr..." serangan mendatar di arahkan Maharani, dan langsung menyapu belasan orang yang tergeletak di atas tanah itu, Tubuh belasan orang itu langsung terbang ke atas, kemudian terjatuh kembali ke tanah dengan mengenaskan. Mata perempuan itu berubah menjadi berwarna merah, dan tidak ada keramah tamahan sedikit dalam tatapannya.
"Aaaaakh.... perempuan terkutuk..." teriak salah satu orang, kemudian tubuhnya membentur batu yang ada di bawahnya. Belasan orang terlihat tercerai berai di tanah, dan tidak ada satupun dari mereka yang dapat menyelamatkan diri.
Maharani tersenyum sinis, kemudian sambil menahan sakit di punggung dan leher belakangnya, perempuan itu terduduk. Dari arah belakang, beberapa murid perguruan berlari menghampiri perempuan itu untuk memberinya pertolongan.
"Den Ayu.., bagaimana keadaannya. Apakah perlu kami bantu?" beberapa murid bertanya dengan khawatir pada Maharani. Mereka memandang istri kedua dari guru mereka Wisanggeni dengan tatapan cemas.
"Aku hanya butuh istirahat saja sebentar, beri aku minuman..!" Maharani mengangkat tangan kanannya ke atas, melarang murid-murid untuk mendekat padanya, Nafas perempuan itu tersengal-sengal, dan giginya menggigit bibir untuk menahan rasa sakit yang datang mendera.
"Baik Den Ayu..., mohon tunggu sebentar, saya akan mengambilkan kendi dulu untuk tempat air minum." salah satu murid segera berlari meninggalkan tempat tersebut. Maharani mendatangi sebuah batu besar, kemudian menggunakan batu itu untuk tempat bersandar.
Tanpa menjawab beberapa orang segera berlari meninggalkan Maharani untuk mencarikan daun-daun tersebut. Salah satu murid datang menghampiri Maharani menyerahkan kendi dan satu cangkir gerabah kepada perempuan itu. Perempuan itu langsung meminum air dari kendi tersebut, dan setelah beberapa tegukan kemudia meletakkan kembali kendi di atas tanah.
**********
Rengganis yang sudah menghabisi para penyusup yang mencoba untuk memasuki wilayah tapal batas, mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat tersebut. Melihat beberapa tempat yang terlihat gelap karena tidak ada penerangan, dahi perempuan itu berkerut. Segera perempuan itu membalikkan badan, kemudian memanggil para murid untuk datang mendekat kepadanya.
__ADS_1
"Siap Den Ayu Rengganis.., apa yang bisa kami lakukan untuk membantu Den Ayu..?" seorang murid segera menanyakan keperluan perempuan itu memanggilnya untuk mendekat.
"Tambah penerangan di sudut-sudut tapal batas kita. Beri obor-obor tambahan, agar tempat di sekitar ini menjadi lebih terang. Singkirkan orang-orang yang tadi bertarung, jika mereka masih bisa diselamatkan obati, dan kurung mereka untuk sementara. Besok saat hari sudah terang, aku akan mengajak mereka bicara." Rengganis segera menyampaikan hasil pengamatannya pada para murid yang berada disitu.
"Baik Den Ayu..., akan segera kami siapkan. Silakan Den Ayu menghilangkan dahaga dengan minum air dari kendi ini Den Ayu." seorang murid memberikan sebuah kendi kepada Rengganis. Perempuan itu segera mengambil kendi, kemudian karena tidak disediakan cangkir, maka Rengganis meminumnya secara langsung dari kendi tersebut.
Setelah merasa dahaganya hilang, Rengganis mengembalikan kendi pada murid yang memberikan kepadanya tadi.
"Sudah saatnya Den Ayu untuk istirahat, kami yakin tidak akan ada susulan orang-orang dari kerajaan untuk malam ini. Jika Den Ayu berkenan.., sudah kami siapkan kamar untuk beristirahat Den Ayu sampai menjelang pagi di tapal batas ini. Mari kami antarkan Den Ayu..." seorang murid menawarkan tempat untuk beristirahat Rengganis.
"Aku akan mencari tempatnya sendiri. Ngomong-ngomong, beberapa saat aku di tempat ini, sepertinya aku belum bertemu dengan Nimas Maharani, ada dimana perempuan itu?" melihat ke sekitar tetapi tidak melihat kemunculan Maharani, Rengganis bertanya pada para murid tersebut,
Murid-murid saling berpandangan, mereka juga tidak mengetahui keberadaan perempuan itu. Hanya ada yang melihat kemunculan perempuan itu, ketika Rengganis sedang bertarung dengan orang-orang dari kerajaan di tempat tersebut. Tetapi tidak lama kemudian, Maharani bergeser meninggalkan tempat tersebut.
"Den Ayu..., tadi saya sempat bertemu dengan murid-murid yang berjaga di sebelah sana. Mereka sedang mencari daun cocor bebek, daun talas, dan lidah buaya. Sepertinya Den Ayu Maharani terluka saat bertarung dengan penyusup yang masuk di dekat tempat istirahat para murid Den Ayu." salah satu murid akhirnya menanggapi pertanyaan Rengganis.
Mendengar perkataan murid tersebut, Rengganis menjadi terkejut. Perempuan itu segera membalikan badan, kemudian melompat untuk menuju ke tempat dimana Maharani bertarung.,
__ADS_1
************