
Seketika pendhopo menjadi hening melihat kedatangan Wisanggeni dan Rengganis dari arah depan. Terlihat dengan manja, Parvati menyandarkan kepala di pundak ayahndanya. Mereka berjalan menuju ke pendhopo, tempat ke empat anak muda itu berkumpul. Dananjaya tanpa berkedip melihat ke arah Parvati, sambil mengulum senyum laki-laki itu terlihat senang. Arya yang duduk di sampingnya menyenggol anak muda itu.
"Ada apa kang Arya.." tanpa rasa bersalah, Dananjaya bertanya pada kakangmasnya itu.
"Ubah pandanganmu.. tidak boleh menatap mata seorang gadis lebih dari hitungan kelima." dengan halus, Arya menegur rayinya itu sambil tersenyum. Laki-laki itu memahami bagaimana rasa kasmaran adik laki-lakinya pada gadis putri dari Wisanggeni dan Rengganis itu.
"Hmm.. Nimas Parvati sangat cantik kakang.. kehadirannya meruntuhkan duniaku. Maaf ya kang.. jika kemunculan gadis itu, seketika merubah pandanganku. Kakang akan juga merasakannya jika sudah menemukan calon istri.." sambil berbisik. Dananjaya malah balik menggoda kakangmasnya itu.
"Awas saja kamu Rayi.. jika ada apa-apa, jangan pernah libatkan aku." Arya pura-pura marah dan berkata sengit pada Dananjaya.
Bukannya takut, melihat kemarahan Arya kakangmasnya, Dananjaya malah menggoda laki-laki itu. Kedua laki-laki muda itu tidak menyadari ketika interaksi mereka disaksikan oleh Wisanggeni, Rengganis serta Parvati. Dari sampingnya, Chakra Ashanka dan Sekar Ratih juga ikut melihat keakraban dua saudara kakang dan rayi itu.
"Kalian sedang menggunjingkan apa ini, sampai tidak melihat kedatangan kami.." sambil tersenyum, Wisanggeni bertanya pada dua anak muda itu.
Mendengar pertanyaan itu, Arya dan Dananjaya tersentak, mereka saling berpandangan kemudian tersenyum malu melihat ke arah Wisanggeni dan Rengganis.
"Maafkan kami paman.., bibi.. hari sepertinya belum lengkap, jika saya belum menggoda Rayi Dananjaya. Sampai kami tidak sadar, jika paman dan bibi sudah berada di depan kami.." dengan muka menahan malu, Arya menanggapi perkataan Wisanggeni.
__ADS_1
"Baguslah jika begitu, hanya dengan berkumpul dengan keluarga kita akan dapat merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Kita bisa berbagi rasa duka, rasa bahagia.. ketika kita berkumpul dengan keluarga kita. Lanjutkan nak mas.. paman dan bibi tidak akan mengganggunya.." masih dengan tersenyum, Wisanggeni menanggapi perkataan laki-laki muda itu.
"Tidak paman.. kita hanya sekedar bercanda saja tadi. Paman bisa menyampaikan perihal yang akan paman bicarakan pada kami, itulah yang menjadi alasan kedatangan kami di tempat ini." dengan sopan, Arya menyampaikan alasan datang kemari.
Wisanggeni mengambil nafas, kemudian meminta istrinya Rengganis, serta Parvati untuk segera duduk menempatkan diri. Kedua perempuan itu duduk berdampingan, dengan Parvati duduk di apit oleh kedua orang tuanya. Chakra Ashanka tidak merubah posisi duduknya, laki-laki itu tetap berada di samping Sekar Ratih.
"Begini nak mas Arya.., nak mas Dananjaya, dan putraku Chakra Ashanka. Kalian bertiga adalah pihak laki-laki, jadi kepada kalianlah aku maksudkan pembicaraan ini. Ada hal penting yang sudah menjadi pemikiran dan pertimbangan paman dan bibi selama ini, dan kalian berdua harus segera mengetahuinya. Demikian juga denganmu putraku Ashan.." Wisanggeni memulai pembicaraan.
Keheningan terjadi di pendhopo, semuanya terdiam mendengarkan perkataan dua orang tua di hadapan mereka. Parvati segera menegakkan kepalanya, gadis itu turut mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh kedua orang tuanya.
Semuanya kembali terdiam, hingga Arya mengangkat wajahnya ke atas kemudian menatap laki-laki itu.
"Arya memahami apa yang paman ucapkan. Sebagai kakangmas dari rayi Dananjaya, saya menyambut baik kata-kata paman Wisanggeni. Apapun yang akan paman putuskan, sebagai wakil dari keluarga Rayi Dananjaya, saya akan menyetujuinya paman.." Arya memberi tanggapan pada kata-kata Wisanggeni.
"Terima kasih nak mas.. kamu sudah dapat mencerna apa yang akan aku katakan. Jika kalian semua bersedia, aku dan istriku Nimas Rengganis sudah sepakat untuk menjadikan kalian berempat menjadi dua pasangan suami istri. Hal itu perlu aku lakukan, untuk memberikan contoh pada anak muda agar tidak terlalu terbuai dalam pendekatan, namun segera mewujudkan dalam sebuah hubungan tetap. Omongan dan fitnah dari orang banyak juga akan dapat kita cegah, jika kalian sudah mengikatkan hubungan kalian.." akhirnya Wisanggeni menyampaikan maksud perkataannya.
Parvati terkejut, gadis muda itu menengadahkan wajahnya ke atas, berusaha untuk melihat wajah ayahndanya. Namun raut wajah tegas akan kata-katanya terlihat jelas di wajah ayahndanya, dan gadis muda itu serta merta kembali menundukkan kepalanya ke bawah. Begitu juga dengan Chakra Ashanka, namun wajah laki-laki muda terlihat senang mendengar perkataan yang diucapkan oleh ayahndanya.
__ADS_1
"Bagaimana rayi tanggapanmu dengan ucapan paman Wisanggeni. Sebagai kakangmu.. kakang menyetujui ucapan paman, dan mendukungnya. Tetapi semua aku kembalikan kepadamu, apakah kamu memiliki keberanian untuk membawa pulang Nimas Parvati ke hadapan ayahnda dan ibunda kita.." Arya mengembalikan perkataan ayahnda parvati kepada rayinya.
"Rayi menyetujuinya kakang.. akan rayi hadapi keterkejutan keluarga besar kita. Apapun yang akan terjadi, dengan Nimas Parvati.. rayi akan menghadapinya kakang. Paman Wisang.. Bibi Rengganis.., Dananjaya menyetujui ucapan paman Wisanggeni. Tetapi semua Danan kembalikan pada Nimas Parvati.. apakah Nimas bersedia untuk menjalin ikatan resmi dengan kakang.." dengan mata redup penuh harap, Dananjaya menatap wajah Parvati.
Wisanggeni dan Rengganis tersenyum mendengar ucapan laki-laki muda itu. Harapan besar diletakkan di calon anak menantunya itu. Perlahan Parvati mengangkat wajahnya ke atas, dan dengan pipi yang bersemburat warna merah, gadis itu menatap ke arah wajah Dananjaya.
"Jika kakang sudah menyanggupinya, tidak ada pilihan lain untuk Nimas kakang.. Nimas mengikuti apa yang sudah diputuskan dan dikehendaki oleh ayahnda dan ibunda." dengan suara lirih, Parvati akhirnya menyanggupi ajakan dari laki-laki muda itu.
Senyuman muncul di wajah orang-orang yang berada di pendhopo itu, mendengar kata-kata persetujuan dari kedua belah pihak. Wisanggeni tersenyum kemudian beralih pandangan ke arah Chakra Ashanka. begitu juga dengan Rengganis, dengan lembut pandangannya menatap anak muda itu.
"Baik ayahnda.. ibunda.. secepatnya Ashan akan segera meresmikan ikatan janji dengan nimas Ratih. Bukankah Nimas Ratih juga menyetujuinya.." Chakra Ashanka melihat ke arah Sekar Ratih, dan gadis itu kaget dengan kejutan yang diberikan oleh anak muda itu.
"Bagaimana Nimas... ayahnda dan ibunda menunggu jawaban darimu." Chakra Ashanka kembali menekankan pada gadis muda itu.
Tidak ada pilihan lain untuk Sekar Ratih, gadis muda itu hanya menganggukkan kepalanya. Wisanggeni dan Rengganis merasa puas dengan jawaban dari anak muda itu, kemudian menyusun langkah selanjutnya.
*******
__ADS_1