Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 88 Restu Ikatan


__ADS_3

Setelah berpamitan dengan laki-laki penunggu pemakaman kuno Kapak Berdarah, bersama dengan Singa Ulung Wisanggeni dan Rengganis terbang untuk kembali ke griya tempat laki-laki muda itu menginap. Merasa sudah mendapatkan restu dan diikatkan sebagai pasangan suami istri oleh Ki Widjanarko, Wisanggeni berani membawa Rengganis untuk pergi ke griya tempatnya menginap.


"Simbok..., buatkan kami teh jahe serai!" Rengganis meminta pelayan di griya untuk membuatkan minuman hangat untuk mereka berdua.


"Baik Nimas.., akan segera simbok siapkan. Tunggulah sebentar!" simbok segera menuju dapur untuk menyiapkan minuman hangat dan kudapan untuk Rengganis.


"Akang.., kira-kira berapa lama waktu yang kita habiskan untuk bermeditasi di dalam pemakaman kuno?" Rengganis bertanya pada suaminya, sambil menyandarkan kepala di pundak Wisanggeni.


"Nanti coba kita tanyakan pada simbok Nimas.., berapa lama kita sudah meninggalkan griya ini. Tadi dari punggung SInga Ulung, Akang lihat sepertinya tamu-tamu dalam perayaan tahunan kemarin sudah tidak ada lagi. Atau mungkin juga Akang yang salah lihat." Wisanggeni mengusap lembut pipi Rengganis, laki-laki itu kemudian menolehkan wajahnya dan memberikan kecupan hangat di kening gadis itu.


Dari arah dapur, tampak simbok datang membawa dua cangkir dan rebusan pisang di atas nampan. Perlahan perempuan tua itu meletakkan minuman dan makanan di atas meja.


"Den.., Nimas.., minuman jahe serai sudah siap. Silakan dicicipi!" simbok mempersilakan Wisanggeni dan Rengganis untuk mencicipi menu yang sudah dia sajikan.


Rasa hangat mengalir ke tenggorokan pasangan suami istri itu, yang melegakan perasaan mereka. Rasa haru melingkupi mereka, karena  saat ini sudah kembali ke peradaban manusia kembali.


"Simbok.., kira-kira saat ini kita sudah berada pada bulan berapa simbok?" Rengganis tiba-tiba bertanya ppada simbok.


Simbok tersenyum, kemudian duduk di depan pasangan pengantin yang belum merasakan bulan madu itu.


''Apakah Nimas mau menghitung berapa lama Nimas dan Aden sudah meninggalkan tempat ini?? Jika iya, sudah selama 2 bulan Nimas dan Aden meninggalkan Jagadklana. Simbok sarankan, besok pagi segera temui ayahnda dan ibunda Nimas.., karena sudah selama 2 purnama Nimas pergi." ternyata simbok bisa menebak hal apa yang mau ditanyakan Rengganis.


"Iya simbok..., aku akan segera menemani dan mengantarkan istriku untuk menemui Ki Sasmita. Aku akan meminta maaf padanya, karena telah meresmikan ikatan kami tanpa kehadiran mereka." Wisanggeni menanggapi saran yang diusulkan oleh Simbok. Dengan perasaan malu, Rengganis menatap wajah suaminya dengan penuh perasaan.


"Iyakah Den.., Nimas. Kalian berdua sudah meresmikan ikatan kalian. Jika begitu.., simbok turut merasa senang Nimas, Aden.., selamat." dengan muka berbinar, Simbok mengucapkan selamat pada mereka berdua.

__ADS_1


"Terima kasih mbok.., jika simbok sudah tidak ada urusan, tinggalkan kami berdua!" Wisanggeni meminta simbok untuk segera meninggalkan mereka.


"Baik Den.."


Wisanggeni dan Rengganis saling berpandangan, kemudian di depan simbok keduanya saling menatap mesra. Perlahan simbok berjalan meninggalkan pasangan pengantin itu berdua untuk menghabiskan malam. Pintu terdengar ditutup simbok dari luar, yang kemudian simbok segera pergi dari griya itu.


************


Perlahan Wisanggeni mengangkat tubuh Rengganis, wanita yang sudah memiliki kedekatan emosional dengannya sejak dia masih kecil. Masih dengan saling menatap, di atas ranjang laki-laki muda dari Klan Bhirawa itu membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Melihat tatapan itu, muka Rengganis tiba-tiba bersemburat merah, menandakan jika gadis itu merasa malu.


"Nimas..., apakah malam ini sudah  saatnya kamu mengijinkan aku untuk mereguk manis madumu?" dengan berbisik, Wisanggeni berbicara di telinga gadis itu.


Keduanya kembali bertatapan, dan anggukan lemah menandakan jika gadis itu sudah siap menyerahkan jiwa dan raganya pada suaminya itu. Perlahan Wisanggeni menurunkan wajahnya, dan dengan mengangkat sedikit dagu perempuan itu, Wisanggeni membenamkan bibirnya di atas bibir Rengganis. Pagutan dan lu**matan keduanya bercampur dengan aroma malam yang semakin panas dan menghangat.


"Uh.., um.., um.." terdengar de**sahan dan lenguhan dari bibir perempuan yang sangat dicintai oleh laki-laki muda itu. Perlahan satu tangan Wisanggeni melepaskan kancing-kancing di baju istrinya, dengan bibir yang tidak mau lepas dari leher perempuan itu.


Kedua insan itu sudah terlena dalam aroma intim percintaan mereka tanpa ada gangguan. Remasan dan rabaan keduanya tidak bosan mereka lakukan, menambah kehangatan malam. Aroma percintaan jelas tercium di dalam kamar itu, sampai akhirnya sebuah lenguhan panjang keduanya terjadi di tengah malam.


"Terima kasih istriku.., kamu sudah menjadi milikku seutuhnya." kembali Wisanggeni berbisik di telinga istrinya.


"Aku juga berterima kasih Akang.., denganmu Nimas merasakan kebahagiaan dan kenikmatan ini." ucap Rengganis sambil memberi gigitan kecil pada dada Wisanggeni.


"Jangan memancing suamimu sayang..., gigitanmu membangunkan kembali hasrat kelelakianku." dengan suara serak, Wisanggeni kembali membisikkan sesuatu di telinga Rengganis.


Gadis itu hanya tersenyum malu, dia kemudian  membalikkan tubuhnya, dan gantian dia berada di atas tubuh suaminya. Jari-jari tangannya dia gunakan untuk melukis tubuh suaminya, dan gerakan-gerakan kecil itu kembali membangunkan hasrat manusia purba di tubuh Wisanggeni.

__ADS_1


"Sayang.."


*************


Ki Sasmita memberi tatapan marah pada kedua orang itu, yang sudah mengikatkan diri tanpa kehadiran dirinya. Ibunda Rengganis tampak memegang lengan suaminya, untuk membantunya menenangkan suasana.


"Sudahlah ayahnda.., yang penting mereka sudah terikat resmi meskipun tanpa kehadiran kita. Dari pada mereka melakukan suatu hubungan tanpa ikatan, itu akan lebih mempermalukan kita." ucap ibunda Rengganis.


"Iya ayah.., maafkan Rengganis. Jika ayahnda tidak merestui kami sekarang ini, ijinkan Rengganis akan mengikuti kemana kang Wisang akan melangkahkan kaki." Rengganis ikut berbicara.


Ki Sasmita mengambil nafas panjang, kemudian kembali melihat pada Wisanggeni dan Rengganis.


"Kemarilah...!" akhirnya laki-laki tua itu meminta Wisanggeni dan Rengganis untuk mendekat padanya. Wisanggeni langsung meraih tangan Rengganis, kemudian membawanya ke depan ayahndanya.


"Aku serahkan putriku padamu anak muda. Jangan pernah kamu berani untuk menyakiti dia, atau aku akan membunuhmu." Wisanggeni merasa tidak percaya dengan ucapan yang disampaikan Ki Sasmita, tetapi laki-alki muda itu langsung mengajak Rengganis untuk bersimpuh di kaki ayahndanya.


"Terimalah salam kami ayahnda. Wisang berjanji akan selalu membahagiakan dan menjaga Nimas Rengganis dalam keadaan apapun." Wisanggeni mengucap janji pada Ki Sasmita. Perlahan telapak tangan Ki Sasmita mengusap lembut kepala Wisanggeni dan Rengganis. Ibunda Rengganis merasa terharu melihat pemandangan itu, perlahan air mata bahagia menetes di pipinya.


Setelah beberapa saat, tangan Ki Sasmita menegakkan tubuh Wisanggeni kemudian memeluk erat tubuh laki-lai yang sudah resmi menjadi menantunya itu.


"Jagalah putriku Wisanggeni, kembalikan padaku jika kamu menyakitinya." ucap haru Ki Sasmita.


"Tidak akan terjadi ayahnda, Nimas Rengganis adalah jiwa raga Wisanggeni.


*************

__ADS_1


__ADS_2