
Wisanggeni kaget mendengar perkataan yang diucapkan oleh putra laki-lakinya. Dikelilingi oleh fasilitas dan harta yang melimpah, dan gadis-gadis cantik di sekitarnya tetap membuat anak muda bersikap membumi. Tidak terlihat kesombongan, ataupun lupa diri, Chakra Ashanka masih merupakan seorang putra yang tumbuh dan besar di padhepokan. Dari kata-katanya, anak muda itu sudah jelas menunjukkan sikapnya, jika sudah memilih dan menetapkan Sekar Ratih untuk mendampinginya di masa depan.
"Putraku Chakra Ashanka.. ibunda bangga dengan sikap dan pilihanmu nak.. Kamu tidak silau, dan tidak terbawa gaya maupun perilaku orang-orang kaya, yang memiliki banyak harta di sekitarnya. Ternyata Chakra Ashanka, masih seorang laki-laki muda yang tumbuh dalam pola asuh ibunda.." Rengganis tersenyum, dan memeluk putra sulungnya itu dengan perasaan bangga. Wisanggeni menatap istri dan putranya saling berpelukan.
"Ashan.. meskipun selama ini sikapmu sudah jelas terhada[ Nimas Ratih.. Tetapi kamu harus tetap mengutarakannya nak.. karena seorang gadis manapun akan merasa lebih tenang, jika sudah ada kata-kata atau sikap untuk menawannya dalam ikatan janji suami dan istri. Lakukanlah Ashan.. beri tahu Nimas Ratih tentang apa yang kamu rasakan dalam hati. Katakan jika kamu sudah memilihnya.." Wisanggeni turut memberikan nasehat pada putra sulungnya itu.
"Baik ayahnda.. ibunda.. terima kasih atas dukungan dan arahannya. Secepatnya.. Ashan akan mencari keberadaan Nimas Ratih.. dan sebelum Ashan kembali ke kerajaan Logandheng, pasti Nimas Ratih sudah tahu tentang sikap dan pilihan Ashan kepadanya.." sambil menatap mata kedua orang tuanya, dengan tegas Chakra Ashanka menyanggupi apa yang sudah dikatakan oleh Wisanggeni dan Rengganis.
Wisanggeni dan Rengganis saling berpandangan, keduanya saling mengulum senyum. Muncul kebanggaan dan ketenangan dalam hati orang tua, ketika pada saatnya putra atau putrinya sudah menetapkan suatu pilihan. Sebagai orang tua, mereka hanya menempatkan diri untuk mengawasi dan mengarahkan arah dan langkah yang akan ditempuh oleh anak-anaknya.
"Hanya itu putraku.. yang ayahnda dan ibunda ingin sampaikan kepadamu. Kembalilah ke tempat awalmu berada, atau carilah Nimas Ratih sekarang juga. Katakan jika kamu memang memilih dan menetapkan hati untuknya. Jangan lupa Ashan.. kamu harus memberi ketegasan pada Nimas Ayodya Putri. Jangan permainkan perasaannya, karena sebagai orang tua, bunda bisa melihat jika gadis itu telah menjatuhkan hatinya kepadamu. Hati-hatilah untuk menjaga hati seorang gadis.." tiba-tiba ibunda Rengganis mengingatkan Chakra Ashanka tentang keberadaan Ayodya Putri.
Selama ini bukannya anak muda itu tidak peka dalam menilai sikap yang ditunjukkan oleh gadis itu. Namun.. hatinya tetap memilih kesederhanaan dan sikap santun yang dimiliki oleh Sekar Ratih, dan murni hanya menganggap Ayodya Putri sebagai salah satu temannya saja. Atau bahkan mungkin seperti perasaan untuk menjaga adik perempuannya.
"Baik bunda.. ayah.. tidak ada perasaan apapun pada Nimas Ayodya Putri. Hanya Nimas Sekar Ratih yang Ashan harapkan untuk bersama mendampingi di masa depan. Keberadaan Ayodya Putri bersama Ashan selama ini, karena kemauannya sendiri. Sedikitpun Ashan tidak pernah mengajak, apalagi memaksanya." dengan suara tegas, Chakra Ashanka mengatakan perasaannya pada AYodya Putri.
__ADS_1
"Katakan pada Nimas Ratih dengan tegas Ashan.. kami ingin melihat putra dan putri kami dapat melewati satu tahap penting dalam kehidupan kalian." ucap Rengganis akhirnya.
"Terima kasih bunda.. Ashan akan segera melakukannya." sahut anak muda itu tegas.
*********
Chakra Ashanka mengajak Sekar Ratih untuk berjalan-jalan menikmati pandangan. Gadis muda itu tidak memiliki firasat apapun, untuk apa anak muda itu mengajaknya pergi. Dua anak muda itu berjalan-jalan, dan sampailah mereka di pinggir sebuah desa. Terlihat matahari yang sudah akan tenggelam ke peraduan, dan akan berganti malam yang datang menjelang menyelingkupi tempat mereka berpijak.
"Lihatlah matahari di ufuk senja kang Ashan.. sangat menakjubkan. Sinarnya perlahan mulai redup, dan langit perlahan berubah menjadi berwarna jingga." Sekar ratih menunjuk dengan jari telunjuknya ke arah barat.
"Mari kang.. sambil kita melihat matahari yang perlahan akan terbenam.." tanpa berpikir apapun, Sekar Ratih mengikuti anak muda itu. Tidak lama kemudian, kedua anak muda itu sudah duduk berdampingan menghadap ke arah ufuk barat.
"Nimas.. tidakkah nimas mencari tahu, untuk apa kakang mengajakmu kesini Nimas..?" tiba-tiba Chakra Ashanka bertanya pada gadis muda itu.
Sekar Ratih kaget dengan perkataan yang diucapkan oleh anak muda itu. Gadis itu kemudian melihat ke arah Chakra Ashanka, dan anak muda itu tersenyum sambil menatapnya.
__ADS_1
"Apa maksud kakang.. bukankah sudah merupakan hal yang biasa. Kakang sebelumnya juga sering mengajak Ratih untuk berjalan-jalan. Sepertinya tidak ada yang perlu untuk Nimas tanyakan.." merasa bingung, Sekar Ratih menanggapi perkataan laki-laki muda itu dengan menatapnya.
"Nimas.. kakang sengaja mengajakmu ke tempat ini. Ada sesuatu hal yang sangat penting, dan perlu untuk segera kakang sampaikan kepadamu Nimas. Dan.. sebelum kakang mengajakmu kesini, ayahnda Wisanggeni dan ibunda Rengganis juga sudah mengetahuinya, bahkan beliau berdua mendorong dan mendukung kakang untuk melakukan hal ini.." sambil tetap tersenyum, kata demi kata keluar dari bibir Chakra Ashanka.
"Kakang memintamu Nimas.. dan tidak ingin mendengar penolakan darimu. Dalam waktu dekat, sebelum kakang memutuskan untuk kembali ke kerajaan Logandheng, kakang ingin menjadikanmu pendamping hidupku nimas. Kita akan menjalin ikatan perjanjian, untuk bersama selamanya." tanpa memberi kesempatan pada gadis muda itu untuk bicara, Chakra Ashanka menyampaikan kata-katanya.
Mendengar perkataan itu, Sekar Ratih menjadi terkejut. Matanya tidak berkedip, menatap wajah dan mata Chakra Ashanka. Laki-laki muda itu meraih kedua tangan gadis muda itu, kemudian menggenggamnya dan perlahan mengangkatnya ke atas. Perlahan sambil tetap menatap mata Sekar Ratih, Chakra Ashanka mengecup punggung tangan gadis itu. Ketika Sekar Ratih akan menarik tangannya kembali, anak muda itu menahannya.
"Jangan tolak aku Nimas Ratih.. hanya kamu yang selalu ada di hati kakang.." dengan penuh harap, Chakra Ashanka terus meminta kesediaan gadis muda itu.
Beberapa saat mereka terdiam, dan Sekar Ratih tidak mampu lagi mengendalikan gejolak yang ada dalam dadanya. Jantungnya berdegup keras, namun gadis muda itu tidak bisa mengeluarkan kata-kata untuk menjawab perkataan Chakra Ashanka. Tidak terasa, air mata bening mengalir dari sudut mata gadis muda itu, dan dengan sigap anak muda itu mengambil sapu tangan untuk menyeka air mata tersebut. Kedua pasang mata itu saling memandang, dan akhirnya perlahan tanpa bicara Sekar Ratih menganggukkan kepalanya.
"Benarkah Nimas Ratih.. nimas menerima kakang untuk menjadi pendamping hidup selamanya. Ucapkan dengan kata-katamu Nimas..." Chakra Ashanka tidak percaya dengan anggukan kepala gadis muda itu.
"Iya kakang.. Nimas bersedia.." ucap lirih Sekar Ratih, dan gadis itu menundukkan kepala dengan pipi yang bersemburat merah.
__ADS_1
*******