Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 178 Mengabaikan Situasi


__ADS_3

Wisanggeni, Sumpeno dan Santosa segera berjalan menyusuri jalan setapak menuju ke atas bukit. Tiba-tiba mereka mendengar suara keras orang-orang yang sedang berdebat jauh di depan mereka. Ketiga orang itu saling berpandangan, kemudian..


"Kamu tidak perlu heran Wisang.. Banyak orang dari belahan alam ini, berusaha untuk mengadu nasib mendapatkan pusaka lempeng itu. Jadi tidak heran.., jika tiba-tiba kita melihat perdebatan atau bahkan pertarungan di depan kita. Bersikaplah diam, kita tidak perlu mencampuri urusan mereka. Karena terkadang kita bermaksud baik, tetapi orang lain berpikiran beda dengan apa yang kita pikirkan." Santosa menahan keingin tahuan Wisanggeni, dengan suara pelan, laki-laki itu menasehati Wisanggeni.


"Baiklah.., kita akan terus melanjutkan perjalanan kita. Jika begitu pendapatmu, aku menyetujuinya Santosa. Kita mengambil jalan agak ke sisi sebelah sana saja, agar kita tidak bertemu dengan mereka." Wisanggeni mengajak mereka mengambil jalan sedikit ke sisi timur. Santosa dan Sumpeno tersenyum, mereka bertiga kemudian berjalan dengan mengambil sisi agak ke sebelah timur.


Ternyata yang disampaikan Wisanggeni seperti menjadi kenyataan. Meskipun medan yang mereka lalui terlihat lebih berat, karena mereka masih harus menyingkirkan banyak semak berduri yang menghalangi perjalanan, tetapi mereka tidak bertemu dengan orang lain di jalan itu.


"Bukk..., sshh..shhhh..." tiba-tiba seekor ular besar terjatuh dari atas pohon. Matanya tajam menatap Sumpeno dan Santosa dengan lidah terjulur. Kedua orang itu langsung menghentikan langkah, dan secara spontan mereka mengeluarkan senjata.


"Simpan kembali senjata kalian. Binatang itu tidak akan mengganggu kita, menyingkirlah sebentar." melihat tatapan panik kedua temannya, Wisanggeni menyentuh pundak kedua laki-laki itu, dan Wisanggeni bergeser mendekati ular yang menatapnya dengan tatapan marah. Wisanggeni tersenyum kemudian menundukkan badannya, dan akhirnya berjongkok di depan ular besar itu. Tangan Wisanggeni terulur, dengan senyuman laki-laki itu mengusap tubuh binatang melata itu. Merasakah sentuhan halus, ular itu menutup kembali mulutnya. Tidak berapa lama, binatang itu membalikkan badannya dan segera pergi melata meninggalkan tempat itu.


Sumpeno dan Santosa tersenyum gembira melihat binatang itu meninggalkan mereka. Keduanya segera maju ke depan dan berdiri di samping Wisanggeni.


"Santosa.., kita lupa jika saat ini kita sedang bersama dengan rajanya ular. Ayo kita lanjutkan perjalanan, sepertinya kita tidak perlu khawatir akan bertemu dengan binatang buas. Keberadaan Singa putih ini akan melindungi kita dari gangguan binatang, dan ularpun dengan mudah tunduk pada Wisanggeni." Sumpeno menepuk punggung Wisanggeni, dan memuji sikap yang ditunjukkan oleh laki-laki yang berkenalan dengan mereka di tengah hutan itu.

__ADS_1


"Ingatlah.., binatang tidak akan mengganggu manusia jika mereka tidak merasa terganggu oleh perilaku manusia. Mereka biasanya melakukan penyerangan karena terdesak, dan untuk membela diri. Tenanglah jika kita tanpa sengaja bertemu dengan binatang buas." setelah selesai mengucapkan perkataan itu, Wisanggeni merangkul pundak kedua orang itu, dan mengajaknya untuk melanjutkan perjalanan.


Beberapa saat mereka berjalan, tidak terasa hari sudah menjelang malam. Di ufuk barat, matahari sudah tenggelam di peraduan dan malam mulai menutup alam. Mereka berjalan dalam kegelapan, dan jauh di depan mereka melihat sinar terang.


"Kita menuju tempat itu saja. Sepertinya ada orang yang sudah menyalakan api untuk penerangan. Kita bisa menghemat tenaga kita, dan jika perlu kita akan menginap di tempat ini." Wisanggeni menunjuk ke arah depan, kemudian mereka bertiga berjalan menuju titik api yang ada di depan mereka.


************


Setelah sampai di tempat yang dituju, ternyata tidak hanya mereka yang datang ke tempat itu. Banyak orang yang sudah lebih dulu sampai sebelum mereka, dan dari berbagai arah muncul beberapa kelompok orang yang juga mendatangi tempat itu. Pikiran Wisanggeni sedikit curiga, mungkin akan terjadi sesuatu di tempat itu. Tetapi laki-laki itu memutuskan untuk berdiam dan menunggu apa yang akan terjadi di tempat itu.


"Diamlah dulu Sumpeno.., aku juga baru berusaha mencari tahu. Dengarkan saja pembicaraan orang-orang yang ada di sekitar sini, tanpa perlu kita masuk ke dalam pembicaraan tersebut. Sepertinya yang terbaik untuk kita saat ini adalah menunggu dan mempelajari gerak-gerik mereka." Wisanggeni berbicara lirih pada Sumpeno dan Santosa. Kedua orang itu menganggukkan kepala.


Beberapa saat mereka terdiam..


"Sambil menunggu.., siapa yang akan melakukan pemanasan terlebih dahulu?? Siapa yang berani, silakan mendekat padaku." tiba-tiba seseorang berperawakan besar bicara dengan pongahnya. Orang-orang tidak ada yang mempedulikannya, sepertinya mereka memilih untuk menghemat tenaga, daripada harus membuang dengan bertarung dengan orang-orang yang belum mereka kenal.

__ADS_1


"Santosa.., ingatkan kamu dengan laki-laki sombong itu?? Bukannya itu Gajahrosa.., laki-laki dari perguruan Gambir Anom. Laki-laki itu terkenal sering mencari permasalahan dengan orang-orang. Lihat saja.., apa yang dilakukannya saat ini!" Sumpeno berbisik pada Santosa mencoba mengingatkan tentang laki-laki di depan.


"Iya aku tahu.., sudah diam sajalah. Aku juga lagi malas bertarung, biar saja dia mencari masalah dengan orang-orang. kita tidak perlu turut campur." Santosa mengingatkan Sumpeno untuk diam saja.


Karena tidak ada yang menanggapi kecongkakan Gajahrosa, laki-laki bertubuh besar itu menjadi semakin geram. Dari tangannya keluar sebuah lingkaran api kecil, kemudian diputar-putarkan mengganggu keheningan orang-orang yang sedang beristirahat. Wisanggeni memicingkan mata melihat sikap laki-laki angkuh tersebut, tetapi diapun juga tidak mau mengeluarkan tenaga untuk menanggapi orang tersebut. Perlahan Wisanggeni malah memejamkan mata, dia mencoba untuk tidur.


"Kurang ajar.., apa yang kamu lakukan Gajahrosa..? Aku sudah diam tidak mau berurusan denganmu, tetapi kamu malah membuat masalah dengan mengirimkan serangan kepadaku." tiba-tiba terdengar teriakan seseorang dengan nada tinggi.


"Ha.., ha..., ha... kenapa?? Jika kamu mau, coba kamu lawan aku. Kamu bisa membalaskan serangan yang baru saja mengenaimu. Kebetulan sekali aku sedang mencari keringat malam ini.." dengan nada sombong tidak mengakui kesalahan, Gajahrosa malah menantang orang yang sudah terkena serangannya.


Gajahrosa berjalan mendekati orang yang melakukan protes terhadap sikap dan perilakunya. Dengan tatapan mengejek, laki-laki malah memutar-mutarkan lingkaran api di depan laki-laki itu.


"Hugh..." tangan laki-laki itu menangkap pergelangan tangan Gajahrosa, kemudian memutarnya. Gajahrosa meringis, tetapi segera bisa mengembalikan situasi. Tangan Gajahrosa balik menangkap tangan laki-laki itu kemudian membanting tubuh laki-laki itu ke samping, Tidak diduga.., ternyata laki-laki itu memiliki tenaga dalam untuk meringankan tubuhnya. Sekali menghentakkan kaki ke tanah, laki-laki itu dengan ringan meloncat menjauh dari Gajahrosa. Dengan tatapan sinis, dan senyum mengembang di bibirnya, Gajahrosa merasa senang. dengan cepat laki-laki bertubuh besar itu membangun kuda-kuda untuk melakukan penyerangan kepada laki-laki itu.


************

__ADS_1


__ADS_2