Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 111 Pilar Api


__ADS_3

Cokro Negoro melemparkan sebuah serangan dengan simbol yang dibuat di tangannya, untuk menghambat Jalak Geni mencapai formasi batu identitas. Tetapi dengan mudah pemilik Gerombolan Alap-alap itu menangkisnya. Kaki Jalak Geni dengan cepat bertumpu pada sebuah batu dan dengan cepat melompat ke atas. Cokro Negoro terus mengejar, dan dia meningkatkan kekuatan batinnya untuk melampaui Jalak Geni. Para sesepuh yang lain segera membentuk lingkaran dengan duduk bersila, mereka mengerahkan semua kekuatannya untuk dia salurkan ke tubuh Cokro Negoro.


"Kami tidak akan semudah itu membiarkanmu mencapai formasi itu Jalak Geni..," teriak Cokro Negoro. Laki-laki tua itu dengan cepat menggabungkan kekuatan yang dialirkan para sesepuh, dan membentuk sebuah lingkaran api warna-warni. Beberapa saat, lingkaran api terus dibiarkan.., dan setelah memperkirakan lingkaran api telah matang..., dengan cepat Cokro Negoro mengirimkan lingkaran tersebut ke arah Jalak Geni.


"Blummm..., bluarrr.." lingkaran api seperti sebuah corong panjang dilemparkan ke arah Jalak Geni. Bara api menyerupai pilar membubung tinggi di angkasa, dan terlihat dari jauh seperti pilar yang menembus langit. Udara panas menyelimuti wilayah tersebut, pohon-pohon dalam radius tiga kilometer yang menimbulkan kehebohan semua orang yang melihatnya. Saat Jalak Geni akan melompat, sebuah cemeti dari bahan bakar api dilecutkan ke kaki pemimpin Gerombolan Alap-alap itu, sehingga langkahnya menjadi terhambat.


"Lindungi diri kalian dengan kekuatan batin.." teriak Cokro Negoro pada para sesepuh. Dengan cepat, sesepuh dan orang-orang yang ada disitu, mengikuti apa yang diperintahkan oleh Cokro Negoro.


"Bang.., bang,.., bang,.." serangan beruntun meluncur ke arah para sesepuh. Mereka sontak mencari dari mana asal serangan itu, terlihat beberapa pemimpin Klan yang sudah bergabung dengan Jalak Geni mengirimkan serangan untuk mereka. Konsentrasi para sesepuh terbelah.., antara memberi sokongan kekuatan pada Cokro Negoro, dan juga menangkis serangan dari para pemimpin Klan.


Wijanarko dan beberapa orang segera menghadang dan menahan serangan dari para pemimpin Klan. Melihat dari segi kekuatan, mereka kalah dari sisi jumlah sehingga WIjanarko kewalahan menghalau serangan tersebut. Jalak Geni memiliki kesempatan untuk melarikan diri, dengan cepat laki-laki berjubah itu mendaratkan kakinya  diatas formasi batu identitas tersebut.


"Kamu tidak akan mampu mencegahku Cokro.., aku sudah ditakdirkan menjadi penguasa dunia ini. Ha.., ha..., ha..." teriak Jalak Geni penuh kesombongan. Tiba-tiba langit seperti terbelah dari atas, dan di depan pandangan mata mereka terlihat sebuah lubang terowongan yang dikelilingi oleh udara yang berputar-putar dengan kencang.


"Aaaaaaww..." terdengar teriakan kera, dan tanpa ada yang menduga.., Jalak Geni tersedot masuk ke dalam lubang terowongan tersebut.

__ADS_1


"Ayo ikuti Jalak Geni saudaraku..." terdengar teriakan Cokro Negoro mengajak para sesepuh lainnya. Dengan cepat enam sesepuh melompat masuk mengikuti Cokro Negoro masuk ke dalam terowongan tersebut. Beberapa saat orang-orang melompat masuk ke dalam, lubang terowongan tersebut tiba-tiba menutup dengan sendirinya. Suasana menjadi sepi, Wijanarko dan orang-orang dari para pemimpin Klan, seketika menghentikan serangan mereka. Semua mengarahkan pandangan ke arah susunan formasi batu identitas di dalam Kubah Candradimuka. Uap api masih terlihat di kubah, tetapi golakan api yang sempat terjadi sudah tidak ada lagi.


"Kemana arah terowongan tadi, kita tidak bisa mengejar para sesepuh?" Wijanarko bertanya pada Atmojo dan Jagasetra.


"Aku belum pernah mendengar cerita dari Guru tentang terowongan itu. Kita hanya bisa menunggu sampai terowongan ini terbuka kembali.." Jagasetra menanggapi perkataan Wijanarko. Atmojo juga hanya bisa menggelengkan kepala.  Dari arah luar terlihat Maharani dan Niken Kinanthi dengan nafas terengah-engah berlari menuju tempat tersebut.


"Apa yang terjadi Kakang.., dari radius berkilometer dari tempat ini terjadi goncangan hebat seperti gempa. Uap panas yang menghancurkan pepohonan juga sangat ganas menerjang." Niken bertanya pada Wijanarko.


*************


Di pinggiran hutan..


"Ada apa Wisanggeni.., pilar api apa yang barusan kita lihat?" teriak Sudiro bertanya pada Wisanggeni.


"Aku belum bisa menjelaskannya Diro.. Kita harus menunggu sebentar sampai uap panas itu berhenti mengantarkan gelombang panas. Lihatlah di sekeliling kita, pohon-pohon yang terkena semburan uap panas langsung menjadi kering batang pohonnya." seru Wisanggeni meminta semua orang untuk menahan diri,.

__ADS_1


Jika tidak membawa banyak orang bersamanya, Wisanggeni dan Rengganis dapat menembus gelombang uap panas tersebut. Tetapi mereka tidak bisa membiarkan orang-orang yang datang bersamanya mengalami nasib yang mengenaskan. Sehingga dengan berlindung di bawah tabir, akan membantu untuk mereka menyelamatkan diri dan tidak terkena imbas dari gelombang uap panas tersebut.


Beberapa orang yang berada di dalam tabir tersebut, kemudian duduk bersila untuk mengatur pernapasan mereka. Sudiro mengawasi orang-orang yang datang bersamanya. Melihat mereka semua dalam keadaan baik-baik saja, laki-laki itu mengambil nafas lega. Tidak lama kemudian, Sudiro bergabung dengan mereka, mengatur pernapasannya.


"Kamu tidak apa-apa Nimas..? Maafkan Akang, tanpa bicara langsung menarikmu dengan cepat." Wisanggeni bertanya pada Rengganis.


"Tidak Akang.., Rengganis baik-baik saja. Tetapi.., kepala Rengganis sedikit pusing dan tiba-tiba menjadi mual ingin muntah." ucap Rengganis.


Mendengar ucapan istrinya, Wisanggeni kemudian mengajak Rengganis duduk. Tanpa diminta, laki-laki muda itu memijat kepala istrinya dengan perlahan.


"Kita akan menunggu disini dulu untuk beberapa saat Nimas. Akang tidak akan mengorbankan orang-orang yang datang bersama kita. Niat kita bergabung adalah satu, agar kita bisa mewujudkan kedamaian di muka bumi ini." Wisanggeni meminta pengertian istrinya untuk sedikit menunggu.


"Iya Akang.., Rengganis memahami apa yang ada di pikiran Akang. Kita tidak boleh egois, hanya untuk memikirkan kepentingan kita sendiri. Orang-orang ini menjadi tanggung jawab kita juga." Rengganis sepakat dengan pemikiran Wisanggeni.


Melihat kerelaan istrinya untuk berbagi dengan orang-orang yang berada disini, membuat Wisanggeni tersenyum. Laki-laki ini sedikit menyesal, karena sebelumnya telah meninggalkan perempuan muda ini di pesanggarahan. Ternyata kehadiran istrinya ikut dalam perjalanan, bisa menjadi tempatnya berbagi permasalahan yang muncul.

__ADS_1


"Tidurlah dulu Nimas.., agar pusingmu segera menghilang. Kira-kira dua jam lagi.., kita akan melanjutkan perjalanan untuk masuk ke dalam hutan. Kita tunggu sampai bara api sudah tertiup angin." Wisanggeni memegang kepala Rengganis, setelah memberinya kecupan di kening, laki-laki itu meletakkan kepala Rengganis di pangkuannya. Laki-laki itu kemudian menyandarkan tubuhnya pada sebuah batu besar yang ada di belakangnya.


****************


__ADS_2