Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 35 Pertemuan Kembali


__ADS_3

Jari-jari lentik Kinara memutar penutup botol porselin, dan aroma harum khas obat herbal memenuhi ruangan tersebut. Orang-orang yang hadir memanfaatkan kesempatan itu untuk menghirup aromanya.


"Benar yang dikatakan Kinara.., aroma pekat dari obat herbal itu sangat kentara." celetuk salah satu partisipan.


"Iya.., hal itu menunjukkan kualitas dari obat itu. Siapa yang meramu atau membuatnya?" orang lain menanggapi.


"Sepertinya obat itu belum lama dibuat, karena ada aroma baru yang masih tercium di dalamnya."


"Berarti masa penyimpanan juga masih lama."


Beberapa orang membicarakan tentang obat herbal yang dihasilkan oleh Wisanggeni, tetapi tidak lama kemudian tutup botol porselin kembali ditutup oleh Kinara.


"Kalian semua, saya yakin sudah ikut menilai bagaimana kehebatan obat herbal ini. Aku akan membuka tawaran dengan harga 500 keping emas untuk tiap butirnya. Karena dalam botol ini terdapat 15 butir, jika dikalikan dengan 500 maka harga keseluruhan saya buka dengan harga 7.500 keping emas." Kinara kembali membuka harga penawaran.


"8.000 keping emas." seorang laki-laki paruh baya mengajukan penawaran.


"Aku berani 10.000 keping emas." sahut peserta yang lain.


"12.500 keping emas."


Wisanggeni sampai kaget' dengan penawaran yang diajukan oleh para peserta lelang. Total biaya keseluruhan untuk memproduksi obat tersebut tidak sampai dengan nilai 2000 Keping emas, tapi tawaran kali ini sudah menembus angka 12.500 keping emas. Dia memijat kepalanya dengan menggunakan jari-jarinya.


"15.000 keping emas."


"20.000 keping emas. Betul-betul harga yang sangat tinggi untuk obat level dasar. Tetapi dengan melihat kualitasnya, anda tidak akan mengalami kerugian. Sekarang saya kembali bertanya, apakah ada yang berani memberikan tawaran lebih tinggi?" Kinara kembali menawarkan obat herbal tersebut.


Setelah menunggu beberapa saat, sudah tidak ada lagi yang memberikan tawaran harga di atasnya.


"Baiklah berarti harga obat herbal level kekuatan dasar ini saya nyatakan dimenangkan oleh Tuan Sayogyo dari Klan Sapuangin." akhirnya Kinara mengumumkan pemenang lelang atas obat herbal yang dihasilkan oleh Wisanggeni.


Wisanggeni tersenyum puas, dengan malas dia menunggu sampai proses lelang berakhir. Tepat hampir tengah malam, acara pelelangan diakhiri. Dengan berjalan pelan, Wisanggeni segera menuju kamar Kinara.


"Tok..tok..tok..," Wisanggeni mengetuk pintu kamar Kinara.

__ADS_1


"Masuklah!" suara lembut Kinara mempersilakan laki-laki muda itu untuk masuk ke dalam.


Kinara langsung mendorong pintu ke dalam, dan terlihat wanita cantik itu sudah menunggunya dengan duduk di belakang mejanya. Wisanggeni menganggukkan kepala kemudian duduk di depan wanita itu. Dia kemudian mengeluarkan catatan yang berisi daftar obat yang sudah dia identifikasi.


"Kinara..., aku masih membutuhkan bantuanmu. Di lontar ini, sudah saya catatkan Beberapa bahan untuk membuat obat herbal. Aku ingin membelinya dari aula Obat ini." Wisanggeni langsung mengutarakan niatnya pada Kinara.


Wanita itu kemudian mengambil catatan itu kemudian membacanya, dan setelah selesai dia menekan tombol yang ada di mejanya.


"Tok..,tok..,tok..," tak lama kemudian kembali terdengar ketukan di pintu.


"Masuklah!" Kinara memerintahkan orang yang berada di depan pintu untuk masuk ke dalam.


"Ada apa Nona Kinara?" tanya seorang laki-laki yang sudah berada di belakang Wisanggeni.


"Siapkan ini segera!" Kinara langsung memberikan catatan bahan pembuat obat itu pada laki-laki itu.


"Baik, segera kami siapkan." laki-laki itu segera bergegas keluar dari kamar Kinara.


Laki-laki muda itu langsung menghitung uang yang berada dalam kantong kain itu, dan senyuman terbit dari bibirnya.


"Tempat pelelangan ini menunggu karyamu selanjutnya Wisang, dan kamu sudah menjadi anggota VIP dari tempat ini."


*********


Wisanggeni berjalan keluar dari tempat pelelangan dengan singa putih. Baru sekitar 100 meter dia berjalan kaki, dia melihat ada sebuah keributan di depannya. Ada seorang perempuan dan satu orang laki-laki yang sedang dikeroyok oleh beberapa orang. Tidak mau memancing kerusuhan, Wisanggeni akan berbalik arah mencari jalan lain.


"Aaaaa, bukkk." Wisanggeni memundurkan langkahnya, karena tiba-tiba ada seseorang yang jatuh terlempar dan hampir mengenainya.


"To..long aku..!" orang itu memeluk kakinya dan minta pertolongan.


Mendengar permintaan tolong dari orang itu, Wisanggeni menghentikan langkahnya, dia berjongkok dan melihat ke orang tersebut. Tiba-tiba tubuh laki-laki itu membiru, dan beberapa saat kemudian sudah tidak bisa tertolong.


"Racun." ucap Wisanggeni lirih.

__ADS_1


Wisanggeni mengangkat wajahnya, kembali menatap ke arah perkelahian.


"Aaaawww.." kembali terdengar jeritan dari pihak pengeroyok, yang kemudian kembali terjatuh dan membiru.


Tidak mau jatuh korban lagi, laki-laki muda itu sudah tidak bisa menahan dirinya. Sambil membuat simpul menyilang pada jari-jarinya, dia mengarahkan tangan kanannya ke arah arena perkelahian.


"Tenaga Pasupati...," seru Wisanggeni, dia tidak menggunakan seluruh kemampuannya.


Tekanan angin yang sangat kencang melaju ke arah perkelahian, beberapa orang tersentak dan terjatuh karena tidak mengira akan mendapatkan serangan dari belakang. Bahkan tangan perempuan itu terpaksa dijatuhkan ke bawah, karena dia tidak mampu menahan kekuatan angin yang meluncur padanya.


"Nimas..., sepertinya aku tidak asing dengan kekuatan laki-laki itu." ucap laki-laki yang ada di tengah perkelahian itu pada wanita yang ada di sampingnya.


"Maksudmu?" wanita itu bertanya, sambil sudut matanya mengamati ke sekelilingnya.


"Apakah Nimas sudah melupakan Den Wisang, pemuda yang pernah bersama kita di tengah hutan?? Aku merasa laki-laki itu sepertinya den Wisang Nimas."


Wanita itu menatap laki-laki yang sudah mengirimkan serangan. Meskipun serangan itu tidak dimaksudkan untuk menyakiti mereka, dan jantung wanita itu langsung berdetak kencang saat bertatapan dengan mata laki-laki itu.


"Bubarlah kalian semua.., tidak ada untungnya kita berkelahi!" terdengar suara berat Wisanggeni.


"Terimakasih Ki Sanak." beberapa orang yang tadi mengeroyok laki-laki dan perempuan itu langsung berlari meninggalkan perkelahian. Tinggallah mereka bertiga yang ada disitu. Saat Wisanggeni akan berbalik dan meninggalkan tempat itu, ...


"Kang Wisang..," suara halus perempuan menghentikan langkahnya. Laki-laki muda itu berhenti, dan dua orang di depannya berjalan maju mendekat ke arahnya.


Wisanggeni mengerenyitkan dahinya, dia menatap dua orang itu dengan seksama.


"Den..., apa Aden lupa dengan kami?? Saya Subali Den.., dan ini Nimas Larasati." laki-laki yang bersama dengan perempuan itu memberi tahu jati diri mereka.


"Laras.., Subali.., aku tidak menyangka jika kita bisa ketemu lagi disini." laki-laki muda itu langsung merentangkan kedua tangannya, dan memeluk kedua orang itu secara bersamaan.


Larasati semula agak menahan diri, tetapi setelah tahu jika laki-laki itu benar Wisanggeni, dia juga ikut memeluk tubuh Wisanggeni. Subali memundurkan tubuhnya, dan di depannya Wisanggeni dan Larasati berpelukan erat seperti pasangan kekasih yang lama tidak berjumpa.


*******

__ADS_1


__ADS_2