
Beberapa kilometer sebelum sampai Gunung Jambu, Wisanggeni melihat semacam kabut pekat yang melingkupi wilayah tersebut. Bahkan Singa Ulung tidak mampu untuk menembusnya, kabut tersebut seperti memiliki serat-serat atau serabut di dalamnya. Mereka berdiam untuk waktu beberapa saat, sampai tiba-tiba...
"Bang.., bang..., bang.." sebuah serangan meluncur cepat ke arah Singa Ulung.
"Auuuuummmmm." Singa Ulung mengaum panjang, cakar-cakarnya berusaha merobek serat yang ada di dalam kabut, tetapi tidak behasil.
Wisanggeni melompat turun dari punggung SInga Ulung.., laki-laki itu mencari si pengirim serangan pada binatang kesayangannya. Tetapi hanya kegelapan seperti terselubung asap putih yang mengelilinginya. Laki-laki itu mempertajam penglihatan mata batinnya.., dan melihat ada seseorang yang duduk di atas sebuah pohon besar.
"Clap.., jleb..." pisau belati dilemparkan Wisanggeni ke dahan yang digunakan oleh orang tersebut duduk.
"Kreettt.., brakk.." dahan yang terkena sabetan pisau belati patah dan jatuh ke bawah.
"Haps...," muncul seorang laki-laki yang berdiri tidak jauh dari tempat Wisanggeni berdiri.
Laki-laki itu menatap kurang senang pada Wisanggeni dan Singa Ulung, tetapi keduanya tidak bergeming sedikitpun. Mereka tetap berdiri dan menatap balik laki-laki misterius tersebut.
"Siapa kamu, berani-beraninya masuk ke wilayah pesanggrahan kami? Tidak ada seorangpun yang bisa menembus ke dalam, sebelum mendapatkan ijin dari kami." laki-laki tersebut bertanya dengan nada marah.
"Maafkan kami Ki Sanak.., kami datang ke wilayah Gunung Jambu ini, karena ada wangsit yang kami terima dari seseorang. Orang tersebut menginginkan kami untuk memasuki wilayah perbukitan Gunung Jambu ini. Ijinkan kami masuk Ki Sanak.., kami ingin masuk dan melihat-lihat di dalam!" Wisanggeni dengan sopan meminta ijin pada orang tersebut.
"Ha.., ha.., ha..., apa kamu pikir mudah untuk membohongiku??? Tidak seorangpun yang bisa diperkenankan masuk ke wilayah sini, itu amanah yang aku pegang sampai saat ini. Jikapun kamu bisa mengalahkanku, apakah kamu pikir, hanya aku yang akan kamu hadapi?" dengan pongah, orang tersebut menghalangi Wisanggeni dan Singa Ulung masuk.
Wisanggeni terdiam, dia mengelus kepala Singa Ulung untuk meminta pendapatnya.
"Kabut itu sangat pekat.., tanpa ijin kita memang tidak akan dapat menembusnya. Karena kabut ini berisi kekuatan energi tingkat tinggi dari para tokoh. Kita harus mencari cara untuk melunakkan hati orang itu.." Singa Ulung menyampaikan pendapatnya lewat telepati.
Tiba-tiba.., telinga tajam Wisanggeni menangkap pergerakan di bawah tanahnya. Laki-laki muda itu tersenyum.., dan tidak menunggu waktu lama.
__ADS_1
"Ssshh.., ssshhh, ssshh.." tanah tiba-tiba bergolak, dan muncullah tanah berongga tidak jauh dari satu. Dari dalam tanah, muncullah Maharani bersama dua orang pengawal perempuan di belakangnya.
"Maharani.." ucap Wisanggeni terkejut melihat kedatangan manusia ular tersebut.
"Iya Paduka.., Maharani datang. Beberapa ular mengirimkan pesan, jika Paduka akan datang ke Gunung Jambu. Karena kebetulan saya berada tidak jauh dari perbukitan ini, akhirnya saya datang Paduka." Maharani menyampaikan salam dan memberi tahu kedatangannya.
Wisanggeni tersenyum, dia memiliki ide untuk memasuki Gunung Jambu dengan melewati rongga bawah tanah. Dia bisa menggunakan bantuan manusia ular itu untuk menembusnya. Wisanggeni melirik ke arah laki-laki yang menghentikan mereka tadi, yang ternyata masih melihati mereka dengan rasa penasaran. Tidak mau mencari masalah, Wisanggeni kembali mendatangi laki-laki misterius tersebut.
"Bagaimana Ki Sanak.., aku sudah menemukan cara untuk masuk ke pedalaman dengan menggunakan cara lain. Tetapi aku masih menghormatimu, berikan aku ijin untuk masuk dengan cara yang sepantasnya. Guruku Cokro Negoro sudah menungguku di dalam Ki Sanak." Wisanggeni kembali meminta ijin pada laki-laki penjaga itu.
"Hei apa katamu? Kamu menyebut Ki Cokro Negoro sebagai gurumu.., lancang sekali kamu. Ki Cokro hanya memiliki satu orang murid saat ini yang berada jauh, setelah satu muridnya mengkhianati dan menghancurkan reputasinya." laki-laki misterius tadi tetap tidak mengijinkan Wisanggeni masuk.
Bosan berbasa-basi, Wisanggeni berusaha mencari benda pemberian Gurunya itu. Tetapi dia ingat, jika Guru tidak memberinya barang apapun kecuali Binatang Singa Putih yaitu SInga Ulung. Secepat kilat. Wisanggeni menepuk paha kanan belakang SInga Putih, dan akhirnya binatang itu berubah bentuk menjadi seekor kucing putih yang lucu. Melihat kucing putih itu, terbut senyuman di mulut laki-laki misterius itu..
"Baiklah.., kamu bisa membuktikan ucapanmu anak muda. Masuklah!" setelah berbicara.., orang itu duduk bersila dan merapalkan sebuah mantra. Jalan tembus berupa lorong sekejap muncul di hadapan mereka.
****************
Setelah melewati lorong panjang, Wisanggeni dan Maharani sampailah mereka di sudut sebuah pondok. Terdengar suara beberapa orang sedang berlatih silat di halaman pondok.
"Ulung.., apakah kamu bisa mencium kehadiran Guru di tempat ini?" tanya Wisanggeni pelan.
Singa Ulung terdiam, kemudian kucing itu melompat ke depan sebuah kamar dan berhenti di depannya. Tidak berapa lama, seulas wajah laki-laki tua dengan senyuman keluar dari dalam kamar. Melihat wajah itu, Wisanggeni langsung menjatuhkan badannya ke bawah, dengan menggunakan satu lututnya sebagai penyangga. Laki-laki muda itu menghaturkan salam takzim pada gurunya.
"Bangunlah Wisang.., siapa gadis yang saat ini berada di belakangmu? Apakah dia.." Cokro Negoro membangunkan Wisanggeni, kemudian membantu menegakkan badannya. Dengan kening berkerut, Cokro Negoro menanyakan tentang Maharani.
Wisanggeni tersenyum..,
__ADS_1
"Gadis ini Maharani Guru.., dia yang menolong Wisang saat terluka setelah melakukan pertempuran dengan Tumbak Seto. Maharani.., beri salam pada Guruku." Wisanggeni mengenalkan Maharani.
"Baik Paduka... Paman, Maharani memberi salam." Maharani memberi salam pada Cokro Negoro.
"Ho.., ho.., ho.., kamu ratu ular yang terkenal itu ya. Sangat cantik ternyata kamu.." Cokro Negoro membalas sapaan Maharani.
"Istirahatlah dulu kalian.., nanti selepas senja, aku akan mengajakmu bicara Wisang." ucap Cokro Negoro yang langsung memberi usapan di kepala Singa Ulung.
*************
"Rengganis.., sampai dimana kamu? Aku sudah merindukan kamu istriku." Wisanggeni membolak-balikkan badannya, dia sangat menginginkan istrinya ada di dekatnya saat ini.
Laki-laki muda itu harus membiarkan istrinya pergi sendiri mengantarkan Wulan dan suaminya ke Klan Bhirawa, dan saat ini dia hampir putus asa mengendalikan keinginannya untuk bersama dengannya. Perlahan Wisanggeni turun dari pembaringannya, kemudian berjalan keluar dari dalam kamar.
"Wisang.., masuklah ke kamarku!" Wisanggeni terkejut, ternyata Gurunya tiba-tiba sudah ada di belakangnya.
"Baik Guru.." laki-laki muda itu mengikuti langkah Cokro Negoro, perlahan dia masuk ke kamarnya.
"Duduklah!" Cokro Negoro duduk bersila, dan meminta Wisanggeni melakukan hal yang sama.
Setelah mereka duduk, kemudian..
'Wisang.., aku akan menceritakan padaku kenapa aku mengundangmu datang kesini. Saatnya sudah tiba, aku tidak bisa hanya bersikap diam melihat tanah tempatku berpijak dihancurkan manusia serakah. Beberapa orang dari perguruan lain sudah banyak yang bergabung dengan kita, dan kamu lihat.., di halaman banyak anak muda yang berlatih ilmu silat dna kanuragan." Cokro negoro mulai bercerita panjang.
"Kita akan menyergap ke markas inti dari Gerombolan Alap-alap. Aku dengar ternyata Badar.., kakak seperguruanmu ikut bergabung dengan mereka. Alasan inilah kenapa aku mengundangmu kesini.., kamu harus melatih dan sekaligus mengembangkan dirimu." lanjut Cokro negoro.
"Baik Guru.., Wisang akan ikut perintah Guru."
__ADS_1
*******************