
Rengganis mengajak ibunda dan ayahnda duduk di kursi yang ada di depan kamarnya. Dia tidak mau lepas dari ibundanya, kepala Rengganis disandarkan di samping bahu ibundanya.
"Bagaimana Nimas.., apakah sudah mencoba jalan-jalan berkeliling wilayah Jagadklana? Seperti sebelum pergi jauh, kamu jika pulang ke rumah, selalu mengajak kakakmu mengelilingi wilayah ini untuk melihat keindahannya." ucap Ki Sasmito sambil tersenyum.
"Iya nak.., masak setiap pagipun kamu juga sudah tidak menemani ibunda ke pasar untuk membeli perlengkapan atau kebutuhan dapur. Untung ada Mbok Sumi yang selalu setia menemani Ibunda kemanapun." Ibundanya ikut menambahkan.
Rengganis terdiam sesaat, ibunda mengangkat dagu putrinya ke atas.
"Setiap siang hari Rengganis sudah keluar dari kamar ayah.., ibu.. Jika tidak yakin, ayah atau ibunda bisa menanyakan pada Paman Lelono. Karena Rengganis akan menghabiskan waktu siang di ruang penyimpanan buku. Karena masih banyak kitab-kitab kuno yang belum semuanya Anis baca." Rengganis menanggapi perkataan ayahnda dan ibundanya.
Ibunda Rengganis tersenyum, dengan lembut jari-jarinya mempermainkan rambut bagian depan Rengganis yang terjatuh menutup bagian wajahnya. Ayahnda juga melihatnya dengan tersenyum.
"Putri ayah sudah remaja, bahkan sebentar lagi sudah akan meninggalkan ayahnda dan ibunda untuk tinggal bersama suaminya. Kamu juga butuh bersenang-senang putriku, tidak hanya menghabiskan waktu dengan membaca buku saja. Jalan-jalanlah keliling wilayah ini, apalagi untuk saat ini wilayah kita sedang ramai untuk persiapan perayaan tahunan. Banyak tamu dari wilayah lain yang sudah memasuki tempat berlabuhnya perahu-perahu kita." ucap Ki Sasmito pelan.
"Iya nak.., siapa tahu ada pemuda yang bisa menarik hatimu. Atau itu si Laksito, berkali-kali dia menyampaikan sama ibunda jika ingin mempersuntingmu. Bahkan kedua orang tuanya sering mengirimkan bingkisan kesini." kata Ibunda.
Mendengar perkataan kedua orang tuanya yang menyinggung seorang laki-laki, Rengganis terdiam. Tanpa sadari dia melamun, dan air mata menetes di pipinya. Ki Sasmito terkejut melihat reaksi putri kesayangannya,
"Ada apa Nimas.., apakah perkataan ayahnda dan ibunda ada yang menyinggung perasaanmu? Ataukan kamu belum memiliki ketertarikan terhadap lawan jenis?" kata Ki Samito.
"Tidak ayah.." sahut Rengganis cepat, kepalanya menggeleng. Air mata semakin deras mengalir di pipinya.
__ADS_1
"Putriku.., jangan diambil hati pembicaraan kami. Tetapi kamu juga harus ingat, bagaimana kebiasaan yang ada di Jagadklana. Setiap perayaan tahunan, selalu ada adu ilmu kanuragan diantara para pemuda. Jika biasanya, kamu masih berada di pengembaraan, ibunda bisa menolak setiap ada pemuda yang memenangkan adu kanuragan untuk melamarmu. Tetapi untuk saat ini, ibunda dan ayahnda akan merasa kesulitan untuk menolaknya Nimas." dengan penuh kasih, Ibunda memberi kecupan di kening Rengganis.
"Sebenarnya awal mula adanya pertandingan itu hanya untuk mengakrabkan warga kita dengan warga lain. Tetapi seiring waktu, setiap ada adu ilmu kanuragan berubah menjadi ajang untuk menjajal kepandaian. Malah kemudian berakhir dengan adanya kesempatan, untuk memiliki seorang gadis yang belum menikah untuk dipilih menjadi pendamping hidupnya. Tapi kamu jangan khawatir Nimas.., ayahnda tidak akan pernah memaksamu untuk menikah dengan orang yang kamu tidak menyukainya, meskipun harus bersitegang dengan para sesepuh Jagadklana." terucap janji Ki Sasmito, Rengganis langsung maju memeluk ayahndanya dengan erat.
"Kamu masih punya ayahnda dan ibunda putriku, jika kamu masih berharap dengan putra bungsu Ki Mahesa, lanjutkanlah. Ayahnda akan mendukungmu.., hanya akan banyak tantangan dari pemuda dan sesepuh di Jagadklana." Rengganis terkejut dengan perkataan yang disampaikan ayahndanya.
*****************
Wisanggeni ditemani Jono dan Karno berjalan-jalan di pusat keramaian Jagadklana. Mereka melihat banyak penjual yang memanfaatkan kedatangan pengunjung dari luar wilayah, dengan menawarkan makanan khas dan pernak pernik yang dihasilkan oleh masyarakat setempat.
"Wisang.., apa yang kamu cari?" Jono bertanya pada Wisanggeni.
"Aku hanya mau jalan-jalan saja, tidak ada keinginan untuk belanja sesuatu. Bagaimana kalau kita mampir di kedai makanan yang ada di ujung jalan? Sepertinya tempat itu terlihat sepi."Wisanggeni mengajak dua temannya menuju kedai yang ada di ujung jalan.
"Wedang kacang dua, wedang gedang 2." Karno memesan minuman pada pelayan kedai.
"Klothek.., klothek.., gleng.., gleng.." suara musik tradisional mengalun, mengiringi beberapa penari yang sedang menari di tengah jalan.
"Cether.., cether..." suara pecut disabetkan ikut meramaikan alunan pertunjukan tradisional tersebut.
Banyak orang berlarian ke pinggir jalan untuk melihat lebih dekat pertunjukan tersebut. Jono menengok pada Karno dan Wisanggeni, tetapi kedua orang itu terlihat santai tidak tertarik untuk melihat lebih dekat ke jalan.
__ADS_1
"Kenapa Jono..., kamu ingin melihat lebih dekat? Lihatlah.., dari pada sampai kamu kembali ke desamu, kamu tidak melihat pertunjukan tersebut." kata Wisanggeni sambil tersenyum.
"Iya Jon..., tapi sepertinya aku dan Wisang melihat dari sini saja. Bagiku dekat maupun jauh sama saja, hanya bedanya jika berada lebih dekat dengan pertunjukan sangat beresiko kita bersenggolan dengan pengunjung yang lain. Jadinya akan menyulut keributan." Karno menambahkan.
Tiba-tiba pelayan kedai mengantarkan pesanan minuman mereka, setelah mengucapkan terima kasih, Wisanggeni dan Karno langsung mengangkat gelas dan menyeruput hangat dari wedang gedang. Melihat kedua temannya minum, Jono ikut mendekat dan akhirnya bersama-sama mereka minum.
"Minggir.., jangan menghalangi jalan..!" terdengar teriakan dari jalan di samping mereka duduk. Wisanggeni memberi isyarat pada dua temannya untuk mendiamkan dan tidak mempedulikan kejadian itu.
"Aku bilang minggir.., sudah datang menuh-menuhi Jagadklana, malah sekarang berani menghalangi jalan kami. Duakk..." terdengar tendangan kaki pada seorang pengunjung yang ikut memadati jalan.
"Jangan main kasar kang!! Bisa tidak, sopan sedikit pada para pengunjung." teriak seseorang memprotes tindakan itu.
"Bukk.., awwww..." terdengar teriakan kesakitan dari seseorang. Wisanggeni menyipitkan matanya, dia tidak suka dengan seseorang yang hanya memamerkan keahliannya untuk menindas orang yang lebih lemah. Tetapi dia masih menguatkan hati dan telinganya untuk tidak campur tangan.
"Ha.., ha..., ha..., baru saja kesentuh saja kamu sudah kesakitan. Makanya minggir, Den Laksito akan melewati jalan ini." teriak seseorang dengan sombongnya.
"Aaaaww..., oeekkk, oeekkk." tiba-tiba terdengar suara bayi kesakitan.
"Jangan sakiti anakku Den bagus...," seorang ibu menangis melihat anaknya terkena pukulan orang tersebut, saat akan berlari untuk minggir.
Melihat seorang ibu dengan anaknya tersudutkan, wajah Wisanggeni langsung merah menghitam. Seketika dia mengambil kerikil kecil, kemudian dia mengisinya dengan kekuatan tenaga dalam. Tanpa melihat, batu kerikil itu sudah mengarah dan mengenai laki-laki yang arogan tadi.
__ADS_1
"Aaaww.., kurang ajar." terdengar teriakan dari kelompok orang yang mengusir minggir orang-orang tadi. Dengan tersenyum sinis, Wisanggeni melanjutkan menikmati wedang gedang dan kacang rebus.
****************